Mohon izin babagi pandangan dunsanak palanta sekalian, terkait jo kondisi 
nagari awak secara umum dan pilkada di Sumbar khususnyo, tarutamo Kota 
Padang.

Sumber : http://www.sumbaronline.com/berita-16696-masih-samosamo-karajo.html

*(Masih) Samo-Samo Karajo*

Hujan mengguyur kota Padang beberapa hari di minggu-minggu terakhir ini, 
membasahi kertas-kertas dan kain-kain bergambar aneka wajah yang minta 
dikenal. Bersama dengannya, slogan-slogan klise beserta nama-nama bergelar 
yang terpampang didalamnya menciut dingin, basi dan hambar.

Sekitar delapan abad yang lalu, tidak jauh dari kota tersebut berdiri 
Kerajaan Minangkabau yang menjadi akar peradaban Sumatera Barat (Sumbar) 
saat ini. Ketika itu di dalamnya terjadi pertentangan antara dua 
pemimpinnya. Ialah Datuak Katumangguangan dan Datuak Parpatiah nan 
Sabatang. Perbedaan ide dasar antara mereka kemudian membawa perpecahan 
kerajaan ke dalam dua sistem politik, yaitu Lareh Koto Piliang dan Bodi 
Caniago.

Sekitar tujuh abad kemudian, pertentangan antar Putra Minangkabau kembali 
tercatat oleh sejarah, namun kali ini dalam skala yang lebih luas. Adalah 
mereka menjadi tokoh republik. Syahrir, Hatta, Natsir, dan Tan Malaka. 
Dalam Majalah Tempo Edisi Khusus Hari Kemerdekaan Tahun 2008 dimuat artikel 
pertentangan Tan Malaka dengan Mohammad Hatta. Mereka berselisih paham 
tentang bagaimana memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Sama-sama 
egois, Hatta sangat menentang komunisme. Ia menganjurkan koperasi dalam 
menegakkan ekonomi Indonesia. Sebaliknya, Tan Malaka percaya jika digabung 
antara Pan-Islamisme dan Komunisme, Indonesia bisa menjadi digdaya. 
Sementara itu, Syahrir bertahan dalam paham sosialisnya dan Natsir bersama 
Masyumi-nya.

Hari-hari akhir ini, hujan bersama sejumlah petaka yang menyertainya di 
Kota Padang seakan menjadi isyarat. Isyarat peringatan, antara memperingati 
semakin derasnya laju pertentangan antar putra Minangkabau atau 
memperingatkan mereka untuk meredam pertentangan. 

Sepanjang tahun 2013 ini, ada empat pilkada yang diselenggarakan oleh KPU 
Sumbar, yaitu di Kota Padang, Padang Panjang, Sawahlunto, dan Pariaman. 
Keempat pilkada ini berlangsung ‘ramai’, paling sedikit diikuti oleh lima 
pasang calon, yaitu di Padang Panjang dan Sawahlunto. Kemudian di Pariaman 
diikuti tujuh pasang calon dan Padang ada sepuluh pasang calon. Ini adalah 
pikada kedua yang terbanyak pesertanya setelah Kabupaten Mimika di Papua 
yang mencapai sebelas pasang calon pada Agustus lalu.

Inilah era baru pertentangan antar Putra Minangkabau, atau mungkin bisa 
juga disebut sebagai buah demokrasi Indonesia pasca reformasi (?). 
Demokrasi memang memberikan ruang yang cukup luas bagi kemerdekaan 
beraspirasi, hanya saja sayangnya mereka yang beraspirasi terlihat masih 
belum cukup paham akan tujuan sang demokrasi memberi mereka kebebasan 
tersebut.

Sebuah petitih minangkabau menyebutkan, *“Tatungkuik samo makan tanah, 
tatilantang samo minum ambun, tarapuang samo hanyuik, tarandam samo 
basah”.*Petitih ini sepertinya disalah-tafsirkan oleh para calon kepala daerah 
di 
Sumbar, malah menjadi ; *tabukak pilkada, samo sato manyalon*. Padahal 
sesungguhnya petitih ini menjelaskan tentang pentingnya kerja sama yang 
baik dalam masyarakat. Anjuran untuk membentu satu kesatuan hati dan 
pikiran, kesatuan pendapat dan gerak sebagai pokok utama membangun 
peradaban yang lebih baik.

Seharusnya petitih di atas dipahami dengan benar oleh para putra 
minangkabau yang bertentangan di atas sehingga kemudian “*Titiak buliah 
ditampuang, maleleh buliah dibaliak”*. Hasil kerja sama yang baik antar 
mereka nantinya akan dapat dinikmati bersama oleh masyarakat yang akan 
mereka pimpin.

Terhadap kondisi klasik yang terus menerus terjadi dalam dinamika kehidupan 
para putra minangkabau di atas, kemudian muncul sebuah anekdot ; *“Urang 
awak susah bakarajo samo, pandainyo samo-samo karajo”.* Tingkat ego 
individual dan keinginan untuk tampil yang tinggi pada masing-masing mereka 
membuat mereka susah untuk berdamai demi kepentingan yang lebih besar ; 
masyarakat. Akhirnya mereka lebih memilih *samo-samo karajo *yang muatannya 
lebih besar demi ambisi pribadi.

Memang perbedaan adalah rahmat, karena dari sekian perbedaan tersebut 
kemudian mampu melahirkan kombinasi-kombinasi yang bisa jadi sinergis. 
Namun beda yang mer-rahmat disini adalah dalam konteks substansi gagasan, 
sintesis sebuah proses ber-pikir ; *re-search*. Bukan untuk sebuah 
perbedaan akan hal-hal kepentingan politik transaksional yang miskin ide 
dan dangkal landasan.

Berapa biaya yang dihabiskan untuk kampanye oleh sekian banyak calon dalam 
pilkada?. Sudahkah mereka saling berkomunikasi sebelumnya atau setidaknya 
mencari tahu kualitas pasangan lain yang maju untuk saling *maukua 
bayang-bayang*?. Andai mereka benar telah melakukan hal ini dan paham 
prinsip kolaborasi, maka biaya kampanye tersebut akan bisa untuk sesuatu 
yang lebih bermanfaat. Sungguh sia-sia jika miliaran rupiah melayang hanya 
karena ambisi pribadi.

Era baru pertentangan ini terlihat semakin mengalami penurunan kualitas 
figur. Ada 10 pasang calon dalam Pilkada Padang. Jika dinilai dari cara 
mereka berkampanye di masa-masa sebelum kampanye ini, maka kita bisa lihat 
di sepanjang jalan Kota Padang. Hanya poster dan spanduk berfoto yang 
menyampahi jalanan, jarang sekali ide yang dijual. Pilkada Padang miskin 
gagasan , sepi pembaharuan, yang ramai hanya jargon-jargon klise yang 
semakin memuakkan masyarakat yang kian apolitis.

Ada tujuh calon independen dalam Pilkada Padang dan hanya tiga yang berasal 
dari parpol. Jika para calon memahami dengan baik tatanan ideal sebuah 
demokrasi, maka seharusnya ini tidak terjadi. Yang terjadi sekarang adalah 
gejala delegitimasi parpol, dimana parpol yang seharusnya menjadi instrumen 
utama dalam demokrasi semakin ditinggalkan dan para calon lebih memilih 
jalan independen.

*Mari Karajo Samo*

Masa depan Kota Padang khususnya dan Sumbar secara umum jika terus bertahan 
dalam prinsip *samo-samo karajo*, maka akan sangat lambat untuk mencerah. 
Minangkabau terkenal dengan gudang para tokoh, namun ironis ketika 
provinsinya sendiri masih lambat berkembang, susah maju. Peringkat  kinerja 
tata kelola pemerintahan Sumbar berada di peringkat 20 dari 33 provinsi di 
Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan  89 indikator pengukuran. Di 
antaranya, Human Development Index (HDI), pendapatan perkapita, tingkat 
kemiskinan dan untuk menganalisisnya digunakan dokumen APBD, statistik, 
Perda dan laporan-laporan lainnya.

Banyak tokoh Sumbar dengan prestasi nasional hingga internasional, namun 
belum optimal berkolaborasi. Orang minang gemar berorganisasi, namun 
sebagiannya dangkal pemahaman akan substansi berorganisasi, di Jakarta saja 
ada lebih dari 200 organisasi berbau kekeluargaan minang. Banyak yang 
menjadikannya sebagai alat untuk tampil secara pribadi ke permukaan. 
Mestinya organisasi jadi alat berkolaborasi, menyinergikan potensi-potensi.

Ada Saudagar Muda Minang, Gebu Minang dan masih banyak lagi, namun 
lagi-lagi seringkali terbentur pada prinsip *samo-samo karajo* atau 
terjebak kondisi kedangkalan pemahaman.

*“Taimpik nak di ateh, takuruang nak dilua”, *petitih ini tampaknya melekat 
secara kurang proporsional penerapannya dalam kehidupan individu minang. 
Mestinya ini digunakan dalam kondisi tertentu ketika di rantau, bukan dalam 
konteks membangun ranah. *Mambangun nagari* membutuhkan prinsip kolaborasi, 
bekerja sama. Mari belajar dari peradaban yang lebih maju, Henri Ford 
menyatakan, “Kebersamaan adalah permulaan, menjaga bersama adalah kemajuan, 
dan kekerja bersama adalah keberhasilan”.

*Ibnu Budiman*


------------------------------
 (Masih) Samo-Samo Karajo - 
SumbarOnline.com<http://www.sumbaronline.com/berita-16696-masih-samosamo-karajo.html>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke