Es Tebu, Kopas & Patologi Socmed

6 November 20132 komentar »

Oleh

Indra Jaya Piliang

Ketua Balitbang DPP Partai Golkar

http://indrapiliang.com/2013/11/06/es-tebu-kopas-amp-patologi-socmed/

Dua hari belakangan, saya dikejutkan dengan berita yang saya hadir di 
lokasi peristiwa. Berita itu menyangkut nama Ketua Umum DPP Partai Golkar 
Aburizal Bakrie dan kader-kader Partai Golkar di Jambi. Ada banyak sebutan 
yang tak sesuai dengan fakta, fiktif, tanpa ada upaya melakukan 
klarifikasi. Herannya, nama-nama pengirim informasi itu adalah tokoh-tokoh 
yang menjadi penggiat social media. Informasi palsu itu menjalar ke 
pelbagai arah via pesan pendek, blackberry messenger, twitter, facebook, 
kaskus, media online, sampai portal-portal bebas lainnya.

Berita pertama muncul dari www.berita3jambi.com yang ditulis oleh Muhammad 
Usman. Beritanya biasa saja. Rombongan ARB makan siang di Rumah Makan 
Munir, bersama rombongan yang lain. ARB datang menemui tukang ojek dan 
tukang sapu jalanan di rumah makan itu. Usai acara, ARB dan rombongan 
kecilnya berangkat menuju Hotel Abadi Suites, beristirahat, lalu berangkat 
ke Universitas Jambi. Masalahnya, ada penjual es tebu bernama Yunizer yang 
mengatakan pada wartawan bahwa tebunya belum dibayar. Yunizer berjualan di 
depan RM Munir yang juga berdekatan dengan kantor DPD II Partai Golkar 
Jambi. Ketika menagih ke sejumlan kader Partai Golkar, Yunizer diminta 
melaporkan ke kasir RM, lalu dijanjikan pembayaran.  Yunizer menolak 
pembayaran Rp. 50.000 dari Pinto, salah seorang calon anggota DPR RI dari 
Partai Golkar. Ia merasa jumlah yang dibayar kurang dari jumlah yang 
diminum.

Saya sendiri mengikuti ARB dari Gedung DPRD Kota Jambi, usai menghadiri 
pelantikan sahabat saya Syarif Fasya sebagai Walikota periode 2013-2018. 
Saya bahkan tidak sempat menyalami Syarif Fasya, karena melihat ARB dan 
Akbar Tandjung sudah keluar dari lokasi acara. Karena tugas saya adalah 
mendampingi dan menguntit apapun yang dikatakan ARB ke media massa, saya 
selalu berusaha berada di sampingnya, ikut menaruk mikropon dari blackberry 
saya. Saya biasanya memverifikasi lagi apa yang benar-benar dikatakan ARB 
ke media, dengan apa yang kemudian ditulis atau diberitakan.

Masalahnya, ketika apa yang tertulis di www.berita3jambi.com itu ditulis 
media lain. Copypaste alias kopas semua. Diluar itu, bumbu-bumbu lain 
diberikan. Yang paling parah adalah kejadian itu ditulis ulang berdasarkan 
imajinasi masing-masing redaktur. Ada yang menulis ARB menikmati es tebu. 
Ada juga yang mengatakan kejadiannya sore hari, ketika rombongan 
jalan-jalan mencari makan. Inti dari alur yang dibuat adalah ARB minum es 
tebu bersama rombongan dan pergi tanpa membayarnya. Garis kaya-miskin 
langsung dibuat, dikirimkan oleh pelbagai kalangan ke seluruh kontak yang 
ada di blackberry atau akun socmednya. Sentimen publik langsung naik, atas 
nama pembelaan kepada Yunizer.
 
Fakta tentang Es Tebu

Sayapun kalau membaca berita seperti itu pasti marah. Saya paling anti 
kepada sikap-sikap arogansi terhadap para pekerja keras seperti Yunizer 
alias Acit. Apalagi saya ada di lokasi. Segera saya membuka seluruh foto 
yang sempat diambil saat di lokasi. Saya juga membaca seluruh berita yang 
muncul. Deviasi sungguh massif, masuk ke pelbagai portal berita. Tonenya: 
negatif.

Nah, apa yang sesungguhnya terjadi?

Pertama: ARB sama sekali tidak mampir ke penjual es tebu di depan RM Munir. 
Betul, ARB bersalaman dengan para tukang ojek dan tukang sapu (istilah 
“tukang” ini perlu diganti, sebenarnya) yang hadir di lokasi. Ibu-ibu dan 
bapak-bapak yang hadir ingin dekat ARB, berebut tempat duduk sampai di meja 
makan. Mereka juga sering minta foto selama acara makan.

Kedua, ARB juga sama sekali tidak memesan es tebu. Lokasi pedagang es tebu 
dengan lokasi ARB makan berjauhan. Penjual es tebu di luar, dekat dengan 
jalanan, di tempat parkiran. Sementara di dalam RM Munir hanya tersedia 
minuman mineral SUPER 02 dan teh tawar. ARB didampingi oleh Ketua DPD 
Partai Golkar Jambi dan Indra Bambang Utoyo. Saya duduk di meja sebelahnya, 
berseberangan, bersama Selina Gita (anggota DPR RI), Azhar Romli (anggota 
DPR RI), Rizal Mallarangeng dan Fuad Hasan Mansur.

Ketiga, saya sempat memesan air jeruk panas. Sudah dua kali meminta, tidak 
datang juga. Yang datang adalah teh botol, baru teh hangat tanpa gula. Di 
sela itu, saya lihat ada yang datang. “Pak Wagub datang,” kata orang yang 
menyalami. Saya tidak tahu, apakah sebutan Pak Wagub itu beneran atau 
becandaan khas politisi. Ada yang memesan es tebu, tetapi mejanya di 
sebelah paling luar, berpakaian rapi. Saya juga ingin memesan, tetapi tidak 
tahu ke siapa. Seorang ibu sibuk membagikan ikan penuh bumbu yang 
terbungkus daun pisang. Sedap.

Keempat, belakangan saya tahu, pemesan es tebu empat gelas itu adalah 
pemilik akun @rizky_ry, staf ARB. Dia sudah membayarnya Rp. 100.000,- untuk 
4 gelas itu. Ini tidak ada dalam berita. Saya memang tidak terlalu 
berakrab-akrab dengan staf ARB, paling hanya sering kasih jempol kalau 
ketemu. Biasanya kami bicara kalau ada urusan pesawat, baik naik jet 
pribadi atau naik helikopter. Setiap kepergian saya dengan rombongan ARB 
dua bulan belakangan, saya urus sendiri, baik tiket, hotel atau kendaraan. 
Saya hadir dalam kapasitas sebagai Ketua Divisi Opini dan Counter Opini 
Badan Koordinasi Pemenangan Pemilu (BKPP) DPP Partai Golkar, jadi bukan 
bagian dari Tim ARB yang melekat. Saya bebas hadir kapan saja dan dimana 
saja, dengan agenda yang saya atur sendiri.

Kelima, sampai selesai acara, tidak ada es tebu di meja ARB ataupun di meja 
saya. Ada dalam video dan foto-foto yang diambil oleh staf saya ataupun 
yang saya ambil sendiri. ARB lalu pamitan, berangkat ke Hotel Abadi Suites 
untuk istirahat dan berganti pakaian. Sejak datang Senin (4 November) 
paginya, ARB langsung ke Gedung DPRD Kota Jambi, duduk di barisan depan 
dengan menggunakan jas Partai Golkar. Karena acara berikutnya di 
Universitas Jambi, jas Partai Golkar diganti dengan baju putih atau baju 
lainnya, sesuai dengan aturan protokoler yang kami jaga dengan disiplin.

Saya tidak ikut ke Universitas Jambi, melainkan menemui jaringan aktivis, 
politisi dan mahasiswa di Jambi. Mereka sudah lama saya kenal. Saya sering 
ke Jambi, memberikan pelbagai pelatihan, seminar atau diskusi. Untuk 
memudahkan koordinasi, saya berhubungan dengan pemilik akun @duniadian dari 
Viva News. Biasanya, kalau Tim ARB tidak banyak, akibat keterbatasan dalam 
transportasi atau sulitnya medan di pelbagai daerah, saya selalu hadir. 
Tapi karena di Jambi banyak Tim ARB datang, saya memutuskan mencari 
kesibukan sendiri, duduk minum kopi di kedai Simpang Lima Jambi. Sore saya 
balik ke hotel, sampai Maghrib. Berdiskusi dengan sejumlah mahasiswa Badko 
HMI Jambi dan teman-temannya. Saya didampingi oleh Dipo Ilham Djalil, calon 
anggota DPR RI dari Partai Demokrat yang merupakan adik angkat saya. 
Ayahnya, Rizal Djalil, adalah anggota Badan Pemeriksa Keuangan RI.
 
Sebermula adalah Berita3Jambi.Com 
Sampai malam hari, tidak banyak kesibukan. Saya masuk ke kamar, istirahat, 
sambil memantau pemberitaan di media, termasuk menyaksikan debat di TV One 
antara PPI vs Partai Demokrat. Kondisi kesehatan saya memang kurang vit. 
Batuk menyerang. Hampir tiap hari saya naik pesawat dalam sebulan terakhir. 
Badan kelelahan. Sehingga, saya selalu mencuri waktu untuk istirahat agar 
tidak kolaps. Dalam kondisi itulah saya menerima informasi soal berita di 
www.berita3jambi.com. Berita itu lebih mirip features, ketimbang hard news. 
Jenis tulisan yang saya suka. Dan, terus terang, saya angkat topi untuk 
keahlian reporter yang menulis. 

Hanya satu kelemahan dari berita itu, yakni sama sekali tidak 
mengkonfirmasi ke nama-nama orang yang disebutkan oleh satu-satunya 
narasumber, Yunizer, penjual es tebu. Saya yakin, Muhammad Usman, 
penulisnya, mengenali nama-nama yang disebut. Bahkan, terkesan akrab. 
Identitas nama-nama yang disebut Yunizer dan ditulis Muhammad Usman begitu 
jelas. Baik Yunizer atau Muhammad Usman, menurut saya, mengenal betul 
nama-nama itu. Jadinya, berita itu satu arah. Biasanya, kalau saya diminta 
menjadi juri dalam penulisan berita, saya menilai berita seperti itu kurang 
memenuhi standar jurnalistik yang layak juara. Muhammad Usman berhasil 
mengemas beritanya dengan baik, terutama dari rentetan kejadian yang memang 
unik itu.  

Saya bukan orang yang mudah untuk reaktif. Saya pernah menjadi peneliti di 
Centre for Strategic and International Studies (CSIS) selama delapan tahun, 
sebuah lembaga penelitian terkemuka di Asia dan Dunia. Saya diajarkan untuk 
melakukan cek dan ricek. Langsung saya turun ke bawah, menemukan ARB sedang 
diskusi dengan sejumlah aktivis mahasiswa di Jambi. Mahasiswa itu ingin 
mengadakan acara dan mengundang ARB. Proposal mereka saya terima. Waktu 
penyelenggaraannya tiga bulan lagi. Saya harus koordinasi dengan Tim ARB 
yang dikomandani Rizal Mallarangeng untuk menentukan acaranya.

Tidak banyak informasi soal es tebu ini. Yang saya dengar adalah nada tawa 
dan canda, baik dari kalangan kader-kader Partai Golkar Jambi ataupun 
wartawan. Kader-kader Partai Golkar Jambi rata-rata dari kalangan aktivis. 
Kalaupun ada dari keluarga-keluarga berpengaruh di Jambi, mereka memiliki 
tim-tim khusus yang terdiri dari kalangan aktivis atau mantan aktivis. 
Pemikiran mereka sudah sangat moderen. Pergaulan mereka juga lentur. Jadi, 
berita soal es tebu bagi mereka adalah hiburan yang datang tanpa 
disangka-sangka.

Keesokan paginya, saya menemukan broadcast via blackberry messenger. Dengan 
tiupan nada: “Orang Kaya Minum Es Tebu Tak Bayar" dan sejenisnya. Tentu 
dengan beragam stigma negatif yang sudah ada selama ini, antara lain 
masalah lumpur Lapindo, kasus pajak, Calon Presiden, dan lain-lain. 
Masalahnya, isi berita tak dibaca. Vonis langsung jatuh: ARB memesan dan 
minum es tebu, tetapi tidak membayarnya. Wajah humanistis langsung hadir, 
yakni pembelaan terhadap orang-orang teraniaya. Di akun twitter, lebih 
banyak lagi mention yang saya terima. Hampir setiap "seleb" socmed 
mengomentari dengan nada serupa. Heran, ARB masih dianggap sebagai salah 
seorang yang terkaya di Indonesia.

Saya bereaksi dengan nada dingin lewat hashtag #embunpagi. Mudah-mudahan 
ada yang membacanya. Jam 10.00 pagi, saya berinteraksi lagi dengan 
kader-kader Partai Golkar di lobby hotel. Kami sedang menunggu persiapan 
pelantikan Badan Koordinasi Pemenangan Pemilu Partai Golkar Provinsi Jambi. 
Rencananya, selain ARB dan Indra Bambang Utoyo, saya juga memberikan materi 
menyangkut pelbagai hal. Kesimpulan dari diskusi soal es tebu: semua sudah 
dibayar, yakni Rp. 110.000,-. Lebih tiga kali saya mengkonfirmasi ulang, 
apa benar sudah dibayar. Jawaban yang saya terima tetap sama, yakni sudah 
dibayar malam tadi.
“Bayarnya lebih, Bang. Ada uang karaokenya juga,” begitu ucapan yang saya 
terima dari kader Partai Golkar. Sebutan "uang karaoke" berarti lebih dari 
cukup. Saya tidak bertanya lebih lanjut. Ya sudah, berarti berkali lipat 
dari Rp. 110.000,-.

Sembari mengikuti acara pelantikan BKPP, saya memantau akun twitter. Diluar 
itu, Fuad Hassan Mansur juga melakukan hal serupa. Fuad memanggil sejumlah 
nama yang ada dalam www.berita3jambi.com. Fuad sampai nanya, “Apa gelasnya 
sebanyak itu?” Sampai acara selesai, kami berangkat ke bandara. Saya tidak 
jadi memberikan materi pembekalan para caleg, mengingat kasipnya waktu. 
Semula, saya masuk dalam rombongan menuju Nagan Raya, Aceh. ARB sempat 
bertanya di meja makan siang. Saya sudah bilang ke Rizal Mallarangeng bahwa 
saya harus ke Jakarta untuk mengantisipasi diskusi media soal Daftar 
Pemilih Tetap (DPT). Soalnya, malam sebelumnya, Nurul Arifin dan Agun 
Gunanjar meminta saya sebagai salah satu yang harus menjelaskan ke media 
menyangkut keputusan Partai Golkar mendukung penetapan DPT. DPT memang 
sudah ditetapkan atas dorongan dan penjelasan dari Partai Golkar. Saya pun 
sudah menjelaskan dalam akun twitter saya.

Rombongan ARB berangkat ke Nagan Raya, Aceh, pakai pesawat sewaan. Saya 
naik Lion Air yang tumben tepat waktu. Sepanjang menunggu panggilan, saya 
memberikan penjelasan di akun twitter saya dengan 10 kicauan. Terlebih 
dahulu saya menanggapi dua akun yang saya kenal dengan menyebut angka Rp. 
110.000,-. Tentu angka itu adalah angka fixed harga es tebunya, bukan angka 
yang kemudian dibayarkan melebihi itu yang kemudian saya ketahui berjumlah 
Rp. 400.000,-. Ditambah dengan pembayaran Rp. 100.000 untuk 4 gelas es tebu 
yang dibayar staf ARB. Dalam waktu satu jam, es tebu Yunizer dihargai 
sebesar Rp. 500.000,-.

Di pesawat, saya tertidur. Tidur yang selalu pulas.

Sampai di Jakarta, saya kembali membalas sejumlah mention, lalu mengetahui 
betapa luasnya deviasi yang dimuat portal-portal diluar 
www.berita3jambi.com. Mereka tanpa rasa etis menambahkan fakta-fakta 
imajiner yang ditulis di belakang meja. Ada juga portal berita yang 
seolah-olah menulis dari Jambi, mengakui memiliki koresponden, tetapi kopas 
belaka, dengan cara menambah-nambah melebihi fakta. Sambil memeluk Fadha – 
yang selalu duduk di pangkuan saya tiap kali ke atau dari bandara – saya 
membaca. Ah, andai saya lebih muda dari usia sekarang dan tak memiliki buah 
hati. Saya memutuskan menonton film Thor di TIM. Afzaal selalu menagih 
tempat khusus -- terutama restoran -- usai dari menjemput ayahnya di 
bandara, sejak dulu.
 
Algojo-Algojo Digital

Begitulah. Kisah es tebu telah menjalar menjadi apa yang dikenal sebagai 
patologi sosial di ranah social media. Patologi sosial adalah istilah yang 
mengacu kepada penyakit-penyakit sosial yang bertentangan dengan norma 
kehidupan di masyarakat. Di ranah social media, patologi sosial berarti 
sikap yang mengacu kepada perilaku pengguna sosmed untuk melakukan 
penilaian yang negatif terhadap orang lain, tanpa memverifikasi 
kebenarannya. Yang dinilai hanyalah apa yang menjadi kesenangan semata, 
tanpa memikirkan akibatnya kepada orang lain, apalagi “nama besar” dalam 
kehidupan nyata. Kebebasan kicauan berarti juga bebas menggerutui dan 
menyerang siapa saja yang tidak kita sukai. 

Tentu patologi socmed ini berbeda dengan media yang dikenal sebagai portal 
berita. Tanggungjawabnya lebih luas lagi, karena mewakili masyarakat dan 
nilai-nilai kebenaran. Perilaku kopas, misalnya, adalah penerapan 
prinsip-prinsip jurnalisme secara menyimpang. Sekalipun ada klarifikasi 
yang dilengkapi dengan bukti-bukti akurat dan kuat, sama sekali diabaikan. 
Kalaupun dikutip, hanya dimasukkan sebagai kategori penyeimbang, tanpa 
memberikan koreksi terhadap apa yang sebelumnya dinyatakan sebagai 
informasi. “Kebenaran imajiner” tetap dipelihara, dengan sama sekali 
mengabaikan fakta-fakta. Bahwa fakta adalah suci, sama sekali tidak berlaku 
lagi. Fakta dibedah, diperkosa, dipreteli, dimutilasi, sesuai dengan pesan 
dan persepsi yang hendak dimunculkan.

Dari pemberitaan yang tak akurat itulah persepsi dibangun. Cepat. Tanpa 
tedeng aling-aling. Meluncur deras ke timeline, memasuki akun-akun 
personal. Seperti ilalang kering, timeline seperti terbakar. Setiap orang 
memberikan hak kepada dirinya untuk menjadi hakim dan algojo sekaligus. Ya, 
ranah socmed sudah menjadikan banyak pemilik akun menjadi algojo-algojo 
digital. Seolah, tak ada tanggungjawab ketika menghakimi seseorang tanpa 
melakukan verifikasi. Korbannya sebetulnya sudah ada, beberapa kasus bunuh 
diri yang melanda kalangan pelajar aklibat dibully di socmed. Saya berkaca 
juga, akhirnya, pada sikap saya sendiri. Dan jangan-jangan, saya memang 
sudah bagian dari patologi socmed itu. 

Saya tentu tidak menggeneralisasi semua media melakukan hal yang sama atau 
semua portal berita yang mengangkat kasus es tebu ini juga melakukan untuk 
keseluruhan berita. Saya hanya memberikan kesaksian atas apa yang 
sesungguhnya terjadi, sebagai penyeimbang persepsi yang telanjur 
berkembang. Itupun tidak atas keseluruhan materi berita, melainkan pada 
apa-apa yang saya uraikan di atas. Bahwa ARB sama sekali tidak menyentuh 
dan meminum es tebu, berikut rombongan intinya, adalah fakta yang keras. 
Bahwa pemesanan makanan hanya lewat manajemen RM Munir juga jadi fakta yang 
bisa diperiksa. Bahwa ARB menemui kelompok masyarakat marginal, dalam hal 
ini tukang ojek dan tukang sapu jalanan, juga jadi pokok dari agenda makan 
siang ARB juga fakta. Bahwa tukang ojek dan tukang sapu jalanan itu tak 
kurang humanisnya untuk diperhatikan, sebagaimana juga penjual es tebu.

Sebagai pemilik akun twitter dengan lebih dari 100.000 followers, saya 
tentu juga menyadari tanggungjawab ini. Saya tidak tahu, berapa yang 
berasal dari kalangan Partai Golkar. Katakanlah hanya 10%, berarti saya 
sedang berbicara di hadapan 10.000 orang yang kalau dikumpulkan bisa 
memenuhi stadion Istora Senayan. Apapun, saya sediakan waktu untuk 
berbicara kepada followers yang bersifat organisasional dan struktural ini, 
diluar komunitas lainnya yang bernama publik. Berkicau di twitter adalah 
berbicara tentang banyak hal, sambil diketahui orang banyak. Walau tak tahu 
apakah ada yang paham atau tidak, saya juga menggunakan bahasa-bahasa 
bersayap. Ya, akun twitter atau facebook adalah halaman sebuah koran yang 
bisa menyajikan informasi yang bersifat news, iklan, features, ataupun 
puisi-puisi dan kalimat-kalimat yang hanya dipahami rekan sejawat. 

Tentu saya juga perlu mengingatkan seluruh organisasi pemenangan Partai 
Golkar agar terus berhati-hati dalam menyikapi perkembangan ini. Tidak 
boleh lagi ada pengabaian atas apapun informasi yang beredar di lapangan. 
Kalau ada masalah, misalnya soal bayar-membayar, seyogianya kader-kader 
Partai Golkar dengan sigap mengantisipasi, mencari orang yang tepat, bukan 
meninggalkan sama sekali dan melepaskan diri agar tidak mengalami kerugian. 
Sebagai tamu di Jambi, tentu saya tidak dalam posisi untuk menyalahkan 
panitia dan tuan rumah. Dalam setiap kunjungan ke daerah-daerah, selalu 
saja ada permintaan maaf dari pihak penyelenggara, sebagus apapun acara 
yang digelar. Namun, koreksi dan evaluasi tetap penting dilakukan.

Ke depan, tentu saya berharap ada komunikasi timbal balik yang saling 
menghargai antara pihak-pihak yang ditulis. Bagaimanapun, tulisan yang 
muncul di portal-portal beritalah yang membawa eksistensi terhadap portal 
yang bersangkutan. Tanpa ada berita, tidak akan ada portal. Artinya, elemen 
yang dijadikan sebagai bahan pemberitaan menjadi penentu hidup-matinya atau 
eksis-tidaknya portal yang bersangkutan. Begitu juga ranah sosmed. Tanpa 
menghargai apapun yang ditulis, apalagi menyangkut nama orang atau 
organisasi sebesar Partai Golkar yang memiliki puluhan juta pemilih, bagi 
saya sama saja dengan menaruh tuba dalam belanga dan dihidangkan ke semua 
orang. Wallahu’alam

Jakarta, 06 November 2013

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke