Para sanak sapalanta yth

Akhir2 ini sering terjadi krisis enerji listrik (mati lampu di Sumbar, Riau, 
Sumut, dan Lampung).

Berikut sebuah artikel untuk mengatasi krisis listrik tsb
Semoga bermanfa'at

Salam
Fashridjal M. Noor Sidin
L65bdg

Senin, 14/10/2013 22:34 WIB
Kolom
Atasi Krisis Listrik dengan Kebijakan 'Listrik Semesta'
Masruri - detikNews

Den Haag - Krisis listrik yang menimpa masyarakat Sumatera Utara mengundang 
keprihatinan kita bersama. Ketergantungan penuh pada pasokan listrik PLN 
menimbulkan permasalahan serius, terutama ketika permintaan melebihi pasokan 
akibat kekurangan kapasitas terpasang atau ada proses perbaikan yang memakan 
waktu lama. Di samping itu kekurangan cadangan pada kondisi darurat juga 
mengakibatkan krisis listrik yang mengganggu aktifitas masyarakat. 

Untuk mengatasi permasalahan ini, diversifikasi sumber energi menjadi sesuatu 
hal yang harus direalisasikan sebagai solusi jangka panjang ketahanan energi 
nasional. Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan yang sangat 
besar. Namun sayangnya, program pemerintah tidak cukup mendorong peningkatan 
secara signifikan kontribusi energi terbarukan pada diversifikasi energi 
nasional (energy mix). Bahkan hingga hari ini Indonesia masih memiliki 
ketergantungan 90% pada sumber energi fosil. 

Seharusnya, pemerintah tidak menggantungkan pasokan listrik nasional hanya pada 
PLN. Pemerintah perlu mendorong partisipasi tidak saja perusahaan swasta tetapi 
juga masyarakat umum dalam pengembangan listrik dengan menggunakan sumber 
energi terbarukan. Dengan memberikan insentif pengembangan sumber listrik 
terbarukan, diharapkan sumber energi terbarukan dapat memberikan kontribusi 
signifikan pada diversifikasi energi nasional. 

Sekarang pertanyaannya adalah sumber energi terbarukan mana dan bagaimana 
sehingga masyarakat mampu dilibatkan dalam invstasi kelistrikan di Indonesia? 
Sebagai negara tropis dan terletak pada garis khatulistiwa, Indonesia memiliki 
potensi tenaga surya sangat besar. Indonesia memiliki solar insolation 4.1-5.5 
kWh/m2/hari. Jika dikembangkan dengan baik sumber listrik energi surya ini 
mampu menyumbang cukup signifikan pada diversifikasi energi nasional. 

Pemerintah sudah memberikan aturan insentif berupa feed-in-tarrifs untuk 
pengembangan sumber energi listrik tenaga surya, namun aturan insentif yang 
tertuang pada Permen ESDM 17/2013 hanya memberikan insentif kepada perusahaan 
untuk pembangunan pusat pembangkit listrik tenaga surya berskala besar dengan 
tender. Kendala non-teknis seperti proses tender dan perijinan tanah, dapat 
menghambat proses percepatan implementasi pusat listrik tenaga surya. 

Pemerintah perlu memperluas cakupan penerima insentif tidak hanya perusahan 
(entitas berbadan hukum) tetapi juga masyarakat luas (entitas fisik/tidak 
berbadan hukum) seperti rumah tangga. Pemerintah seharusnya memberikan 
kesempatan kepada masyarakat umum dari rumah tangga, koperasi, Usaha Kecil 
Menengah (UKM) untuk terlibat dalam pengembangan listrik tenaga surya. 

Konsep on-grid menjadi pilihan tepat karena PLN atau pemilik grid mampu 
menyuplai kekurangan energi listrik (pada malam hari atau cuaca berawan) dari 
grid, sebaliknya menyalurkan melalui grid kelebihan pasokan listrik energi 
surya sehingga dapat digunakan pengguna lain. Kelebihan pasokan listrik ini 
dapat digunakan sebagai kredit yang bisa mengurangi tagihan listrik pada tahun 
berikutnya. Konsep ini disebut sebagai net-metering. Rumah tangga yang 
mengembangan listrik tenaga surya pada atap rumahnya dapat mengembalikan 
investasinya dengan insentif dari pemerintah. 

Konsep insentif dan net-metering ini dapat menarik minat masyarakat untuk 
berinvestasi dalam pengembangan listrik tenaga surya fotovoltaik. Pemerintah 
tinggal mengatur prosedurnya bagaimana agar investasi listrik ini dapat diikuti 
oleh masyarakat yang bukan entitas berbadan hukum usaha. 

Bisa dibayangkan ketika semakin banyak masyarakat yang mengembangkan listrik 
tenaga surya fotovoltaik di atap rumahnya, PLN dapat menghemat pasokan energi 
di siang hari, sehingga energi listrik yang ada dapat disalurkan ke 
daerah-daerah yang kekurangan listrik. Di samping itu, program ini jika 
berhasil akan mampu meningkatkan peluang usaha dan kesempatan kerja. 

Keterangan penulis: 
Penulis adalah mahasiswa S3 Departement Teknologi Informasi pada Universita di 
Parma, Italia.

 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke