Assalamualaikum:
Ayo Duta: Mengambil contoh tu, secara hukum nan berlaku di NKRI pemerintah indak bisa menolak ijin suatu usaha karena alasan etnis dan agamo. Mengacu ka contoh di Piaman tu. Bialah badiri RS, Mall dll dgn merek Lippo dan Siloam tu. Caliakkan ketidak setujuan ka proyek tu dengan tidak babalanjo atau baubek disinan. Dengan sendiri RS dan mall tu pasti tutuik bangkrut. Dengan demikian baru terbukti bahwa memang masyarakat Minangkabau menolak proyek Lippo ko. Seperti contoh di Piaman tu, indak perlu berlaku anarkis untuk menolak Drg Cino. Baitu pulo jo RS Siloam tu. Indak perlu menolak dgn tindakan anarkis. Dengan tidak jadi konsumen akan terlihat kompak dan bijak tanpa melanggar hukum. BM: Uda Duta seperti membandingkan apple dengan orange. Sebetulnya, apa yg terjadi di Sumbar, krisis kepercayaan kepada diri sendiri. Krisis kepercayaan kepada diri sendiri, sangat memperparah kondisi Sumbar untuk beberapa generasi yg kedepan. Karena krisis kepercayaan kepada diri sendiri, kita mengundang investor ke ranah Minang. Dalam pikiran pejabat2 Sumbar mendatangkan investor, akan mensejahterakan masyarakat Minang, karena membuka lapangan kerja. Mind Set ini yg harus dirubah. Ambo sudah datang ke gubernur Irwan Prayitno memberi sumbangan pikiran, bagaimana Johor Maju. Johor perlu dicontoh oleh Sumbar, bagaimana Johor Bangkit menjadi sesuatu kekuatan Ekonomi. Sedih melihat Sumbar, 10 tahun yg akan datang, masih mencicil kerusakan akibat gempa, akhirnya Sumbar akan menjadi setara dengan propinsi2 daerah tertinggal. Siloam itu sebetulnya tidak ada apa2nya, itu hanya pintu masuk. Dengan dibangunnnya superblok di Khatib Soelaiman, siap2lah orang Minang jadi kuli dinegeri sendiri, seperti yg dikhawatirkan bapak Moechtar Naim. Kalau cara berpikir mantan Walikota Padang, bahwa Lippo akan mendatangkan pekerjaaan, Itu betul, tapi menjadi kuli konglomerat. Cobalah DPRD Sumbar dan DPRD kota Padang, datang ke Johor, agar terbuka pikirannya. Mudah2an timbul semangat dan mencontoh Johor dalam membangun ekonomi. Ideanya sederhana saja, mau membangun Sumbar dengan penuh percaya diri, contohlah Johor. Kalau mau jadi kuli, jadi Minang yg rendah diri, undanglah investor yg siap memperkuli, dan menguras kekayaan Sumbar. Sumbar cukup kaya dengan tambang emas. Serahkanlah tambang itu ke investor asing, seperti free port, pejabat korup jadi kaya raya, rakyat Minang jadi hidup jadi buruh dan hidup dalam kemiskinan. Pilihan, terserah rakyat Minang sendiri, mau menjadi suku yg penuh percaya diri, menatap bangsa depan, pusat kebudayaan Islam, atau menjadi buruh/kuli, konglomerat. Kalau rakyat Minang mau diperkuli konglomerat, datangkanlah konglomerat hitam ke ranah Minang, yg jelas akan berkolusi dengan pejabat korup, menjadikan rakyat minang jadi kuli diranah sendiri, seperti yg dikhawatirkan oleh bapak Muchtar Naim. Yang dibutuhkan masyarakat Minang, adalah membangkitkan rasa percaya diri, menyongsong masa depan yg sejahtera dan berkeadilan, dalam kompitisi secara global. Menuntut dunia untuk membayar sekian trilliun ke Sumbar, sebetulnya tidaklah begitu sulit, karena Sumbar, hutan paling lebat di Indonesia, merupakan jantung pernafasan dunia. Manusia bisa hidup tanpa makan dalam beberapa bulan, cukup minum, tapi manusia akan mati, kalau tidak cukup oksigen dalam hitungan menit. Hutan Sumbar menyumbang produksi oksigen untuk kelangsungan hidup 7 milyar manusia di dunia. Andaikan hutan Sumbar dan Brazil ditebang, milyaran manusia akan mati tidak bisa bernafas. Jadi dari carbon trading saja, Sumbar sudah bisa makmur, karena dunia bayar Sumbar sekian trilliun, puluhan kali lebih besar dari sumbangan pusat terhadap APBD Sumbar. Kehadiran Lippo hanya menyumbang 0,00000... thd kemakmuran Sumbar. Kehadiran Lippo dengan superblocknya, siap menghasilkan trilliunan buat Lippo, dan Upah minimum sebagai kuli, bagi rakyat Sumbar. Bangkitlah wahai Alim Ulama, Ninik Mamak , Cendekiawan Sumbar membangun negeri. Tinggalkanlah pikiran mendatangkan investor, yg siap menerkam,memperkuli rakyat tanah minang. Salam BakhtiarM. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
