*TRIBUNNEWS.COM <http://TRIBUNNEWS.COM>, JAKARTA* - DPR RI<http://www.tribunnews.com/tag/dpr-ri/> Mengecam tindakan aparat Polsek Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, yang menghilangkan barang bukti penculikan dan pemerkosaan siswi madrasah tsanawiyah.
Anggota Komisi III DPR Eva Kusuma Sundari<http://www.tribunnews.com/tag/eva-kusuma-sundari/>menegaskan, tindakan aparat Polsek Guguak yang membersihkan tempat kejadian perkara (TKP) dan membakar semua barang bukti adalah tindakan melawan hukum. "Itu adalah tindakan yang jelas-jelas memihak pelaku kejahatan seksual. Tindakan aparat Polsek Guguak itu harus diusut oleh propam. Mabes Polri, harus turun tangan menyelesaikan kasus ini," kata Eva Kusuma Sundari<http://www.tribunnews.com/tag/eva-kusuma-sundari/>kepada Tribun, Jumat (18/4/2014). Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menuturkan, penyekapan dan pemerkosaan terhadap NPD (15) tersebut, termasuk kejahatan serius. Pasalnya, kata dia, kejahatan itu dilakukan oleh sepuluh orang pria terhadap gadis yang masih di bawah umur. "Seharusnya, polisi memihak korban, bukan lantas melakukan tindakan di luar hukum yang nyata-nyata menguntungkan pelaku. Ini harus diusut tuntas, karena pasti ada 'permainan' kasus," tegasnya. Sebelumnya diberitakan, NPD diculik selama empat hari dan diperkosa oleh sepuluh orang pemuda di Kabupaten Lima Puluh Kota. Karena perbuatan dursila kesepuluh pemuda tersebut, NPD yang masih duduk di bangku kelas tiga madrasah tsanawiyah itu, mengalami gangguan kejiwaan hingga masuk ke rumah sakit jiwa (RSJ). Ironisnya, menurut Nora Fitri, anggota Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumbar, aparat Polsek Guguak justru menghilangkan barang bukti. "Sepekan setelah ditemukan, polisi justru membersihkan TKP dan membakar beberapa barang, dan menawarkan kepada keluarga korban untuk berdamai. Polisi berlasan, pelaku mau bertanggungjawab," tandasnya Kekinian, kata dia, polisi juga baru menangkap satu pelaku yang dianggap sebagai inisiator utama penculikan dan pemerkosaan tersebut. http://www.tribunnews.com/regional/2014/04/18/dpr-ri-kecam-penghilangan-bukti-perkosaan-siswi-di-sumatera-barat *----- Rapat Rutin Pengurus Serikat Harus Tetap Ada. **Karena Disitulah Hati, Jiwa Dan Semangat Pengurus Dipertemukan, Diingatkan Dan Dipersatukan -----* *Salam dan Terima Kasih,* *Dedi Suryadi* _____________________________________________________________________________ ***** Sukses Seringkali Datang Pada Mereka Yang Berani Bertindak Dan ***** ******Jarang Menghampiri Penakut Yang Tidak Berani Mengambil Konsekuensi (Jawaharlal Nehru**)* ***** ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ "The Best Human Being Among of You is The Most Beneficial for The Others" (Hadith by Bukhari) --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- ****...."Kasihilah Yang Di Bumi, Maka Yang Di Langit Akan Mengasihimu... ".....***** "Love What On Earth, Then What On Sky Will Love You ..." Pada 18 April 2014 17.16, Ahmad Ridha <[email protected]> menulis: > > > http://www.tribunnews.com/regional/2014/04/18/siswi-mts-diculik-dan-dirudapaksa-10-pemuda-hingga-masuk-rsj > > Siswi MTs Diculik dan Dirudapaksa 10 Pemuda Hingga Masuk RSJ > Jumat, 18 April 2014 12:13 WIB > > Laporan Wartawan Tribunnews.com Reza Gunadha > > TRIBUNNEWS.COM, SARILAMAK - Seorang anak di bawah umur berinisial NPD, > diculik selama empat hari dan diperkosa oleh sepuluh orang pemuda di > Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. > Ironisnya, karena perbuatan dursila kesepuluh pemuda tersebut, NPD yang > masih duduk di bangku kelas tiga madrasah tsanawiyah itu, mengalami > gangguan kejiwaan hingga masuk ke rumah sakit jiwa (RSJ). > > Nora Fitri, anggota Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumbar, menuturkan > sesuai pengakuan NPD, peristiwa memilukan tersebut berawal pada Selasa > (18/3/2014) sore. > > "Selasa sore itu, NPD hendak pergi mengikuti pelajaran tambahan menjelang > Ujian Nasional 2014. Dalam perjalanan, ia didekati seorang pria > berkendaraan sepeda motor yang menawari mengantarkan," kata Nora kepada > Tribunnews.com, Jumat (18/4/2014). > > Korban, kata dia, berkali-kali menolak ajakan pria yang tak dikenalnya > itu. Tapi, si pria tersebut akhirnya memaksanya untuk naik ke sepeda motor. > > Gadis tersebut, lantas dibawa ke sebuah rumah indekos. Sesampainya di > lokasi, Melati sempat berupaya menelepon ibunya. > Tapi, ia hanya mampu menjerit tanpa berkata apa pun kepada ibunya, karena > ponselnya keburu dirampas pelaku. > > Selanjutnya, ia diperkosa oleh si pria dan kesembilan rekannya yang ada di > rumah indekos tersebut. > > "Karena mendengar anaknya menjerit, si ibu melapor ke Polsek Guguak. Tapi > polisi tidak bisa berbuat apa-apa, karena si anak belum hilang lebih dari > 24 jam," terangnya. > > Setelah peristiwa tersebut, pelaku ternyata tak juga melepas NPD. "Di > indekos itulah, NPD dipaksa melayani sepuluh pria tersebut selama empat > hari," imbuhnya. > > Penderitaan NPD, berakhir pada Sabtu (22/3). Ia ditemukan polisi di lokasi > penyekapan. > > "Tapi, karena mengalami siksaan, ia jatuh sakit dan mengalami gangguan > kejiwaan hinga masuk RSJ," tutur Nora. > > Namun, sambungnya, NPD akhirnya keluar dari RSJ pada Kamis (17/4) kemarin, > karena bersikukuh mau bersekolah demi lulus UN 2014. > "Sebenarnya, dia belum sembuh. Masih trauma berat, jiwanya belum sembuh, > dia juga kerap pingsan. Tapi, dia berkukuh mau bersekolah. Kami sendiri, > berupaya agar pihak sekolah mengizinkannya nanti mengikuti UN di rumah," > terangnya. > > Ironisnya lagi, kata Nora, aparat Polsek Guguak kekinian baru menangkap > satu pelaku yang dianggap sebagai inisiator utama penculikan dan > pemerkosaan tersebut. > > "Sepekan setelah ditemukan, polisi justru membersihkan TKP dan membakar > beberapa barang, dan menawarkan kepada keluarga korban untuk berdamai. > Polisi berlasan, pelaku mau bertanggungjawab," tandasnya. > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
