Belajar dari Awan Panas Sinabung

Tak henti-henti bencana melanda Indonesia
Seperti tak habis-habisnya koruptor
Dari layar kacapun dipertontonkan
Kehidupan manusia yang semakin menjauh dari petunjuk Allah

Letusan gunung Sinabung
Mematikan rerumputan dan pepohonan
Seperti manusia mematikan pohon-pohon di rimba
Demi kepentingan pribadi dan golongan

Perhitungan yang cermat
Dibantu alat yang canggih
Untuk menging




Pada 5 Februari 2014 12.23, Akmal Nasery Basral <[email protected]>menulis:

> Terima kasih sanak Andri Masri jika kolom sederhana  ambo dirasakan ada
> manfaatnya. Tentu sah juga kalau ada bagian-bagian dari kolom itu yang
> sanak Andri kurang setujui, dan ingin komentari lebih dalam. Justru ini hal
> bagus yang akan memperkaya diskusi dan pemahaman kita.
>
> Jadi untuk sementara pula, sambil menunggu sanak Andri mengomentari lagi
> dengan pendapat yang menggunakan referensi, ambo ucapkan terima kasih atas
> perhatian yang diberikan.
>
> Wass,
>
> ANB
> 45, Cibubur
>
>
> * * *
>
>
>
>
>
> Pada 5 Februari 2014 06.56, <[email protected]> menulis:
>
> Waalaikumsalam uda ANB,
>>
>> Sepertinya uda memang dilahirkan sebagai penulis handal. Berbahagialah
>> uda dikarunia kemampuan mengolah kata menjadi sangat indah, terang dan
>> jernih bagi yg membacanya.
>>
>> Setiap postingan uda sepertinya ditulis dengan sungguh2, serius, berdasar
>> referensi dan bukan dalam waktu senggang ketika minum kopi sore2.
>>
>> Pada tulisan kali ini sebenarnya saya kurang setuju kalau hanya sekedar
>> mendasarkan setiap kejadian bencana seperti yg uda sampaikan, namun krn uda
>> menulis ini secara serius dan penuh referensi, saya tidak mau
>> mengomentarinya dg seadanya tanpa referensi.
>>
>> Untuk sementara waktu saya terima pendapat uda ini.
>>
>> Terima kasih telah mencerahkan pemikiran saya dg tulisan2 berbobot dari
>> uda.
>>
>> Andri
>> L/42/Koto/Padang Pariaman
>>
>> Powered by Telkomsel BlackBerry(R)
>> ------------------------------
>> *From: * Akmal Nasery Basral <[email protected]>
>> *Sender: * [email protected]
>> *Date: *Tue, 4 Feb 2014 21:18:34 +0700
>> *To: *[email protected]<[email protected]>
>> *ReplyTo: * [email protected]
>> *Subject: *[R@ntau-Net] (OOT) Mengaji Tanda, Mengkaji Bencana
>>
>>  Assalamu'alaikum Wr. Wb.
>> Adidunsanak Palanta RN n.a.h, terlampir adalah kolom ambo di situs
>> IslamIndonesia.co.id. Semoga bermanfaat. Silakan dikomentari (dan
>> disempurnakan) jika berkenan.
>> Wassalam,
>> ANB
>> * * *
>> Selasa, 04 Februari 2014 11:44 WIB
>> MENGAJI TANDA, MENGKAJI BENCANA
>> Penulis : Akmal Nasery Basral
>>
>> Mengaji Tanda, Mengkaji Bencana
>>
>> Nastco/Photos.com
>>
>> AYAT pertama yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad S.a.w.
>> adalah: "*Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan*." (QS
>> 96:1). Dalam bahasa Indonesia modern, kata imperatif "bacalah" itu memecah
>> menjadi dua jenis: "mengaji" dan "mengkaji".
>>
>> Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko menempatkan kedua kata
>> kerja itu di bawah kata dasar "kaji". Dari kata dasar itu terbentuklah
>> "mengaji" yang berarti "membaca, mendaras" (tentu yang dibaca/didaras
>> adalah Al Qur'an) dan "mengkaji" yang bermakna "membahas, mempelajari,
>> menelaah, menganalisis, menyigi".
>>
>> Perbedaan lain dari "mengkaji" dan "mengaji" adalah jika dari kegiatan
>> pertama hasilnya berupa "kajian", maka dari kegiatan "mengaji" hasilnya
>> tidak menjadi "ajian". Sebab "ajian" umumnya diasosiasikan dengan satu
>> bentuk mantra, atau rapalan, yang berkaitan dengan satu kesaktian bela diri
>> tertentu seperti ajian *welut* putih yang konon dimiliki Sultan Agung
>> Tirtayasa, atau ajian* lembu sekilan *yang dimiliki anak buah Patih
>> Gajah Mada. Ringkasnya, kosa kata "ajian" lebih mudah ditemukan di halaman
>> cerita silat dibandingkan di halaman Al Qur'an.
>>
>> Persoalan menjadi agak lebih pelik, ketika kita masih mudah menduga bahwa
>> "pengkajian" pastilah berasal dari "kajian".  Namun apakah "pengajian",
>> dengan logika yang sama, pasti berasal dari "ajian"? Padahal makna kata
>> terakhir itu seperti terlihat di atas tak eksklusif terpaut pada ayat-ayat
>> kitab suci? Maka, biarkanlah pertanyaan ini menjadi urusan para ahli bahasa
>> sementara kita mengancik pada tema yang lebih menukik pada kaitan antara
>> "tanda" dan "bencana".
>>
>> Al Qur'an menyebut satuan kalimat terkecil yang menyampaikan pengertian
>> tertentu sebagai "ayat" dengan bentuk jamaknya "ayah". Dari beberapa arti
>> yang dikandungnya seperti "mukjizat (*mu'jizah*)", "pelajaran *('ibrah*)",
>> "sesuatu yang menakjubkan (*al amrul 'ajib*), atau "tanda (*'alamah*)"
>> yang merupakan makna paling populer. Sehingga, frasa "mendaras ayat"
>> memiliki maksud serupa dengan "mengaji tanda".
>>
>> Teori Semiotika yang dikembangkan C.S. Peirce mengembangkan teori
>> Segitiga Makna (*Triangle Meaning*) yang terdiri dari tanda (*sign*),
>> acuan tanda (*object*) dan pengguna tanda (*interpretant*) dalam
>> memahami sebuah pesan. Jadi, seandainya seorang perempuan yang mengenakan
>> jilbab lewat di depan sekelompok orang, maka mereka akan memahami "pesan
>> yang disampaikan" sang perempuan bahwa dia adalah seorang muslimah.
>>
>> Dalam Al Qur'an, salah satu tema "pesan yang ingin disampaikan" Allah
>> agar dipahami manusia adalah menyangkut kisah-kisah kaum terdahulu.
>> Khususnya lagi, kisah *kehancuran* mereka.
>>
>> Kaum Tsamud - kaum Nabi Shaleh a.s. -- musnah setelah mendengar suara
>> yang sangat keras dari langit (petir dan guntur yang sambar menyambar),
>> sedangkan kaum 'Ad - kaum Nabi Hud a.s. -- binasa setelah dirajam angin
>> dingin selama delapan hari tujuh malam tanpa henti, sehingga mereka mati
>> bergelimpangan seperti batang kurma lapuk. Allah mengabadikan kehancuran
>> kedua kaum itu dalam QS 69:4-7. Kaum Nabi Nuh lenyap dengan sapuan air bah
>> yang menenggelamkan mereka satu per satu, tak ada yang tersisa, kecuali
>> yang mengikuti anjuran Nabi Nuh a.s. untuk naik ke atas bahtera.
>>
>> Apa kesamaan dari ketiga kaum yang mengalami "bencana ekologis" ini?
>> Apakah karena mereka merupakan orang-orang yang tak bisa menjaga
>> kelestarian alam, atau gagal menata lingkungan? Ternyata pandangan
>> *environmentalism* tak menemukan landasan yang kuat dalam Al Qur'an.
>>
>> Sebab mustahil menjelaskan penyebab banjir besar di masa Nuh a.s. - yang
>> disebut Ibnu Katsir sebagai "rasul pertama bagi penduduk bumi" -- adalah
>> karena adanya mismanajemen pengelolaan sampah, gagalnya pembuatan waduk
>> sebagai pengontrol debit air, atau hal-hal teknis lain yang terkait dengan
>> tidak lancarnya arus air menuju muara terakhirnya: laut. Apalagi mengingat
>> jumlah penduduk bumi yang waktu itu masih sedikit. Karena itu dibutuhkan
>> sebuah "tanda" lain untuk membuat kita, sebagai pembaca tanda-tanda, agar
>> paham mengapa kehancuran kaum Nuh terjadi.
>>
>> Al Qur'an menjelaskan bahwa penyebab datangnya air bah yang mendadak itu
>> (kira-kira seperti pengertian "banjir bandang" sekarang, namun dalam skala
>> yang lebih mengerikan dari yang bisa dibayangkan), terkait dengan keyakinan
>> mereka yang mulai mencampuradukkan kepercayaan terhadap Tuhan dengan
>> kepercayaan terhadap  lima orang saleh seperti Wadd, Suwa'a, Yaghuts, Ya'uq
>> dan Nasr, yang mereka buatkan patungnya dan mereka sembah, setelah
>> kelimanya meninggal. Tersebab kesalahan itulah mereka ditenggelamkan (QS
>> 71:23-25), bukan karena faktor-faktor kegagalan mengelola alam dan
>> lingkungan.
>>
>> Begitu juga dengan kejadian yang menerpa kaum 'Ad yang hidup di zaman
>> Nabi Hud. Mereka adalah generasi  pertama yang menyembah berhala setelah
>> kejadian banjir besar. Pengajaran Hud agar mereka menghentikan penyembahan
>> terhadap tiga berhala utama: Sadd, Samud, dan Hera, dan kembali menyembah
>> Allah pencipta alam semesta, sama sekali tak diindahkan kaum 'Ad. Mereka
>> bahkan balik menuduh Hud a.s. sebagai "orang yang kurang waras dan
>> pendusta" (QS: 7:66). Sikap kaum 'Ad seperti itulah -- bukan akibat
>> kecerobohan mereka menjaga lingkungan -- yang menyebabkan Allah membuat
>> "anomali cuaca" dengan datangnya angin dingin yang sangat menyiksa selama
>> sepekan tanpa henti.
>>
>> Sementara kaum Tsamud yang mahir memahat gunung-gunung batu sebagai
>> rumah-rumah tempat tinggal mereka yang indah, tangguh, dan mencengangkan,
>> mengulangi sikap kaum 'Ad yang hidup sebelum mereka dengan penuh
>> kesombongan. Mereka bahkan menantang Nabi Shaleh yang mereka cap "... *salah
>> seorang dari orang-orang yang kena sihir*." (QS 26:153) untuk
>> membuktikan kerasulannya dengan meminta agar dari sebuah batu besar
>> dikeluarkan seekor unta betina bunting dengan ciri-ciri fisik yang mereka
>> persulit. Semua itu dilakukan untuk mempermalukan Nabi Shaleh. Namun ketika
>> atas izin Allah, Shaleh a.s. bisa membuktikan apa yang mereka minta, kaum
>> itu lantas menganiaya unta betina itu.
>>
>> Jadi, bukan perilaku kaum Tsamud yang gemar memahat gunung-gunung batu
>> sebagai tempat tinggal itu yang mendatangkan "kemarahan alam" dalam bentuk
>> rantai petir dan guntur sambar menyambar sehingga membuat kaum itu tewas
>> dalam wajah pucat akibat ketakutan yang sangat, melainkan karena sikap
>> melampaui batas yang mereka tunjukkan dalam menanggapi risalah ilahiah yang
>> disampaikan Shaleh a.s. itulah yang mendatangkan murka Allah.
>>
>> Tiga "tanda" yang disampaikan Al Qur'an lewat kisah-kisah di atas
>> mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menafsirkan bencana alam yang
>> terjadi susul menyusul, termasuk seperti yang belakangan terjadi di tanah
>> air. Karena itu, mengkaji bencana hanya dari perspektif environmentalisme
>> -- yang seakan-akan ingin membebaskan diri dari adanya campur tangan Allah
>> -- adalah sebuah penjelasan ahistoris bagi mereka yang cermat membaca
>> "tanda-tanda".
>>
>> Dalam konteks ini, "mengkaji bencana" dan "mengaji tanda" menjadi satu
>> kesatuan yang mutlak dilakukan. Yang satu memperkuat yang lain. Dari masa
>> ke masa. Dari saat dunia hanya dihuni oleh segelintir kepala, sampai kini
>> disesaki milyaran jiwa.
>>
>> Sebab bencana adalah salah satu tanda yang ditunjukkan Allah dengan penuh
>> cinta kepada manusia, untuk selalu menakar kadar ketaatan terhadap
>> risalah-Nya. Untuk selalu tunduk tulus menjaga diri agar tak melewati batas.
>>
>>
>>  --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
>> Grup Google.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
>> Grup Google.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>>
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke