Assalamu'alaikum Wr. Wb. adidunsanak Palanta RN n.a.h.
mohon izin lagi untuk posting status Facebook ambo pagi ko.

Semoga berkenan.

Salam,

ANB

* * *

KENANGAN TENTANG TEH PIPI. Kemarin saya mendapat kabar dari Brigjen (Purn)
Dr. H. Saafroedin Bahar <https://www.facebook.com/saafroedin.bahar1> bahwa
Teh Pipi putri Pak Sjafruddin Prawiranegara meninggal dunia. Saya cek kabar
itu kepada Teh Icah (Aisyah Prawiranegara), kakak Teh Pipi, yang
menyampaikan dengan suara gemetar di ujung telpon. "Benar Akmal, bahkan
sudah sejak hari Kamis dan sudah dimakamkan. Mohon maaf kalau kabar tak
sampai ke Akmal. Kalau bisa hari Rabu datang ya untuk tahlil hari ketujuh,"
katanya. "Usia Pipi masuk 71 tahun saat dia berpulang."

Teh Pipi adalah nama panggilan kesayangan keluarga terhadap Salviyah
Prawiranegara Yudanarso, putri kedua Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Meski
saya tak mengenalnya terlalu dekat, namun kepribadiannya sangat hangat.
Saya mendengar nama beliau pertama kali ketika bertemu Farid Prawiranegara,
anak keempat Pak Sjaf, mengutarakan niat untuk menulis novel sejarah yang
judulnya sudah lebih dulu datang di kepala saya sejak awal "Presiden
Prawiranegara". Ada komentar khusus dari Farid yang saya ingat sekali.
"Dari seluruh anak-anak Pak Sjaf yang semua senang dengan ide Akmal ini,
saya yakin Teh Pipi yang paling bahagia, karena sejak dulu Teh Pipi yang
paling bersemangat untuk membersihkan nama ayah yang dicap sebagai
pemberontak," ujar Farid. Lalu sinar matanya meredup. "Semoga ide Akmal ini
membuat tambahan semangat bagi Teh Pipi untuk bertahan dari kanker ganas
yang kini sedang dideritanya, dan Teh Pipi masih ada umur saat novel ini
terbit." Saya tersentak, dan mau tak mau mendapatkan sedikit beban
tambahan, karena ternyata saya juga harus berpacu dengan waktu.

Beberapa pekan kemudian saya diundang makan malam oleh keluarga besar
Prawiranegara di rumah Teh Icah. Kedelapan anak Pak Sjaf dengan istri/suami
masing-masing hadir, kecuali Chalid (kakak Farid) yang saat itu ada urusan
di Pekanbaru. Saya bertemu dengan Teh Pipi pertama kali. Wajahnya tirus.
Tapi binar matanya bercahaya, dengan senyum yang manis sekali. Teh Pipi
langsung memeluk saya dan istri, seperti anak beliau sendiri (apalagi umur
Teh Pipi juga hanya beda setahun dengan almarhumah ibu saya). Malam itu --
persis seperti prediksi Farid -- Teh Pipi yang paling bersemangat bercerita
tentang ayahnya, Ketua PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia,
1948-1949), yang sepuluh tahun kemudian menjadi Perdana Menteri PRRI
(Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia), sebuah peristiwa yang
membuat Orde Lama kemudian mencapnya sebagai "pemberontakan", dan stigma
politik itu tak dihapuskan Orde Baru, bahkan sampai Pak Sjaf wafat.

Sejak itu saya mulai sering bertemu Teh Pipi, termasuk saat soft launching
novel pada Peringatan Satu Abad Sjafruddin Prawiranegara di Bank Indonesia
pada 28 Februari 2011 (tanggal lahir Pak Sjaf), dan saat rilis resmi novel
di Domus Cafe, Jl. Veteran, sebulan kemudian. Antusiasme Teh Pipi luar
biasa, tak terlihat bahwa dia sedang berjuang melawan kanker. Bahkan
menurut informasi saat itu, dari suaminya yang juga seorang dokter (dr.
Yudanarso), kondisi Teh Pipi membaik. "Pipi senang sekali melihat novel
tentang Ayah ini akhirnya terbit," ujar sang suami. "Kami semua senang,
tapi Pipi yang paling senang. Akmal bisa lihat sendiri."

Lalu terjadilah keajaiban itu. November 2011, Pemerintah menetapkan Mr.
Sjafruddin Prawiranegara sebagai Pahlawan Nasional, setelah dua kali usulan
sebelumnya (tahun 2007 dan 2009) ditolak meski oleh pemerintahan yang sama.
Di televisi, pada hari Pahlawan 10 November, Teh Icah bicara berbalut isak
tangis. "Ini terjadi karena tahun lalu Akmal datang ke rumah, ngotot mau
nulis novel tentang Ayah. Padahal kami semua sudah pasrah (dengan cap
'pemberontak'). Wajah Teh Pipi sendiri terlihat makin bercahaya. Tampaknya
salah satu keinginan utama hidupnya untuk membersihkan nama sang ayah sudah
tercapai. Mr. Sjafruddin Prawiranegara sudah kembali menempati apa yang
menjadi haknya yang terabaikan selama ini: diakui sebagai Bapak Bangsa
dengan pengabdiannya yang seabreg bagi negara (pernah menjadi Menteri
Kemakmuran, Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia pertama, Wakil
Perdana Menteri), selain menjadi Ketua PDRI dan Perdana Menteri PRRI.

Dengan tiga hari lagi menjelang 19 Desember, hari PDRI yang kini disebut
sebagai Hari Bela Negara tersebab saat itulah Pak Sjaf dkk di Bukittinggi
membentuk pemerintahan darurat setelah Bung Karno, Bung Hatta dan sejumlah
menteri lain ditangkap Belanda usai Agresi Militer 19 Desember 1948 yang
durjana, meninggalnya Teh Pipi membuat gerowong baru bagi saya, yang
akhirnya ditakdirkan Tuhan untuk mengenal sosok keibuan yang tak kenal
lelah untuk membela nama sang ayah.

Selamat jalan Teh Pipi. Allahummaghfirlaha warhama wa afiha wa'fuanha.
Semoga segera berjumpa dengan ayahanda tercinta, kali ini dalam rengkuhan
cinta Allah Sumber Segala Cinta, Asal Segala Cahaya.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke