Rina Permadi manulih: "Siapo tau novel tu bisa berkekuatan sarupo Novel *Presiden Prawiranegara*. Dan meluruskan sejarah bahwa Sumbar dan urang Minang ini bukan hanya sekedar wilayah pemberontak."
ANB: Ayo, Rky Rina, tulihlah novel sejarah tu, In syaa Allah bisa. Perbanyak saja membaca novel-novel dengan genre sejenis, baik kejadian di luar negeri mau pun di luar negeri. Salah satunyo adolah *Napoleon dari Tanah Rencong*tentang DI/TII Aceh yang deskripsi dan narasinya jauh labiah padek dari Presiden Prawiranegara (dek maso riset dan penulisan juo labiah lamo). Kurangi membaca novel genre lain (setidaknya untuk saat ini), sehingga memperkuat stimulus dan inspirasi dalam pencarian bentuk penceritaan untuk (calon) novel Rina,. Wass, ANB 45, Cibubur PS: Sebagai pemancing awal, iko resensi novel *Napoleon dari Tanah Rencong *nan ditulih penyair-budayawan Aceh, Fikar W. Eda, di Serambi Indonesia, duo pakan silam. Semoga bermanfaat. Kisah ‘Napoleon’ Menentang Wali Negara Minggu, 12 Januari 2014 13:42 WIB NAPOLEON dari Tanah Rencong, memberi lukisan hidup tentang sosok Hasan Saleh, salah seorang figur sentral dalam peristiwa pergolakan DI/TII Aceh. Dituturkan dalam bentuk karya novel, membuat kisah ‘Sang Napoleon’ jauh dari kesan menggurui atau ingin mendominiasi peristiwa sejarah. Novel ini memang bukan novel sejarah, melainkan novel dengan latar sejarah yang mengalir cair pada tiap halaman dan bab. Novel ini ditulis Akmal Nasery Basral, yang pernah bekerja sebagai wartawan sejumlah majalah berita terkemuka di Indonesia. Tangan dingin Akmal telah melahirkan sederet novel seperti; *Naga Bonar Jadi 2 *(2007), *Sang Pencerah *(2010), *Batas* (2011), *Presiden Prawiranegara *(2011), *Anak Sejuta Bintang* (2012). ‘Napoleon dari Tanah Rencong’ diterbitkan PT Gramedia Jakarta, 2013, merupakan hasil riset mendalam tentang kehidupan Hasan Saleh dan sepak terjangnya dalam panggung sejarah Aceh. Akmal menghabiskan waktu tiga tahun untuk kerja riset tersebut. Istilah ‘Napoleon’, menurut catatan Iqbal Hasan, putra Hasan Saleh, bersumber dari Hasan Saleh sendiri yang membandingkannya dengan Napoleon Bonaparte di Prancis. “Iqbal, lihat peta Prancis itu. Kan tidak besar-besar sekali juga Prancis itu? Kalau di sana ada Napoleon sebagai panglima perang yang jago, lalu apa bedanya dengan bapak di Aceh,” kenang Iqbal tentang percakapan dirinya dengan sang ayah. Alasan itulah yang kemudian dipilih jadi judul novel dengan gambar sampul depan sebilah rencong milik Hasan Saleh. Dibuka dengan peristiwa masa kecil ‘Sang Napoleon’ di Desa Pulo Kameng, Metareum, Pidie, kita—pembaca—mula-mula diperkenalkan dengan tingkah bocah ‘Napoleon’ dalam keluarga single parent Cut Manyak. Tingkah Hasan Saleh kecil dilukiskan begitu hidup dan interaksinya dengan ketiga saudaranya yang lain memperlihatkan keluarga itu rukun-harmonis, walau pun mereka empat bersaudara dari tiga ayah yang berbeda. Paling sulung Ismail Syekh, berasal dari ayah Muhammad Syeh, yang kemudian meninggal dunia. Cut Manyak menikah dengan Muhammad Saleh, yaitu abang dari Muhammad Syekh. Dari perkawinan dengan Muhammad Saleh, lahir Ibrahim Saleh dan Hasan Saleh. Tapi pernikahan kandas di tengah jalan. Perjalanan waktu mempertemukan dengan Tgk Muhammad Aly, yang kelak menjadi suami ketiganya. Perkawinan itu melahirkan seorang anak laki-laki bernama Yacob Aly, yang berbeda umur 5 tahun dengan Hasan Saleh. ‘Napoleon’ tumbuh sebagai anak cerdas, lincah, dan panjang akal pada situasi sulit. Hasan Saleh menjalani masa kecil di zaman Belanda, dilajutkan zaman Jepang dan zaman Kemerdekaan ketika memasuki usia dewasa. Ia juga menjalani konflik sosial peristiwa Cumbok. Hasan Saleh sejak kecil mengikuti pendidikan agama dan menguasai bahasa Arab sangat baik. Sedangkan bahasa latin, sama sekali tidak ia kuasai, bahkan menulis nama sendiripun sulitnya minta ampun. Belakangan, Hasan Saleh lebih dikenal sebagai sosok militer. Itu diawali dari pendidikan militer di sekolah militer Jepang di Lhokseumawe, Kembu Yoin. Di sana pula ia berkenalan dengan Teuku Syamun Gaharu, Teuku Abdullah Titeu, Teuku Abdurrahman Keumangan, dan lain-lain. Karir militer Hasan Saleh terbilang cemerlang. Ketika berpangkat Kapten TNI, Hasan Saleh yang memimpin batalion “Seulawah Jantan” ditugaskan memadamkan pemberontaakan Kahar Muzakar di Sulawesi dan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Seluruh misi itu berhasil dijalankannya dengan hasil sangat baik. Ketika berhadapan dengan Kahar Muzakar, Hasan Saleh bahkan tidak perlu memuntahkan satu pelurupun di medan perang, karena langsung dicapai kesepakatan damai dan pasukan Kahar Muzakar turun gunung. Pada bagian lain, novel ini juga memperlihatkan keteguhan hati Hasan Saleh terhadap prinsip, meski harus berhadapan dengan atasannya. Ia pernah menolak perintah KASAD Kolonel A Haris Nasution untuk mengembalikan senjata ketika pasukan Batalion 110 Seulawah Jantan yang dipimpinnya bertugas di Sulawesi. Keteguhan sikap itu juga tercermin pada perundingan ‘Misi Hardi’, di mana Hasan Saleh sama sekali tidak beranjak dari sikapnya untuk meminta keistimewaan Aceh. Ia juga berkali-kali bersitegang dengan Wali Negara Daud Beureueh, pemimpin tertinggi DI/TII. Puncak ketegangan terjadi saat Hasan Saleh selaku Penguasa Perang memutuskan mengambil alih seluruh kekuasaan sipil dan militer dari tangan Wali Negara Abu Daud Beureueh. Drama pertentangan tersebut diceritakan dalam Bab 24; ‘Kembali ke Pangkuan Republik.’ Peristiwa tersebut terjadi pada 15 Maret 1959. Hasan Saleh tak punya pilihan lain setelah pertentangan dengan Wali Negara Daud Beureuh pada Rapat Cubo yang memecat Hasan Saleh dan Ayah Gani selaku Wakil Perdana Menteri DI dengan tidak hormat karena dianggap mengkhianati perjuangan. Alasan pemecatan Hasan Saleh dan Ayah Gani, karena Wali Negara Daud Beureueh mengetahui kedua tokoh tersebut bertemu dan berunding dengan Jenderal AH Nasution di Kutaradja. Dalam pertemuan itu Jenderal Nasution melobi Hasan Saleh agar memilih jalan damai, bukan jalan perang seperti yang dipidatokan Wali Negara Daud Beureueh dalam satu kesempatan di Lhokseumawe. Ketika itu Wali Negara bersikukuh ingin tetap melanjutkan perang. “Saya tahu Teungku Daud Beureueh tak mau berdamai. Dia bilang akan bergerak 1 Januari 1959, sepuluh hari lagi. Itu sebabnya saya memilih berbicara dengan saudara lebih dulu, sebagai Menteri Urusan Perang. Jika ingin berdamai saya tidak akan berbuat apa-apa. Tapi kalau mau berperang, kami akan lebih dulu bergerak,” kata Jenderal Nasution. Dialog ‘negosiasi’ dilukiskan berlangsung alot hingga sampai kepada kuputusan bahwa Hasan Saleh menjamin keamanan Aceh dan akan menggagalkan usaha untuk berperang kembali seperti yang sebelumnya diumumkan Wali Negara Daud Beureueh. Hasan Saleh menyampaikan tuntutan diberikannya peningkatan status Aceh sebagai ‘negara bagian.’ Hasil pertemuan dengan Jenderal Nasution disampaikan Hasan Saleh kepada Ketua Majelis Syura Amir Husin Al Mujahid, dan menyatakan sependapat dengan Hasan Saleh untuk menyudahi perang. “Sekarang setelah jalan ke luar dari masalah ini ditemukan, kita wajib menentang kemauan Wali Negara karena kepentingan rakyat jauh lebih penting dibanding kepentingan seseorang,” kata Amir Husin. Wali Negara Daud Beureueh merespons pertemuan Hasan Saleh dengan Amir Husin Al Mujahid dengan menggelar pertemuan di Cubo dengan mengundang seluruh komandan resimen dan pemuka masyarakat sipil, termasuk menteri dalam negeri dan menteri kehakiman. Amir Husein tak diundang, tapi berinisiatif datang sendiri ke rapat tersebut. Peserta rapat menjadi terbelah dua, mendukung Wali Negara dan menolaknya. Belakangan suara mayoritas mendukung Wali Negara untuk memecat Hasan Saleh dan Ayah Gani dari jabatannya dengan tidak hormat. Ketika peristiwa itu berlangsung, Perdana Menteri DI, Hasan Aly sedang berada di Amerika. Tiba di Aceh, Hasan Aly mencoba melobi Wali Negara untuk membatalkan keputusannya. Sampai 14 Maret 1959, tenggat waktu yang diberikan, tak ada jawaban dari perdana menteri. Esoknya, 15 Maret 1959, mengumumkan pengambilalihan seluruh kekuasaan dari Wali Negara Daud Beureueh olehnya selaku Penguasa Perang NBA-NII. “Kemudian kekuasaan saya limpahkan kembali kepada Dewan Revolusi dengan tugas pokok untuk menyelesaikan pemberontakan di Aceh,” ujar Hasan Aly ketika di Metareum. Dewan Revolusi diketuai Ayah Gani, Wakil Ketua dan Panglima Militer Hasan Saleh, Sekjend A Gani Mutiara, Penasihat Militer Husin Yusuf, Penasihat Sipil T Amin, Penata Keuangan TA Hasan dan Penghubung Dewan Revolusi dengan Pemerintah RI Ishak Amin. Sidang pertama Dewan revolusi dilakukan dengan mengangkat Teungku Amir Husin Al Mujahid sebagai Wali Negara yang baru (halaman: 486). * Peristiwa lucu* Selain menyimpan unsur-unsur ketegangan, novel ini juga memuat berbagai peristiwa lucu. Hasan Saleh dengan gampang menjuluki pelatih militer Jepang yang kejam sebagai ‘Si Parot’ karena kejengkelannya terhadap perilaku kejam si Jepang yang menjadi pelatih di sekolah militer. Peristiwa lucu lainnya adalah ketika Hasan Saleh berada di Malaysia. Secara kebetulan ia bertemu dengan sejumlah prajurit TNI yang transit dan prajurit itu berbincang mengenai ‘sosok’ Hasan Saleh yang misterius, bergerilya di hutan Aceh. Dengan fasih, prajurit tersebut menyebut Hasan Saleh sebagai orang yang ditakuti dan kepalanya dihargai jutaan rupiah. Prajurit tersebut baru saja kembali dari dinas di Aceh menumpas pemberontakan DI/TII. Sama sekali tidak diketahui bahwa orang yang sedang dibincangkan itu ada di hadapan mereka. Hasan Saleh juga sosok romantis. Ini diperlihatkan bagaimana dia ‘jatuh hati’ kepada Cut Asiah, muridnya yang cantik, dan kelak menjadi pendamping hidupnya. Ia benar-benar takluk kepada gadis itu. Novel ini, menurut saya, telah memperkaya pengetahuan mengenai berbagai peristiwa bersejarah di Aceh. Gaya penulisan seperti ini merupakan pilihan yang tepat, imajinasi pembaca dengan mudah terbenam dalam setiap peristiwa yang ditampilkan. Pembaca bisa merasakan efek-efek dramatik dari setiap kejadian. Ke depan, kita tentu mengharapkan lahirnya novel-novel lain tentang Aceh. Ibarat buku, Aceh tidak akan habis dibaca dalam satu malam. Aceh harus terus dibaca sepanjang masa dengan beragam peristiwa dan aktor-aktornya. Inilah, salah satu bentuk kekayaan lain dari negeri yang bernama Aceh.*(fikar w.eda)* Editor: hasyim Pada 24 Januari 2014 09.35, Rina Permadi <[email protected]> menulis: > Batua dan tarimo kasih Mamanda JB, Mamak Ajo Duta, Pak Saaf, Pak > Wannofri, Mak Maturidi, Mak MM, Amak ambo Bundo Evy, jo adidunsanak palanta > nah, > > > > Banyak maaf untuak Rangtuo kami di Palanta ko, > > > > Rina barusan bbrp hari nan lewt mambaco ulang Novel abad pertengahan Gone > with the wind. Disinan banyak digambarkan banyak sekali kekejaman parang > ko. Antaro Orang Konfederat, Orang Yankee jo Negro nan ikuik mandapek hati > dek orang Yankee mambuek mereka dibebaskan dari perbudakan. Baa kondisi > mereka pasca perang nan sangat menyedihkan bagi orang Konfederat. Banyak > bana polemiknyo sahinggo ambo jadi agak bisa mambayangan parang PRRI ko. > > > > Walaupun ambo banyak dapek carito nan mambaco banyak keterangan tapi nan > disabuikkan kebanyakan kesimpulan masyarakat umum bukan perasaan hati urang > nan mengalami. Papapun, Rina raso banyak manyembunyikan raso hati nan liau > rasokan sabananyo. Baitupun Mak Ngah, mambaco kisah pertemuan imajiner nan > ditulih Uda ambo Da Andiko, Mak Ngahpun baurai aia mato mambaconyo. > > > > Saketek gambaran nan agak berani hanyo dari Mak Mantiko alias Alm. Charl > Chairul di novel liau Ketika Merah Putih Terkoyak. Dimano isi di dalamnyo > Rina yakin maambiak settingan nan tajadi di kampuang dan seputaran rumah > nenek kami dari beberapa wawancara yang Rina dapek dari urangtuo nan indak > nio dipublikasikan. Bahkan Mak Charl Chairul menggambarkan indak mode nan > sabananyo dimano sabananyo labiah parah. > > > > Nan jaleh PRRI adolah jaleh parang nan sangat menyakitkan perasaan > siapopun maso tu. Mereka indak bermusuhan awalnyo malah kawan, keluarga dan > senasib sepenanggungan samo2 pembela Negara. Indak samo jo Sipil War 1836 > nan memang terjadi dek kebencian kedua belah pihak. CMIIW > > > > Pembicaraan tentang PRRI ko terkadang jadi bahan nan lucu katiko ado nan > mambuek galak dicaritokan Papa. Tapi Mama rina protes, kini se nan dapek > galak noh, saisuak kalau gau tau Piak nagari parang tun cando aaa.. iyo > antahlah kadisabuik. Indak talulua angok doh,” kecek Mama. Mama juo > mengalami sebab waktu PRRI Mama tengah dimasa kegadisan baliau, pertengahan > SMP. Kudian Mama dilindungi dek Pak Camat Datuak Rangkayo Basa dan jadi > anak mudo kesayangan beliau sebab nio patuah dan mambantu program2 APRI di > kampuang kami. Dan di maso yang samo Papa jadi buruan tentara APRI di > rimbo2 sebab menjadi tentara pelajar satalah ditangkok karena jadi anggota > PMI nan dicurigai jadi tentara lua. Sungguh ironis. > > > > Walaupun paik dan sadis, tapi izinkanlah kami nan mudo2 untuak turuik bisa > tau kemalangan di maso PRRI ko. Buku sejarah dan tinjauan sejarah sabana > indak bisa mamuehkan dan mewakili raso ingin tau hal detail, paralu bantuan > ahli sastra untuak mengungkapkan kondisi real bisa dirasokan. Sialaih > salain novel Enrico dan Ketiko Merah Putih Terkoyak, samo2 kito tunggu > tanggal terbitnyo the next novelnyo. Siapo tau novel tu bisa berkekuatan > sarupo Novel Presiden Prawiranegara. Dan meluruskan sejarah bahwa Sumbar > dan urang Minang ini bukan hanya sekedar wilayah pemberontak. Kalau indak > ado pimpinan sipil takah Buya Natsir atau Pak Syafruddin Prawiranegara, > mungkin alah jadi perang dunia dimano kekuatan Cina, Rusia, Amerika, > Inggris dan Australia batamu mampasokok-an pulau nagari kito ko. > > > > Bukan sejarah Negara lain atau daerah lain nan kami ingin tau tu, tapi > daerah kampuang sorang, masakan para Urangtuo kami di palanta indak nio > mambagi-baginyo. > > > > Wassalam > > Rina, 36, Batam > > > > *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] *On > Behalf Of *Zubir Amin > *Sent:* Friday, January 24, 2014 7:14 AM > *To:* RantauNet Group > > *Subject:* Re: [R@ntau-Net] Adakah cerita Organisasi Pemuda Rakyat (OPR) > underbow PKI, Gerwani dll --> kajian komprehensif ttg PRRI. > > > > Dd Dut n kel nn sadang kadinginan di Virginia DC or NY(?)-maaf Ajo lupo) n > sanak palanta nn berbahagia. > > Bergidik tu baso awak e' 'manyagkak bulu kuduak or. maramang bulu kuduak' > dek ketakutan atas sesuatu nn angker. Biaso e' keadaan itu muncul kalau > melewati kuburan2 dimalam hari surang diri or rumah2 kosong or takajuik dek > 'suatu peristiwa' nn dilua nalar nn normal aghah nn dd alami itu. > Soal keinginan dd tuk menggentian subject nn sadang di pacatuihkan di > Palanta ini,buliah2 je tapi tolong dipikia n dirasokan parasoan para sanak > kito nn jadi korban dek keganasan n kebiadaban PKI cq OPR nn membantai > mereka pd maso mereka dapek angin ukatu PRRI dulu atas batuan apri cq > personil div diponegora nn ditugaskan di Sumbar.. > Ajo menjadi salah surang saksi sejarah di Piaman atas tindakan barbar n > sadisistis kedua belah pihak baik nn dilakukan oleh PKI cq OPR plus oknum > div diponegoro terhadap orang2 nn mereka duga anggota,pengikut,simpa tusan > PRRI pd masa2 1958-1959/60 maupun nn dilakukan oleh mereka2 nggota prri or > simpatisannya sebagai aksi balas dendam kpd anggota PKI n ormas2 nn > menjaadi mantel PKI cq OPR sesudhah G30S/PKI. > Memang tagak bulu kuduak awak kiniko kalau mangana kekejaman2 kedua belah > pihak terhadap lawan2 mereka.Bagi sipelaku2 dulu,perbuatan mereka adalah > semacam tinda kan 'kepahlawan' nn penting musuh hrs dibunuh or dihancurkan > tanpa merasa salah. > Itulah dd 'seni sejarah kemanusiaan' nn tajadi di saan tero dunia ini > tamaasuak di Ina cq Sumbar.Hukum alam? Antahlah! > JB,DtRJ,75thn - senek,s > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
