Nakan Anwar Djambak (ADj) dan sanak dipalanta n.a.h
Ini masalah serius nakan ADJ Kita sekarang ibarat harus mengunci rumah karena maling dibiarkan berkeliaran diluar. Jadi pertanyaan besar saya: 1. Kenapa pemerintah tidak mau menangkapi maling ini. 2. Kenapa sebagian pemuka masayarakat, menganggap ini, ya soal kecilah. 3. Ataukah sebagian masyarakat Indonesia ini ada yang punya keyakinan bahwa kawin bebas seperti binatang itu tak apa-apa menurut keyakinan mereka. Saya kira lebih memadai dipakai istilah kawin bebas dari pada bersetubuh. Kalau aksi pemerintah dan masyarakat tidak spontan mencegah hal-hal yang mendorong kawin bebas ini seperti penulisan di mediatayangan mengarah ke pornografi dan penjualan obat perangsang yang diiklankan secara vulgar di face book dll, yang bisa diklik setiap waktu oleh remaja dan penjualan obatnya seperti kacang goreng dipasar. Akibat iklan terbuka di face book, yang mengunakan Dr Boyke Nugraha sebagai ikonnya, merangsang remaja untuk mengetahui dan mendapatkannya. Anak-anak remaja dan para lelaki bebas lihat di face book, iklan vulgarnya dengan segala juklak dan SOP nya. Bapak-bapak/ibu-ibu cobalah klik iklan Dr Boyke ini, terus renungkan, anak-anak kita sekarang sudah dilengkapi dengan PC/Laptop/BBM dsb yang setiap saat bisa. Begitu kita buka face book, langsung dijalur tengah terpampang gadis-gadis peraga obat perangsang Dr Boyke ini. Kalau obat Dr Boyke ini sudah dibeli, ibarat senapan sudah ada pelurunya, otomatis segera akan mencari sasarannya, inilah yang menyebabkan kawin bebas itu. Data dari KPAI, 65 % anak STP/SLTA sampai kemahasiswa sudah kawin bebas saja. DR Elly Risman ini juga pernah hadir di ILC, waktu acara pecehan seksual di JIS, dikupas panjang lebar sebab-musabab sehingga seseorang berlaku menyimpang, tapi obat perangsang kawin bebas yang dijual seperti jual kacang dipasar tak disinggung. Kesimpulan : Kalau masyarakat Indonesia dari manapun, agama apapun tidak mau bertindak melarang kegiatan yang bisa menjadi penyebab kawin bebas itu, kawin bebas itu tak bisa diatasi. Kalau kita sepakat, TV – TV yang kelihatannya suka sekali menayangkan yang bersifat merangsang ke pornografi, sesudah dua kali diperingati KPI masih melanjukan kegiatan pornografinya, kalau pemertintah tidak menutup maka masyarakat harus menutupnya dengan paksa. Iklan / penjualan obat perangsang yang mendorong kawin bebas bagi remaja, harus dilarang. Termasuk ikonnya . Dulu saya sudah pernah memposting iklan obat Dr Boyke ini tapi tak banyak yang ingin membicarakan atau segan karena kita bicara soal yang dianggap jorok. Untuk kebaikan generasi, kenapa harus segan. Apalagi kalau saya tak salah, RN ini isinya orang tua semua (artinya semua sudah punya anak). Kalau ada orang yang mengatakan: ini tak boleh, itu tak boleh biarin saja, yang penting kita harus menyeklamatkan generasi kita . Nakan ADj tak usah malu-malu menyampaikan tulisan ini, ini untuk keselamatan generasi Indonmesai kedepan. Maturidi (L/75) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau. Pada 28 April 2014 15.42, anwar jambak <[email protected]> menulis: > > Dari subalah: > > Selingan, kalau tak tertarik, tak perlu baca :) > > KERUSAKAN OTAK AKIBAT PORNOGRAFI MIRIP MOBIL RINGSEK AKIBAT BENTURAN KERAS > > Kerusakan otak akibat pengaruh pornografi di mesin Magnetic Resonance > Imaging (MRI), hasilnya sama dengan kerusakan pada mobil saat tabrakan > keras. Demikian penjelasan r Elly Risman, psikolog dari Yayasan Kita dan > Buah hati Jakarta. > > Menurut Elly Risman, Pree Frontal Cortex (PFC) akan rusak ketika anak > melihat pornografi. Padahal PFC adalah pusat nilai, moral, tempat di mana > merencanakan masa depan, tempat mengatur manajemen diri. Bagian otak alis > kanan atas inilah yang menentukan jadi apa seorang anak nantinya. Karena > itulah PFC juga disebut direktur yang mengarahkan kita. > > "Nah pada saat anak kecil dan melihat pornografi si direkturnya belum bisa > melarangnya karena belum matang, maka orangtuanya lah yang harus menjadi > direktur bagi si anak, tapi mengapa sekarang orangtua malah memberikan anak > gadget, HP, dan akses internet secara bebas?"ucap Elly Risman dalam acara > seminar parenting bertema "Tantangan Mendidik Anak di Era Digital" yang > diselenggarakan SD Integal Luqman Al Hakim Surabaya belum lama ini. > > "Setelah melihat pornografi, maka gambar visual pornografi itu akan > dikirim ke otak bagian belakang, disebut juga respondent. Karena respondent > ini belum berfungsi maka anak akan kaget," ujar Elly. > > Jika respondent tersenggol maka dia akan mengeluarkan hormon yang namanya > dopamin. Dopamin itu akan mengeluarkan zat yang akan membuat anak merasa > senang, nikmat,bahagia, dan membuat anak kecanduan, ungkapkanya. > > Karena itu, menurutnya candu pornografi itu membuat orang menjadi > dissensitifisasi. Gambar porno yang sudah dilihat tidak akan dilihat ulang > karena sudah tidak berpengaruh lagi, yang ingin dilihat lagi adalah gambar > porno yang lebih dari gambar sebelumnya, karena rasa senstifnya hilang. > > Oleh karena itu para pencandu pornografi akan selalu meningkat candunya > seperti menaiki tangga, ia ingin lebih, lebih dan lebih lagi. > > "Ketika anak melihat satu kali pornografi maka dia ingin dua, tiga, empat > kali lagi," ujar Elly Risman. Ketika gambar pornografi sering melewati PFC, > maka bagian yang menyimpan moral dan nilai, membuat perencanaan hidup ini, > akan menciut, mengecil dan akibatnya dorongan seks akan tidak terkendali , > karena mata tidak bisa ditahan, otak menjadi rusak dan ketagihan seks. > > "Proses melihat pornografi dengan bersetubuh sama, jadi anak yang melihat > pornografi mereka bersetubuh dengan gambar -gambar," ujar Ibu yang pernah > mengikuti pelatihan parenting di USA ini. > > Menurutnya selain hormon dopamin yang berproduksi hormon norepinephrine > juga akan keluar. Hormon norepinephrine berfungsi sebagai pembeku memori > kenangan yang detail. > > Seperti seorang istri dengan bagian-bagian-bagian tertentu suaminya, > begitu pun sebaliknya. Hormon norepinephrine biasanya keluar setelah > bersetubuh. Selain norepinephrine, otak juga akan mengeluarkan hormon > oksitoksin. Ini adalah adalah hormon mawadah wa rahmah. Hormon yang > mengikat antara suami dan istri. > > Tapi jika anak yang bersetubuh dengan gambar maka hormon ini akan mengikat > anak tersebut dengan gambar porno yang telah dilihatnya. Makan anak dan > orang dewasa yang sudah candu pornografi maka susah menyapihnya. > > "Nah setelah mencapai klimaks, maka akan keluar hormon serotonin, hormon > ini yang membuat relax dari ujung rambut sampai ujung kaki," ujarnya. > > Karena itu, ia berharap pada orangtua menjaga anak-anak agar otak mereka > tidak rusak sebelum kesiapan peran seksual yang telah diciptakan Allah > Subhanahu Wata'ala untuk mereka telah siap dan halal. > > Menurutnya, begitulah jahatnya bisnis pornografi menjadikan anak sebagai > sasaran tembak empuk, karena mereka ingin anak itu rusak dan menjadi > pelanggan pornografi seumur hidup. > > Aktivitas Pacaran > > Selain pornografi yang mengaktifkan hormon seksual, termasuk di dalamnya > adalah aktivitas pacaran. Karena itu, ia sangat menyayangkan film-film > remaja saat ini begitu vulgar mengajak anak untuk berpacaran dan > berhubungan seks secara bebas. Karena itu, kewaspadaan orangtua terhadap > serangan pornografi sangat di harapkan. > > "Jangan hanya mengaharap kepada sekolah yang mengajari nilai-nilai agama > pada anak, namun orangtua harus berperan aktif membangun moral agama pada > diri anaknya sendiri, " ucapnya. > > Kembalikan peran Ibu dan Ayah pada tempatnya. Dan para orangtua harus > lebih dulu hadir dalam kehidupan anaknya, bukan mereka yang punya > kepentingan bisnis pornografi yang hadir dalam kehidupan anak-anaknya. > Sebab anak-anak yang jiwanya selalu merasa sendiri, booring, stress, dan > lelah akan sangat gampang dimasuki oleh industri pornografi.*/Samsul Bahri > > http://bit.ly/1nUAeId > > > > > Pintas Tangkas > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
