Iyo bana mangkuih permintaan "Paduka Raja", lansuang pulo pesawat presiden
tibo basaratoan jo ujan, operasi militer di lakukan, polisi karajo kareh
mancari palaku pembakaran, langik Pakan Baru baransua barasiah, ari ko
bandara lah bisa normal.

Cuma nan gubernur antah lah mancogok antah alun, rancak juo dicari tau kama
gubernur ko mandok atau dek umua lah 73 taun ndak bisa lai kanai asok tapaso
mancari tampaik nan aman.

Hidup Paduka Raja

 

Tan Ameh

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Zaid Dunil
Sent: Sunday, March 16, 2014 6:08 AM
To: Rantaunet
Subject: Re: [R@ntau-Net] surat terbuka paduka raja untuk tuan presiden

 

Untuang ado "Paduka Raja" nan ma agiah warning. Kalau surek dari rakyat
biaso indak ka nyo danga dek SBY tu doh... he he he.

Tarimo kasih sanak Paduka Raja.

Wassalam

Dunil Zaid. 71. Kpg Ujuang Pandan Parak Karambia Pdg,Tingga di Jkt.

 

2014-03-15 21:54 GMT+07:00 Hanifah Damanhuri <[email protected]>:

Doa Rahmadi Kurnia


Rahmadi Kurnia <https://www.facebook.com/rahmadi.kurnia.1> 


6 jam
<https://www.facebook.com/rahmadi.kurnia.1/posts/10202420882942270?stream_re
f=1>  . 

Ya Allah tentaraMu asap ini luar biasa dan membuat kami tak berdaya.
Ya Allah, baru asap yang tidak panas yang Kau kirimkan sudah begini hiruk
pikuknya kami..

Belum api yang kau kirimkan.Ngeri kami bayangkan bagaimana pula nerakaMu..

Ya Allah sunguh Maha Perkasa Engkau terhadap kami..Hanya dengan asap..ya....
hanya dengan asap kau sadarkan akan ketidak berdayaan dan kelemahan kami
serta Engkau kokohkan keperkasaan Mu dihadapan kami.

Ya Allah kalau asap ini sebagai teguran dari Mu, maka maafkanlah kami.ampuni
dosa dan kesalahan kami Ya Rabb..

Ya Allah kalau asap ini Engakau jadikan ujian, maka tinggikan derajat kami
dan selamatkan kami dari asap dan api neraka Mu ..
Namun apapun itu ya Rabb.kami mohon ampunanMu..

Ya Allah..angkatlah asap ini ya Allah karena banyak anak anak dan saudara
kami yang menderita... kasihanilah dan kasihi kami ya Rahman..Ya Rahiim 

Ya Allah ya Rabb.suruhlah tertara asapmu pergi meninggalkan kami.Kirimkan
tentara air hujanMu menggantikan asap ini ya Rabb..
Sungguh Engkau yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak.Tidak ada daya dan upaya
kami melainkan atas kehendak Engkau.
Kabulkan doa kami ya Rabb yang Maha Perkasa..Amiin

 

 

Pada 15 Maret 2014 19.15, nal naldi <[email protected]> menulis:

 

Assalamu'alaikum sanak kasadonyo, semoga kita sehat selalu dan dalam
limpahan rahmat dan karuniaNya. Aamiin.

Dua hari lalu saya tayangkan surat terbuka buat tuan presiden terkait kabut
asap di facebook. Alhamdulillah mendapat banyak respon. takana kudian, untuk
manayangkannyo di emailko, semoga ado komentar dari pambaco. berikut
suratnya.

 

Surat Terbuka Paduka Raja untuk Tuan Presiden

 

karya yurnaldi

 

Tuan presiden

Masih segar dalam ingatan pertemanan dan kemitraan kita

Saat mengakhiri tugas sebagai panglima kodam II/sriwijaya

Sebuah puisi tentang indonesia yang indah mutu manikam

Jadi kenangkenangan yang berharga bagi saya

 

Di ruang kerja tuan, kita larut dalam cerita

Sepulang dari jakarta, ketika itu, saya sampaikan kabar gembira

Juga kabar lain tentang seorang tentara yang ngancam hendak kudeta kantor
saya

Sebab sebagai rivalitas dia kalah pamor di media

Setiap hari berita saya tentang tuan jadi berita utama

 

Ketika tuan kemudian jadi presiden dan saya tugas di jakarta

Buku kumpulan puisi karya tuan masih saya baca

Betapa kita punya kegemaran yang sama

Menulis puisi tentang apa saja, sesuai tuntutan hati dan jiwa

 

Kali ini, tuan presiden

Setelah 25 tahun lebih kita jarang jumpa

Saya larut dalam tanya, ada apa?

Inilah puisi apa adanya

 

Tuan presiden

Sudahkah mengucapkan maaf kepada dua kepala negara tetangga 

yang selama ini terkesan tuan takuti?

Ya, itu lebih penting dan perlu buat pencitraan tuan di mata mereka

Karena selama ini tuan sudah dicap sebagai penyebab bala

Rakyat tuan juga begitu berkata

 

Bala asap di negara kita sungguh sangatsangat membuat rakyat menderita

Dari sesak angok hingga ispa

Dari mata perih hingga sakit mata

Dari kulit merangas hingga bau badan tak terbada

Dari batuk kering hingga batuk rejan berdahak coklat warnanya

Sebentar lagi, rakyat tuan terkapar siasia

Apa tuan presiden tak membaca tandatanda?

 

Minta maaf kepada rakyat tak usah tuan pikirkan

Karena kabut asap bukan bencana, tapi perbuatan pidana

Kabut asap mendera bukan karena cobaan dariNya

Tapi ulah pengusaha yang main mata dengan penguasa

Rakyat jelata jadi kambing hitam dibuatnya

Mereka dipenjara, entah berapa lama

Apa tuan presiden tak iba?

 

Tuan presiden, minta maaf kepada rakyat berat terucap kenapa?

Apa karena kabut asap bukan kategori bencana?

Mungkin anak buah tuan belum temukan rumus kategori bencana nasional
untuknya

Meski sudah bedampak kepada puluhan juta rakyat tuan di sumatera

Anak-anak masih sekolah padahal kabut asap merasuki otaknya

Masih ada yang bilang belum apaapa, karena dampak idiot kemudian baru
terbaca

 

Karena itu, pantas saja tuan presiden belum berkata apaapa

Menteri kehutanan anak buah tuan juga belum bertindak sepatut dan
sepantasnya

Bisanya berkoarkoar di media massa, menuding dan kecam pengusaha

Tapi takut bertindak tegas mencabut izin usahanya dan pidanakan perbuatannya

 

Karena itu, pantas saja tuan presiden belum berani berkunjung ke sumatera

Karena biasanya baru datang jika sudah banyak korban jiwa dan harta benda

Mau datang dengan apa, pesawat saja didelay terus dan tak berani mengudara

Mau jalan darat, tak mungkin pula karena memakan waktu lama

Jalan lintas sumatera jelek rupa, dan sudah sejak lama

Karena pejabat di daerah belum sempat ambil muka

Mau jalan laut, jarak pandang terbatas adanya

Kabut asap pun bukan main tebalnya, nanti bisa celaka

 

Oleh sebab itu, tuan presiden tetap sajalah di istana

Membaca laporan, membaca koran, dan menonton televisi swasta

Kalau tuan presiden berani, jewerlah pengusaha kita dan pengusaha negara
tetangga

Karena lahan dan hutan terbakar milik perkebunan dia

Tahun 2013 lalu sudah dipastikan 14 perusahaan membakar hutan dengan api
membara

Enam perusahaan di antaranya milik pengusaha malaysia

Kasusnya dipetieskan, kini di 2014 muncul lagi musibah yang sama

Penegak hukum purapura lupa

Kalau ditanya; "bla bla bla...," jawabnya.

Batin ini berkata, "Eeeee bala!"

Hati nurani tak bisa terima apapun alasannya

Mereka sudah bermain mata

Mulutnya sudah disuapin uang puluhan juta hingga beratus juta

Ops pampam...media massa larut dalam tradisi lapan enam pula

 

Tuan presiden, sudah sebulan lebih api itu nyala membara

Si gubernur tua minta warga pasrahkan diri pada Yang Maha Kuasa

Yang berlangsung sekarang pembiaran tanpa berbuat apa

Asap telah berubah menjadi azabNya

Hutan telah berubah menjadi neraka satwa langka; 

gajah dan harimau sumatera

Tanaman obat hutan sumatera telah tandas 

sebelum tuntas diteliti kandungan kimianya

Puluhan hak paten milik peneliti kita menjadi percuma

Padahal kalau temuan itu diusahakan, 

indonesia tak perlu berhutang 2.023 triliun rupiah kepada tiga negara 

dan tiga lembaga perbankan terkemuka dunia

Ini data per april 2013 yang kusimpan dan kugarisbawahi 

Sebaliknya, jika hak paten itu diusahakan pengusaha

Yang setia menjaga kelestarian dan keseimbangan hutan lingkungan kita 

Malah  bisa melunasi utang dan sejahterakan anak bangsa

 

Tuan presiden mungkin tak yakin dan tak percaya

Karena tuan tak pernah ajak para pakar biokimia bertatap muka

Mendengar gagasangagasan brilian darinya

Tak ada lagi acara kelompecapir seperti era repelita

Di mana penguasa dan warga anak bangsa bersilaturrahim

untuk lebih memajukan pembangunan bangsa dan negara

 

Tidak seperti di era reformasi tuan presiden berkuasa

Hutan yang jadi paruparu dunia diizinkan dibabat dan dibakar pengusaha

Hutan dijadikan sumber peningkatan pertumbuhan ekonomi bangsa

 

Sementara kekayaan bahari yang jauh tak terkira dibiarkan begitu saja

Indonesia kehilangan pendapatan 40-500 triliun rupiah per tahun, luar
biasa...

Wakil rakyat tuan presiden diam dan terlelap di kursi empuknya

Mungkin karena terlanjur dibilang tuan presiden sebelumnya, sebagai anak
teka

 

Tuan presiden, 

Sebagai anak bangsa kalau boleh saya meminta

Tolong larang anak buah tuan keluarkan izin pemanfaatan hutan 

dan izin usaha industri primer hasil hutan kayu mulai dari sekarang

Sebab ujung-ujungnya si pengusaha selalu membakar hutan membuka lahan

 

Apa tuan tidak sadar, data yang dirilis oleh badan planologi kehutanan
kementerian kehutanan tahun 2008 menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara
yang melakukan deforestasi tercepat di dunia. 
Apa tuan belum juga sadar
Setiap hari sekitar 51 km persegi hutan di Indonesia dihancurkan, 

sedangkan jumlah hutan yang hilang setiap tahunnya mencapai 2,76 juta hektar


atau sekitar 3 persen dari total luas kawasan hutan di Indonesia.

 

Begitu dahsyatnya

Begitu parahnya

Begitu gilanya

Tapi tuan presiden tetap begitubegitu saja

Mana tindakan nyata menjelang masa akhir berkuasa?

Apa sudah mati rasa?

Atau hilang aka?

 

Maaf, tuan presiden, saya cuma bercanda...

Canda inilah yang kini menghibur saya selama 24 jam, 

selama seminggu, sebulan dan entah sampai kapan

disandera kabut asap kategori sangat berbahaya

Tak bisa ke manamana

Kota lengang, bersuhu sampai 36 derajad celsius badan bagai terpanggang 

Lemas dibuatnya

Para balita di pangkuan bundanya mengerang sejadijadinya

Tak ada air susu ibu yang bisa menenangkannya

Tak ada susu bantu yang melelapkan boboknya

Tak ada makanan yang mengenyangkan perutnya

Kecuali kabut asap, tuan presiden

 

 

Dumai, 13-14 maret 2014

 

*Yurnaldi (L/48), rang solok, atau lengkapnya Yurnaldi Paduka Raja, adalah
penyair yang juga wartawan dengan kompetensi wartawan utama. Mantan wartawan
Kompas ini, sekarang pemimpin redaksi harian Riau Hari Ini. Telah menulis
banyak buku, terakhir buku  seri jurnalistik wartawan hebat; "Jurnalisme
Kompas" (2013) dan "Jawara Menulis Artikel" (2013). Akan terbit "Jurnalisme
Seni-Budaya". 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].

Untuk opsi selengkapnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi selengkapnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke