Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Fri, 13 Dec 2013 12:24:56 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [forahmi] Politik dan Keamanan di Sumbar :: Indra J. Piliang Official 
Website


http://m.indrapiliang.com/2013/12/13/politik-dan-keamanan-di-sumbar-/


Politik dan Keamanan di Sumbar
13 Desember 20130 komentar
Share on facebook Share on twitter Share on email More Sharing Services

Politik dan Keamanan di Sumbar 
Oleh
Indra J Piliang

Ketua Bidang Hubungan Dalam Negeri Gebu Minang

Tahun 2014 adalah tahun politik. Hawanya sudah mulai masuk di penghujung tahun 
2013 ini. Sebagai tahun politik, tentunya terjadi persaingan yang hebat di 
antara pendukung dan peserta pemilihan umum 9 April 2014 dan pendukung pasangan 
dalam pemilihan presiden-wakil presiden pada 9 Juli 2014. Aksi kriminalitas 
yang melibatkan kalangan calon anggota legislatif juga sudah terjadi. Belum 
lagi beragam aksi penangkapan terkait pemakaian narkoba, termasuk ganja atribut 
peserta pemilu juga sudah tampak di jalanan.

Jika bicara tentang ASEAN Community 2015, dalam kaitannya dengan aspek politik 
dan keamanan, terutama di Indonesia umumnya dan Sumatera Barat khususnya, 
tentulah harus dilihat dari sisi keluar masuknya barang dan manusia yang menuju 
Sumatera Barat dari negara-negara anggota ASEAN. Begitupula sebaliknya, 
seberapa banyak warga Sumatera Barat bepergian ke negara-negara ASEAN, termasuk 
barang dan jasa yang dijadikan transaksi. Pergerakan barang dan jasa tentu 
menyasar pelabuhan, baik udara, darat maupun laut. Perjalanan tanpa visa 
memudahkan bagi siapapun untuk bepergian.

ASEAN adalah salah satu kawasan yang memiliki nilai-nilai tersendiri. Kawasan 
ini mampu mengubah nilai-nilai dari luar menurut sistem budaya yang dianut. 
Kalaupun ada kawasan yang menjadi Barat dalam kebudayaan, Barat itu tidak serta 
merta menjadi duplikasi dari Eropa atau Amerika Serikat. Begitupun, kalaupun 
ada kawasan yang menjadi Timur, tidak serta merta sama atau mirip dengan China, 
misalnya. Beragam kebudayaan yang bertemu di kawasan ini adalah buah dari 
denyut sejarahnya sendiri yang berbeda satu sama lain.

Thailand, misalnya, tidak menghadapi kolonialisme secara langsung. Vietnam 
mendapatkan kepercayaan diri akibat “menang” perang melawan Amerika Serikat. 
Kamboja pernah terjebak dalam sejarah panjang rezim otoriter. Myanmar (atau 
Burma) sedang berupaya memulihkan diri sebagai bangsa yang juga menganut 
demokrasi.

ASEAN menjadi kawasan yang diminati, karena pertumbuhan ekonominya yang nyaris 
stabil. Sekalipun sempat mengalami krisis pada tahun 1997-1998, kawasan ini 
sudah mampu bangkit lagi sebagai tujuan investasi dunia. Ketika sejumlah negara 
di Eropa masih sulit bangun dari keterpurukan ekonomi, kawasan ASEAN 
menampilkan diri sebagai kumpulan negara yang stabil secara ekonomi. Tentu hal 
ini tidak terlepas dari kebangkitan ekonomi China, sebagai negara besar yang 
berbatasan dengan negara-negara ASEAN. Daya serap China begitu besar, terutama 
untuk produk-produk dari kawasan ASEAN, termasuk dan mungkin terutama 
sumberdaya alamnya. 

***
Indonesia akan menjadi perhatian utama di kawasan ASEAN tahun depan, terutama 
menjelang pergantian Presiden dan Wakil Presiden. Sekalipun tahun ini terjadi 
aksi besar-besaran penentang Perdana Menteri Yinchuck di Bangkok, pengaruhnya 
tidak sebesar pergantian pemerintahan di Indonesia. Indonesia masih menjadi 
kekuatan ekonomi terbesar di kawasan ASEAN. Sokongan jumlah penduduk dan 
sumberdaya alamnya, masih menjadi jangkar utama stabilitas ekonomi, politik dan 
keamanan di ASEAN. Bayangkan kalau di Indonesia terjadi krisis ekonomi, apalagi 
krisis politik, kawasan di sekitarnya dengan sendirinya juga mengalami krisis. 
Krisis di negara ASEAN lain, belum tentu krisis bagi Indonesia. Sebaliknya, 
krisis di Indonesia, berarti krisis bagi kawasan ASEAN.
Masalah Indonesia tentulah terkait dengan pemerataan pembangunan, ketimpangan 
antara Jawa dengan Luar Jawa atau antara Indonesia Barat, Indonesia Tengah 
dengan Indonesia Timur. Jumlah penduduk Indonesia di Pulau Jawa sekitar 65%, 
sementara di luar Pulau Jawa sebanyak 35%. Pulau Jawa yang bahkan tak lebih 
luas dari Kalimantan Barat, menjadi pulau terpadat di Indonesia dan paling 
konsumtif. Pengembangan daerah-daerah di luar Pulau Jawa dalam era 
desentralisasi, dekosentrasi dan tugas perbantuan sejak tahun 1999, belum sama 
sekali mampu menjadikan penduduk Pulau Jawa melakukan migrasi atau 
transmigrasi. Dapat dibayangkan kemajuan yang akan terjadi di Indonesia, 
apabila daerah-daerah di luar Pulau Jawa juga berkembang dengan baik.

Otonomi daerah di Indonesia tentu membawa serta dan membangkitkan budaya lokal 
yang selama ini terpinggirkan. Sentimen itulah yang kemudian memunculkan sikap 
untuk mengajukan daerah-daerah baru. Muncul konflik seputar pemekaran daerah. 
Sementara pilkada sendiri tidak banyak berbuah konflik. Kalaupun terjadi, hanya 
melibatkan pihak yang kecewa atas hasil, bukan berdasarkan kepentingan lain, 
misalnya klan atau etnis. Sebagai negara yang paling berkembang demokrasinya, 
Indonesia sebetulnya bukanlah titik rawan bagi sektor keamanan. Kotak-kotak 
suara sama sekali bukan ajang konflik.

Dari sinilah kita memotret, apakah akan ada gangguan keamanan di dalam 
menghadapi pileg dan pilpres tahun depan. Dari banyak data sebelumnya, sama 
sekali jarang gangguan keamanan sepanjang pemilu dan pilpres. Masyarakat 
Indonesia pada prinsipnya mendukung demokrasi, sehingga pemilu dan pilpres 
menjadi semacam perayaan bersama. Perayaan pada hakekatnya adalah pesta. Pesta 
demokrasi. Semangat berpesta dalam demokrasi itu sudah tertanam lama. Bukan 
orang takut kepada kepala-kepala daerah untuk tidak hadir di kotak suara, 
melainkan segan kepada tetangga kenapa tak datang. Begitulah, pileg dan pilpres 
sama sekali bukan faktor yang memicu konflik di tengah masyarakat Indonesia. 

***
Kembali ke Sumbar, masalah utamanya lebih banyak ke kriminalitas, baik berupa 
pencurian, perampasan, sampai kekerasan dalam kejahatan di rumah dan jalanan. 
Yang lain adalah tingginya pengguna narkoba, dibandingkan dengan tahun-tahun 
sebelumnya. Narkoba ini menjadi masalah besar, terhubung dengan kawasan ASEAN 
secara umum. Mudahnya orang keluar masuk pelabuhan laut, misalnya, bisa serta 
merta membawa barang-barang haram itu. Belum lagi peredaran narkoba ini juga 
terjadi di kalangan penegak hukum. Sudah banyak berita betapa polisi, jaksa, 
hakim, sampai guru juga menggunakan narkoba.
Di luar itu, kejahatan seksual. Dampak kehadiran internet begitu menakutkan. 
Kejahatan seksual juga terjadi akibat tingginya tingkat pemakai social media, 
seperti twitter dan facebook. Kasus pembunuhan “berantai” di Sumatera Barat 
dengan medium facebook menghebohkan Sumbar. Belum lagi penipuan via facebook 
dengan motif investasi atau orang luar yang ingin menanamkan uangnya di 
Indonesia, hasil “kejahatan” di negaranya. Para penipu canggih itu sebagian 
sudah ditangkap. Mereka mayoritas terdiri dari orang-orang asing, termasuk dari 
Korea Selatan. Mereka menggunakan teknologi untuk menipu korbannya.

Konflik terbuka di Sumatera Barat terkait dengan masalah-masalah lama, yakni 
tanah ulayat. Investasi berupa perkebunan di Sumbar masih menyisakan persoalan 
klaim tanah ulayat, sebagaimana juga terjadi di bidang pertambangan dan energi. 
Sentimen agama juga kuat, terkait dengan rencana pendirian RS Siloam di Padang. 
Hal ini secara umum masih bisa ditanggulangi oleh aparat keamanan, mengingat 
pihak-pihak yang terkait bisa langsung dipetakan. Mereka adalah tokoh-tokoh 
masyarakat sendiri, bukan kelompok massa yang tiba-tiba menjadi beringas, lalu 
melakukan aksi-aksi kekerasan.

Dengan demikian, dampak kekerasan komunal sama sekali bisa dihindari di Sumbar. 
Yang perlu diantisipasi adalah kekerasan secara individual. Di sinilah kita 
mengenal konsep social security (keamanan sosial), human security (keamanan 
kemanusiaan), bukan state security (keamanan negara) dalam skala nasional. Di 
sinilah perlunya training-training pengamanan lingkungan, bukan hanya dengan 
cara memagari nagari, bahkan lebih jauh lagi masuk ke tingkat keluarga. 
Soalnya, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi bisa berarti ada pihak 
yang saling berhubungan, di dalam kamar, tanpa diketahui oleh niniak mamak 
ataupun wali nagari.

Apalagi, perang moderen tidak lagi bisa dimaknai sebagai pendudukan bersenjata. 
Perang moderen berarti penguasaan teknologi – dan pengendaliannya --. Kita 
mengenal konsep cyber war, yakni perang di dunia cyber, perang di internet, 
dengan cara membobol situs-situs antar negara. Para hacker Indonesia dikenal 
lebih menguasai bidang cyber war ini, sekalipun – belum tentu – menjadi satuan 
khusus yang sengaja dibentuk. Pornografi menurut saya juga bagian dari perang 
moderen, bahkan juga peredaran narkoba, sebagaimana Perang Candu yang terjadi 
di China (dengan Inggris) pada pertengahan abad ke-19.

Di atas semua itu, perang yang sebenarnya adalah perang di bidang ilmu 
pengetahuan. Dan strategi memenangkan perang itu tentulah dengan memperbanyak 
dan memperluas penguasaan ilmu pengetahuan bagi rakyat Sumbar, khususnya, 
Indonesia, umumnya. Anggaran pendidikan bukanlah solusi utama, apabila anggaran 
itu lebih banyak masuk ke bidang infrastruktur, ketimbang distribusi ilmu 
pengetahuan berupa buku-buku, jurnal, koran, dan lain-lainnya. Distribusi itu 
dengan sendirinya juga diikuti dengan beragam kegiatan di bidang ilmu 
pengetahuan, baik berupa seminar, diskusi, debat, training, dan lain-lainnya. 
Bukankah Sumbar sudah mendeklarasikan dirinya sebagai industri otak? Wallahu 
‘Alam.

Jakarta, 13 Desember 2013

*) Catatan pengantar Seminar tentang ASEAN Community 2015 dengan tema “Peluang 
dan Tantangan Bagi Masyarakat Minangkabau” yang diselenggarakan oleh BK3AM 
Jakarta dan Gebu Minang bekerjasama dengan Yayasan Yarsi Jakarta. Tempat: 
Universitas Yarsi, Jakarta, tanggal 14 Desember 2013. 
Tinggalkan Komentar
Powered by Telkomsel BlackBerry®

------------------------------------

Kunjungi Website Forahmi di www.forahmi.orgYahoo Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/forahmi/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/forahmi/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo Groups is subject to:
    http://info.yahoo.com/legal/us/yahoo/utos/terms/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke