Assalamu'alaikum Wr. Wb sanak palanta RN n.a.h. terinspirasi oleh surel Ajo Duta tanggal 11 September saat shalat Subuh di Pariaman yang hanya berisikan 1 (imam) + 3 (jamaah lelaki) + 7 (jamaah padusi), saat itu cukup banyak yang memberikan tanggapan bahwa kondisi serupa juga mudah ditemukan di pelbagai tempat di tanah air.
Karena ambo tinggal di Cibubur, ambo coba melakukan pengamatan terlibat di beberapa masjid di kawasan Cibubur. Awalnyo ambo ingin berpindah-pindah masjid tiap shalat Subuh (random sampling), tapi karena mendapatkan beberapa hasil pengamatan yang mengejutkan (dalam arti positif, bagi ambo) akhirnya baru sempat melihat trend jamaah di 4 masjid (5 dengan musholla komplek ambo). Resumenya sbb; I. *Masjid Hidayaturrahman, Kranggan.** Lokasi: pinggir jalan Kranggan Raya dakek pom bensin (arah komplek Bumi Eraska, rumah Rang Dapua Miko Mikardo). Dari rumah ambo sekitar 10-12 menit dengan baoto. Ciri khasnyo masjid putih dengan menara yang juga putih bersih. Sangat mudah terlihat dari arah Jatiwarna menuju Cibubur, atau sebaliknya. Hari 1: Jamaah (laki-laki) sekitar* 40 orang*. Jamaah perempuan indak tacaliek di ambo (ado pambateh). Pada hari partamo, ambo baru kenal sahari sabalunnyo secara pribadi dengan sang imam (ado kisah tersendiri nanti) nan banamo Ust. Muh. Mahfuz (27 tahun), asal Langsa, Aceh, nan alah hafiz sejak umur 12 (belajar di pesantren hafizul qur'an di Medan). Imam mambaco QS 3: 155-163 dipecah dalam 2 rakaat, dengan bacaan yang sangat tartil dengan suaro bariton yang cenderung nge-bas. Barek, mantap. (Iko hal penting nan akan ambo elaborasi pulo tersendiri). Usai shalat, zikir imam dan jamaah dalam senyap (tanpa jahr apalagi dengan mikropon seperti di beberapa masjid, yang dilanjutkan dengan wirid dan bersalam-salaman). Tidak lama, karena kemudian seorang lelaki muda lain maju membawa kitab kuning, dan duduk di samping Ust. Mahfuz. (Belakangan ambo tahu judul kitab itu "Faqad Ja'a Asyratuha", tentang tanda-tanda Kiamat, karya Imam Athiyah). Lelaki muda seumuran Ust. Mahfuz ini bernama Ust. Herfi, hampir hafiz, membaca sebuah hadis, menjelaskan arti dan maknanya, tanpa panjang lebar. Benar-benar seperti kultum saja. Persis jam 05.00 WIB selesai. Luar biasonyo, jamaah nan 40-an orang itu juga terlihat sabar, tidak buru-buru pulang begitu shalat usai. Mereka baru bangkit dari duduk setelah Ust. Herfi selesai. Ambo mangecek sabanta jo Ust. Mahfuz, dan dapek informasi bahwa bisuak adalah jadwal inyo mambarikan kultum. Iko mangubah rencana ambo, nan awalnyo ingin pindah musajik lain, akhirnyo kambali mamutuskan ke Hidayaturrahman pada hari kaduo. Hari 2: Jumlah jamaah taliek samo. Ust. Mahfuz mambaco QS 3:181-191 untuk 2 rakaat Subuh. Usai salam, baliau mambuka kitab "Al Kabair" (Dosa-dosa Besar) karya Imam Az-Zahabi. Samo seperti caro Ust. Herfi, satu hadis dibacakan redaksi aslinya, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, lalu diberi tafsir singkat. Persis jam 05.00 pun kultum usai. Pado hari kedua ko, ambo alah tahu jadwal bahwa Ust. Herfi maisi tiok Senin-Kamis, dan Ust. Mahfuz maisi tiok Salasa-Jum'at. Hari Rabu jadwal Ust. Lubab, juo seorang hafizul qur'an saroman Ust. Mahfuz, yang mengupas kitab "At Tibyan" (adab berinteraksi dengan Al Qur'an) karya besar Imam Nawawi. Pado hari katigo, ambo sampek bapikia: apakah melanjutkan ke Hidayaturrahman (yang ternyata sangat mengena suasananya bagi ambo) atau "kembali ke laptop" mencari musajik lain, sesuai rencana observasi awal. Akhianyo ambo pilih nan kaduo: pindah musajik dulu. ----- *Note: Jalan Kranggan Raya ini bersambung dengan Jalan Hankam Raya, yang dulu bernama Pondok Gede Ujung Aspal, dan menjadi terkenal setelah dinyanyikan Iwan Fals yang pernah bermukim di kawasan ini. ----- II. *Masjid An-Nikmah, Citra Grand* Lokasi: Jl. Alternatif Cibubur, kalau dari Exit Toll Cibubur arah ke Cikeas, posisi di sebelah kanan. Dari arah jalan raya (Mal Ciputra) masuk ke dalam komplek sekitar 1,5 km dari gerbang utama. Hari 1: Masjid ber-AC, karpet warna hijau tebal, lembut, wangi. Namo imam ambo alun tahu. Tapi tampaknyo anak mudo usia 30-an tahun pulo. Untuk rakaat partamo, imam membaca *An-Naziat* (yg tdd 46 ayat) dan rakaat kedua*'Abasa * (42 ayat). Suaronyo juo cenderung rendah dan barek, setipe dengan Syekh Mishary Rashid Al 'Afasy kalau sedang murottal dengan suara rendah. Indah. Usai salam, ambo tengok ka balakang dan hitung capek jamaah, ambo parkiroan antaro *70-80 jamaah*. Laki-laki sajo (jamaah padusi juo indak taliek karano ado kain pambateh). Subhanallah! Seorang jamaah senior di samping ambo tampaknyo tahu ambo indak paranah taliek di sinan memperkenalkan diri sebagai Pak Siswandi dan dengan ramah manjalehkan, "Alhamdulillah sekarang agak ramai Pak Akmal. Dulu waktu awal-awal paling cuma 5 orang. Itu pun tiap malam saya ingatkan, dan kadang besoknya saya jemput supaya sama-sama ke masjid," ujar beliau yang merupakan pengurus An Nikmah periode I (kini masuk periode III). Usai shalat indak ado kultum atau baco kitab kuning saroman di Hidayaturrahman. Tapi ambo memperhatikan, jamaah juga nyaris tidak beranjak pergi, tenggelam dalam zikir sunyi masing-masing yang membuat suasana syahdu. Baru sekitar jam 05.00 WIB satu persatu jamaah bangkit, termasuk ambo. Ketika ambo keluar pintu, ambo caliak masih ado sekitar 20-an jamaah nan duduak bazikir atau maambiak Qur'an untuk tadarus. Masjid An-Nikmah ini posisinya unik karena betul-betul posisinya bersebelahan, tanpa pagar, dengan Gereja POUK, di mana keduanya merupakan fasum yang dibangun pengembang Citra Land. *III. Masjid Darussalam, Kota Wisata.* Lokasi: di dalam Kota Wisata, sekitar 3 km dari jalan utama Cibubur arah Mekarsari. Masjid ini menempel dengan Sekolah Islam Fajar Hidayah. Biasonyo ambo shalat Jumat dan shalat Ied di musajik iko. Jaraknyo sekitar 15-20 minik dari rumah dengan oto (tapi kalau kemacetan Cibubur yang terkenal itu sedang menggila, waktu tempuh bisa berlipat dua pula). Dari tigo musajik, Darussalam iko nan paling gadang, kiro-kiro saroman Masjid Sunda Kelapa di Menteng, dan sangat* hi-tech* pulo karena di dinding depan, kiri-kanan, terpampang layar proyektor besar dan mereka sudah punya website yang menyajikan semua ceramah dan khutbah secara live dan streaming di www.darussalam-online.com. Untuak musajik ko, nan ambo caritokan kali ko adalah saat Kuliah Sabtu Sore (Sabtu pekan lalu) yang berlangsung ba'da Ashar sampai Maghrib. Darussalam punya lima jadwal kajian umum yakni Kuliah Subuh Pagi, Kuliah Sabtu Sore, Kuliah Subuh Ahad, Kuliah Ahad Sore, dan Kuliah Ahad Malam. Sasaran observasi ambo partamo adolah Kuliah Sabtu Sore, nan manuruik perkiraan ambo, akan merupakan waktu yang paling sedikit dikunjungi jamaah karena weekend dan menjelang Malam Minggu. Hari I: ambo datang talambek saketek sahabih manjapuik anak pulang sekolah. Shalat Ashar baru usai, Kuliah Sabtu Sore akan dimulai. Pembicara waktu itu adolah Ust. Nurul Zikri, LC. Usai ambo shalat Zuhur ambo liek jamaah laki-laki ado sekitar *90-100 urang*, duduak tersebar seperti layaknya mendengar ceramah agak panjang. Jumlah jamaah padusi indak tahu pasti karena ado pambateh. Tapi dari bayangan nan taliek, tampak agak banyak juo. (Dan memang tampek parkir Darusssalam wakatu itu iyo padek bana). Tigo kamera TV menyorot Ust. Nurul Zikri dari kanan, kiri, dan depan, menyalurkan ke kedua layar proyektor di dinding dan tayangan online/real-time di situs Darussalam. Ust. Nurul Zikri dari cara bicaranya tergolong pembicara yang lembut, santun, bukan penceramah yang berapi-api atau suka melucu seperti kini banyak di televisi. Rasonyo ambo indak maliek ado jamaah beranjak bangun sampai ceramah selesai sekitar jam 17.15 WIB. Usai ceramah, karena ambo masih ingin merasakan suasana masjid yang berbeda, ambo bergegas menuju Masjid Ittihad, Legenda Wisata, agar tak terlambat shalat Maghrib. (Insya Allah untuk "liputan" shalat Subuh di Darusssalam, akan ambo susulkan karena jika tak ada aral ambo akan mancubo shalat Subuh di siko hari Sabtu mendatang sambil mendengar Kuliah Subuh Sabtu). Secara teknis Kota Wisata dan Legenda Wisata adalah dua komplek perumahan yang "berhadapan". Tapi karena luas keduanya yang sama-sama masif, ditambah harus mengambil jalur putar (U-Turn) agak jauh di dekat pom bensin Cileungsi, mungkin jarak antar kedua masjid bisa sekitar 10 km sendiri, belum ditambah jalur Cibubur yang selalu macet. *IV. Masjid Ittihad, Legenda Wisata * Lokasi: Dari pintu gerbang perumahan lokasi masjid ini sekitar 2-2,5 km sendiri, di dekat sekolah Global Mandiri. Alhamdulillah, ambo indak telat ikut Maghrib. Begitu usai salam, seorang pengurus mengumumkan jamaah jangan pulang karena ada kajian kitab "Riyadhus Shalihin" oleh Ust. Zaki Umar. Kajian malam itu tentang "Sabar" dari Hadis No. 20 dan No. 21, yang menceritakan saat Abu Thalhah, Sahabat dari Anshar yang terkaya di Madinah, kehilangan anaknya yang masih balita, tapi kemudian Allah "mengganti" dengan membuat istri Abu Thalhah kembali hamil, melahirkan bayi lelaki yang diberi nama oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Abdullah, di*-tahniq* (diberi lumatan buah kurma yang sebelumnya sudah dikunyah Rasulullah) dan kelak sejarah mencatat, Abdullah ini memiliki 9 anak yang semuanya hafiz. Jumlah jemaah Maghrib sekitar *50-60 orang,* lanjut sampai 'Isya. Pada 'Isya ini imam masjid adalah Ust. Zaki Umar sendiri (waktu shalat Magrib bukan). Beliau membacakan surah Al Qalam (68) yg tdd dari 52 ayat untuk rakaat 1 dan 2. Bacaannya juga tartil, tidak tergesa-gesa. Dengan resume singkat, yang jadinya ternyata agak panjang juga ini, ambo tidak akan mengambil kesimpulan apa-apa (untuk Palanta, meski ambo tentu punya kesimpulan untuk diri sendiri), selain ambo hanya memaparkan sebuah observasi singkat, bahwa untuk kawasan Cibubur, wa bil khusus di masjid-masjid yang ambo sebutkan di atas, respon dan antusiasme jamaah ternyata di luar dugaan ambo: masih baik, bersemangat, dan tertib. Jadi kalau satu waktu sanak Palanta sedang malinteh di kawasan Cibubur dan bertepatan jatuh waktu shalat, silakan mampir ke salah satu masjid di atas terdekat. Insya Allah tidak akan menemukan formasi "137" yang membuat Ajo Duta (dan kita semua tentunya) bersedih. Insya Allah jadwal "Malala di Wakatu Subuh" ambo untuk pekan depan adolah ka Masjid Cikeas (persis di depan Puri Cikeas, kediaman Presiden SBY), dan Masjid Ar-Rahmah di Raffles Hills, tampek sanak Teddy Delfri bamukim. Masjid Ar Rahmah ko acok mambuek bedah buku, dan bukan hanya di waktu Dhuha atau Siang/Sore hari, tapi juga di waktu Subuh. Semoga bermanfaat dan (agak sedikit) membesarkan hati, bahwa antusiasme mendatangi mesjid dan menghadiri majelis-majelis ilmu masih cukup besar. Salam, ANB 45, Cibubur PS: Untuk kisah Ust. Mahfuz akan ditulis dalam posting tersendiri, tidak jadi dalam posting ini yang sudah cukup panjang. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
