Samo-samo Rangkayo Rina. Nan menyegarkan baliak pasti bukan ambo, ambo hanyo menghadirkan sajo. Bagaimana pelayan bisa menyegarkan hadirin? Nan menyegarkan adolah hikmah kisah-kisah itu sendiri.
Wassalam, ANB Pada 18 Maret 2014 08.48, Rina Permadi <[email protected]> menulis: > Pak Kusie nah, > > > > Tarimo kasih sarapan pagi ko nan berhargako. > > Ambo mambaco Kisah 60 Shahabat Rasulullah alah sangaik lamo, katiko ambo > kelas 5 SD. Ciek laih nan ambo baco waktu tu Durratun Nashihin. > > > > Tarimo kasih alah manyegarkan baliak > > > > Wassalam > > Rina, 36, Batam > > > > *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] *On > Behalf Of *Akmal Nasery Basral > *Sent:* Monday, March 17, 2014 1:38 PM > > *To:* [email protected] > *Subject:* Re: [R@ntau-Net] Anis Matta: Selamat, Mari Kita Bertanding! > > > > > > > > Wa'alaikumsalam Wr. Wb. > > > > Sanak Imran Al manulih: > > > > --- > > Khatib mengilustrasikan peristiwa saat Rasulullah wafat. Sebelum beliau > dikubur, seluruh sahabat aktif menyatakan pendapat dalam menentukan siapa > yang akan jadi pemimpin. Itu dilakukan sebelum jasad rasulullah SAW > dikubur.. > > --- > > > > lalu ado pertanyaan sanak Imran: > > > > ------ > > untuk pencerahan, mungkin bisa buya2 kito yang ado di milis ko, > mengilustarasikan baa bana kondisi peralihan kepemimpinan saat rasulullah > wafat berikut tafsir dan referensi nyo... > > ------ > > > > Kendati pertanyaan di ateh sangat spesifih ("buya2 kito") dan ambo jaleh > bukan Buya, tetapi sambil menunggu jawaban dari para buya awak di palanta > ko, izinkan ambo bapandapek saketek. > > > > I/ > > Bagi ambo, contoh kutipan khatib shalat Jum'at di atas menunjukkan tipikal > kekurangcermatan para khatib/da'i kita yang terlalu menyederhanakan proses > pemilihan pemimpin (khalifah) pasca wafatnya Rasul Saw, seakan-akan proses > pemilihan berlangsung sangat mudah, cepat, dan aklamasi (didukung penuh > seluruh sahabat). Padahal berdasarkan catatan-catatan sejarah yang valid, > peristiwa pemilihan itu sangat jauh dari sederhana, dengan beberapa catatan > sbb: > > > > 1. Tidak SELURUH sahabat aktif menyatakan pendapat dalam menentukan siapa > yang akan menjadi pemimpin dalam peristiwa historis yang berlangsung di > Saqifah Bani Sa'idah, sebuah "balairung" milik puak Bani Sa'idah, yang > letaknya beberapa kilometer di luar Madinah. > > > > Beberapa sahabat utama yang tidak ada di sana (dan karena itu tidak > menyatakan pendapat) adalah Ali bin Abi Thalib , Zubair bin Awwam, Salman > al Farisi, Abu Dzar al Ghiffari, paman Nabi Abbas bin Abdul Muthalib, Abu > Ayyub al Anshari radhiyallahu anhum, dll sahabat, termasuk putri Nabi > Fathimah dan para istri Nabi Saw yang sibuk mengurus jenazah Nabi. > > > > 2. Kisah Saqifah Bani Sa'idah ini (terpilihnya Abu Bakar r.a. sebagai > khalifah pertama) sering digambarkan para khatib/mubaligh kita begitu > sederhana, seakan-akan berlangsung hanya dalam beberapa menit di mana > seluruh sahabat yang hadir dengan mudahnya bersikap aklamasi dalam memilih > Abu Bakar. Padahal semua kitab yang menjelaskan peristiwa ini menggambarkan > peristiwa yang berlangsung SATU SETENGAH HARI ini begitu "dinamis" (penuh > argumentasi), yang mungkin lebih dahsyat dan berapi-api yang bisa kita > bayangkan dari Sidang Konstituante atau sidang-sidang DPR mana pun yang > pernah terjadi di Indonesia. > > > > Meski para sahabat yang hadir di Saqifah Bani Sa'idah adalah para sahabat > utama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, pertentangan mereka tentang sosok > siapa yang pantas menjadi pemimpin/khalifah setelah Nabi ibarat > pertentangan minyak dan air, karena kaum Anshar begitu gigih memperjuangkan > agar Sa'ad bin 'Ubadah r.a. sebagai khalifah pertama, sementara kalangan > Muhajirin yang dimotori Umar bin Khattab menjagokan Abu Bakar radhiyallahu > anhuma sebagai khalifah. > > > > Bayangkan, padahal kedua kelompok (yang keduanya disebutkan "*assabiquunal > awwalun*" yang mereka ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepada > mereka/QS: 9:100), diajar langsung oleh Nabi Saw, kini berbeda pendapat > begitu tajam bahkan ketika jenazah Nabi Saw masih belum dikubur! > > > > 3. Siapa Sa'ad bin 'Ubadah r.a? Apakah beliau "sosok pembangkang"? Tidak > sama sekali. > > > > Ketua puak Khazraj (salah satu dari dua suku utama kalangan Anshar di > Madinah) ini adalah salah seorang Anshar yang masuk Islam pertama kali, > ikut dalam setiap perang membela Nabi, dan bahkan Nabi mempercayakan > bendera/panji-panji Islam di setiap pertempuran selalu dipegang Sa'ad bin > Ubadah mewakili Anshar, dan Ali bin Abi Thalib mewakili Muhajirin. Bahkan > menurut catatan sejarawan Mesir Syekh Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya > *Rijalun > Hawla Rasul* (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi* Biografi > 60 Sahabat Nabi), *Sa'ad bin 'Ubadah adalah satu-satunya sahabat Anshar > yang mengalami langsung penyiksaan kaum kafir Quraisy di Makkah (sebelum > Nabi dan para sahabat hijrah ke Madinah), karena kaum kafir salah > mengidentifikasi Sa'ad sebagai orang biasa. Mereka baru melepaskan > penyiksaan terhadap Sa'ad setelah tahu bahwa dia adalah salah seorang tokoh > penting Yatsrib (belum menjadi Madinah). Bagi Sa'ad bin 'Ubadah, peristiwa > pengalaman penyiksaan (meski singkat) yang dialaminya dari kafir Quraisy > membuatnya lebih paham (dibanding para sahabat Anshar lainnya), betapa > beratnya dakwah Nabi dan para sahabat Muhajirin di kota asal mereka, > Makkah. > > > > Dengan kata lain: Sa'ad bin 'Ubadah r.a. adalah seorang tokoh yang luar > biasa dengan kualitas istimewa. > > > > Mungkin karena pertimbangan itu, maka ketika kaum Anshar mendengar Nabi > Saw wafat, respon spontan mereka adalah segera berkumpul di Saqifah Bani > Sa'idah untuk berbaiat kepada Sa'ad bin 'Ubadah r.a. yang mereka rasakan > paling pantas sebagai pelanjut Nabi Saw. > > > > 4. Tetapi takdir Allah berkata lain. Di tengah kesibukan di rumah Nabi, > ada informasi yang sampai ke telinga Umar bin Khattab r.a bahwa para > sahabat Anshar sudah berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah. Beliau pun memberi > tahu Abu Bakar, dan keduanya (ditemani beberapa sahabat lain seperti > Abdurrahman bin Auf r.a., Abu Ubaidah bin Al Jarrah, dll) segera menuju > SBS. > > > > Pada tahap inilah, terjadi perbedaan penafsiran yang kelak mengkristal > menjadi perbedaan sikap (politik) internal umat Islam yang terus terasa > sampai sekarang. > > > > Kelompok yang menganggap Ali bin Abi Thalib r.a. sebagai penerus sah dari > Rasul Saw (dan kelak disebut Syiah) menganggap Abu Bakar dan Umar > "menyabot" privilese yang seharusnya menjadi hak Ali. Mereka > mempertanyakan, mengapa kedua sahabat itu lebih memilih berangkat ke > Saqifah Bani Sa'idah ketimbang tetap berada di sisi Nabi Saw. yang baru > wafat dan bahkan belum dimakamkan? Apa yang berkelebat di benak kedua > sahabat itu selain ambisi kekuasaan? > > > > Tetapi ambo menduga berdasarkan karakter kejiwaan para sahabat (dari > deskripsi yang sampai kepada kita) serta membayangkan suasana rumah Aisyah > r.a. yang kecil saat Nabi wafat, sulit untuk tidak berpikir bahwa ketika > masuk informasi kepada Umar bin Khattab mengenai pertemuan Saqifah Bani > Sa'idah, Umar pastilah melanjutkan informasi itu BUKAN HANYA kepada Abu > Bakar saja, melainkan juga kepada Ali dan para sahabat lain yang ada di > sana. > > > > Dan sangat mungkin, dalam waktu yang juga sempit sehingga tak memungkinkan > sebuah musyawarah besar, terjadi pembicaraan dan kesepakatan antara Abu > Bakar-Umar dengan Ali-Abbas (plus sejumlah sahabat lain dalam kelompok > kecil) mengenai "pembagian tugas" menyangkut siapa ada di mana dan mengurus > apa? > > > > Dan sangat mungkin juga keputusannya demikian: mengingat Ali bin Abi > Thalib bukan hanya "sekadar" sahabat Nabi, melainkan juga sepupu bahkan > menantu beliau, yang membuat "kedekatan pangkat tiga" itu menjadi > sedemikian penting, sehingga Ali memilih (atau disepakati sahabatyang > lain?) tetap mengurusi jenazah Nabi Saw yang juga ayah mertuanya, sementara > Abu Bakar-Umar (sekali lagi dalam dugaan ambo, disepakati atau ditugaskan) > mengikuti pertemuan Saqifah Bani Sa'idah yang sangat dramatis itu karena > akan sangat berpengaruh bagi sejarah Islam selanjutnya. Di antara dua > keputusan besar itulah, ada semacam opsi bahwa sahabat lain diperbolehkan > memilih apakah akan tetap tinggal mengurus jenazah Nabi atau mengikuti Abu > Bakar-Umar ke Saqifah Bani Sa'idah. > > > > Ambo lebih percaya bahwa kepergian Abu Bakar-Umar itu sebuah pilihan yang > sangat sulit bagi mereka berdua, mengingat kedekatan keduanya yang sangat > erat dengan Nabi. Apalagi bagi Abu Bakar yang pernah hanya berdua saja > dengan Nabi Saw di Gua Tsur selama 3 hari saat menghindari kejaran kafir > Quraisy, sehingga peristiwa itu diabadikan Allah dalam QS 9:40. > > > > Dari perspektif psikologi, akan lebih mungkin Abu Bakar memilih untuk > tetap berada di samping jenazah Nabi Saw, orang yang paling dicintainya di > dunia ini, ketimbang harus menjauh dan mengurusi sebuah majelis "politik" > yang diinisiasi Anshar. Tetapi kalau pilihan tetap di samping jenazah Nabi > itu dilakukan Abu Bakar, lantas siapa lagi tokoh yang bisa melunakkan hati > orang-orang Anshar? > > > > Bahkan boleh jadi juga, Abu Bakar tak akan menyangka bahwa pertemuan itu > menjadi sedemikian alotnya, sehingga menghabiskan waktu satu setengah hari > (hampir 40 jam) sebelum sebuah kesepakatan (ba'iat) dramatis tercapai, dan > itupun tidak aklamasi. > > > > Mengapa dramatis? Karena kemudian Sa'ad bin 'Ubadah menolak berbaiat > kepada Abu Bakar, bahkan kemudian ketika Abu Bakar wafat dan Umar dipilih > kaum muslimin sebagai amirul mukminin selanjutnya, Sa'ad bin 'Ubadah r.a. > pun menolak berbaiat kepada Umar. > > > > (Bagian ini dan seterusnya ambo kutip dari* Biografi 60 Sahabat Nabi*, > hal. 502): > > > > ----- > > Kepada Umar yang baru terpilih, Sa'ad mengatakan, "Demi Allah, aku > tidak senang tinggal berdampingan denganmu." > > Dengan tenang Umar menjawab, "Orang yang tidak suka berdampingan > dengan tetangganya, tentu akan menyingkir darinya." > > Sa'ad menjawab, "Aku akan menyingkir dan pindah ke dekat orang yang > lebih baik daripada dirimu." > > ... > > Maksud Sa'ad, yang merupakan salah seorang sahabat yang telah > dilukiskan Al Qur'an sebagai orang-orang yang saling mengasihi di antara > mereka, ialah tidak akan menunggu kedatangan situasi yang nanti mungkin > terjadi pertikaian antara dirinya dan Umar; pertikaian yang sekali-kali > tidak diinginkan dan diakuinya. > > Sa'ad kemudian menuju Syria. Namun sebelum sampai ke sana, tepatnya > ketika baru singgah di Haran, ajalnya telah datang menjemput dan > mengantarkannya ke sisi Rabb Yang Maha Pengasih. > > ------- > > > > 5. Dengan poin 1-4 di atas, ambo ingin menyampaikan urutan peristiwa > sejarah yang sangat penting itu, bukan untuk menilai kapasitas para > sahabat. Sebab mereka jelas-jelas adalah generasi terbaik yang dimiliki > Islam, sementara kita ini siapalah? Sekulit bawang kualitas keimanan mereka > pun tak. > > > > Tetapi peristiwa ini sebetulnya memberikan pelajaran penting: urusan > memilih pemimpin pun TAK PERNAH MUDAH bahkan ketika melibatkan generasi > terbaik yang pernah dimiliki Islam. Generasi yang sebagian besarnya (kalau > tidak seluruhnya) alhafiz. Generasi yang melihat langsung contoh-contoh > keteladanan Nabi dengan mata kepala mereka sendiri. > > > > Tetapi karena dinamika peristiwa Saqifah Bani Sa'idah ini jarang sekali > diajarkan para guru agama kita sejak awal secara agak detail, akibatnya > muncul kesan bahwa "musyarawah" itu diartikan sebagai sebuah proses > pengambilan keputusan yang seharusnya berjalan lancar, mudah, tidak > bertele-tele. Muncul sikap alergi jika ada pendapat-pendapat lain mengemuka > dalam sebuah musyawarah, sampai pada "pimpinan rapat selalu benar". Dan > setelah itu, "mayoritas peserta musyawarah selalu benar". Celakalah jika > ada orang yang berbeda pendapat dengan pimpinan rapat atau mayoritas > peserta rapat. > > > > Menurut ambo, ini sebetulnya justru salah satu hikmah dari peristiwa > Saqifah Bani Sa'idah: musyarawah harus berdasarkan argumentasi dan hujjah, > bukan masalah siapa mayoritas. Sebab kalau suara mayoritas yang menentukan, > maka saat itu yang berhak menjadi khalifah pertama adalah yang dipilih kaum > Anshar, karena mereka lah yang (melalui para pemimpin puak-puak di dalam > Aus dan Khazraj) yang "mendominasi" kehadiran musyawarah. Kehadiran kaum > Muhajirin sama sekali tak sebanding dalam urusan jumlah. > > > > Tetapi lewat hujjah demi hujjah yang disampaikan Muhajirin, terutama Abu > Bakar dan Umar, maka pelan-pelan sikap Anshar mengendur, hingga akhirnya > tokoh Aus dan seorang tokoh Khazraj lain yang juga besan Sa'ad bin Ubadah > r.a. mencabut dukungannya untuk Sa'ad dan mengalihkan "suara" kepada Abu > Bakar, sehingga konstelasi pilihan baru terbentuk sampai akhirnya mayoritas > Anshar pun memilih dan bersedia berbai'at kepada Abu Bakar. > > > > Tak dominasi mayoritas, seperti tak adanya juga tirani minoritas dalam > sejarah "Debat Konstituante" -- yang ambo yakini -- terbesar dalam sejarah > Islam dan seharusnya menjadi acuan standar musyawarah apa pun di dalam > dunia Islam. > > > > > > II/ > > Sehingga, sebagai implikasi dari peristiwa Saqifah Bani Sa'idah di atas, > proses (regenerasi) kepemimpinan nasional sejak awal kemerdekaan hingga > saat ini, sebetulnya bukan soal yang rumit, karena tidak memiliki tingkat > kompleksitas setinggi peristiwa Saqifah Bani Sa'idah. > > > > Kita, rakyat Indonesia, muslim Indonesia, tidak sedang memilih mana yang > terbaik dari "golongan Muhajirin" vs "golongan Anshar". > > Sebab, bukankah kita tidak sedang berada dalam situasi dilematis tersebab > harus memilih sosok "Abu Bakar As Shiddiq r.a" atau sosok "Sa'ad bin > 'Ubadah r.a."? > > > > Sosok-sosok yang akan bertarung di pileg 9 April, bahkan pilpres nanti, > saat ini begitu mudah dilacak jejak rekamnya sbb: > > > > 1. Dari pernyataan mereka, terutama yang on the record, di media massa. > Cek ulang dengan kenyataan di lapangan. Misal, ada tokoh atau partai > tertentu yang mengklaim diri antikorupsi. Ceklah dari kondisi lapangan, apa > betul para kader partai itu konsisten dengan slogan yang mereka gaungkan? > Ataukah hanya "bertanam debu di bibir" saja? > > > > 2. Jika terjadi bencana nasional, ceklah di lapangan profil relawan yang > bekerja keras. Selain dari pekerja sosial non-partisan (Palang Merah > Indonesia, misalnya), pengurus/anggota/simpatisan/konstituen dari partai > mana yang paling sigap, paling all out bekerja keras tanpa mementingkan > publikasi? > > Cara mengetahui hal ini: jangan terpukau pada liputan media terhadap satu > daerah bencana. Tapi tanyakan kepada warga setempat, siapa relawan yang > benar-benar menyingsingkan lengan baju mereka, bukan hanya berkomentar di > mikrofon wartawan. > > > > 3. Identifikasi lain yang penting di era "maju tak gentar, membela yang > bayar" sekarang ini adalah fenomena demonstrasi bayaran atau massa bayaran. > Lihatlah di lapangan manakah dari partai-partai yang ada, yang massa mereka > itu betul-betul datang dengan keikhlasan penuh sebagai anggota/simpatisan, > atau massa yang datang dengan iming-iming selembar amplop sebagai honor > transport? > > > > Massa partai yang datang dengan keikhlasan dan kecintaan penuh pada visi > misi partainya, biasanya akan mengikuti acara sampai usai. Betapa pun > lamanya. Hampir tak terjadi perubahan suasana pada saat dimulainya acara > dengan berakhirnya acara. Sedangkan partai yang mengandalkan massa bayaran, > umumnya akan menampilkan pemandangan massa yang menyurut sepanjang acara > berlangsung. Mereka tak akan betah berlama-lama mengikuti acara partai, > karena yang memikat mereka memang bukan visi misi partai, melainkan amplop > melalui korlap. > > > > Dengan 3 cara menyaring itu saja, sanak Imran Al, sebetulnya kita tak > perlu pusing menentukan pilihan, siapa wakil (caleg) yang pantas kita pilih > nanti. > > > > Wassalam, > > > > ANB > > 45, Cibubur > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
