Inyiak Lako dan dunsanak palanta RN n.a.h,

judul thread inyiak nan labiah tapek adolah "Para Pemimpin Parpol Beragama
Islam" (P3BI), bukan "Para Pemimpin Islam" (PPI).  Sebab kalau kalau para
pemimpin Islam yang berkumpul, maka yang akan kita dengar adalah:

1. PPI akan menjadikan masjid sebagai jangkar penaut hati, bukan di rumah
pengusaha. Saat ini sudah banyak masjid yang sangat representatif dari sisi
kenyamanan sebagai tempat pertemuan. Jika yang dipikirkan memang
kepentingan umat Islam secara keseluruhan, aura masjid sebagai tempat
pertemuan sangat penting.

2. PPI yang berharap hidayah dan rahmat Allah turun melingkupi hati para
peserta pertemuan, akan bersama-sama menunaikan shalat hajat khusus untuk
itu, terlepas apa partai mereka, preferensi politiknya, hasil pileg
sementara. PPI yang sejati akan berikhtiar keras agar pertemuan dibuka
pertama-tama dengan pembacaan kalam Ilahi agar seluruh jiwa dan pikiran
peserta disamakan dulu frekuensinya dengan imbauan Rabbaniyah mengapa
muslim disebut "kuntum khairu ummah" (sebagai ummat terbaik), bukan sekadar
kepentingan pragmatis koalisi jangka pendek.

3. Dan jika pertemuan berlangsung lama (sudah seharusnya pertemuan yang
membahas kepentingan umat berlangsung serius dan lama, bukan hanya 2-3 jam)
sampai tembus tengah malam, PPI sejati akan menutup pertemuan dengan
qiyamul lail bersama-sama, apa pun partainya, berapa pun hasil pileg
sementara yang diraih. Qiyamul lail bersama di akhir pertemuan akan
mengoreksi ambisi-ambisi duniawi yang mungkin tercetus sepanjang pertemuan.
Boleh jadi saat Qunut Witir mereka lakukan, Allah akan mengilhamkan lagi ke
dalam hati mereka ketakutan Umar bin Khattab r.a. ketika dipercaya sebagai
khalifah. Ucapan pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Innalillahi wa
inna ilaihi raji'un". Padahal beliau yang berjuluk Al Faruq -- gelar khusus
yang diberikan Rasulullah karena ketegasan sikap Umar sebagai pembeda
kebenaran dan kebatilan -- adalah juga salah seorang yang sudah mendapat
jaminan masuk surga.

Jadi ketika tren "para pemimpin Islam" selama ini yang setiap mendapat
jabatan justru mengucap "alhamdulillah" disertai sujud syukur di depan
kamera TV, lalu kedua tangan terangkat seperti berdoa mengucap terima kasih
kepada pihak A, B, C atas "amanah yang diberikan", maka ke manakah perginya
pengetahuan mereka, "para pemimpin Islam" itu tentang kisah Umar ketika
mendapat amanah?

Tiga poin di atas, menjadikan masjid sebagai simpul yang mempertemukan
hati, masih bisakah kita temukan sekarang dari para PPI yang sebenarnya
hanya P3BI?

Jika masjid sudah tak masuk prioritas tempat pertemuan untuk topik
sepenting itu ("masa depan umat islam"), mau sebutannya Koalisi Indonesia
Raya, Koalisi Indonesia Mooi, Koalisi Indonesia Mandiri. dll,  maka
sejatinya pertemuan jenis ini tak beda dengan pertemuan-pertemuan  yang
disebutkan Nobelis Sastra Chinua Achebe sebagai pertemuan pelampias syahwat
kekuasaan yang sesungguhnya hanya kemasan indah dari praktik sejak jaman
purba, "*you chop, me myself I chop, palaver finish*."

Karena itu jika ada pertemuan-(pertemuan) yang mengatasnamakan umat Islam,
tapi tak dicelupi spirit masjid, tak dimulai dan ditutup dengan ibadah
spesifik nabawiyyah (kalau hanya dibuka dan ditutup dengan doa bersama,
maka senam pagi tiap Minggu di kelurahan pun dimulai dan ditutup dengan doa
bersama juga), kita harus berendah hati dan memberi ruang kepada diri
sendiri untuk mempertanyakan secara kritis: apakah mereka sudah tepat
disebut PPI, atau baru pada tingkatan P3BI?

Cendekiawan muslim Endang Saifuddin Anshari, putra KH Anshari, pernah
membuat model pembedaan antara Islam-Filsafat Islam-Filsafat Orang Islam.
Dengan meminjam dan memodifikasi modelnya itu, ambo membedakan antara
Islam-Politik Islam-Politik Orang Islam dari sisi ajaran sbb:

1. Islam = mutlak mutlak (*absolutely absolute*).
2. Politik Islam = relatif absolut (*relatively absolute*).
3. Politik Orang Islam = mutlak relatif (*absolutely relative*)

Dan karena memang level kita baru sampai yang no. 3 itulah maka tak heran
jika satu "partai Islam" sedang kisruh internal karena Pak Ketum menghela
lokomotif ke arah berbeda dengan Waketum dan sejumlah DPD/DPW-nya sendiri
dan memilih merapat lebih dulu pada salah satu partai tiga besar. Satu
"partai Islam" lain sudah jelas-jelas menyatakan emoh bergabung karena
pengalaman traumatik pernah dikadali oleh sesama "tokoh Islam" sendiri.
Satu "partai Islam" lain yang mewarisi nama besar dan kejayaan partai Islam
terdahulu, bahkan mendapat kepercayaan rakyat pun begitu kurangnya sehingga
masuk 10 Besar pun tak. Padahal kualifikasi para pemimpin partai ini bahkan
malang melintang sebagai menteri ini itu dalam kabinet-kabinet terakhir.
Kenapa umat tak menitipkan  suara mereka pada partai "pewaris" kejayaan
partai Islam masa silam ini?

Karena P3BI ini sendiri yang mencontohkan kepada umat bahwa masjid dan
spirit masjid tak diperlukan dalam pembahasan tentang strategi kekuasaan.
Masjid hanya tempat ibadah dan pembentukan panitia zakat. Titik.

Kalau sudah begini, apa perbedaan esensial pertemuan di rumah Hasjim Ning
dengan pertemuan di rumah Jacob Soetoyo, yang juga pengusaha, antara Jokowi
dan 7 dubes negara sahabat? Tak ada bedanya. Kalau yang pertama mengusung
tema "Koalisi Indonesia Raya", yang kedua justru lebih gigantik sebagai
"Koalisi Global Raya" karena kehadiran 7 dubes mewakili representasi
kepentingan global sekarang dari AS, Amerika Latin (Mexico), China, Katolik
(Vatican), sampai Islam (Turki). Dari sudut ini, Pertemuan Cikini
ketinggalan satu langkah dari Pertemuan Permata Hijau.

Tetapi esensi keduanya sama: *You chop, me myself I chop. Palaver finish.*

Wassalam,

ANB
45, Cibubur




Pada 14 April 2014 08.56, inyiaklako <[email protected]> menulis:

> Saatinilah waktmunya bapak sekalian menunjukan kebesaran jiwa pemimpin
> Islam sebagai contoh tauladan bagi adik2  dan anak2 kita untuk bersatu
> menegakan kebenaran memimpin umat bernegara ...... Amin.
> H.J. Inyiak Lako , 78 thn ,  suku Malayu , Baso , Agam , Depok .
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
>   1. Email besar dari 200KB;
>   2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>   3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke