Ass ww Pak Muchtar Naim nan ambo hormati serta sanak sapalanta RN nah pulo. Komentar ambo hanyo menyangkut materi makalah yang pak MN sampaikan pada Seminar Pedagang Minang sedunia 6 (enam tahun ) yang lalu. Enam tahun yang lalu itu , Pemerintah kita sudah dibawah KOMANDO Sby. Sby seorang militer dan pengalamannya banyak di bidang Hankam, karena itu orientasi ekonomi untuk kemakmuran bangsa , orientasi untuk mensejajarkan kemampuan bisnis antar pengusaha Pribumi agar sejajar dengan pengusaha Non Pribumi belum ada dalam kamusnya. Kita juga tidak bisa menyalahkan SBY sebagai pemimpin terakhir era ini, karena dia juga tidak mendapat amanat yang di estafetkan dari pemimpin negeri ini sebelumnya. Ibu Mega tidak mewarisi konsep konsep untuk mensejajarkan pribumi dengan non pribumi dalam bidang ekonomi, karena beliau memang tidak menyadari bahwa ketimpangan itu perlu di perbaiki, walaupun partai beliau diasosiasikan sebagai partai wong cilik. Tidak ada konsep konsep yang nyata untuk memperbaiki ketimpangan yang ada. Pemimpin kita sebelum Ibu Mega adalah Gus Dur. Selama menjadi Presiden beliau lebih banyak " berkunjung" ke LN, untuk membina hubungan dengan berbagai negara. Beliau manusia "setengah dewa" , seorang budayawan , ulama , humanis dan anti ekslusime , bahkan pada era beliau Non Pribumi malah mendapat angin karena budaya cina yang ‘disimpan’ dizaman Sukarno dan di zaman Suharto, maka dizaman Gus Dur dimerdekakan dengan perlindungan dari beliau. Tidak ada yang diperbuat Gus Dur yang konseptual yang bertujuan untuk mensejajarkan ketimpangan ekonomi Pribumi dengan Non pribumi. Habibie, orientasi dan fokus arah kebijakannya ada pada teknologi. Beliau bukan Sarjana Sosial seperti pak MN yang menguasai aspek sosial kemasyarakatan. Sehingga selama kepemimpinannya, masalah ketimpangan ekonomi dan sosial sama sekali jauh dari jangka pemikirannya. Tidak ada perubahan berarti dan tidak ada peran yang dimainkannya untuk mengurangi kesenjangan. Beliau seorang yang sangat memperhatikan tata krama demokrasi, dan amat peka terhadap kritikan Barat dan inilah yang menyebabkan Timtim itu lepas dari NKRI. Sebenarnya kesempatan untuk mensejajarkan peranan dalam bidang ekonomi antara non Pribumi (WNI Keturunan) dengan pribumi hanya mungkin kalau pemerintah kita itu lebih otoriter, sehingga dengan sedikit political will yang berpihak kepada kaum pribumi, beliau berani memaksakan kebijakan kebijakan yang tegas berpihak kepada pribumi. Di Zaman Suharto, dia banyak berbuat bagi rakyat. Ada program keluarga berencana, ada program swa sembada pangan, ada program perumahan bagi rakyat . Ada program ekonomi yang memberi peluang usaha kepada rakyat dalam bentuk pemberian kredit KIK Dan KMKP yang hanya diberikan kepada pribumi. Bank bank juga lebih mempermudah kredit besar kepada pribumi (sepanjang usahanya visible) dengan memberikan keringanan dalam soal jaminan. Ada program memberdayakan rakyat di bidang perkebunan (Karet dan sawit) dalam bentuk program PIR Trans. Sebagian besar program itu berhasil, namun kekurangannya adalah Non Pri itu juga diberi kebebasan untuk berusaha dan kebanyakan memang pada bidang Industri yang berskala besar dan tentu saja yang besar lebih cepat berkembang dengan multiplier yang lebih tinggi. Secara nasional usaha besar itu juga punya efek yang signifikan terhadap GDP sedangkan yang kecil berkembangnya hanya sekedar meningkatkan kesejahteraan bagi rakyat pelaku ekonomi itu saja. Sekarang zaman sudah berubah pak MN. Demokrasi di bidang politik sudah sangat maju (ada yang menganggap kebablasan) dan hal ini diartikan oleh banyak pihak bahwa setiap anggota masyarakat (baik pri maupun non pri) punya hak yang sama. Sehingga kalau Pemerintah membuat kebiijakan yang ekslusif bagi pribumi , maka kebijakan itu dianggap “SARA”. Pemerintah menjadi terkekang , serba salah dalam berpihak kepada Pribumi. Kesadaran berdemokrasi (terutama bagi WNI) menyebabkan mereka juga punya keberanian (setidaknya secara kolektif) menuntuk hak sama dengan pribumi. Tidak hanya dibidang ekonomi melainkan juga dibidang politik. Dan tampaknya (setidaknya di Jakarta) mayoritas masyarakat sudah menerima keadaan ini. Buktinya orang lebih senang memilih Ahok ketimbang warga asli Betawi menjadi orang ke dua di DKI. Sekarang sedang gencar berkampanye, HT di boncengan Wiranto, sebagai calon RI Dua. Orang seperti pak MN amit amit, pasti tidak akan memilih dia. Tetapi masyarakat lain tidak sama pemikirannya dan malah akan melihat gejala ini sebagai sesuatu yang baru dengan harapan yang baru pula, tentunya agar negeri terhindar dari praktik "Korupsi" yang berkesinambungan. Padahal, sesuai dengan makalah pak MN , mereka itu adalah pelopor dalam soal membudayakan korupsi bagi pejabat negara. Begitu parahnya korupsi di negeri ini, sehingga harapan harapan dari masyarakat untuk menggantungkan peberantasan korupsi ini pada figur calon pemimpin tertentu kadang tidak rasional. Dari celotehan diatas, saya ingin mengilustrasikan bahwa hal hal yang pak MN kemukakan dalam makalah pak MN diatas yang faliditasnya menurut saya cukup tinggi , semakin kecil peluangnya untuk diperbaiki. Hambatan pertama adalah karena sistim politik kita saat ini yang berbasis "demokrasi" dimana semua punya hak dan kewajiban yang sama. Sistem demokrasi itu adalah hambatan bagi penguasa untuk membuat kebijakan yang diskriminatif. Dengan demikian kebijakan akan berjalan "as usual " dan tetap akan menyisakan ketimpangan di masyarakat, terutama dalam soal ekonomi dan kesejahteraan. Yang kedua, kalaulah, masalah yang pak MN beberkan tersebut disampaikkan ketika zaman Suharto, dimana dia punya program untuk rakyat sebagaimana diuraikan diatas, penyampaiannya tentu melalui jalur yang tepat (partai pendukung Pemerintah) maka kemungkinan besar gayung akan bersambut dan mungkin kita sekarang sudah punya tahapan program di bidang ekonomi yang memaksakan mensejajarkan kebijakan jangka panjang yang akan meningkatkan share pribumi dalam perekonomian nasional secara bertahap (20 tahun , 30 tahun dst). Kita memang sering terlambat mengemukakan pemikiran berdimensi keadilan bagi pribumi. Ketiga. Kalau saya, melihat pemimpin pemimpin Malaysia itu , suka atau tidak suka mereka memang mempunyai visi yang jauh kedepan. Pada Februari tahun 1991 mereka sudah punya "Wawasan 2020" dan semua stakeholder negeri Malaysia itu sudah tahu arah akan jadi apa dan bagaimana posisi Malaysia di tahun 2020 itu. Jangkauan pemikiran mereka adalah 30 tahun ke depan. Mereka sudah punya bayangan bahwa tahun 2020 pendapatan perkapita rakyat malaysia sudah 4 kali lipat. Mereka sudah menjadi negara industri maju, dan ingin menjadi contoh sukses bagi negara berkembang. Gambaran wawasan 2020 itu menyangkut, budaya , agama, sosial politik , ilmu pengetahuan dan teknologi , distribusi kemakmuran dan loyalitas pada negara. Semua sudah terencana dari awal. Kita baru mulai sadar pentingnya visi 2020 itu setelah tahun 2000, tapi itupun masih merupakan hasil pemikiran Chairul Tanjung dkk dan sudah disampaikan kepada SBY namun masih jadi tanda tanya apakah dipakai oleh SBY sebagai acuan kedepan. Kita, jangka pemikirannya memang kurang jauh ke depan, pemikiran pemimpin kita masih terbatas pada satu masa pemerintahannya saja. Harapan masih ada , kalau 2014 kita memperoleh pemimpin yang cukup berani , membuat kebijakan yang melawan azas demokrasi demi kepentingan rakyat (pribumi yang terbelakangkan), dan ini tidak mudah karena orang orang di DPR harus dijinakkan lebih dulu , artinya Eksekutif dan Legislatif sama sama punya political will berpihak kepada pribumi, dengan membuat aturan aturan yang tegas , yang memberi peluang lebih besar kepada pribumi secara bertahap dan berkesinambungan, maka apa yang telah dilaksankan oleh Mahatir di Malaysia , akan terwujud pula di Indonesia. Mungkinkah itu terjadi ? . Wallahhualam. Mohon maaf pak MN , kalau ado nan kurang berkenan atas penyampaian ambo diateh. Wassalam
On 10/4/13, [email protected] <[email protected]> wrote: > Yo kanda Zultan. Bacak tu lain lo seronyo. Lai bajaleh-jaleh. Nan bedo, > dicibiakan dari jauah se wak...ha...ha... > > Salam > > AL > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > > -----Original Message----- > From: "ZulTan" <[email protected]> > Sender: [email protected] > Date: Fri, 4 Oct 2013 08:05:02 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: Bls: Re: [R@ntau-Net] MN: SAUDAGAR-PENGUSAHA MINANG, DI MANA > SANAK SEKARANG? > > > Al: > "Kok kaberang gadi Basko jo Uni Fahira dan Sutan Sati tu ka ambo, > beranglah." > > Al, > Sabalun diberangi dek Sutan Sati ancak jan surang manangguanginyo. > > Sabalun masuak RN ndak sangajo, ambo baniaiak bana manjadi member milis > Saudagar Minang. Ambo baharok, ado tokoh-tokoh sukses Minang nan kamaagiah > "tausiah" dagang, tapi ndak ciek juo doh. Milis tu lah bantuak kuburan. > Ngeri awak singgah dek langangnyo. > > "Ndak iya, ni," kecek hati ambo. > > Akhirnyo ambo kalua. Tapi dari sinan dapek RN ko. Sampai kini lai sato juo > duduak di palanta. Tarutamo nan birai ambo, kalau ado "cakak" gadang, > bantuak Al jo Afdal sari. > > Salam, > ZulTan, L, 53, Bogor > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup > Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim > email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup > Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim > email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
