Nan jaleh harus melalui pintu kaporo nan banamo demokrasi / pemilu tu, kan pak 
Zulharbi Salim ?





Pada Kamis, 20 Maret 2014 14:08, Zulharbi Salim <[email protected]> menulis:
 
----- Pesan yang Diteruskan -----


  This message is eligible for Automatic Cleanup! ([email protected]) Add 
cleanup rule | More info 

Assalamu'alaikum wr.wb.

Atas permintaan  bbrpa sanak RN nan indak dapek mambuka attach, mohon izin rang 
dapua,ambo fwd kan baliak artikel: 

MEMILIH PEMIMPIN

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada RasulNya 
dan orang-orang yang menjadi pemimpin diantara kamu”, (An Nisaa’ 59)

Bagi seorang muslim merupakan sebuah kewajiban untuk taat kepada pemimpin, 
terhadap apa yang ditetapkannya, baik hal itu menyenangkan atau tidak 
menyenangkan, selama ketetapan itu bukan berwujud maksiat. Apabila disuruh 
untuk melakukan kemaksiatan maka tidak boleh patuh dan taat, karena akan dapat 
mengakibatkan durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana firman Allah 
diatas.
Ulul Amri (pemimpin, penguasa) ialah orang-orang yang memegang kekuasaan untuk 
melaksanakan urusan dan kemaslahatan umum, seperti raja, presiden, gubernur, 
bupati, camat, hakim dan sebagainya.
Kewajiban mentaati perintah pemimpin dapat dilaksanakan sepanjang tidak 
bertentangan dengan agama, seperti perintah untuk bertempur di medan perang 
jika Negara dalam keadaan darurat atau membayar pajak selama perintah itu untuk 
kepentingan umum dan tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Apabila seorang muslim diperintahkan untuk melakukan keamaksiatan misalnya 
disuruh untuk berbuat kezhaliman, melakukan perbuatan yang haram dan melanaggar 
hukum seperti nembuka tempat pelacuran, perjudian dan penipuan (manipulasi), 
maka tidak boleh untuk tunduk dan patuh terhadap perintah itu bahkan harus 
menentangnya dan memberi nasehat agar ulil amri (pemimpin) itu sadar.
السَّمعُ والطَّاعَةُ على المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أحَبَّ وَكَرِهَ مَالَمْ 
يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فِإذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلا سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ 
(رواه البخاري)
Artinya:
Tunduk dan patuh dibolehkan kepada seseorang muslim dalam perkara yang 
disenangi atau dibenci, selama tidak diperintah dengan kemaksiatan. Apabila 
diperintah dengan kemaksiatan, maka tidak dibolehkan untuk tunduk dan patuh. 
(HR Bukhari)
Taatilah ulil amri (pemerintah) selama pemerintah itu taat kepada Allah dan 
Rasul-Nya. Apabila mereka melakukan kemaksiatan tegur, berilah nasehat dengan 
bijaksana dan jangan sampai kita membiarkan mereka melakukan kemaksiatan dan 
kezhaliman. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah SWT dan firman-Nya:

Dan jangan kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim, yang menyebabkan kamu 
disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun 
selain dari Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (Huud :113)
Bila mana seseorang telah diangkat menjadi pemimpin, berarti dia mengemban 
tanggung-jawab terhadap anggota keluarga, masyarakat dan orang banyak. Seorang 
pemimpin perusahaan bertanggungjawab terhadap semua karyawan untuk memajukan 
perusahaannya. Pemimpin (kepala) negara bertanggungjawab kepada semua rakyatnya.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (wakil rakyat) yang telah dipilih dalam 
pemilihan umum bertanggungjawab terhadap rakyat tang sudah memilih dan 
memberikan kursi empuk (panas) kepadanya. Demikian seterusnya sehingga 
terciptalah suasana bahagia, aman, adil dan sejahtera yang dapat dirasakan oleh 
setiap orang yang dipimpinnya. Terlebih lagi kepada para pemimpin negara yang 
bertanggungjawab mewujudkan suana bahagia dan kemakmuran yang dapat benar-benar 
dirasakan oleh setiap warga negaranya. Itulah tjuannya mengapa dia ditunjuk 
sebagai pemimpin. Akan tetapi dapatkah seorang pemimpin melaksanakan tugas itu 
tanpa mendapatkan dukungan dari rakyatnya?
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّ رَاعٍ مَسْؤُولٌ عَنْ رَاعٍيَّتِهِ (رواه البخاري ومسلم)
Setiap kamu (orang) adalah pemimpin, dan setiap pemimpin wajib 
mempertanggungjawabkan atas apa yang telah dipimpinnya. (HR Bukhari dan Muslim)
Untuk mendukung usaha yang menjadi beban pemimpin itu harus ada dukungan dan 
partisipasi masyarakat banyak, mereka diharuskan taat kepada pemimpin, tetapi 
pemimpin yang bagaimana? Tentu pemimpin yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, 
tahu dengan hereng dan gendeng, mengerti keinginan rakyat, paham aspirasi yang 
diembannya. Segala perintah pemimpin yang seperti itu harus dipatuhi dan 
dilaksanakan, selama tidak bertentangan dengan syari’at Islam, sebagaimana 
hadits Rasulullah SAW:
اِسْمَعُوا وَأطِيْعُوا وأنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ كَأنَّ 
رَأسَهُ زَبِيْبَةٌ (رواه البخاري)
Artinya:
Dengarlah dan taatlah sekalipun yang diangkat atas kalian seorang hamba sahaya 
dari Habasyah (Ethiopia) yang dikepalanya manis laksana buah kismis. (HR 
Bukhari)
مَنْ أطَاعَنِي فَقَدْ أطَعَ اللهَ وَمَنْ عَصَاني فقدْ عَصَى اللهَ وَمَنْ يُطِعِ 
الأمِيْرَ فقدْ أطاعَنِى ومَنْ يَعْصِ الأمِيرَ فَقدْ عَصَانِى (رواه البخاري 
ومسلم)
Artinya:
Barangsiapa yang taat kepadaku, berarti ia taat kepada Allah. Barangsiapa 
mendurhakaiku, berarti ia mendurhakai Allah. Dan barangsiapa taat kepada 
pemimpin, berarti ia taat kepadaku. Dan barangsiapa mendurhakai pemimpin 
berarti ia mendurhakai aku. (HR Bukhari dan Muslim)
Begitulah ketentuan yang dianjurkan Allah SWT agar seluruh ummatnya tuntuk dan 
patuh kepada pemimpin. Tunduk dan kepatuhan mereka memperlancar usaha para 
pemimpin menjalankan tugasnya untuk terciptanya suasana bahagia, adil dan 
sejahtera, merata kepada seluruh lapisan masyarakat.

Negerimu adalah negeri yang makmur dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun 
(QS Saba’ 15) 

Memilih Pemimpin
Islam menghendaki ketenteraman dan ketertiban hidup ini, baik individual maupun 
masyarakat. Untuk mencapai tuntutan seperti itulah diperlukan pemimpin yang 
jujur, adil dan amanah, sebagai pengatur ketetapan-ketetapan perilaku kehidupan 
masyarakat. Oleh karenanya pemimpin itu memiliki tanggungjawab yang berat. 
Sebab tenteram dan amannya tatanan suatu masyarakat banyak dipengaruhi oleh 
karakter pemimpinnya. Pemimpin yang berlaku lalim, curang, korupsi dan suka 
menipu rakyatnya, berarti secara tidak langsung ia telah menyebabkan dan 
berbuat kekacauan dan kerusakan di muka bumi ini. Perbuatan semacam ini di 
akhirat kelak ia akan mendapatkan siksaan yang pedih dari Allah sebagaimana 
yang telah dijelaskan-Nya dalam surah As-Syuura 42:


Artinya:
Tidak ada jalan melainkan atas orang-orang yang menzalimi (menganiaya) manusia 
dan membikin kerusakan di bumi dengan tiada haknya, adalah bagi mereka azab 
(siksaan) yang pedih. (QS Asy-Syuura 42) 
Firman Allah yang lain:

Artinya:
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira bahwa lalai dari apa yang 
diperbuat oleh orang-orang yang zdalim, sesungguhnya Allah memberi 
tanggungjawab kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) 
terbelalak. (QS Ibrahim: 42)
Allah juga berfirman:

Dan tidak pernah Tuhanmu membinasakan kampung-kampung sebelum ia mengutus di 
kampung itu seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat kami kepada mereka, dan 
tidak pernah (pula) Kami membinaskan sebuah kampung, kecuali penduduknya dalam 
melakukan kezdaliman. (QS Al-Qashas 59)
Demikian juga Rasulullah SAW mengatakan kepada pemimpin yang curang dan berbuat 
 dzalim (jahat, tidak jujur) kepada rakyatnya nanti di hari kiamat akan 
mendapat siksaan yang pedih.
أشَدُّ الَّناسِ عَذابًا يَوْمَ القِيَامَةِ إمَامٌ جَائِرٌ (رواه الطبراني)
Artinya:
Manusia yang paling berat siksaannya di hari kiamat nanti adalah bagi pemimpin 
yang zdalim. (HR Thabrani)
Rasulullah SAW bersabda :
وَيْلٌ لِلأُمَرَاءِ وَيْلٌ للعُرَفَاءِ وَيْلٌ للأُمَنَاءِ لَيَتَمَنَّيَنَّ 
أقْوَامُ يَوْمَ القِيامَةِ أنَّ دَ وَابِهِمْ كَانَتْ مُعَلَّقّةً بِالثُّرَيَّا 
يُعَذَّ بُونَ ولم يَكُوْنُوا عَمِلوا من شَيْءٍ (رواه أحمد) 
Celakalah para penguasa, celakalah para pemimpin, dan celakalah orang-orang 
yang membawa amanah. Sungguh banyak orang berkeinginan untuk berbuat 
kecurangan. Kecurangan-kecurangan mereka tergantung di bintang Surayya. Mereka 
akan disiksa karena mereka dahulu tidak mau melakukan sesuatu yang diamanatkan 
kepada mereka. (HR Ahmad)

Hadist lain berkata:
أيُّمَا رَاعٍ غَشَ رَعِيَتَهُ فهُوَ فى النَّارِ (رواه الطبرني) 
Siapa saja pemimpin yang berlaku curang kepada masyarakatnya maka ia akan masuk 
neraka. (HR Thabarani).
Dari beberapa ayat dan hadist di atas dengan tegas menunjukkan bahwa pemimpin 
atau penguasa yang menipu rakyatnya itu berarti menzhalimi rakyat, maka 
pemimpin seperti itu kelak di akhirat akan memperoleh siksaan yang pedih 
sebagai balasan perbuatannya.
Tetapi apabila penguasa itu bisa memegang kedisiplinan dan keadilan sehingga 
menjadi dambaan seluruh rakyatnya, maka Allah akan memberikan kegembiraan dan 
kasih sayang kepadanya, seperti sabda Rasulullah SAW :
المُقْسِطُونَ على مَنَابِرَ مِنْ نُوْرِ الذِيْنَ يَعْدِلُونَ فى حُكمِهِم 
وأهْليهِم ومَا وَلََّوْا (رواه مسلم)
Artinya:
Para pemimpin yang adil akan tinggal diatas panggung-panggung yang terbuat dari 
cahaya, ialah orang-orang yang berlaku adil dalam memutuskan perkara dan 
mengurus ahli-ahlinya serta segala sesuatu yang diserahkan kepadanya. (HR 
Muslim)
Di samping itu juga bilamana penguasa dapat berlaku adil terhadap rakyatnya 
sehingga mendapat naungan dari kepemimpinannya, maka ia pun di akhirat kelak 
akan mendapat naungan dari Allah SWT, sebagaimana Rasulullah SAW mengatakan:
الإمامُ الَعادِلُ يُظِلُّهُ اللهُ في ظِلِّهِ يوْمَ لا َ ظِلَّ الاَّ ظِلُّهُ 
(رواه مسلم)
Artinya:
Penguasa yang adil itu, Allah akan menaungi kepadanya pada suatu hari yang 
tiada lagi naungan kecuali hanya naungan dari Allah. (HR Muslim) 
Memilih pemimpin haruslah yang adil, amanah, bersih, peduli dan profesional. 
Pilihlah mereka, pemimpin yang bersih, peduli dan profesional! (Abu Razi)



Powered by Telkomsel BlackBerry®
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke