Dunsanak sadonyo, 



berikut sekedar cerita ringan di hari jumat , renungan dari bawah pohon kurman, 


Mengenai betapa perlu nya kita menjadi diri kita sendiri, tak selalu melihat dg 
kacamata org lain, berpikir dg kepala orang lain 

yg tanpa disadari telah dibenamkan ke otak kita semua sejak di bangku sekolah 
dulu,
bagaikan orang yg berperang dg senjata buatan orang lain, kita akan selalu 
kalah dalam pertarungan, jadilah diri kita sendiri


tulisan selengkapnya silahkan baca di link berikut :

http://wp.me/p2VPt-t1

semoga bermanfaat


salam dari bawah pohon kurma, gurun pasir Abu Dhabi


Hendra Messa

http://hdmessa.wordpress.com

-----------




Waktu 
masa kecil di Bandung dulu, satu hal yg berkesan saat pergi ke keramaian pasar, 
ialah melihat tukang obat atau tukang sulap yg suka menggelar 
atraksi2 aneh, tenaga dalam atau unjuk kedigdayaan  yang menarik. 
Biasanya sebelum mulai, ia akan bilang, “punten dulur saguru saelmu, 
tong ngaganggu nya”, artinya dalam bahasa sunda, mohon untuk saudara 
seguru seilmu jangan mengganggu. Karena atraksi uniknya spt memasukkan 
besi ke dalam tubuh dll, bisa gagal kalau ada org lain yg punya ilmu 
yang sama, seperguruan silat atau lebih tinggi ilmunya mengganggu 
atraksinya tersebut.

Ungkapan,   “satu guru satu ilmu jangan saling ganggu”, dikenal juga dalam 
cerita 
komik dunia persilatan yg biasa saya baca waktu remaja dulu,  maknanya 
ialah para pesilat dari satu perguruan memiliki ilmu yg sama, tahu 
taktik dan rahasia jurus2 nya, mereka saling tahu. Karena itu biasanya 
para pesilat yg senior kemudian mengembangkan jurus2 tersendiri yg tak 
didapat dari guru nya, ia berguru ke tempat lain dan meramu berbagai 
jurus2 silat menjadi jurus2 baru. Sehingga ia bisa menjadi pesilat yang  jagoan 
tak terkalahkan, biasanya jadi guru besar melanjutkan 
kepemimpinan perguruan silat dari gurunya, atau  bahkan mengembangkan 
perguruan tersendiri atau.

Analoginya ialah, bahwa prestasi atau 
kemenangan dalam sebuah persaingan bisa diraih bila kita memiliki suatu 
kelebihan yg tak dimiliki orang lain.Kalau istilah silat ia memiliki 
senjata dan jurus rahasia sendiri yg tak terkalahkan, keunggulan diri yg tak 
dimiliki pihak lain. Kalau kita menggunakan ilmu atau jurus punya 
orang lain, bagaimana pun kita akan bisa dikalahkan oleh mereka yg 
pertama kali mengembangkan ilmu/jurus tersebut yang pasti lebih tahu, 
lebih mahir dan telah maju beberapa langkah mengembangkan ilmu2 baru. 

Kalau hanya mengikuti orang lain kita 
akan susah untuk menang, begitu pula halnya dalam peperangan, kalau kita 
berperang menggunakan senjata orang lain, kita pasti akan terkalahkan 
oleh pihak yg membuat dan mengembangkan senjata tersebut yang sudah 
pasti  selangkah lebih maju dalam bagaimana menggunakan nya, dan tetap 
akan menyimpan kemampuan rahasia senjata tersebut, tak dijual ada pihak 
lain.  
Orang2 pintar yang merancang pendidikan di negeri pun, merancang pendidikan 
seperti apa yg mereka pelajari dari dunia barat, sehingga mulai dari sekolah 
pun anak2 indonesia sudah 
diajar berpikir dengan pola pikir yang tak aseli Indonesia, seperti apa 
yang tampak pada materi2 pelajaran dari SD sampai perguruan tinggi.Coba 
lihat buku textbook mahasiswa di perguruan tinggi, kebanyakan adalah 
terjemahan dari buku2 di Negara barat. Jarang sekali rasanya ada muatan 
pendidikan yg benar2 kreasi orang Indonesia sendiri. Muatan pendidikan 
yang berasal dari alam Indonesia sendiri (kecerdasan lokal). Sekolah tak banyak 
memberi banyak kesempatan pada anak didik untuk mengembangkan 
dirinya sendiri sesuai potensi alamiahnya sebagai orang Indonesia.  

Kita tak diajar menjadi diri sendiri, 
mengembangkan kemampuan sendiri, tapi anak didik sejak kecil bagaikan 
dijajalkan pengetahuan2 dari luar, cobalah tengok pelajaran spt sains 
atau ekonomi. Memang banyak hal berharga yang bisa kita pelajari dari 
barat, tapi tak selalu harus dengan menghilangkan apa yg ada pada diri 
kita dan alam Indonesia.

Muatan pendidikan yang tidak khas 
Indonesia dan bernuansa luar tersebut,membuat anak didik, berpresepsi, 
melihat dengan cara pandang orang lain pula, mereka bagaikan orang yang 
melihat dengan kacamata orang lain, tidak jadi orang yang mandiri, namun 
cenderung menjadi pengikut. Dan lebih jauh lagi, membuat kaburnya jati 
diri sebagai bangsa Indonesia, cenderung mengikut jati diri dan budaya 
bangsa lain. Bila telah menyeluruh jadi pengikut, maka seseorang tak 
sekedar melihat dengan kacamata orang lain, tapi lebih jauh lagi, ia 
menjadi bagaikan orang yang berpikir dengan kepala orang lain.

Padahal kalau kita bisa jadi diri sendiri, menggunakan kekuatan sendiri kita 
bisa menang, seperti cerita si Kancil yg cerdik, kita bisa pula belajar pada  
kisah perang Vietnam dimana pasukan Vietnam dibawah pimpinan Ho Chin Mhin yg 
bisa mengalahkan tentara Amerika yg didgaya


Kita harus merdeka , jadi diri kita sendiri, mengembangkan kekuatan sendiri 
dari sanalah kekuatan akan muncul

cerita selengkapnya lihat di link berikut  ; http://wp.me/p2VPt-t1

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke