Assalamu'alaikum wr.wb.

http://hipohan.blogspot.com/2013/01/rais-abin-mission-accomplished-nya.html

Rais Abin - Mission Accomplished nya Dasman Djamaluddin
Saya ingat beberapa tahun lalu pernah membaca artikel mengenai seorang
petinggi militer asal Sumatera Barat yang kecewa dengan banyak-nya
kegagalan putra daerah menembus seleksi Akabri. Sebaliknya Sumatera Utara
justru dikenal dengan tinggi-nya tingkat kelulusan seleksi yang sama. Usut
punya usut kebudayaan Sumatera Barat memiliki peran disini, contoh jika ada
seleksi dengan pengandaian sbb; "Jika Ayah anda terlibat gerakan separatis
terhadap NKRI, apa yang anda lakukan ?" pemuda asal Sumatera Barat akan
kesulitan menjawab ini sebaliknya pemuda Sumatera Utara akan dengan tegas
menjawab "Aku tembak lah kalau tak menurut dia !".

Sikap berani dan cepat mengambil putusan sekaligus tidak takut kontroversi
ini lah yang juga melatar belakangi kenapa orang Sumatera Utara banyak yang
jadi tentara, supir bis malam atau bahkan copet. Sebaliknya pemuda Sumatera
Barat cenderung menjadi pengusaha, ulama dan tokoh politik.
Namun Rais Abin yang lahir di Sumatera Barat, merupakan pengecualian, meski
tidak begitu berkibar di lingkup nasional, namun dia justru menjadi
panglima UNEF dan termasuk tokoh penting yang membidani lahirnya perjanjian
Camp David. Pada masa lalu Camp David dinilai sangat signifikan bagi
perdamaian di Middle East, meski pada masa kini terasa sia2 karena
agresif-nya Israel dalam memperluas wilayah dan membangun perumahan baru.
Sehingga terkesan Camp David cuma berhasil sebatas hubungan Mesir dan
Israel, tidak lebih.

Lantas dimana hebat-nya beliau ? Indonesia sebagaimana yang kita ketahui
adalah Negara yang masih tidak mengakui Israel, sementara sebagai panglima,
posisi ini memerlukan tokoh yang bukan cuma disetujui PBB namun juga pihak2
yang bertikai seperti Israel dan Mesir. Beberapa tokoh sebelumnya gagal,
namun Rais Abin dengan kemampuan militer-nya yang cakap dan kemampuan-nya
berbahasa asing dapat menerima kepercayaan dari berbagai pihak dan menjadi
panglima ribuan tentara dari berbagai negara.

Namun buku ini bukan cuma tentang Camp David, tetapi juga menyinggung
perjalan karir Rais Abin, setelahnya-nya. Buku ini mengingatkan bahwa
Indonesia punya peran penting di PBB dengan mencatatkan dua tokoh penting,
yaitu Adam Malik dan Rais Abin yang selayak-nya  menjadi inspirasi bagi
bangsa Indonesia.

Rais Abin sempat menjadi asisten M.Jusuf selama beberapa waktu,
sekembalinya dari Middle East. Dengan demikian Rais punya beberapa hal
menarik terkait masa2 ini. Buku ini juga mengungkapkan bagaimana M.Jusuf
yang saat itu sangat populer dan dekat dengan prajurit di seluruh
Indonesia, pelan2 mulai tersingkir oleh Sudomo, karena M.Jusuf selalu ke
lapangan sementara Sudomo mewakilinya dalam setiap rapat kabinet.

Soal M.Jusuf mengganti beberapa PANGDAM hanya karena mereka sedang tidak
ditempat saat dia  sidak, meski sedang cuti juga diungkap. Bagi M.Jusuf,
seorang tentara tidak perlu cuti dan dia tidak bisa menerima bawahan-nya
cuti meski situasi aman. Pada masa itu ada dua PANGDAM yang diganti karena
tidak ada di tempat.  Sidak model begini mengingatkan saya akan Jokowi.

Pada saat TNI membutuhkan helikopter, instruksi presiden berdasarkan
masukan Habibie adalah menggunakan buatan dalam negeri. Namun M.Jusuf masih
kuatir dengan kualitas produksi lokal, maka dia meminta saran Rais Abin.
Sebutkan satu hal spesifik yang tidak ada dalam buatan dalam negeri yang
sangat kita perlukan secara mendesak, kata Rais, dengan demikian kita bisa
tetap membeli buatan luar. Membaca bagian ini membuat saya sedikit kecewa,
di beberapa negara penggunaan produk dalam negeri merupakan hal yang umum,
dengan demikian menghemat devisa dan meningkatkan kemampuan teknologi anak
bangsa. IMHO, seharusnyalah TNI mendukung industri strategis nasional.
Kekuatiran soal kualitas bisa diatasi dengan "testdrive" yang obyektif,
sebagai masukan pengembangan produk.

Untuk kasus ini Rais berpikiran bahwa dia merasa sedikit janggal harus
membeli rakitan dibanding membeli langsung dari luar, sementara Habibie
mengatakan pesawat rakitan adalah bagian dari transfer teknologi sebelum
bangsa kita mampu membuatnya sendiri.

"Perseteruan" Habibie dan TNI di masa itu juga terjadi saat Habibie ingin
meminjam fasilitas angkatan laut untuk industri strategis PT PAL, lagi2
Rais memberi masukan pada M.Jusuf. Sepertinya Habibie dipandang militer
sebagai "pengacau", namun posisi-nya yang langsung di bawah Soeharto
membuat banyak pihak segan.

Saat menjadi duta besar, hal menarik lain-nya adalah saat Soeharto menegur
Rais lewat Benny Moerdani, karena tidak mampu memenangkan Golkar di antara
WNI Malaysia. Terlihat bagaimana Soeharto memaksakan mesin birokrasi untuk
tunduk di bawah Golkar. Namun alih2 memberhentikan Rais, dia malah
ditugaskan ke pos berikutnya sebagai Dubes di Singapura.


Salam
Reza

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke