Rabu, 27/11/2013 20:33 WIB
*Ini Alasan Mereka yang Tidak Lagi Beri Uang ke Pengemis * *Jakarta* - Ditangkapnya Walang, pengemis dengan uang Rp 25 juta di dalam gerobaknya, seakan membuka tabir bagaimana kehidupan pengemis di Jakarta sebenarnya. Berkaca dari peristiwa tersebut, ada pula beragam pengalaman masyarakat yang dapat menjadikan alasan kita untuk tidak begitu saja memberi sedekah kepada para pengemis jalanan. Adalah Sunaryo, melalui surat elektronik redaksi detikcom dia bercerita, pernah suatu ketika dia dan istrinya memberi sejumlah uang kepada seorang pengemis perempuan dengan usia berkisar 55 tahun. Perempuan berbadan gemuk itu mengiba kepada kedua istrinya untuk memberi sedekah sebagai bekal berobat. "Karena kasihan kami kasih seratus ribu dan istri saya memberi enam puluh ribu rupiah," kata Sunaryo, menambahkan bila pengemis dengan membawa toples dan berselendang sarung itu menolak untuk diantar ke kediamannya. Namun, pengalamannya saat bersedekah itu tiba-tiba berbalik, ketika berada di minimarket di perempatan lampu merah Antapani, Bandung, dia melihat pengemis dengan ciri-ciri serupa dari yang pernah dia sedekahi itu tengah asyik berbincang melalui handphone. "Saya liat hp-nya itu keren dari pada hp saya. Dalam hati ngemis aja gadget-nya keren banget. Bukan iri, tapi kita pikir mereka meminta belas kasihan orang itu dijadikan ladang usaha," ujarnya. Lain soal yang dialami Angelina. Warga Bekasi ini mulanya iba ketika melihat ada pengemis yang datang menghampirinya saat berada di toko kue. Namun, saat dirinya memberi sedikit kue yang diberinya, sang pengemis bukan berterima kasih. "Pengemis tadi malah menggerutu enggak jelas. Keliatan banget kan kalo ngemisnya pura-pura bukan karena kelaparan. Dasar! Sejak saat itu saya lebih iba kalo ngelihat tukang sapu jalanan, mereka lebih mau berusaha," kisahnya. <http://www.mail-archive.com/[email protected]&q=subject:%22%5BR%40ntau-Net%5D+OOT%3A2+pengemis+peroleh+Rp+25+juta+dalam+15+hari+di+Jakarta%22> [R@ntau-Net] OOT:2 pengemis peroleh Rp 25 juta dalam 15 hari di Jakarta<http://www.mail-archive.com/[email protected]&q=subject:%22%5BR%40ntau-Net%5D+OOT%3A2+pengemis+peroleh+Rp+25+juta+dalam+15+hari+di+Jakarta%22> fashridjalmnoor<http://www.mail-archive.com/[email protected]&q=from:%22fashridjalmnoor%22> Wed, 27 Nov 2013 02:31:50 -0800<http://www.mail-archive.com/[email protected]&q=date:20131127> Sanak2 sa palanta yth. Barikuik berita nan manunjuakkan gadangnyo perputaran pitih di kota metropolitan Jakarta Salam Fashridjal M. Noor Sidin L65bdg Pengemis Ini Peroleh Rp 25 Juta dalam 15 Hari di jalan Gatot Subroto, Pancoran, Jakarta Selatan Rabu, 27 November 2013 | 15:54 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Bagi Walang bin Kilon (54) dan Sa'aran (60), Jakarta menjadi surga untuk mencari nafkah dengan cara mengemis. Meski pekerjaan itu dilarang, warga Subang, Jawa Barat, itu tetap melakukannya karena penghasilan yang didapatkan sangat besar. Tindakan mereka akhirnya dihentikan oleh petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan di Jalan Raya Gatot Subroto. Mereka diciduk di kolong jalan layangPancoran, Jakarta Selatan, Selasa (26/11/2013) malam kira-kira pukul 19.30. Mereka mengaku baru datang di Jakarta 15 hari lalu dan berhasil mendapatkan Rp 25 juta dengan meminta-minta. "Sebelumnya dua orang ini enggak ada. Tapi lewat pantauan, diketahui kalau dua PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial) ini beroperasi cuma malam hari saja," ujar Kepala Seksi Rehabilitasi Sudin Sosial Jakarta Selatan Miftahul Huda kepada Warta Kota, Rabu (27/11/2013). Miftahul mengatakan, saat petugas memeriksa kedua pengemis itu, ditemukan beberapa plastik warna hitam yang di dalamnya terdapat kantong-kantong plastik kecil dengan warna sama. Pada plastik pertama, dia mengatakan, petugas menemukan sejumlah uang berantakan dengan total sebesar Rp 7 juta. "Petugas kaget, kemudian memeriksa plastik lainnya dan ditemukan juga uang dengan jumlah jutaan sehingga dalam pemeriksaan itu diketahui kalau total uang keseluruhan sebesar Rp 25.448.600," kata Miftahul. Ia mengimbau kepada warga untuk tidak terjebak dan merasa iba terhadap penampilan para pengemis yang lusuh dan kotor. Penampilan seperti itu, menurut Miftahul, dilakukan sebagai modus untuk mencari uang. Walang dan Sa'aran memiliki tugas dan peran berbeda. Walang yang masih terlihat bugar bertindak sebagai pendorong gerobak. Adapun Sa'aran yang lebih tua dan kurus berpura-pura sebagai orang sakit yang berada di atas gerobak. Editor: Laksono Hari Wiwoho Sumber: Warta Kota -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
