Sanak Lies Suryadi,

Orang seperti angku lah yang harus diperbanyak untuk menjawab tantangan abad 22 
bagi masyarakat Minangkabau,  membaca masa lalu untuk menarik garis kemasa 
depan.

Saya  100 persen setuju difinisi ETHNICITY adalah blood ties tanpa harus 
ditambah embel embel yang lain dan nenek moyang kita telah memilih pertalian 
darah dari ibu mari kita hormati. Kalau berhenti sampai disini takada yang 
rumit semua terang benderang.

Bila ada perempuan minang yang menikah dengan orang asing dan menetap di kutub 
utara.  500 tahun mendatang akan ditemukan sekumpulan mayarakat minang disana 
dengan adat dan budaya yang berbeda.

Wassalam.
Zulkarnain Kahar

Lies Suryadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kapado nan cadiak pandai dipalanta,
  
 Rupanya begitu rumit untuk menentukan keminangan dan rasa keminangan 
(minangness) itu. Zaman yang berubah menambah rumit penentuan itu. Tapi, siapa 
sebenarnya yang berhak menentukan bahwa si anu Minang dan yang lain tidak, 
bahwa si anu kental keminangannya dan yang lain kurang? Sebagai refleksi, 
mungkin ada gunanya saya kutipkan pendapat2 pengenai hakikat KESUKUBANGSAAN itu:
  
 "The idea of ethnicity has usually been defined by political scientists, 
anthropologists and sociologists in terms of three main characteristics. 
Firstly, ethnic identities have been understood as relatively small, natural 
communities that predate nation-state. Secondly, ethnic identity is supposedly 
based on shared culture and experiences (language, space, history, rituals, 
dress, food. And thirdly, ethnicity is understood as being based on what we 
could call 'blood ties'--that is, biological similarities, kinship and skin 
colour" (David Birch, Tony Schirato, Sanjay Srivasta, Cultural Politic in the 
Global Age, New York, Palgrave, 2001, p. 162-3).

Di zaman modern ini, yang memungkinkan makin cepatnya mobilitas manusia--fisik 
dan pikiran--bagaimakah hakikat etnisitas itu? Apa dampaknya terhadap perasaan  
kesukubangsaan? Dihubungkan dengan tiga pendapat yang dikutipkan di atas, bagi 
saya menarik mengapa sanak yang di rantau merasa tetap peduli dengan keminangan 
itu (kadang2 malah merasa lebih peduli, merasa leibh Minang dari mereka yang di 
kampung), meskipun sudah tinggal jauh dari tanah kelahiran sendiri? Apa efek 
media modern dalam memunculkan fenomena ini? Apakah globalisasi mengakibatkan 
'mencairnya' etnisitas atau malah sebaliknya?--fenomena yang didiskusikan dalam 
ZdravkoMlinar (ed.), Globalzation and Territorial Indenties (Aldershot, etc.: 
Avebury, 1992). Itulah antara lain yang sedikit saya diskusikan dalam artikel 
saya: "TRANSNASIONALISASI MUZIK INDONESIA: MAKNA KULTURAL DAN FUNGSI 
SOSIO-POLITIK RESEPSI MUZIK POP MINANG DI MALAYSIA" (in press, Jurnal Wacana 
Seni vol. 6, 2007, Universiti Kebangsan Malaysia,
 Penang).   

 Tentang image awal mengenai (ke)sukubangsa(an) Minangkabau, kiranya menarik 
juga dibaca artikel di bawah ini:
  
     Title:  Unravelling Minangkabau ethnicity / Leonard Y. Andaya  Author:  
Leonard Y. Andaya  In:  Itinerario : bulletin of the Leyden Centre for the 
History of European Expansion, ISSN 0165-1153
vol. 24 (2000), issue 2, page 20-43  Illustration:  krt  Abstract:  The 
Minangkabau of West Sumatra enjoy a certain celebrity as an important ethnic 
group whose image is inextricably linked to the matrilineal system and the 
institution of merantau. Inscriptions found in Pagaruyung in the heartland of 
the Minangkabau territory, dating from 1286 and 1347, refer to the realm as 
Malayu. (Adityavarman) Malayu consisted of an 'downstream' and and 'upstream' 
part, the latter of which was to develop a separate identity, Minangkabau. 
After the second half of the fifteenth century, when the name Malayu was used 
to refer to the peninsular kingdom of Melaka, the Minangkabau rulers in 
Pagaruyung reinterpreted traditions of their origins to demonstrate their 
primacy among former Malayu regions. The Pagaruyung rulers, regarded as the 
kings or emperors of the Minangkabau, were central in shaping  Minangkabau 
identity in the seventeenth and eighteenth century. The confrontation between
 Minangkabau in the rantau other communities in Sumatra contributed to a 
growing sense of a separate Minangkabau identity. The author describes the how 
the Dutch initiative in recognizing the overlordship of the Minangkabau rulers, 
as 'emperor' (Maharajadiraja, a traditional title infused supernatural powers 
attributed to the legendary Adityavarman) over the other polities in Sumatra 
had a longlasting impact on the status of the alam Minangkabau. From 1660/1668 
to 1833, when a failed rebellion against the Dutch scattered the members of the 
court, Pagaruyung provided the locus for Minangkabau identity. Later, the 
Pagaruyung court was no longer relevant to the establishment of the boundaries 
of Minangkabau-ness. The changing political and economic contexts had led to  a 
new definition of Minangkabau ethnicy, in which matriliny and merantau have a 
central role.  Subject heading:  ethnicity; Sumatera Barat; Minangkabau; VOC; 
Indonesia

  Request number:  TA 3717  Note:  This is an article. Please request journal!
  
 Salam hormat,
 Suryadi yang daif
  
 ----- Pesan Asli ----
Dari: Zulkarnain Kahar <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sabtu, 15 Maret, 2008 08:06:22
Topik: [EMAIL PROTECTED] Re Adaik minang manuruik Islam (pandangan Buya HMA)

Buya menulis:
//Anak Minangkabau punya nasab ke ayah, bersuku ke ibu, dan bergelar ke mamak. 
Lengkaplah sudah.// 

SEMPURNA, tapi ada satu kondisi yang harus dipenuhi disini yaitu, ibu harus 
minang bila ini tak terpenuhi itulah AA Navis seperti yang dikatakan Pak Saaf. 
walaupun dia lebih minang dari orang minang.

Lain lagi dengan Tan Malaka walupun Islamnya entah nyangkut dimana tetap saja 
dia orang Minang dari suliki atau lebih radikal lagi siapa yang bilang kalau 
jusfiq dan koleganya  bukan orang minang.

Entahlah bagi saya Hidup ini harus punya indentitas yang  jelas dan mati dengan 
Agama yang jelas pula.


Orang minang sudah tersebar keseluruh penjuru dunia dan beradaptasi dengan adat 
budaya setempat . Rendang pun sudah terasa manis dilidah.

Tak kan hilang Minang di dunia meminjam istilah melayu.

Salam hormat saya untuk Buya/ dan Pak Saaf. dengan DIM nya.

Zulkarnain Kahar (49th)
  
 



       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers
  
 



"Genius is 1% inspiration and 99% prespiration" Thomas Edison
       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke