Jumat, 04 Oktober 2013 01:48

SilaturahmI ada­lah kata majemuk, berasal dari bahasa Arab, shilat dan
rahim. Kata shilat adalah derivatif dari kata washl, berarti meng­himpun
dan menyambung. Jadi, kata shilat berarti meng­hubungkan sesuatu yang
terputus dan menghimpun yang berserakan.

Sementara kata rahim secara bahasa mempunyai beberapa arti. Ia bisa berarti
kerabat dekat, yaitu antar mereka yang ter­dapat hubu­ngan nasab, baik
berhak mewarisi atau tidak dan sebagai mahram atau tidak. Ia dapat pula
berarti “kasih sayang.

Dari makna terakhir ini berkembang penggunaan kata rahim dengan arti
“peranakan” (kandungan), karena anak yang dikandung selalu mendapatkan
curahan kasih sayang ibunya. Pemakaian kata silaturahmi berkembang tidak
hanya ditujukan untuk mereka yang mempunyai hubungan nasab, tetapi meliputi
sesama muslim.

Penekanan utama silaturahmi bukan pada kunjungan dan pemberian hadiah,
tetapi terletak pada upaya menyam­bung yang terputus antara sesama muslim
dan menjaga hubungan baik diantara mere­ka. Ini meng­isyaratkan  sebe­lum
silaturahmi berlangsung, hubungan muslim dengan muslim lain yang
bersilaturahmi ada masalah, pernah kusut, tidak berjalan dengan lancar,
baik karena konflik maupun dilatar bela­kangi kesibukan hidup sehingga
terabaikan pembinaannya.

Bila hubungan mereka tidak lancar karena terabaikan pembi­naannya, dengan
silaturahmi hubungan itu lancar kembali. Begitu pula, bila hubungan antara
mereka beku atau kusut karena konflik, silaturahmi berperan menye­lesaikan
dan mencairkan hubungan itu kembali seperti sedia kala. Maka upaya
me­melihara silaturahmi dalam Islam adalah :

Pertama, saling mengun­jungi sesama muslim. Melalui kunjungan itu tercipta
hubu­ngan kasih sayang dan persau­daraan yang erat antara sesama mereka
yang telah saling kenal dan dapat mencip­takan silaturahmi baru dengan
muslim yang belum dikenal. Dorongan Nabi ini memotivasi para sahabat untuk
saling mengun­jungi satu sama lain, bukan hanya saat duka seperti sakit,
meninggal dan ditimpa musi­bah, tetapi juga saat suka dan mendapat nikmat
dari Allah sebagai ungkapan syukur dan ikut serta merasakan kebaha­giaan
saudaranya.

Kedua, memberikan pemb­e­rian yang tulus (hadiah) kepada saudara sesama
muslim. Nabi merangsang setiap muslim memberikan yang terbaik dari miliknya
kepada sesama mus­lim yang tentu saja bukan termasuk dalam kategori
pemberian wajib, mengingat pemberian wajib seperti zakat mutlak harus
ditu­naikan muslim yang mampu.

Pemberian di sini adalah pemberian yang hukumnya sunat (hadiah) sebagai
keuta­maan akhlak dari orang yang memberi. Nabi SAW bersabda: “Tidak
beriman seorang muk­min hingga ia mencintai saudaranya sebagai­mana ia
mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari).

Hadis ini mengisyaratkan iman seseorang dipandang sempurna manakala ia
mencin­tai saudaranya sesama muslim seperti ia mencintai diri sendiri.
Ketika ia melihat saudaranya kekurangan secara ekonomi dan mem­butuhkan
bantuan, ia segera memberikan bantuan, baik diminta maupun tidak diminta.

Hal ini dicontohkan para sahabat Anshor ketika me­nyam­but kedatangan
saudara mereka Muhajirin dari Makkah yang saat itu rata-rata tidak
memil­iki kemampuan materi mema­dai ketika hijrah ke Madinah. Kaum Anshor
de­ngan penuh persaud­araan memberikan harta benda, tempat tinggal dan
perleng­kapan lain untuk meme­nuhi kebutuhan kaum Mu­hajirin.

Bahkan, dalam sejarah ada di antara orang Anshor yang bersedia menceraikan
istri yang lebih dari satu orang untuk dinikahi saudaranya dari Makkah.
Bantuan kaum Anshor ini merupakan perekat kuat silaturahmi mereka dengan
Muhajirin dalam naungan Islam di Madinah.

Ketiga, silaturahmi dapat diwujudkan dengan sikap memaafkan sesama muslim,
bahkan terhadap ahli maksiat dan non muslim yang berbuat salah. Sikap ini
dicontohkan Nabi SAW bersama sahabatnya yang pernah terusir dari Makkah,
kampung halaman mereka, karena perlakuan kasar orang-orang kafir Mak­kah.

Sikap memaafkan muncul dari iman yang mereka miliki dan ditujukan guna
membina silaturahmi antara mereka dengan penduduk Makkah saat itu. Sikap
memaafkan sangat ditekankan al-Qur’an.

Artinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf,
serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. (QS.al-A‘raf {7}: 199).

Ketika ayat ini turun, Jibril langsung menjelaskan pada Nabi Muhammad
maksudnya, yaitu hendaklah kamu memaaf­kan orang yang menzalimimu, dan
menghubungkan silaturahmi dengan orang yang memu­tuskannya darimu serta
memberi sesuatu yang berman­faat kepada orang yang memu­suhimu.

Perintah memaafkan dalam ayat itu bersifat umum, bukan hanya ditujukan
antara sesama muslim, tetapi meliputi ahli maksiat dan non muslim. Dendam
yang tidak terbalas menimbulkan tekanan keji­waan kepada orang yang dendam.
Oleh sebab itu, memberi maaf meru­pakan sikap terpuji yang didu­kung iman
yang baik dan ini hanya mampu dilakukan orang yang ingin membina hubungan
silaturahmi sesama muslim.

Sikap memaafkan semakin baik apabila didukung sikap tidak emosional dan
mampu mengendalikan marah dalam pergaulan sehari-hari. Nabi SAW. ber sabda:
Orang kuat bukanlah orang yang mampu mengalahkan musuh, tetapi orang yang
mampu mengen­dalikan diri ketika marah (HR. Bukhari). Hadis ini
mengin­formasikan bahwa kekuatan seseorang bukan diukur dari kemampuan
mengalahkan musuh, tetapi diukur dari kestabilan emosinya sehingga mampu
menahan marah.

Keempat, bentuk lain silaturahmi berupa usaha mem­berikan kebaikan kepada
sesama muslim dan upaya menolak keburukan dari mereka dengan menggunakan
harta dan lainnya. Islam menga­njurkan apabila ada orang yang berbuat baik
kepada kita, maka kita harus berupaya mem­balas­nya dengan yang lebih baik
atau minimal sama dengan yang dilakukannya kepada kita.

Kelima, silaturahmi diwu­judkan pula dengan mendoakan sesama muslim agar
diberikan Allah kebaikan dan keselamatan  hidup dunia dan akhirat.

Keenam, silaturahmi dapat diperlihatkan dengan menam­pilkan wajah yang
berseri-seri sebagai wujud rasa gembira dan senang ketika bertemu dengan
sesama muslim, mes­kipun satu sama lain belum saling menge­nal. Lebih baik
lagi apabila dalam pertemuan tersebut diawali dengan mengucapkan salam,
sebagai doa selamat terhadap orang yang ditemui.

Faedah Silaturahmi

Memelihara silaturahmi sesama muslim mempunyai manfaat besar di dunia dan
akhirat. Rasulullah SAW menje­laskan beberapa man­faat yang didapat orang
yang memelihara silaturahmi, yaitu dipan­jangkan umurnya, diberi Allah
kelapangan rezeki dan dicintai keluarganya, seperti sabdanya: “Barangsiapa
bertak­wa kepada Tuhannya dan menyambung silaturahmi, niscaya dipanjangkan
umurnya, dibanyakkan rezekinya dan dicintai  keluarganya.” (HR Bukhari).

Menurut ulama hadis, bertambah umur karena silaturahmi mengandung dua
kem­ungkinan.

(1), bertambah umur itu merupakan kinayah (kiya­san) dari usia yang diberi
berkah Allah sehingga orang yang bersangkutan mendapat taufik untuk
menjalankan ketaatan kepada-Nya dan mampu meng­gunakan setiap detik
kehidupan untuk hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.

(2), tambahan umur itu benar-benar terjadi. Ini berhu­bungan dengan
malaikat yang diberi tugas mengenai umur manusia. Dalam ilmu Allah, umur
seseorang telah ada ketetapan yang pasti. Misalnya, Allah mengatakan kepada
malaikat-Nya bahwa umur seseorang 100 tahun jika dia menyambung silaturahmi
dan 60 tahun jika ia memu­tus­kannya. Dalam ilmu Allah seseorang telah
diketahui bahwa ia akan menyambung silaturahmi atau memutuskannya. Apa yang
ada dalam ilmu Allah tidak akan maju atau mundur. Adapun yang ada dalam
ilmu malaikat yang mungkin bisa bertambah atau berkurang. Jadi, orang yang
memelihara silaturahmi mendapat tam­bahan umur yang ada dalam lingkup tugas
malaikat Allah. Manfaat lain silaturahmi membuat pelaku dicintai keluarga
dan muslim lain, termasuk upaya menyenangkan hati orang, baik keluarga,
karib kerabat maupun orang lain. Ini membawa dampak positif sehingga ia
dicintai dan disenangi keluarga serta orang lain. ***

http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=26740:sempurnakan-silaturahmi-sesama-manusia&catid=11:opini&Itemid=187

-- 
*
*
*Wassalam

*
*Nofend St. Mudo
37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola
*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke