Assalamu'alaikum ww.Sanak Palanta nah.Perlu jadi perhatian kita bersama!
Terima kasih sanak Afriadi Sanusi di UM.
HZS 70+
Share..
Mungkin Anda bisa menemukan sesuatu yang menarik di profil LinkedIn ini:

Afriadi Sanusi
Student at Universiti Malaya
http://www.linkedin.com/pub/afriadi-sanusi/87/8/372

Sabtu 15 Maret 2014 / 13 Jumadilawal 1435  
Jangan Pilih Pemimpin Karbitan
Rabu, 26/02/2014 16:52:59

Afriadi Sanusi
Peneliti di Jabatan Sains Politik Islam, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 
Malaysia

Sebagai sebuah negara agraris, falsafah alam tentang kepemimpinan tidak boleh 
diabaikan begitu saja. Kita harus memilih seorang pemimpin besar, bukan 
pemimpin yang dibesarkan.

Pemimpin besar itu seperti buah kuini yang matang dan jatuh ke bumi karena 
ditiup angin sepoi-sepoi basah, baunya harum dan wangi yang memikat semua 
makhluk untuk datang ketempatnya. Rupanya cantik yang membuat orang suka 
padanya. Rasanya enak, sedap dan lazat yang susah dikalimatkan dengan kata-kata 
sang pujangga. Sehingga menjilat jari, yang membuat kita merasa ingin, ingin 
dan ingin lagi. 

Pemimpin besar seperti pokok kelapa yang tinggi menjulang. Uratnya untuk obat, 
batangnya digunakan untuk papan dan jembatan, lidinya digunakan untuk membuat 
sapu, daunnya untuk membuat ketupat, dahan, sabut dan tempurungnya untuk kayu 
api, santannya untuk memasak, minyaknya untuk menggoreng.

Pemimpin yang dibesarkan seperti buah kuini muda yang jatuh karena dilempar 
anak-anak nakal, dipanjat atau dijolok dengan galah yang panjang lalu diperam 
berhari-hari lamanya. Walaupun masak orang tetap menamakannya masak busuk, tak 
wangi dan harum, rupanya berkerut dan tidak cantik, rasanya masam yang membuat 
orang `trauma` dan tobat untuk tidak akan memakannya lagi. 

Pemimpin yang dibesarkan seperti benalu yang hidup menompang di atas orang 
lain, menompang nama besar, kehebatan, keagungan, kekayaan, populeritas orang 
lain dan membawa-bawa nama institusi karena diri sendiri sebenarnya hampa tak 
berisi.

Pemimpin besar adalah orang yang besar dengan sendirinya. Terbukti memiliki bau 
yang wangi, rupa yang cantik dan rasa yang enak. Pemimpin yang besar adalah 
seorang yang cerdas yang dapat dilihat dari tulisan-tulisannya selama ini. 
Seorang yang merakyat, memiliki karya nyata untuk bangsa dan negara. Seorang 
yang terbukti sukses dalam akademik, karier, keluarga, agama, moral, kejujuran, 
keadilan, penyayang. 

Pemimpin yang besar adalah orang yang terkenal secara natural alami dan media 
akan datang menyiarkan karena kepribadiannya yang unggul dan amal soleh yang 
sering dia lakukan. Pemimpin yang besar adalah seperti bibit unggul yang 
apabila jatuh ke bumi akan menjadi benih dan akhirnya tumbuh berkembang menjadi 
pokok yang rindang dan menaungi. Dicampakkan ke darat menjadi gunung dan 
dibuang ke laut menjadi pulau. Ibarat pokok paku yang apabila dikutip hari ini 
besok pagi akan muncul lagi, ibarat batang ubi yang bisa hidup dibuang ke 
mana-mana. Pemimpin besar berpijak di alam nyata, membuat kreatifitas, menjadi 
diri sendiri dan teruji.

Saya melihat beberapa calon presiden dari partai Islam memiliki karakter 
sebagai pemimpin besar itu. Walaupun mereka tidak se wara` Abu Musa 
al-`Asy`ariy, namun mereka secerdas dan setegas Khalid bin Walid dan Umar bin 
Abdul Aziz. Namun tentu saja harus seorang saja di antara mereka yang dinaikkan 
agar suara orang Islam tidak terbagi atau terpecah.

Pemimpin yang dibesarkan adalah seorang yang melakukan apa saja untuk mencapai 
tujuannya. Dia dibesarkan oleh iklan-iklan yang dia bayar untuk tv, radio, 
surat khabar dan berbagai media lainnya. Ibarat balon-balon mereka besar karena 
ditiup angin pencitraan dan sampai batas tertentu akan meletus dan mengeluarkan 
bunyi dan bau yang tidak enak. Mereka dibesarkan oleh nama-nama nenek moyang 
mereka seperti; aku adalah anak, cucu, cicit wali, presiden, raja, pahlawan, 
sultan eyang prabu marang kepunden marang keteper. Mereka dibesarkan oleh media 
dengan membuat dan mengatakan perkara-perkara yang aneh dengan tujuan khalif 
tu`raf (berbeda untuk terkenal). Mereka membayar media dengan jumlah yang 
sangat mahal agar bisa terkenal. Pemimpin yang dibesarkan adalah mereka-mereka 
yang mendapat nama besar bukan karena kemampuan diri pribadinya yang unggul, 
tetapi karena mereka di unggulkan atau mengunggulkan orang lain.

Pemimpin yang dibesarkan itu akan baik dikala mau pemilu saja lalu membagikan 
uang yang ada stempel dirinya, pura-pura baik bagaikan malaikat, blusukan, 
pencitraan dengan makssud ada udang dibalik batu. Pemimpin yang dibesarkan itu 
adalah pemimpin yang manja, cengeng, anak mami, suka melakukan pembohongan, 
pencitraan, pengalihan isu, anti kritik serta suka menyalahgunakan kekuasaan.

Pemimpin yang dibesarkan seperti buah yang masak dikarbit, dan buah masak busuk 
yang jatuh waktu muda, jangankan manusia, tupai dan kera pun enggan memakan. 
Hanya ulat yang datang mendekat, itupun karena menghalang jalan mereka 
sehari-hari. Pemimpin yang dibesarkan bagaikan hidup di alam bunian, penuh 
dengan hayalan, menghitung bintang di langit. Seperti bujang lapuk yang 
mengharapkan bidadari, seperti labu dan labi yang yang tidak tidur sepanjang 
hari karena asik bermimpi menjadi tarzan, koboi, orang kaya dan kawin dengan 
anak dara yang cantik.

Pemimpin yang dibesarkan tidak akan mampu berbuat apa dan tidak akan 
kemana-mana karena pribadi mereka sebenarnya kosong. Mereka hanya mengharapkan 
kembalinya bapak yang telah mati, mereka hanya menunggu wangsit dari nenek 
moyang yang sudah menjadi history dan mereka hanya berandai kembalinya zaman 
purba kala yang sudah tiada. Pemimpin yang dibesarkan seperti benalu yang hidup 
dan tumbuh diatas kebesaran orang lain, bukan karena diri yang sudah teruji. 
Lucunya, sampai ada gambar bersalaman dengan Obama, dibawah naungan gambar sang 
ayah, membawa nama-nama nenek moyang yang sudah mati untuk tujuan kampanye.

Pemimpin itu haruslah orang besar, akal besar, bukan bdan besar, bukan 
dibesarkan oleh para cukong. Harus orang berkualitas bukan karena kekayaannya. 
Pemimpin itu harus orang cerdas, intelektual, filosof, cendekiawan, akademisi 
karena kebangkitan sebuah bangsa berawal dari lahirnya seorang pemimpin yang 
unggul. Bukan pemimpin yang diunggulkan oleh ciber army, jasmev, pencitraan, 
pembohongan, mitos, kemunafikan, kepalsuan. Bukan pula mantan tentara atau ibu 
rumah tangga tua bangka, artis dan orang yang lemah SDM lainnya.

Pemimpin adalah masa depan kita, pemimpin yang besar akan membesarkan negara 
dan bangsanya dan pemimpin yang dibesarkan akan menjadikan kita sebagai tumbal 
untuk membesarkan mereka. Mereka akan selalu menghisap seperti lintah, membunuh 
seperti nyamuk, merapuhkan seperti benalu.

Sebagai sebuah negara Muslim terbesar dunia, nilai-nilai Islam juga harus 
dikembangkan dalam memilih pemimpin. Untuk menahkodai kapal besar Indonesia 
minimal untuk lima tahun akan datang. Sopir itu haruslah seorang yang terbaik. 
Mesinis itu haruslah seorang yang unggul. Pilot itu harus seorang yang 
bijaksana. karena apabila sesuatu diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka 
tunggulah kehancurannya. Pemimpin itu harus benar, memperjuangkan hak-hak 
rakyat, amanah, cerdas, jujur, adil, berilmu, sihat jasmani dan rohani, 
berwawasan, memiliki konsep, berani. Pemimpin yang baik itu ibarat berkawan 
dengan penjual minyak wangi dan pemimpin yang tidak baik itu ibarat berkawan 
dengan tukang besi. Ibarat tongkat dijalan yang licin, cahaya dikegelapan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®Powered by Telkomsel BlackBerry®</div>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke