Pak Saaf dan adidunsanak Palanta RN n.a.h. Melacak lagi kasus Wawah ke belakang, menarik diketahui bagaimana kronologi peristiwa ini menurut Pdt. Willy (lahir: Abdul Wadud Amrullah) yang ambo kais dari arsip INDONESIA-L.
Versi Pdt. Willy ini menjelaskan sekilas sisi lain tentang hubungannya dengan sang kakak satu ayah (Buya Hamka) dalam kalimat "Saya tidak pernah ingin mencoreng nama Buya Hamka." Wass, ANB * * * Date: Tue, 3 Aug 1999 14:06:39 -0600 (MDT) Message-Id: <[email protected]<[email protected]?Subject=Re:%20[INDONESIA-L]%20Tanggapan%20dari%20PDT%20WI&In-Reply-To=%[email protected]%3E> > To: [email protected]<[email protected]?Subject=Re:%20[INDONESIA-L]%20Tanggapan%20dari%20PDT%20WI&In-Reply-To=%[email protected]%3E> From: [email protected]<[email protected]?Subject=Re:%20[INDONESIA-L]%20Tanggapan%20dari%20PDT%20WI&In-Reply-To=%[email protected]%3E> Subject: [INDONESIA-L] Tanggapan dari PDT WILLY AMRULLAH Sender: [email protected]<[email protected]?Subject=Re:%20[INDONESIA-L]%20Tanggapan%20dari%20PDT%20WI&In-Reply-To=%[email protected]%3E> Date: 2 Aug 99 20:38:09 MDT From: Pedang Daud <[email protected]<[email protected]?Subject=Re:%20[INDONESIA-L]%20Tanggapan%20dari%20PDT%20WI&In-Reply-To=%[email protected]%3E> > To: [email protected]<[email protected]?Subject=Re:%20[INDONESIA-L]%20Tanggapan%20dari%20PDT%20WI&In-Reply-To=%[email protected]%3E> Subject: Tanggapan dari Pdt Willy Amrullah "KASUS KRISTENISASI YANG TERUS-MENERUS DI SUMBAR" Sejak awal tahun ini sampai sekarang kasus ini makin lama makin menjadi. Dimulai dengan tuduhan penculikan dan pemerkosaan, yang kemudian telah dialihkan dengan kasus yang paling hangat ialah kasus kristenisasi di Sumatera Barat. Tiap hari kami menerima berita2 yang ditulis dalam "Bijak", "Mimbar Minang", "Singgalang", "Haluan", sampai2 dimuat dalam majallah "Gatra" dan "Forum". Tuduhan2 telah dilakukan kepada orang2 yang tersangka, sehingga sampai pula pada "Pendeta Willy Yang (Tak) Misterius" (Bijak 28 Juni-4 Juli '99). Saya tidak melarikan diri (buron) seperti yang ditulis oleh media massa karena kasus ini. Kasus ini baru terbuka lagi setelah kami beberapa minggu berada di Amerika, dimana saya berdomisili selama 49 tahun. Kelihatannya mass-media betul2 berpesta-pora memberikan kabar2 yang didengar dari sepihak saja, tanpa menyelidiki dahulu kebenarannya, sehingga telah menjatuhkan hukuman kepada orang2 tersangka. Tetapi saya juga mengerti, bahwa menulis "sensasi" biasanya surat kabarnya lebih laku. Selain daripada itu yang paling penting kelihatannya ialah menarik opini publik. Dalam hal ini, media tidak fair, karena kelihatannya mereka tidak pernah mewawancarai orang2 Kristen di Padang. Dan yang sangat menyedihkan sekali, ialah kita melupakan ajaran agama yang sebenarnya, yaitu: kita harus jujur dan jangan berbohong! Kalau ada diantara pembaca yang tidak mengikuti dan mengerti kasus ini, ada baiknya diterangkan secara singkat. Pada Jum'at, 27 Maret 1998, datang seorang gadis yang mengaku bernama "Devi" bersama-sama dua orang anggota GPIB, kerumah dimana kami berada. Dia mengaku bahwa dia berpindah agama menjadi Kristen, dan karena itu dia dalam bahaya ancaman dari keluarganya (akan dipasung). Devi juga mengakui bahwa dia mempunyai saudara kembar yang bernama "Lia". Kebetulan waktu itu, kami sedang berada di Padang. Kemudian pada hari Senin, 30 Maret '98, kami mendapat tilpun dari "Devi", mengatakan bahwa dia ada dalam bahaya dan perlu perlindungan. Hal ini membuat sedikit bingung untuk saya, karena dia minta alamat kami, sedangkan dia sudah datang pada hari Jum'at sebelumnya. Pendek kata, dia datang. Berdasarkan belas kasihan, "Devi" (karena dia mengatakan bahwa dia tidak bisa pulang dan juga dia tidak membawa barang2 keperluan pribadinya) disetujui, untuk tinggal bersama keluarga Salmon Ongirwalu (asal Ambon) dan isterinya Nenen (Liza Zuriana, Minang asli) yang mempunyai dua anak. Menyadari tidak tahu berapa lama "Devi" perlu perlindungan, akhirnya "Devi" disekolahkan di sekolah Kristen Kalam Kudus. Kalau orang2 yang memelihara dan menolong dia, bermaksud hendak mencemarkan dan menodai dia, apakah mungkin dia disekolahkan, apalagi di Padang? Baru sesudah ada orang mencari dia di Kalam Kudus, dan diketahui bahwa dia membawa pisau kesekolah, menurut dia untuk digunakan "membunuh dirinya sendiri" jika diserang /dikeroyok oleh bekas teman-temannya, maka kami tanyakan kepada dia, apakah dia mau pindah sekolah diluar Padang. Kebetulan bapak Pendeta Robert Marthinus, Kepala Sekolah Kalam Kudus, mempunyai keluarga yang tinggal di Malang, dan juga Sekolah Kalam Kudus juga mempunyai afiliasi disana. Yang penting diketahui, ialah bahwa "Devi" menyetujui pemikiran tersebut. Sebelum dia berangkat ke Malang, kami sempat menanyakan, siapakah sebenarnya yang datang pertama kali? Dia mengakui bahwa yang datang ialah "Lia" bukan dia. Ketika itu, kami menyadari bahwa selama ini, mereka telah berbohong. Dengan ini nyatalah, karena "Devi" datang dengan kemauannya sendiri dan minta bantuan perlindungan, dan dia setuju untuk pergi ke Malang, maka tidak pernah ada "paksaan pemurtadan" ataupun "penculikan dan pemerkosaan". Makin lama makin terlihat kebohongan2 yang telah timbul dari kisah2 yang seakan-akan di sutra-darai oleh pamannya Abu Samah, dimulai dengan tuduhan "penculikan/pemerkosaan" ("Bijak" 14-20 Juni '99 "Cerita ini sebagaimana dituturkan Abu Samah di PN Padang kepada BIJAK"),yang kemudian beralih kepada "kristenisasi paksaan". Saya percaya bahwa beliau adalah bagian dari suatu plot yang lebih besar lagi, yang tampaknya pamannya ini turut ambil bagian yang penting. Sebenarnya pemeriksaan tidak cukup dengan memvisum apakah Khairiyah (yang hanya kami kenal dengan nama "Devi") masih gadis atau tidak? Kenapa tidak menggunakan penyelidikan forensic atau DNA? Sesudah diselidiki oleh yang berwajib, juga tidak ada bukti2 yang memberatkan Sdr. Salmon. Dia ditahan dengan alasan untuk "menyelamatkan" dia dari ancaman2 massa. Berarti dia sudah dihukum sebelum dijatuhkan hukuman, dan massa juga mengancam untuk menghukumnya dengan cara mereka sendiri. Kasus seperti ini, adalah laksana ombak yang menarik dengan kuat sebelum menghempas dipantai. Jadi, ombak ini adalah oknum2 yang sengaja mencemarkan nama pemuka2 Kristen seperti Sdr.Yanuardi Koto dan Pdt. Robert Marthinus (yang sekarang juga dipenjarakan seperti Sdr. Salmon), termasuk saya sendiri sehingga reputasi kami sebagai hamba2 Tuhan dihancurkan. Semoga tim penyelidik yang sudah dibentuk oleh yang berwajib, betul2 menyelidiki kebenaran. Salah satu dari ajaran ayahku (Dr. H. Abdul Karim Amrullah), bahwa kita jangan "bertaqlid buta" dalam menyelidiki yang benar (beliau meninggal pada tanggal 02 Juni 1945, bukan 1944 seperti yang dikatakan oleh Sdr. Rusydi Hamka, "Bijak" 12 Juli '99). Saya sangat tertarik dan merasa bangga akan tulisan2 karangan kakak saya Abdul Malik (Hamka), salah satunya ialah buku "Pribadi" yang diterbitkan oleh "Bulan Bintang" halaman 101: "Orang yang telah meleburkan dirinya kepada agamanya sendiri, walaupun agama apa yang dipeluknya, sekali-kali tidak ada kesempatan buat benci kepada pemeluk agama lain. Bagaimana akan ada kebencian dalam hati orang yang mendekati Tuhan?" Dan juga dalam halaman yang sama A.R. Sutan Mansur mengatakan: "Dalam agama ini, seumpama kita lahir dua kali, kelahiran yang pertama ialah dalam Islam. Tetapi setelah kita dewasa kita harus lahir sekali lagi. Kita selidiki agama itu sedalam-dalamnya dan kita sesuaikan hidup kita dengan dia. Kemudian kita selidiki pula agama yang lain, supaya - sebagai orang Islam - kita ketahui apa persamaan kita dan apa pula perbedaan kita." Sebagai orang tua, saya ingin bertanya kepada pemuda/pemudi, apalagi yang sudah kuliah di IAIN. Kenapa jadi gentar dan kuatir mendengar orang2 Minang yang sudah menjadi Kristen yang hanya 93 orang itu di Sumbar dan 400 orang di luar? (Sedangkan hal ini telah berlaku selama lebih dari 20 tahun, yaitu sebelum ada PKSB - Persekutuan Kristen Sumatera Barat). Kalau kita betul2 ta'at kepada ajaran2 Islam, kita tidak usah takut untuk bergaul atau mempelajari Kitabullah yang lain. Sebab, kita percaya bahwa Firman Allah tidak berobah-robah, mulai dari Taurat, Zabur dan Injil. Di Amerika Serikat, universitas/seminari Kristen mendatangkan guru2 Islam untuk mengajarkan agama Islam kepada orang2 Kristen. Seperti Bpk. Prof. Shihab mengajar di Harvard University, dan lain2. Buya Hamka sendiri pernah berceramah berkeliling di AS pada tahun 1952, dan sayapun sempat mengantarkan beliau kemana-mana di California. Waktu itu pula, saya menerima buku karangan beliau "Ayahku". Disitu dapat dibuktikan siapa saya (lihat: "Ayahku" cetakan ke-tiga, Penerbit Djajamurni - Djakarta, halaman 224-225), biarpun saya sudah dianggap "saudara-tiri" dari Buya Hamka oleh Sdr. Rusydi. Saya terus ingat hubungan antara Ishak dan Ishmael, mereka satu ayah, tapi lain ibu; apakah mereka bersaudara tiri, sedangkan bibit yang ditanam adalah dari satu sumber. Didalam bahasa Inggeris ada bedanya antara "step brother" (yang tidak ada hubungan darah sama sekali) dan "half brother" (biasanya satu ayah lain ibu atau sebaliknya). Saya dengan Buya Hamka adalah "half brother", dan tidak ada satupun yang berhak atau bisa merampas "hak azasi" (birthright) saya itu, yang diberikan Allah. Saya tidak pernah ingin mencoreng nama Buya Hamka. ... (*note: *bagian ini lebih banyak menceritakan kenangan Pdt. Willy tentang Buya Hamka, saya potong karena tidak berkaitan dengan kasus Wawah -- ANB) .. Jadi, ketika Khairiyah datang dengan menceritakan nasibnya, dengan sendirinya sayapun sangat kasihan dan sedapat mungkin kami dapat menolong anak yang malang ini. Hal tersebut adalah ajaran/perintah dari Yesus Kristus ('Isa Almasih 'Alaihissalam) untuk mengasihi sesama manusia, baik dia ber-agama apapun. Dalam ajaran Kristen tidak ada paksaan agama. Saya ingin menjelaskan, biarpun saya ditahbiskan sebagai pendeta di Amerika Serikat, tetapi saya tidak pernah membaptiskan Khairiyah Eniswah. Kembali kepada kasus Salmon, "mengkristenkan lantas membaptiskan Khairiyah", saya kira itu adalah karangan Sdr. Abu Samah, sebagai dalang dari permainan ini, sebagai alat dari oknum2 yang ingin mencemarkan nama kami dan agama Kristen. Kalau dia betul2 orang Islam yang benar, dia harus berdo'a dan minta ampun kepada Allah SWT atas perbuatannya. Atau, apakah dia percaya pula, bahwa dengan perbuatannya ini, dia akan mendapat pahala di akhirat, karena "jihad fi sabilillah"? Sebenarnya, dialah yang harus diselidiki benar2. Sangat disayangkan media-massa sudah terpengaruh oleh kebohongan2 ini. Saya tidak akan mengelak untuk ditanya, dan saya telah bersedia untuk itu. Hal ini, sudah saya laporkan dua kali, kepada Duta Besar RI Berkuasa Penuh di AS, Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. Tapi sayang, sampai sekarang kelihatannya tidak mendapat tanggapan. Selain daripada itu, kami telah menghubungi organisasi2 HAM dan "International Freedom of Religion" (kira2: 20) di seluruh dunia, supaya mereka waspada apa yang sedang terjadi di Sumbar. Dalam menghadapi reformasi untuk menciptakan negara yang adil dan makmur, sudah waktunya kita menyadari pentingnya pengertian dan keharmonisan hidup bersama dalam negara ini. Semoga "seluruh" tulisan saya ini, dapat dimuat di surat kabar saudara, demi untuk menyatakan kebenaran. Terimakasih! Salam Hormat, Pdt. W.K. Amrullah P.O. Box 1303 Downey, CA 90240-0303 U.S.A -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
