Assalamu'alaikum Wr. Wb. dunsanak Palanta RN n.a.h, di tengah hangat pembicaraan tentang bursa capres, izinkan ambo memberikan laporan pandangan mato dari acara peluncuran biografi Prof. Fachri Ahmad karya Fajar Rusvan (JC Institute) di Ballroom Hotel Grand Inna Muara, Padang, semalam (Jumat, 23/5).
Mengingat sosok Prof. Fachri Ahmad yang akademisi (pernah jadi Rektor Unand, Rektor UBH, Ketua Dewan Riset Daerah sampai sekarang), birokrat (mantan Wagub Sumbar), politisi (pernah jadi anggota MPR-RI), barangkali banyak yang mengenal beliau di palanta ko. Acara semalam menghadirkan 5 pembahas/pembedah buku, yakni: 1. Prof. Marlis Rahman (mantan Gub/Rektor Unand). 2. Basril Djabar (Pemimpin Umum Singgalang) 3. Werry Darta Taifur (Rektor Unand kini) 4. Adi Gunawan (Bupati Dharmasraya, mantan mahasiswa Prof. Fachri), dan 5. Ambo. Acara dimulai dengan keynote speech oleh Prof. Musliar Kasim, Wamendikbud yang juga mantan Rektor Unand yang menekankan pentingnya biografi para tokoh Minang kontemporer seperti Prof. Fachri Ahmad diperbanyak dan menjadi bacaan generasi muda. Ketika masuk bedah buku, keempat pembicara lain yang kenal baik dengan Pak Fachri mengisahkan cuplikan kenangan-kenangan mereka dengan FA. Kisah-kisah humaniora yang menarik. Giliran ambo, yang baru kenal FA setahun terakhir itu pun tidak terlalu akrab, karena Prof FA adolah pembedah novel Tadarus Cinta Buya Pujangga di UBH tahun lalu, bahasan ambo sepenuhnya dari pembacaan terhadap biografi yang disusun oleh Fajar Rusvan (alumnus Sejarah Unand) itu. Ada 3 poin yang ambo sampaikan: 1. Berdasarkan kemampuan Prof. FA (sebagai Rektor Unand) mendatangkan Ratu Beatrix, Pangeran Klaus, Pangeran Oranje ke kampus Unand (pada 30 Agustus 1995) dan beberapa hari kemudian (4 Sept) Presiden Soeharto pun datang untuk meresmikan kampus itu di Limau Manis (saat itu biasanya peresmian kampus oleh Menteri Pendidikan), serta ditambah kemampuan Prof. FA dalam menggalang kerjasama internasional antara Unand dengan berbagai kampus global yang diuraikan dengan rinci pada biografi, maka ambo menyebut Prof. Fachri Ahmad adalah "Haji Agus Salim Dunia Pendidikan Tinggi Minangkabau" karena kemampuannya menjadi penghubung. Belum lagi dengan peran beliau dalam menyelesaikan beberapa silang sengketa internal kampus-kampus swasta di ranah Minang seperti pada kampus Muhammad Yamin di Solok. Tak disangka, julukan yang ambo berikan itu mendapat aplaus meriah dari hadirin (selain namo-namo VIP di ateh, ado juo Sekda Ali Asmar, Direktur Bank Nagari Suryadi Asmi, Buya Bagindo M. Letter, Bupati Pessel Nasrul Abit, Pak Zuiyen Rais, dll) nan nampak satuju jo julukan baru Pak Fachri ko. 2. Momen krusial saat Prof FA menjadi Dekan FIB Unand (umur 39 tahun) dan berangkat melanjutkan S2 ke AS pada umur 42, adalah fragmen kehidupan beliau yang menarik bagi ambo. Ambo menyebut fase 3 tahun itu sebagai kombinasi antara "kesabaran menjalankan tugas" dengan "keinginan untuk tetap maju", karena FA mendapatkan beasiswa tersebut tidak mudah. Beliau tetap mencari, dan menyampaikan alasan bahwa umurnya sudah di atas 40 tahun, tapi masih ingin berkembang. Sebenarnya kalau beliau tipe "safety player", dengan jabatan Dekan di tangan pada umur 39, zona nyaman di lingkungan kampus sudah dalam genggamannya. Tapi beliau keluar dari zona nyaman itu, berusaha mencari beasiswa (termasuk peluang mengajak istri dan anak tunggalnya sekalian ke AS), dan bahkan ketika semua peluang itu bisa didapatkan, FA sempat pula terkatung-katung di Kentucky karena ... namanya TAK TERDAFTAR! Bayangkan. Sudah sampai di negeri orang, dengan harapan tinggi, meninggalkan kenyamanan fasilitas akademik sebagai dekan di tanah air, yang dialami justru situasi luntang-lantung, sebelum akhirnya seorang Profesor bernama Cina kelahiran Bogor dari Univ. of Georgia (Athens), bersedia menjamin FA, yang mau tak mau harus pindah negara bagian, sementara rombongan lain yang berangkat dari Indonesia sudah sibuk dengan kuliah masing-masing. Tapi justru dengan cobaan berat di negeri orang inilah yang kelak menjadi "moment of truth" bagi akselerasi karier Prof. Fachri di pelbagai bidang non-akademik. Hikmahnya yang ambo lihat, dan sampaikan dalam floor semalam: seringkali seseorang pada umur 40-an tahun sudah berada dalam zona nyaman masing-masing, atau tenggelam dalam rutinitas kerja, dan tak punya lagi "dream" untuk mencapai sesuatu yang lebih signifikan dalam hidupnya, selain mengikuti saja apa yang menjadi kesibukan harian. Kisah Prof. Fachri pada penggalan umur aqwal 40-an itu justru menunjukkan agar kita harus terus memiliki "dream" lebih tinggi, berani mengalami risiko lebih berat, dibandingkan hanya menikmati kenyamanan yang sudah didapat. 3. Sebagaimana pepatah Latin berkata "scripta manent, verba volant", apa yang tertulis abadi, apa yang terucap lenyap, kisah-kisah seperti biografi Prof. Fachri Ahmad akan membuat kita lebih optimistis dalam banyak hal. Terhadap masa depan pendidikan (pendidikan di Minang khususnya), terhadap masih adanya karakter-karakter hebat yang sederhana, dll. Dalam kesempatan itu -- karena rencana ambo ke Padang ambo tulih pulo di wall FB, dan Pak Saafroedin Bahar menitipkan salam kepada Prof. Fachri Ahmad -- maka sebagai closing, ambo sampaikan salam Pak Saaf kepada beliau serta seluruh hadirin yang menyambut antusias salam dari Pak Saaf tu. Acara ditutup dengan doa yang dibacakan oleh Buya Mas'oed Abidin. Demikian laporan pandangan mata singkat dari acara semalam. Semoga bermanfaat, terutama bagi yang kenal langsung dengan Prof. Fachri Ahmad. Wassalam, ANB Padang -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
