Idealisme Politisi Muda

Oleh: Mohamad Sobary Hanya di dunia politik orang bisa mencapai karier
serbacepat, jauh melampaui kecepatan suara. Keputusan mendadak yang
bersifat rahasia dapat membuat seseorang meloncat secara tak masuk akal ke
dalam posisi superistimewa.

Orang yang ibaratnya "luntang-lantung" tiba-tiba bisa menjadi menteri.
Pantas tak pantas dia menteri. Itulah dunia politik dan hak-hak
istimewanya. Kita tahu loncatan karier di dalamnya tak mengenal aturan dan
hukum-hukum biasa yang konvensional dan menjemukan sebagaimana di dalam
birokrasi pemerintahan. Di sana orang bisa "mati berdiri" dalam antrean
sangat panjang menanti kenaikan jabatan yang bisa saja tak pernah terjadi
hingga tiba masa pensiun.

Dunia politik memang lain. Kita tahu kemunculan Orde Baru juga menampilkan
banyak fenomena baru. Kaum muda yang betul-betul masih muda belia bisa
menjadi menteri hanya karena pernah memimpin mahasiswa yang turun ke jalan
secara patriotik untuk merombak mentalitas para pemimpin yang telah menjadi
beku. Idealisme anak muda ini tinggi menjulang hingga langit di atas sana
merasa cemas bakal terdesak makin ke atas, di mana ruang kosong sudah tak
tersedia lagi.Tapi, demi berlalunya waktu, apa yang tampak menggelembung
itu kempes dengan sendirinya dalam waktu cepat di tengah kenyamanan hidup
mapan yang tak terduga. Itu nasib baik generasi 1960- an. Generasi 1940-an
beda lagi. Zaman itu kaum muda berpolitik dengan pertaruhan nyawa dan
kebebasan pribadi demi perjuangan kemerdekaan dengan semangat patriotisme
yang tak kalah membara. Mereka bekerja keras, dikejar-kejar pemerintah
jajahan, ditangkap, dibuang, dan dipenjara untuk dilumpuhkan. Tapi, mereka
tak pernah lumpuh.Corak kepemimpinan mereka memang lain: lebih matang,
lebih mendalam, dan lebih penuh penghayatan akan makna hidup yang sering
getir dan penuh tragedi. Ketika generasi ini berhasil memerdekakan
bangsanya, mereka siap, terlatih, dan matang menjadi pemimpin.

Tidak ada kejutan dadakan. Tak ada orang "pinggir jalan" yang digiring ke
jabatan tinggi. Semua profesional. Semua terpelajar. Semua siap saling
mengakomodasi. Semua berwatak inklusif. Wawasan mereka tertuju hanya pada
satu titik: keindonesiaan. Citra Indonesia itu mereka bayangkan sebagai
"rumah" bersama.Kalau dirumuskan dalam idiom politik-kebudayaan
kontemporer, sebutan mereka itu "kaum pluralis" yang terbiasa hidup dalam
tatanan "multikultural". Tidak ada seorang pun tokoh culas yang memainkan
politik keagamaan dengan pikiran "kotor" hanya demi memanjakan keserakahan
politiknya sendiri. Dalam dua dekade terakhir ini, ada pencarian kembali
dengan sungguh-sungguh akan makna dan sikap "inklusif", "akomodatif", dan
semangat bersaudara yang dulu menjadi cara hidup leluhur kita.Kini kita
juga rindu pada hidup yang menghargai multikulturalisme dan akrab terhadap
pluralitas budaya yang dicontohkan para leluhur kita sendiri.

Kita gigih berjuang mengembalikan "zaman emas" itu dengan rasa penasaran,
adakah itu mungkin untuk diwujudkan. "Kita?" Siapa "kita" di sini? Masih
adakah orang yang memiliki kerinduan seperti itu?" Kehidupan pada hari-hari
ini memang agak pengap. Politisi, juga yang muda-muda, memandang politik
secara gersang; politik hanya jenjang meraih kekuasaan.Wawasan dan sikap
sebagian tokoh bisnis dan militer sama kering kerontangnya. Orangorang itu
pun menganggap politik sekadar sebagai jalan meraih kekuasaan dan selesai.
Kalau ditanya, kekuasaan untuk apa? Untuk kekuasaan itu sendiri? Untuk
menindas rakyat? Untuk memupuk kekayaan? Bukankah ada keluhuran lain:
kekuasaan untuk memenuhi idealisme bahwa dengan kekuasaan di tangan kita
bebaskan bangsa dari kebodohan, ketertindasan, kemiskinan, dan tindak
kekerasan yang tak mengenal dialog dan kompromi?

Dengan kata lain, politik untuk kekuasaan dan demi kekuasaan itu sendiri
pendeknya haram jadah. Suara seperti ini, alhamdulillah, juga muncul di
tengah kita, dari kalangan pebisnis, orang baru sama sekali di dunia
politik, kaum muda, dan wanita. Dia punya idealisme sendiri mengenai cara
mengoperasikan kekuasaan. Politisi muda, orang baru ini, namanya Fahira
Idris. Orang boleh memanggilnya Ira. Dari dunia bisnis dia mencoba beralih
ke politik. Ini menyiratkan suatu tanda: dia berpolitik bukan karena
mencari pekerjaan.

Beda betul bila dibandingkan dengan beribu-ribu orang lain, yang
berduyun-duyun masuk politik tanpa gagasan, tanpa idealisme, selain
pragmatisme kering dan dangkal: demi cepat kaya, cepat terkenal, dan
mentereng. Kegembiraan berpolitik dan nuansa rohani di dalamnya hendak
ditampilkan anak muda ini. Dia menepis anggapan bahwa politik itu kotor.
Dia juga menolak penilaian bahwa politisi pun dengan sendirinya kotor.
Tidak. Politik bisa dibikin punya rohani.Politisi bisa tampil dengan
wawasan dan sikap sekaligus dengan tindakan- tindakan mulia yang didambakan
para "empu kehidupan" yang memberi contoh kebajikan hidup dan segenap
kemuliaan. "Bagi saya," katanya, "Politik bisa menjadi sarana memecahkan
persoalan-persoalan penting yang sedang dihadapi masyarakat dan bangsa.
Politik harus bisa menjadi sahabat kaum muda. Saya merasa mendapat
tantangan untuk membuktikan bahwa dengan jalan politik itu masalah-masalah
kaum muda kita pecahkan.

Pendidikan kaum muda, langkah mencerdaskan kehidupan mereka, dimulai dari
sikap politik, diteruskan dengan keputusan politik, dilaksanakan melalui
birokrasi, yang dikontrol oleh kesadaran yang punya warga moral yang jelas.
"Ini semua memang kelihatan sederhana, tapi pelaksanaannya ruwet dan
kompleks.

Bagi saya, yang penting di sini ialah bukti bahwa politik tidak harus kotor
dan bahwa politisi tidak harus buruk. Politik itu mulia menurut saya,"
katanya lagi.Ira, kompletnya Fahira Idris, putri Dr Fahmi Idris, pengusaha
sukses, politisi senior, yang tak tampak hiruk-pikuk di media, tapi jelas
membawa 'wong bejo', orang beruntung, diberkati. "Wong bejo" tak bisa
dikalahkan oleh siapa pun. Lebih-lebih beliau juga taktis, "skillfu"'.
Bersih citra politik dan birokrasinya. Menjabat menteri di zaman Habibie,
memperoleh lagi jabatan sama di zaman Gus Dur.

Diteruskan lagi di zaman SBY. Dalam tiga periode itu beliau "clean".
Fahira, dengan kapasitas yang berbeda, semangat dan pengalaman di zaman
berbeda, muncul di dunia politik.Dia membuktikan kebenaran pepatah "buah
tak jatuh terlalu jauh dari pohonnya". Tapi dia bukan bayangan sang ayah.
Dengan kepribadian yang lain dan karakter khas "anak zamannya" dia
buktikan, kalau bisa berbisnis dengan baik, mengapa berpolitik tidak? Dia
mau maju menjadi DPD RI untuk DKI Jakarta.

Gagasan dan strategi politik yang hendak ditempuhnya? Biasakan kaum muda
untuk hidup tanpa kekerasan, siap menghadapi persoalan dengan berunding,
buka kesempatan dialog, dan jangan dirangsang untuk mencari menang-menangan
sendiri.Kebenaran lebih penting dari kemenangan. Apakah ini artinya? Watak
inklusif, akomodatif, dan memberi orang lain ruang gerak yang fair, adil,
jujur, untuk menunjukkan bahwa politik itu punya banyak sisi keagungan.

Sekali lagi, ini bukti, politik bukankah politik tidak kotor? Apa lagi? Dia
diam-diam juga merindukan apa yang mulia dalam politik akomodatif, respek
pada pluralitas, yang dicontohkan para leluhur kita tadi. Pesan sang ayah?
"Tak usah disebut." Katanya. Baik, saya, yang menulis pemikirannya,
memberinya tantangan yang pasti tak mudah: politisi dengan idealisme, bukan
segalanya.Jadi, jangan bikin idealismemu mati muda seperti banyak contoh
mengecewakan dalam sejarah politik yang terus bergulir sejak dulu hingga
hari ini.

[] KORAN SINDO, 03 Februari 2014Mohamad Sobary ; Esais, Anggota Pengurus
Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosil

Darwin Chalidi

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke