Home <http://ranahberita.com/> » Ranah<http://ranahberita.com/kategori/ranah/> » Jalur Timur, Gerbang Awal Islam ke Minangkabau Jalur Timur, Gerbang Awal Islam ke Minangkabau
dalam Ranah <http://ranahberita.com/kategori/ranah/>, Syiar<http://ranahberita.com/kategori/ranah/syiar/> 11 April 2014 0<http://ranahberita.com/10006/jalur-timur-gerbang-awal-islam-ke-minangkabau#respond> [image: Masjid Tua]<http://ranahberita.com/10006/jalur-timur-gerbang-awal-islam-ke-minangkabau/masjid-tua-2> RANAHBERITA- Keriuhan perniagaan di jalur pantai timur Sumatera di abad ke-7 Masehi menguatkan dugaan Islam masuk ke Minangkabau bermula dari sana. Sementara berdasarkan catatan sejarah, keramaian perniagaan Pantai Barat Sumatera baru terjadi di abad ke-15, ketika Portugis memonopoli pusat perdagangan di pantai timur, Malaka. Tidak bisa dinafikan, Islam masuk ke Nusantara termasuk Minangkabau menyamar lewat perdagangan. Melihat pantai timur Sumatra di abad ke-7, kontak perdagangan terjalin di perairan Selat Malaka melibatkan banyak bangsa. Tetapi arus barang, bertambal sulam dengan melayari sungai-sungai yang berhulu di gugusan Bukit Barisan, termasuk Minangkabau—penghasil komoditi, dan bermuara di Selat Malaka. Disini, kadang saudagar Arab langsung menelusuri sungai menggapai sumber utama di pedalaman Minangkabau. Syiar Islam ke Minangkabau dari pantai timur ini disinggung dalam buku Hamka berjudul Ayahku dan Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Filolog dari Universitas Andalas M Yusuf, Kamis (10/4/2014), merupakan salah satu akademisi yang meyakini Islam masuk ke Minangkabau lebih dahulu dari pantai timur. Dalam penelitian naskah kuno (manuskrip) yang ia geluti, didapatkan penyebaran yang begitu banyak di darek–Kabupaten 50 Kota, Tanah Datar, dan Agam dan bisa membandingkan dengan Kepulauan Riau. Hal lain, lanjut Yusuf, bahasa Mapat Tunggul, Bangkinang, sama dengan 50 Kota. Disamping itu, Yusuf melihat hubungan emosional dan kultural antara Minangkabau dengan negeri di timurnya, yakni sama melayu. “Kuat dugaan Islam masuk saat ramainya perniagaan di Selat Malaka abad ke-7. Saat itu, pedagang Arab dan penyebar Islam lainnya menyebar. Satu ke Semenanjung Malaya, dan satu lagi ke Riau dan berlanjut ke Minangkabau melalui sungai,” ujarnya. Secara budaya seorang yang menguasai ilmu agama di Minangkabau dipanggil orang Siak. Sementara yang lagi belajar Islam di surau dipanggi anak Siak. Kata Siak, menurutnya, merujuk pada sebuah kerajaan— sekarang juga nama kabupaten dan sungai di pinggir Selat Malaka, wilayah Provinsi Riau. Pada suatu masa, jelas Yusuf, peradaban Minangkabau di pinggir sungai menuai kejayaan karena menggeliatnya aktivitas perekonomian di lajur tersebut. Sementara itu, seperti yang ditulis Azra, konversi Islam di pedalaman semakin menjadi di abad ke-13. Aktor sentralnya adalah para sufi dengan metode tarekat. Metode ini, jelas Yusuf juga, bersifat adaptif, dimana Islam secara ibadah dan ritual tidak lantas meninggalkan kepercayaan lama—merangkul bukan memerangi. Tetap memakai pola sama, bahkan jejaknya terlihat hingga sekarang. Salah satu misalnya, memakai medium kemenyam untuk berdoa. Dan juga ditemukannya kerajinan seperti membuat keramik dan tembikar. Tembikar merupakan salah satu medium dalam ritual agama Hindhu. Lalu bagaimana dengan Ulakan yang selama ini sering disebut sebagai pusat pengembangan awal Islam di Minangkabau? Yusuf mengatakan, Ulakan merupakan pusat pengembangan Islam tersistematis melalui sistem halaqah dan surau. Adalah Burhanuddin alias Pono dan diberi gelar Syekh yang menjadikan Ulakan sebagai pusat pengembangan Islam dengan mazhab Tarekat Syattariyah. Syekh Burhanuddin diperkirakan lahir awal abad ke-17 di Batipuh, Tanah Datar. Burhanuddin, kata Yusuf, semasa kecil menghabiskan waktu di kampung, dimana ia telah belajar mengaji dan belajar agama disalah satu surau yang ada. Lalu, tambah Yusuf, Pono remaja pergi ke Sintuak, Pariaman, mendalami ilmu agama. Kemudian ia pergi ke Singkil. dimana disana tinggal ulama Syattariyah terkenal, Syekh Abdurrauf- Singkil. “Logika Pono kecil dimana mengaji di Batipuh. Artinya Batipuh yang berada di darek sudah Islam,” ujar Yusuf yang sempat mengajar di Korea Selatan ini. Fakta dari hasil riset itu, mempertanyakan kembali adagium hubungan darek-rantau selama ini— adaik manurun (adat menurun)- syarak mandaki (agama mendaki). Menurun diartikan dari darek (pedalaman Minangkabau) ke pesisir (wilayah rantau). Sedangkan mendaki didefenisikan dari rantau ke pusat atau darek. “Adagium ini jelas terbantahkan. Atau saya berpikir, syarak mandaki dari Kampar ke 50 Kota atau sebaliknya jika bicara adat,” timpal Yusuf. (Yose Koto/Ed1 Islam masuk ke Minangkabau<http://ranahberita.com/10006/jalur-timur-gerbang-awal-islam-ke-minangkabau> http://ranahberita.com/10011/sungai-ke-timur-mengalir-jauh http://ranahberita.com/10019/jejak-masa-lalu-di-balik-manuskrip-kuno -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
