Kawan2 di RN,
Salam perjuangan ke masa depan.

Berikut adalah tulisan saya yang saya tulis ketika berkunjung ke Tilburg, 
Holland, bulan Juli 2011 yl.
Karena masalahnya masih relevan dan aktual dan perlu kita menentukan sikap dari 
sekarang, bagi yang belum sempat membacanya, silahkan baca, dan silahkan 
tanggapi untuk tujuan kita bersama dalam membangun negeri tercinta ini.
Mochtar Naim 
 
WAKTUNYA
KITA SEKARANG 
MENENTUKAN
SIKAP
 
Mochtar Naim
Tilburg,
Holland
23
Juli 2011
 
I
L 
EBIH KURANG 5 % dari penduduk
Indonesia adalah warga keturunan Cina. Selebihnya, 95 %, penduduk pribumi --
dengan sedikit warga keturunan Arab, India, dsb. Sebagai perbandingan, di
negeri jiran Malaysia, penduduk keturunan Cina 35 %, bumiputera 55 %, dan
sisanya India dll. Dari perbandingan itu, bumiputera yang lebih sedikit di
Malaysia dibanding dengan di Indonesia, dan keturunan Cina yang lebih besar di
Malaysia, tidak menghalangi mereka untuk memacu keterbelakangan penduduk
bumiputera sehingga mampu mengejar segala ketinggalan mereka; sementara
penduduk pribumi yang lebih besar dengan penduduk keturunan Cina yang lebih
sedikit di Indonesia, tidak mampu untuk mengejar segala ketertinggalan dari
penduduk pribumi.
            Perbandingan
demografis menurut jalur etnis ini, di Indonesia, lagi pula, berbanding
terbalik dengan  penguasaan ekonomi sejak
dari zaman kolonial dahulu sampai saat ini. Secara struktural, oleh karena itu,
praktis belum ada yang berubah dengan kemerdekaan ini. Rakyat pribumi Indonesia
yang 95 % itu masih saja jadi obyek, bukan subyek; ditentukan, bukan
menentukan.  Rakyat pribumi, sejak dari
zaman kolonial dulu sampai hari ini, sebagai kata Amien Rais, masih berupa
rakyat kuli, dengan rata-rata berada di bawah garis kemiskinan, kebodohan dan
keterbelakangan. Yang bermain dan dipermainkan dalam perhitungan statistik 
ekonomi
negara selama ini hanyalah konjungtur ekonomi makro yang hampir seluruhnya
dikuasai dan dikendalikan oleh sektor swasta kapitalis berupa aglomerasi dari
korporasi multi-nasional dan kelompok konglomerat WNI Keturunan Cina. Mereka
menguasai jalur ekonomi Indonesia dari hulu sampai ke muara, dalam semua sektor
ekonomi. Mereka mendiktekan corak dan arah ekonomi makro Indonesia, baik di
bidang industri dan perdagangan maupun jasa. Dan semua ini dengan restu dan
dukungan dari penguasa politik dari elit pribumi, baik di sektor eksekutif,
legislatif, maupun yudikatif dan militer. Mereka jadikan demokrasi, Pancasila
dan UUD1945 sebagai tameng untuk menudungi budaya leluhur yang mereka
lestarikan yang sifatnya feodalistis-paternalistis, etatis-sentralistis dan
hirarkis-sentripetal. Tujuannya tidak lain dari pelestarian kekuasaan dengan
mengaut keuntungan sebanyak-banyaknya bagi kepentingan kelompok dan diri
mereka. Karena yang diperebutkan adalah kekuasaan dan kekayaan itu, sendirinya,
suasana politik tidak pernah sepi dari konflik saling menyalah dan menjatuhkan,
sementara yang lagi berkuasa memanfaatkan peluang seluas-luasnya bagi pengayaan
diri melalui berbagai cara, sehingga korupsi, kolusi dan nepotisme hanyalah
sebuah konklusi logis semata dari permainan politik itu. Dan itulah memang yang
terjadi sejak dari zaman Majapahit sampai hari ini. Tidak pernah sepi dari
konflik dan benturan serta saling menjatuhkan itu.
            Dengan itu, kita melestarikan sistem ekonomi yang selama
ini berlaku, yang adalah kapitalistis, liberal, pasar bebas, dengan corak
ekonomi makro yang dualistis, yang dimonopoli dan didominasi oleh kelompok
korporasi multinasional, di satu kutub, dengan ekonomi tradisional akar rumput
yang masih bercorak subsisten, dari tangan ke mulut, dari rakyat pribumi yang 
sesungguhnya
adalah pewaris yang sah dari Republik ini, di kutub yang lain. Kedua-duanya
koeksis berseberangan dengan jurang yang luas menganga antara keduanya.
Bagaimana dahulu di zaman kolonial, begitu juga sekarang di zaman
pasca-kemerdekaan ini.
            Sekadar
perbandingan, di Malaysia, sejak zaman Mahathir di awal 1970an, orientasi 
pembangunan
berubah total untuk tujuan kemaslahatan dan peluang seluas-luasnya kepada
penduduk Melayu bumiputera tanpa menutup kesempatan bagi kelompok etnik Cina,
India dll, untuk berkembang secara wajar. Di Malaysia jumlah pribumi Melayu
hanya lebih sedikit dari separuhnya, sementara Cina sepertiganya; tapi yang
Melayu dengan sistem kepemimpinan yang solid dan berorientasi kepada
kemaslahatan dan peluang yang sebesar-besarnya kepada rakyat bumiputra, dengan
orientasi sentrifugal bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat secara riel dan
aplikatif; tidak dengan semata uberan janji seperti kita di Indonesia ini. 
Malaysia
walaupun terlambat berangkat, tetapi dengan kerjasama dan kerjakeras sekarang
telah meninggalkan Indonesia jauh di belakang dengan inkam per kapitanya
melebihi dua kali dari jumlah di Indonesia.
 
II
 
            Dengan
kita sekarang berada di saat penentuan pemilihan: to be or not to be, dalam 
menghadapi ultah RI ke 66 ini, sebuah
penentuan sikap dan mindset ke masa
depan mau tak mau harus dilakukan. Akankah kita masih berputar-putar dengan
sistem dan struktur yang sudah arkaik dan kuna dimakan masa ini, yang kita
warisi dari budaya leluhur itu, ataukah kita harus mengatakan: enough is enough!
            Jika
alternatif kedua yangkita pilih, yaitu
bawa dan sesuaikan diri dengan tuntutan masa sekarang dan ke masa depan, buang
semua yang sudah tidak sesuai lagi, kendati datang dari bedungan budaya bangsa
sendiri, sebagaimana kitapun tak segan-segan menolak dan membuang jauh 
unsur-unsur
berseberangan dengan cita-idealisme bangsa yang datang dari pihak luar. Oleh
karenanya, tentukan ramuan baru yang akan diolah, yakni  dengan meramu semua 
yang baik-baik dari
manapun datangnya, dan membuang semua yang buruk-buruk dari manapun pula
datangnya. Istilahnya: yang baik dipakai, yang buruk dibuang, dengan tujuan
akhir: melaksanakan amanah dan janji kemerdekaan itu di bawah tuntunan dan ridha
Allah.
            Penyakit
berputar-putar tanpa tujuan dan arah yang jelas seperti selama ini sudah harus
dihentikan. Kita sebagai berbangsa dan bernegara sudah harus menentukan sikap, 
satu, apakah kita akan selalu menjadi
obyek, atau, seperti Malaysia, Vietnam, Cina dan India, sekarang, menjadi
subyek yang seutuhnya menentukan dan mengendalikan apa yang kita inginkan. Dua, 
apakah sistem ekonomi yang kita kembangkan
ke masa depan, berorientasi kerakyatan seperti yang menjadi cita kemerdekaan
itu, atau tetap menyerahkan nasib ekonomi bangsa dan negara ini kepada pihak
luar dan asing yang penanganannya diserahkan kepada kelompok etnis non-pribumi
yang selama ini mengendalikan ekonomi dalam negeri Indonesia dari hulu sampai
ke muara. Tiga, apakah cara berfikir
kita sebagai berbangsa dan bernegara masih sebatas pembangunan fisik dan
material, di atas permukaan, seperti kecenderungan selama ini, ataukah kita
juga menujukan pembangunan bangsa kepada pembentukan watak dan kepribadian
bangsa yang tangguh dan tahan uji. Dan empat,  apakah kita menggantungkan nasib 
dan
usaha bangsa kepada kemampuan diri sendiri secara sekuler seperti selama ini, 
ataukah
kita juga akan mengandalkan kepada tuntunan dan bantuan serta hidayah dari
Allah swt secara kaffah, integral dan holistik. ***

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke