Satalah komunitas r@ntaunet tau dan mangarati apo kurenah JIL (bukan :
Jaringan Iblis Laknatullah.....!! m.m) di nagari awak ko, a pangana?

*What next?!*

Salam................................,
*mm****
-.Aktivis & Sekjen Badan Dakwah Islam Pkp Pertamina (1995-2010)
-.Kabid PHBI DKM Al Ikhlas, Bekasi Jaya (1992-2011)
-.Sekjen Kerukunan Keluarga Muslim BJI Bekasi Jaya (2011-2014).
-.Kontributor & inisiator Ikatan Ustadz Alam Maya (2001-s/d hari akhir)

*PANUNGKEK :*

*1)=>Strategi melawan Jaringan Islam Liberal (JIL):*

* Mengadakan secara rutin seminar2 dan tabligh-2 akbar di masjid-2 dan
mushalla-2, yg membongkar kesesatan JIL dan aliran-2 sesat lainnya.
* Mendirikan penerbitan yang akan menerbitkan buku-2, majalah-2, buletin-2,
VCD-2 yang membongkar kesesatan Islam Liberal dan aliran-2 sesat lainnya.
* Mendirikan lembaga pendidikan dan kaderisasi untuk mencetak para pakar
kontra Islam Liberal.

*2)=*
*>JIL Mangatokan Indak Adoh Negara Nan Maju Nan Mamakai Syariat Islam. *


*Astaghfirullah al azim.....!!!*

Setelah Jaringan Islam Liberal (JIL) tidak lagi mendapatkan donasi dari The
Asia Foundation (TAF), sepertinya LSM liberal itu mati suri. Kegiatannya
banyak yang berhenti. Tokoh-tokohnya berlarian ke lembaga lain. Bahkan
markas mereka di Utan Kayu Raya 68 H pun makin sepi.

Guntur Romli kini berpindah ke Komunitas Salihara di Pasar Minggu, Ulil
Abshar dan Luthfie Assyaukanie lari ke Freedom Institute, LSM liberal yang
dibiayai Aburizal Bakrie. Walaupun kehidupan LSM-nya ikut Ical, tapi
afiliasi politik Ulil ke partai penguasa, Partai Demokrat. Dia menjabat
sebagai Ketua Pusat Pengembangan Strategi Kebijakan DPP Partai Demokrat.
Sementara Novriantoni Kahar bergabung bersama Yayasan Denny JA.

Soal Freedom Institute, umat Islam tentu ingat dengan nama Rizal
Malarangeng, saudara kandung Andi Malarangeng, Menteri Pemuda dan Olahraga
saat ini. Rizal, Direktur Eksekutif Freedom Institute, sangat terkait dan
terlibat dengan penyerahan tambang minyak Blok Cepu ke ExxonMobil pada 2006
lalu. Karena Rizal adalah anggota tim yang melakukan negoisasi dengan Exxon
yang berujung pada kekalahan Pertamina.

Meski terkesan berlarian ke sana kemari, liberal tetaplah liberal. Misi
mereka tetap sama, meliberalkan Islam dan menjauhkan umat dari ajaran Islam
yang lurus. Komentar-komentarnya tetap saja menyakitkan hati umat dan
membuat panas telinga.

Tengok saja pernyataan terakhir dari seorang  Luthfi Assyaukanie yang
mengatakan bahwa tidak ada negara yang maju dengan syariat Islam.

"Setahu saya tidak ada negara yang maju dengan menggunakan syariat Islam.
Apa ada contohnya?", jawab Luthfi saat ditanya wartawan *Merdeka.com*,
Kamis (18/10) pekan lalu, apa dia percaya negara bisa maju jika menerapkan
syariat Islam.

Tak cukup sampai disitu, Luthfi yang kini menjabat Deputi Direktur
Eksekutif Freedom Institute, bahkan mengatakan bahwa negara Islam adalah
negara yang melawan kodrat manusia, yang tidak akan bisa maju.
"Negara-negara Islam itu melawan kodrat manusia, jadi tidak akan bisa
maju," katanya.

Pernyataan-pernyataan ganjil pengajar Universitas Paramadina Jakarta ini
keluar dari mulutnya ketika sebuah lembaga survey merilis hasil surveynya
yang menyatakan bahwa Parpol Islam sudah tidak laku, angkanya di bawah 5
persen dan sebagainya. Survey dan opini berikutnya terus menyudutkan
keberadaan Parpol Islam.

Kemudian terkait dengan penerapan syariat Islam oleh negara, Luthfi bukan
saja alergi tapi juga terlihat sangat antipati sebagai jelmaan watak asli
kaum liberal.

Walaupun tetap saja salah jika mencontohkan negara Islam dengan menyebut
Saudi Arabia, Iran, Malaysia dan sebagainya. Karena memang negara-negara
yang dimaksud tidak 100 persen mengadopsi hukum syariah sebagai hukum
positif yang berlaku di negara mereka. Keamanan rakyatnya juga tidak 100
persen di tangan umat Islam. Di Saudi Arabia bahkan berdiri kokoh pangkalan
militer AS. Sementara Iran juga tidak lebih dari sebuah tipologi negara
mazhab. Demikian dikutip dari *Suara Islam.*

*Wawancara dengan Merdeka Online*

Agar pembaca  mampu memahami pernyataan *nyleneh *Luthfi itu, berikut kami
cuplikkan sebagian isi wawancara Luthfi dengan wartawan *Merdeka.com*, yang
dilakukan di sekretariat Freedom Institute, Jalan Proklamasi Nomor 41
Menteng Jakarta Pusat, Kamis pekan lalu.


*Sejauh mana Islam harus berperan dalam kehidupan politik di Indonesia? *
Itu isu lama, sejauh mana Islam mengakomodasi masalah-masalah politik. Ada
sebagian orang percaya, Islam harus menaklukkan politik atau Islam harus
berpolitik, harus mendirikan partai Islam, harus menjalankan dakwah Islam
lewat partai politik, dan seterusnya. Ada juga sebaliknya, kita boleh lebih
religius, menjadi orang yang saleh, tapi dalam urusan politik itu urusan
dunia, tidak ada urusannya dengan agama.

Saya kira jumlah umat Islam yang percaya dengan tidak ada hubungan Islam
dan politik itu lebih banyak jumlahnya. Buktinya pemilu ini, tentu saja
pemilu adalah bukti nyata, tidak bisa dibohongi. Orang di luar sana bilang,
"Oh, orang Islam itu percaya pada agama dan negara *(addin wa daulah)*",
atau macam-macam, itu cuma bicara saja, buktinya tetap pemilu. Saat mereka
datang ke bilik suara mereka tidak memilih partai Islam. Kalau mereka yakin
pandangan agama dan negara adalah satu kesatuan mereka akan memilih partai
Islam.


*Apakah Islam memang tidak boleh ikut campur dalam kehidupan politik? *
Ada sebagian yang berkeyakinan begitu, tapi sebagian besar masyarakat
Indonesia justru meyakini sebaliknya. Ya sudahlah, Islam tidak usah ikut
campur dalam masalah politik, itu kalau ukurannya partai-partai politik.


*Apakah anda percaya negara yang menerapkan syariat Islam bisa maju? *
Setahu saya tidak ada negara yang maju dengan menggunakan syariat Islam.
Apa ada contohnya?


*Bagaimana dengan Iran dan Arab Saudi? *
Maju apanya, ekonominya paling terbelakang. Terbelakang dalam artian,
mereka hanya memanfaatkan sumber daya alam yang ada sebagai sumber utama
ekonominya. Berapa lama sumber alam terus untuk eksplorasi?

*Ada contoh negara Islam yang bisa dibilang maju?*

Tidak ada. Negara yang paling mundur di dunia, adalah negara yang melawan
kodrat manusia. Negara-negara Islam itu melawan kodrat manusia, jadi tidak
akan bisa maju. Manusia itu kodratnya menginginkan kebebasan pada dasarnya.
Sementara negara-negara yang menerapkan itu, memusuhi kebebasan itu.
Misalnya di Arab Saudi, perempuan tidak diperbolehkan mengendarai mobil
sendiri. Orang mau bicara politik tidak boleh, di sana orang tidak boleh
demonstrasi.


*Tapi sebulan kemarin Arab Saudi sudah mengeluarkan aturan yang membolehkan
perempuan boleh mengendarai mobil sendiri? *
Bayangkan, sudah zaman segini baru memperbolehkan. Orang-orang yang
menginginkan aturan itu sendiri juga orang-orang dari kerajaan itu sendiri.
Anak-anak raja, anak-anak pangeran yang ingin mengemudi sendiri, mereka
yang kuliahnya di barat. Jadi negara-negara itu tidak akan maju, karena
melawan kodrat manusia.

Iran begitu juga, mundur jauh sekali. Kalau pun ada pencapaian, itu pasti
dari orang-orang yang melawan sistem itu. Misalnya, orang sering bilang,
"Kok film-film Iran itu bagus-bagus." Justru karena mereka memberontak dari
situasi yang mengungkung. Para sineas Iran itu adalah orang yang tidak
setuju dengan sistem negara Islam di Iran. Itu yang salah dimengerti orang.
Setiap ada pencapaian di negara-negara yang seperti itu, muncul dari mereka
yang anti dari sistem yang ada di sana.

* Bagaimana dengan dari sisi kemajuan ekonominya?*

Saya rasa tidak. Melihat ekonomi bukan hanya melihat pendapatan per kapita
atau Produk Domestik Bruto (PDB) tapi kita harus lihat, harus diuraikan,
dari mana mereka mendapatkan itu. kalau Indonesia, saya sangat bangga
dengan pencapaian ekonomi kita. Itu dilakukan dengan kerja keras dan
sungguh-sungguh. Tapi kalau negara-negara penghasil minyak di teluk itu
tidak bisa dibanggakan.

(Sumber: merdeka | suara islam)


---------- Pesan terusan ----------
Dari: Marindo Palar Vinkoert <[email protected]>
Tanggal: 17 Maret 2014 14.41
Subjek: [R@ntau-Net] Tentang Jaringan Islam Liberal
Kepada: [email protected]


Assalamu'alaikum Wr Wb
Niniak Mamak jo Bundo Kanduang sarato Dunsanak N.A.H,

Ambo mandapek "Hikayat Tentang JIL", yang ambo raso paralu di share melalu
mailing grup kito ko, supayo kito sadonyo bisa lebih paham apo dan mangapo
JIL ko, lalu waspada.

Hikayat ko 100% ambo dapek dari sebuah blog di internet.

Silahkan dicermati dan dikritisi
---------------------------------------------------.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke