Adi Dunsanak palanta RN, ini sebuah catatan ringan yang pernah saya posting dan 
diskusikan di BBM group RN sehabis menghadiri Reuni Emas 50 Tahun IPB, semoga 
berkenan dan menjadi masukan

***

Agro Wisata di Ranah Minang, sebuah Catatan Menghadiri Reuni Emas 50 Tahun IPB 
di JCC-Jakarta, 5 Oktober 2013



Bagaimana Langkah Kita Mengembangkan dan Mendukung  Agro Wisata di Ranah Minang
 
Sebagaimana komentar sdr kita seranah dan sesuku di  BBM Group yaitu Kurnia 
Chalik atau yang akrab saya panggil Adek (nama kecilnya) tentang Agro Wisata 
yang cukup maju di daerah Jawa Barat dengan segala potensi alamnya yang subur 
dengan hasil produksi sayur-sayuran serta buah2an khususnya di daerah Puncak, 
Lembang dan Ciwidey mamadukan unsur wisata alam dengan produk-produk petani 
yang nota bene melibatkan serta memberdayakan  masyarakatan tempatan yang hidup 
dari hasil pertanian berinteraksi lansung dengan wisatawan yang berkunjung  dan 
turun lansung dalam proses produksi mulai  bercocok tanam, pemetikan hasil 
ketika panen yang bisa dijadikan oleh-oleh oleh wisatawan dimana  secara rantai 
perdagangan tentunya memberi  nilai tambah keuntungan yang maksimal bagi petani 
tempatan karena wisatawan lansung membayar terhadap hasil sayur2an dan buah2an 
(disingkat S dan B) kepada petani tanpa perantara dan tentunya bagi wisatawan 
nilai lebih yang didapatnya yang tidak bisa diukur dengan uang adalah kepuasan 
bathin menikmati alam yang indah disekitar perkebunan, menambah wawasan ilmu 
pengetahuan secara praktis dalam teknik budi daya  S dan B, kesegaran hasil 
produk yang dibeli, bisa lebih dekat secara emosional dengan para petani 
tempatan, bisa mengenal bahasa daerah serta adat istiadat suku tempatan bahkan 
bisa mencicipi secara lansung di kebun baik dalam bentuk segar (buah yang telah 
masak) atau olahannya berupa jus segar, tumis dan kukus sayur segar bersama 
menu kuliner lainnya.


Sebelum kita diskusikan hal ini saya mau berbagi dengan dunsanak seranah sesuku 
minang kabau sehubungan saya hadir dalam peringatan Ulang Tahun Emas , 50 Tahun 
Institut Pertanian Bogor yang puncak acaranya berlansung di JCC Senayan 
–Jakarta pada tanggal 5 Oktober 2013, ajang ini bagi saya disamping reunian, 
kangen-kangenan, silahturahhim dan heboh sorak sana sini berfoto narsis eksis 
bersama teman-teman seangkatan, sefakultas dan sejurusan tentunya saya secara 
pribadi sebagai seorang almamater yang berlatar belakang pendidikan/ilmu 
pertanian secara luas cukup terpanggil bagaimana bisa memajukan pertanian anak 
bangsa sendiri.

Nah pada saat kumpul2 secara terbatas satu meja siang sampai sore acara bebas 
saya punya situasi dan kondisi yang mengharuskan ke ketua Alumni temen akrab 
seangkatan dan sefakultas saya yang sekarang jadi pejabat esolon 1 di Kemenhut 
“ber gua ber elu” sama kawan lainnya, disuatu kesempatan sambil bercanda 
menikmati. aneka buah lokal yang terhidang di meja, Ketua alumni  bertanya sama 
saya kira-kira begini

 
“Jep..apa tema (misi) dari angkatan kita yang kita usung dan dirumuskan Tim 
untuk dijadikan sebuah kebulatan tekad (ikrar) dalam hut emas IPB ini..lu punya 
masukan”
Secara ringkas saya ceritakan seputar “tahan diri agar disektor kunsumi seperti 
buah-buahan, sayur-sayur-an, ikan-ikanan, kacang-kacangan, beras , daging 
hewani” lebih memprioritaskan hasil petani kita untuk membelanjakan uang buat 
konsumsi rutin kita sehari-hari sebagaimana yang saya sorakan juga di BBM Group 
RN dan Milist Palanta RN
 
Tentunya mendapat respon positif walau tema ini boleh dikatakan bukan sesuatu 
yang baru di IPB disetiap seminar, diskusi, kongres pertanian dll mungkin semua 
angkatan di IPB yang hadir pada acara tersebut akan bicara hal yang sama dan 
kami juga mendapatkan tag line “Kuat Pertanian Kita Maka Akan Kuat Bangsa dan 
Negara Ini”.Lalu dalam diskusi ringan juga saya bicara sama kawan-kawan akan 
potensi agrowisata di ranah minang, ya semua kawan2 saya seangkatan suku non 
minang pada prinsipnya mereka “terkagum-kagum dan terpesona” atas keelokan alam 
ranah minang  yang penduduknya agraris dimana tanah, air dan udaranya subur 
sebagaimana cirri-ciri hamparan tanah, udara dan air yang berada dikawasan 
pegunungan dan perbukitan tanah vulkanis yang kaya mineral dan unsur hara.
 
Bicara Agrowisata sebagaimana halnya daerah Jawa Barat yang disebutkan diatas 
tentu seharusnya ranah minang bisa juga mengekplor lebih dalam lagi potensi 
disektor Agrowisata ini yang lebih bersentuhan dengan masyarakat petani 
tempatan dengan memberdayakan mereka melalui pendekatan yang lebih aktif 
partisipatif dengan pihak-pihak terkait sehingga bisa dikelola lebih baik lagi 
kedepannya mulai dari hulu sampai ke hilir hal-hal yang berhubungan dengan 
agrowisata ini. Siang tadi saya melalui telpon berbicara cukup lama dengan Uda 
Nofrin sebagai salah satu urang awak yang tidak asing lagi di bidang parawisata 
ranah minang dan tak perlu lagi kita pertanyakan kapasitas dan apa yang telah 
dia lakukan buat kemajuan dunia pariwisata ranah minang baik melalui 
event-event berskala daerah, nasional dan internasional dan di satu padukan 
hal-hal yang bisa mendukung , mempromosikan serta bagian yang tidak terpisahkan 
di industry Pariwisata yaitu melalui seni Photography maupun wisata kuliner 
ranah minang yang telah mendapat tempat di hati dan dilidah masyarakat 
nusantara berbagai suku dan bahkan manca Negara atas cita rasa masakan ranah 
minang yang berselera serta mempunyai sejarah dan tradisi yang panjang dari 
ninik-ninik kita dimana dalam memasak sesuatu menjadi hidangan yang bercita 
rasa sudah termasuk dalam kategori Seni.


Saya diskusikan sama Da Nof untuk mencoba membangun kawasan Agrowisata di 
seputar kawasan Matur dan Puncak Lawang di dataran rendah yang subur di kaki 
gunung Singgalang dengan segala bentangan alamnya mulai dari tinggi sampai 
rendah (berakhir di danau maninjau) sungguh sebuah keelokan alam yang memesona 
mata dan hati memandangnya. Secara sederhana saya ceritakan ke Da Nof itu untuk 
nanti coba kita pikirkan (taroklah ini sebuah Pilot Project) disebuah kawasan 
itu di tanah-tanah perkebunan masyarakat secara kolektif dalam hamparan yang 
kompak disana ada tanaman sayur-sayuran seperti Kol, Lobak Singgalang, Terung 
Ungu, Kacang Pancang, Buncis , Tomat, aneka varitas cabe,umbia-umbian seperti 
kentang, wortel, Ubi rambat, Kacang tanah serta buah-buahan sebut saja nenas, 
papaya, (mungkin strawberry bisa dikembangkan sebagai mana di Ciwidey-Jabar 
karena tanah, iklim makro dan mikro serta ketinggian hampir sama dengan suhu 
yang sejuk serta curah hujan yang cukup sepanjang tahun) lalu tentunya di bagi 
petak perpetak tanaman semusim ini dimana nantinya para wisatawan bisa 
berinteraksi lansung dengan petani pemilik lahan dan alam ketika panen dipetik 
lansung serta mereka membayar sesuai dengan harga ditingkat petani setiap hasil 
yang mereka petik atau dibeli untuk dijadikan oleh-oleh tentunya bagi wisatawan 
memberikan sensasi dan pengalaman yang tidak terkupakan dalam berwisata walau 
hal ini bukan juga sesuatu yang baru juga tapi tentu setiap daerah mempunyai 
ciri khas tersendiri jika Jawa Barat tentunya dengan segala kultur agraris 
masyarakat suku Sunda dengan segala kehidupan masyarakatnya dengan adat 
istiadat dan budaya Sunda yang kental, begitu juga di ranah minang tentu akan 
beda lagi kultur agraris masyarakatnya yang punya adat istiadat yang kental 
pula  dikenal dengan ABS-SBK.Begitu juga kondisi bentangan alamnya diseputar 
Matur dan Puncak Lawang tersebut tentunya berbeda pula keindahannya 
dibandingkan kawasan Puncak, Lembang dan Ciwidey atau daerah-daerah lainnya di 
Nusantara yang mempunyai karakteristik tanah pertanian yang hampir sama di 
dataran tinggi.

Nah dikawasan itu juga pusat atau sentra penghasil gula tebu (gulo saka) yang 
diproduksi secara tradisional (home industry) dalam prosesnya yang cukup unik 
air perasan tebu yang dimasak,  digiling dengan memanfaatkan tenaga kerbau 
berputar-putar di radius lingkaran tertentu untuk mengerakan sebuah silinder 
agar berputar dan memeras potongan tebu siap panen menjadi cairan gula sebelum 
dimasak menjadi gulo saka (seperti tulisan saya “Gulo Saka” di Bukit Batabuah 
daerah kaki gunung merapi), nantinya wisatawan juga dilibatkan bagaimana 
memanen sepotong atau dua potong tebu, lalu dibersihkan nantinya diperas airnya 
dengan tenaga kerbau, wisatawan tinggal menampung dengan wadah tertentu bisa 
dinikmati lansung air tebu yang segar.

Demikian hal-hal seputar pemberdayaan petani kita yang melibatkan peran aktif 
partisipatif lansung masyarakat tempatan dengan para wisatawan dalam mengelola 
agrowisata di ranah minang, langkah selanjutnya bagaimana atau apa yang kita 
bisa lakukan sebagai orang rantau dalam hal ini untuk mewujudkannya walau itu 
sebuah langkah kecil sekalipun untuk memulainya.
Silahkan masukan, saran dan ide , Alhamdulillah ketika saya komunikasikan 
dengan Da Nofrins, beliau antusias terhadap hal ini, nantinya jika pada 
kesempatan pertama beliau  akan membicarakannya dengan pihak otoritas serta 
instansi terkait dan para pengusaha jika ada kunjungan ke ranah dalam waktu 
dekat ini.
 
Terima kasih
*JePe*

Balikpapan, 9/10/2013

PS :Dinda Kurnia Khalik (Adek) semoga bisa kita agendakan Trip ke Ranah di 
Tahun 2014 ya..melihat potensi Agrowisata dan jumpa lansung dengan anak nagari 
daerah sasaran.
Wass-Jepe, L- 48 Thn, Rantau Balikpapan, Kutai  Barat Kaltim,

Powered by Buah2an ,Sayur2an, Ikan2an, Kacang2an dan Beras   Petani Bangsa 
Sendiri, Tahan Diri jangan konsumsi yang produk Import®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke