Apakah cerita yg sama terjadi pada PDAM Kiktinggi Pensiun Dari Chevron Jadi Pekerja Sosial
REP | 25 July 2013 | 02:58 Workholic alias “gila kerja” membuat seseorang tidak bisa diam meskipun yang bersangkutan sudah pensiun dari profesinya. Biasanya, adrenalin tetap memicunya untuk terus bekerja meski tanpa mengharap bayaran. Orang seperti ini tergolong langka karena jarang ditemukan di era serba berbayar dewasa ini. Dikatakan langka, tetapi orang semacam ini berhasil kompasianer wawancarai, Rabu (24/7/2013), usai yang bersangkutan menyalurkan bantuan ke lokasi bencana gempa, Kampung Cangduri Kabupaten Aceh Tengah. Apa sesungguhnya yang dicari oleh manusia langka itu? Pahala, begitulah jawaban singkat yang diutarakan M. Yusuf Mahmud (68), mantan manajer area di perusahaan pengoboran minyak, Chevron Oil, Riau. Lelaki berusia senja yang masih enerjik itu hadir ke Aceh Tengah mewakili teman-temannya para pensiunan Chevron untuk menyumbang sejumlah kebutuhan pokok bagi para korban gempa bumi di Kabupaten Aceh Tengah.Yusuf, begitu dia minta dipanggil, setelah pensiun dari Chevron dua belas tahun lalu pindah ke Banda Aceh mendampingi putra bungsunya yang kuliah di Fakultas Teknik Unsyiah Darussalam, Banda Aceh. Kini, dua putra dan satu putrinya telah menyelesaikan pendidikan sampai jenjang S-2 sehingga beban biaya sudah berkurang. Kemudian, dia memiliki waktu luang yang sangat banyak untuk digunakan membantu masyarakat. Fokus bantuan yang diberikan M. Yusuf Mahmud adalah memperbaiki pompa, genset atau alat-alat elektronik milik publik atau lembaga sosial. Untuk tenaga yang dikeluarkannya, dia menolak menerima bayaran. Menurut Yusuf, dia pernah menawarkan keahliannya ke sejumlah perguruan tinggi di Banda Aceh. Bentuk tawarannya adalah mengoperasionalkan beberapa peralatan elektrik yang tidak berfungsi. Dia heran, alat-alat elektrik yang demikian canggih itu dibiarkan terbengkalai di bengkel perguruan tinggi itu. Padahal, tambah Yusuf, peralatan tersebut sangat bermanfaat untuk media praktek para mahasiswanya. “Barangkali karena saya mengatakan tak perlu dibayar membuat mereka tidak yakin,” kelakar lelaki kelahiran Blang Bladeh, Bireuen itu sambil tertawa terbahak-bahak. Yusuf mengungkapkan, selama di Chevron, dia bekerja di workshop department yang tugasnya untuk menguji peralatan generator, voltage regulator, electric motor, transformer, electrical installation pumps hasil pembelian baru oleh perusahaan asing tersebut. Oleh karenanya, dia merasa tidak asing dengan genset, pompa atau peralatan elektronik yang terbengkalai di bengkel perguruan tinggi dimaksud. Sayangnya, tanpa izin dari otoritas perguruan tinggi tersebut, tentu dia tidak berani mengutak atik peralatan yang sudah tidak berfungsi itu.Ketika akhir November 2012 lalu, sebuah media lokal terbitan Banda Aceh memberitakan tentang PDAM Tirta Tawar Aceh Tengah tidak dapat menyuplai air secara maksimal karena salah satu motor pompanya mengalami kerusakan. Lantas, Yusuf menawarkan diri untuk memperbaiki pompa itu tanpa perlu dibayar. Gayungpun bersambut, pihak PDAM Tirta Tawar mengundang Yusuf untuk memperbaiki pompa itu. Dengan menumpang bus umum, Kamis (6/12/2012), Yusuf bergerak dari Banda Aceh menuju Takengon Aceh Tengah yang berjarak 350 Km. Setibanya di Takengon, kisah Yusuf, dia menginap disebuah losmen kecil dengan biaya sendiri. Esoknya, Jumat (7/12/2012) dia menuju ke stasion pompa milik PDAM Tirta Tawar di Desa Mandale, sekitar 4 Km dari penginapannya dengan menumpang angkot. Dengan peralatan yang dibawanya dari Banda Aceh, Yusuf dibantu beberapa operator stasion pompa PDAM itu mulai memeriksa dudukan motor pompa itu. Yusuf menggunakan alat berbentuk jangka untuk mengukur dudukan motor pompa itu. Hasil pengukurannya, Yusuf memastikan bahwa dudukan motor pompa itu miring sehingga kemampuan motor untuk memutar pompa tidak stabil sehingga daya dorong air terganggu dan kurang maksimal.Yusuf yang dibantu Musliman (35) operator pompa di stasion pompa milik PDAM Tirta Tawar itu mulai menyetel dudukan pompa nomor satu. Sekitar dua jam menyetel dudukan motor pompa itu sampai memperoleh posisi stabil, akhirnya motor pompa nomor satu itu dapat dihidupkan. Musliman dan sejumlah petugas yang menangani stasion pompa PDAM Tirta Tawar itu berteriak, setengah histeris. Mereka sangat gembira karena motor pompa nomor satu itu dapat dihidupkan. Sejak sore itu, suplai air untuk pelanggan kembali normal. Caci maki pelanggan yang dialamatkan kepada PDAM akan berkurang. Begitulah yang dikisahkan Yusuf kepada kompasianer. Untuk membuktikan kisah sang pekerja sosial yang bernama M Yusuf Mahmud itu, kompasianer berhasil menemui Musliman yang kini telah mendapat promosi sebagai Kabag Teknik PDAM Tirta Tawar itu. Musliman mengakui bahwa lelaki yang bernama M. Yusuf Mahmud itu pernah membantu mereka untuk menghidupkan motor pompa nomor satu yang sudah lama ngadat. Selama ini, jelas Musliman, jika pompa itu bermasalah, Direksi PDAM mengundang teknisi dari Medan Sumatera Utara untuk memperbaikinya. Kehadiran teknisi dari Medan ke Takengon membutuhkan waktu yang lama, harus antri, makanya motor pompa nomor satu itu terbengkalai. Sementara itu, PDAM sudah kadung dihujat oleh para pelanggan, malah ada yang menolak membayar harga air. Beratnya lagi, PDAM terpaksa mengupah teknisi tersebut dengan standar per jam kerja. Pernah PDAM harus mengeluarkan uang sebesar Rp.8 juta untuk membayar teknisi tersebut. “Alhamdulillah, Pak Yusuf itu tidak minta bayaran apapun, 100% gratis!” pungkas Musliman. Mendengar penjelasan Musliman, kompasianer makin percaya bahwa di negeri tercinta ini masih banyak orang yang ikhlas seperti sosok M. Yusuf Mahmud itu. Hanya saja, orang-orang seperti itu jarang terpublikasikan oleh media massa, karena mereka (umumnya) enggan menceritakan karyanya kepada wartawan. Untuk membangkitkan semangat bangsa ini, para pegiat jurnalistik warga sudah waktunya mempublikasikan sosok pekerja sosial yang ada disekitarnya. Semoga! Darwin Chalidi On Sep 17, 2013 11:23 AM, "Rina Permadi" <[email protected]> wrote: > Assalamu’alaikum Warahmatullahi,**** > > ** ** > > Adidunsanak palanta nah,**** > > ** ** > > Baa mangko di BUkik sajak bbrp tahun ko langka aia barasiah disalurkan > PDAM ?**** > > Sahinggo rato2 rumah kiniko mambuek sumua bor sandiri untuak kebutuhan > rumah.**** > > ** ** > > Bak kecek Papa ambo, kiniko kami indak tabari minun dek Pak Wako doh ?**** > > Panek mangomplen sajo, indak didanga, jadi rancak indak balangganan PDAM > bana wak laih daripado tabik suga surang sin.**** > > Malu ko bana agakno nan lah abih dek Pak Wako.**** > > ** ** > > Kiro-kiro apo nan manjadi sabab mangko indak ado pasokan aia di BUkik > laih, padohal dulu sabana malimpah waktu ambo di BUkik sampai tahun 1996. > **** > > ** ** > > Apo urang bukik disuruah untuak mambali aia sadono takah mambali bensin ?* > *** > > Antalah iah ?**** > > ** ** > > Mudah-mudahan ado nan bisa mambari jaleh masalahnyo sahinggo adolo nan > mambari solusi dek masalah tu. **** > > ** ** > > Wassalam**** > > Rina, 35, Batam**** > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
