[email protected]

Pak  Irfan,  sanak Fashridjal dan para sanak di palanta  n.a.h

Tipe pemimpin yang disampaikan dalam tulisan pak Irfan itu, itulah pemimpin
yang diidamkan oleh rakyat di NKRI ini. Untuk mendapatkan tipe pemimpin
yang pembawaannya memang sederhana mungkin sulit, yang mungkin bisa kita
dapatkat adalah pemimpin yang hidup dengan hasil keringatnya yang halal.
Inipun dengan syarat:

Kekayaan individu / Badan  di NKRI ini harus terkendali, dengan
pemberlakuan UU,  Apakah UUPembuktian Terbalik dsb.
Sekarang  UU Pembuktian terbalik orang tak suka, Pemerintah, DPR enggan
mengolahnya, sebagian ahli hukumpun menentangnya dengan alasan melanggar
HAM dsb
Selama UU pembuktian terbalik ini belum ada, individu / Badan  tetap saja
akan cari hidup dengan segala cara, malah mungkin tanpa keringat.

Apabila kekayaan individu / badan sudah terkendali, mudah-mudahan lahir
pemimpin yang benar memimpin dan hidup dengan hasil keringatnya yang halal.
.
Sebenarnya kita sendiri yang mendorong agar generasi kita menjadi generasi
ingin mewah, kita berikan umpan dengan villa-villa mewah, mansion-mansion
mewah, mobil mewah dsb

Penegak hukum tak bisa disalahkan, mereka juga ingin mewah.

Itulah problem di NKRI ini. 2014 apakah ada pemimpin yang akan berani
mengendalikan kekayaan Individu /Badan yang sekarang ini berjalan secara
liar sulit dijinakkan. KPK diharapkan akan menjinakkan, tapi lama-lama KPK
juga akan kelelahan.

Mudah-mudahan tampillah pemimpin yang diharapkan rakyat di NKRI ini.
Kalau semua individu /badan dibiarkan dengan segala cara menggaruk kekayaan
di negeri ini, jangan harap kita akan mendapatkan  pemimpin yang bisa
tauladani.

Kedepan memang kerja berat,  memundurkan generasi sekarang yang sudah
terlajur mencicipi  hidup mewah adalah tak mungkin. Menunggu generasi ini
habis juga tak mungkin, Yang mungkin tangan besi mengatur negari ini
kembali, sehinga peraturan bisa dibuat tanpa banyak runding-rembuk.

Maaf kalau ada kawan yang lain pendapat

Wass,

Maturidi (75)
Asal Talang-Solok-Kutianyia
Duri Riau



Pada 6 November 2013 12.30, <[email protected]> menulis:

> Pak Irfan dan para sanak sa palanta yth.
>
> Saya kutip:
>
> "Menurut SBY, para kepala daerah ini mulai dari tingkat Gubernur, Walikota
> dan Bupati meminta adanya penyesuaian."
>
> Dulu SBY pernah dapat banyak kritikan krn menyatakan gajinya tidak naik.
>
> Coba lihat di google berapa kekayaan SBY pada pencalonan jadi presiden th
> 2004 dan berapa pada th 2009. Berapa kekayaan SBY?
>
> Saya setuju dg uraian ttg pemimpin itu harus sanggup menderita......
>
> Salam
> Fashridjal M. Noor Sidin
> L65bdg
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
> Teruuusss...!
> ------------------------------
> *From: * irfan salayan <[email protected]>
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Wed, 6 Nov 2013 12:39:11 +0700
> *To: *rantaunet<[email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Subject: *[R@ntau-Net] Leiden is lijden, "memimpin adalah menderita"
>
> Izin share artikel yang bagus dan sangat relevan dengan kondisi bangsa
> sekarang
>
> Leiden is lijden, "memimpin adalah menderita"
>
> Sebuah pepatah kuno belanda yang disampaikan oleh Mr. Kasman Singodimedjo
> untuk menggambarkan kesulitan ekonomi yang dialami oleh pimpinan perjuangan
> saat itu. Mohammad Roem dalam Karangan berjudul Haji Agus Salim, Memimpin
> adalah Menderita (Prisma No 8, Agustus 1977) mengisahkan keteladanan Agus
> Salim sebagai pemimpin yang mau menderita.
>
> Kasman dan Roem melihat H. Agus Salim hidup dengan keadaan yang sangat
> sederhana, penuh kekurangan dan terbatas secara materi. Padahal H. Agus
> Salim adalah tokoh dan pimpinan perjuangan kala itu yang juga memimpin
> Syarekat Islam yang sangat berpengaruh dalam pergerakan bangsa ketika itu.
>
> H.Agus Salim menjalankan prinsip "leiden is lijden", memimpin adalah
> menderita. Boro-boro minta naik gaji, berpikir soal gaji pun tidak pernah
> ada dalam benak H Agus Salim.
>
> Sungguh memprihatinkan ketika sejumlah kepala daerah melapor ke Presiden
> SBY telah mengemban tugas yang tidak ringan, namun pendapatan yang mereka
> terima masih kecil. Mereka meminta kepada presiden, agar gaji mereka dapat
> disesuaikan dengan tugas yang mereka jalani.
>
> "Terus terang, waktu saya mengadakan pertemuan dengan kepala daerah,
> mereka dengan terus terang dan niat baik berkata pada saya. Pak presiden,
> kami (kepala daerah) ini mengemban tugas yang tidak ringan, tapi gaji kami
> kecil," ujar SBY di Istana Negara, Jakarta, Rabu kemarin.
>
> Menurut SBY, para kepala daerah ini mulai dari tingkat Gubernur, Walikota
> dan Bupati meminta adanya penyesuaian.
>
> Tidakkah para pejabat daerah ini berkaca pada apa yang sudah ditunjukkan
> pahlawan nasional Haji Agus Salim. Dia lahir dengan nama Mashudul Haq atau
> pembela kebenaran. Dalam pemerintahan RI, dia beberapa kali duduk dalam
> kabinet, sebagai menteri muda luar negeri Kabinet Sjahrir II (1946), dan
> kabinet Sjahrir III (1947), menteri luar negeri kabinet Amir (1947),
> menteri luar negeri kabinet Hatta (1948-1949).
>
> Menurut catatan harian Prof Schermerhorn, pemimpin delegasi Belanda dalam
> perundingan Linggajati, Agus Salim adalah orang yang sangat pandai.
> Seorang jenius dalam bidang bahasa. Mampu bicara dan menulis dengan
> sempurna sedikitnya dalam sembilan bahasa. Hanya satu kelemahan dari Haji
> Agus Salim, yaitu hidup melarat.
>
> Dalam catatan M Roem, kehidupan Haji Agus tidak hanya sederhana, bahkan
> mendekati miskin. Keluarga Haji Agus Salim pernah tinggal di Gang Lontar
> Satu di Jakarta. Kalau menuju ke Gang Lontar Satu, harus masuk dulu ke
> Gang Kernolong, kemudian masuk lagi ke gang kecil. Bisa dibayangkan, mana
> ada pejabat sekarang yang tinggal di "cucu" gang.
>
> Haji Agus Salim tidak pernah berpikir soal rumah mewah dan megah layaknya
> pejabat sekarang. Dulu setiap enam bulan sekali dia punya kebiasaan,
> mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur. Kadang-kadang kamar
> makan ditukarnya dengan kamar tidur.
>
> Haji Agus Salim berpendapat dengan berbuat demikian, dia mengubah
> lingkungan, yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau
> rumah. Apalagi pergi istirahat ke lain kota atau negeri. Tidak ada dalam
> pikiran Haji Agus Salim, punya vila seperti para pejabat sekarang.
>
> Mendengar cerita tentang Haji Agus Salim itu, tidakkah para pejabat yang
> minta naik gaji malu. Haji Agus Salim, salah satu pendiri republik ini,
> betul-betul menerapkan istilah yang disampaikan Kasman Singodimedjo saat
> bertamu ke rumahnya, "leiden is lijden", memimpin itu menderita. Artinya,
> memimpin itu tidak untuk foya-foya.
>
> Potret memimpin adalah menderita juga terlihat begitu jelas pada sosok
> Bung hatta. Proklamator ini juga menjalani hidup yang sederhana. Bung
> Hatta pernah mengalami kesulitan untuk membayar tagihan listrik, telpon
> dan air karena gaji pensiunnya tak cukup untuk membayar semua tagihan itu,
> sehingga Ibu Rahmi Hatta harus mengirim surat pada Bung Karno yang pada
> saat itu masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Bahkan,
> hingga ajal menjemput, Bung Hatta tidak kesampaian memiliki sepatu merk
> Bally yang begitu diidam - idamkannya.
>
> Begitulah, Seorang pemimpin yang memahami hakikat leiden is lijden adalah
> manusia yang siap hidup untuk memberikan pengabdian penuhnya kepada negara
> atau komunitas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memahami hakikat
> leiden is lijden adalah manusia yang mampu bertindak benar diantara
> kesulitan-kesulitan dan masalah berat yang terhidang diatas meja
> pengabdiannya.
>
> Pemimpin yang memahami hakikat "Leiden is lijden" adalah manusia yang
> ditakdirkan untuk memimpin, terlahir untuk memimpin karena muncul dari
> rahim persada yang dialiri darah kebaikan dan tumbuh dalam ruang lingkup
> moral budaya yang agung.
>
> Pemimpin negarawan
>
> Kepemimpinan yang ditunjukkan oleh H. Agus Salim dan Bung Hatta diatas
> adalah kepemimpinan yang dijalani oleh negarawan sejati. Tokoh tersebut
> menjadi pemimpin adalah berawal dari keterpanggilan untuk memimpin bangsa
> dan bukan karena panggilan profesi. Sehingga kekuasaan bagi mereka adalah
> sarana untuk mendatangkan kesejahteraan, kemakmuran dan kedamaian bagi
> rakyat.
>
> Dalam kondisi berbangsa dan bernegara saat ini, faktor keterpanggilan
> karena profesi lebih kuat merasuki calon pemimpin bangsa ini. Mungkin pada
> awalnya pemimpin kita bertujuan mulia untuk memberikan perubahan kearah
> yang lebih baik. Namun, sejalan dengan apa yang dikatakan Lord Acton
> kekuasaan yang mutlak rentan disalahgunakan ("power tend to corrupt,
> absolute power corrupt absolutely"). Godaan materi dan kekuasaan yang kuat
> serta diperburuk oleh moral yang buruk membuat pemimpin berbagai tingkatan
> tergoda menyalahgunakan kekuasaannya untuk korupsi dan tindakan yang
> merugikan negara lainnya. Mereka meraih dan mempertahankan kekuasaan
> dengan segala cara dengan mengorbankan manusia lainnya.
>
> Kita akui, menjadi pemimpin negara sebesar Indonesia memang tidaklah
> mudah. Lao Tzu (500 SM)mengatakan memerintah negara besar adalah mirip
> dengan menggoreng ikan kecil, apabila sering dibolak balik ikannya akan
> hancur menjadi bubuk. Berbeda dengan menggoreng ikan besar yang meskipun
> dibolak balik ikannya tetap utuh untuk menggambarkan memerintah negara
> yang kecil.
>
> Untuk mampu memeirntah dinegara sebesar Indonesia ini memang dibutuhkan
> negarawan yang mampu memaknai bahwa memimpin adalah menderita. Indonesia
> adalah negara yang majemuk yang terdiri dari berbagai macam kepentingan.
> Pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang rela mengorbankan waktu dan
> pikirannya demi bangsa dan negaranya. Pemimpin yang tidak memandang latar
> belakang politik dan agamanya. Pemimpin yang memberlakukan adagium
> ketika tugas negara dimulai, maka kepentingan politik berakhir. Artinya
> seorang pemimpin atau pejabat negara harus berkonsentrasi untuk mengurus
> negara dan mampu menentukan prioritas antara kepentingan negara dengan
> kepentingan golongan dan pribadi.
>
> Kepemimpinan inilah yang telah diperlihatkan oleh H. Agus Salim, Bung
> Hatta dan lainnya. mereka siap menderita demi kepentingan bangsa dan
> negara. Lalu, apakah calon pemimpin yang saat ini berlomba-lomba untuk
> memenangkan kursi sebagai penguasa dengan mengiklankan diri secara gencar
> di media massa memahami hakikat memimpin adalah menderita ?
>
> Sudah selayaknya sifat-sifat kenegarawanan para pemimpin kita terdahulu
> perlu diinternalisasikan ke dalam tiap diri calon-calon pemimpin kita saat
> ini. Bangsa ini butuh keteladanan dan sikap-sikap kenegarawanan yang lain.
> Mudah-mudahan kita selalu mampu mengambil hikmah dari para
> pemimpin-pemimpin kita di masa lalu, dan menjadi inspirasi bagi masa depan
> bangsa.
>
> Anda mungkin belum melihat pemimpin seperti ini, tapi percayalah pemimpin
> seperti ini terus ada, terlahir disetiap generasi hanya saja untuk
> menemukannya saya dan anda harus bersikap dewasa dan objektif dalam
> melihat dan menilai seseorang. Jangan melihat seseorang seperti melihat
> dari lubang pintu, memicingkan sebelah mata. Tapi mundurlah selangkah dan
> buka kedua mata, maka saya dan anda akan melihat dunia seluas samudera.
>
>
> sumber : milis kantua
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke