Assalammualaikum Wr Wb Dunsanak sa Palanta Yml
Bderikut ini adalah tulisan si anak Padang yang berjuang menghadang Japang.
Semoga bermanfaat
Salam
Hanifah
TITIK BALIK oleh Fadilla Zennifa
Saat itu angin sangat kencang dan hujan es menghujam badanku yang
sedang mengendarai sepeda dengan kecepatan tinggi. Seluruh badanku
menggigil dan hampir-hampir rasanya tanganku mati rasa karena
kebodohanku yang bersikeras untuk mengantarkan barang dagangan yang
akan aku jual esok hari. Ku hisap-hisap tanganku agar tak mati beku.
Namun tiba-tiba angin kencang datang menghempaskan aku dan sepedaku.
Tersungkur di tanah rantau dan berteriak sambil menangis meminta
pertolongan. Namun sepersekian detik kemudian aku tersadar, Bahasa
yang ku gunakan mestinya adalah Bahasa tanah ini, bukan Bahasa tanahku
namun apa mau dikata, aku lupa Bahasa "tolong" di tanah ini pun tak
tampak satu manusia pun melintasi jalan. Detik itu aku merasa
perjuanganku selama 6 bulan di tanah ini sudah harus dihentikan. Bau
darah menyerbak dipenciumanku. Saat itu aku coba untuk berdiri
menuruskan perjalanan menuju rumah seorang kakak yang membantuku untuk
berjualan makanan. Saat itu mataku terbuka, hanya Allah satu-satunya
tempat ku meminta. Ku dorong sepedaku, dan sambil beristighfar ku
berjalan tertatih, sambil menangis. Di dinginnya malam itu, aku
berteriak.. "ya Allah, jadikanlah kejadian malam ini menjadi inspirasi
untuk manusia bumi lainnya " dan ketika ku sampai di tempat kakak yang
bekerja sama denganku berjualan dia membuka pintu dan terkejut melihat
ku menangis dan berdarah-darah. Tanpa ba bi bu Dia berkata " jangan
pernah berpikir untuk pulang, perjuangan belum berakhir"
******************
Panggil saja namaku dilla, anak ke dua dari dua bersaudara. Saudara
sedarahku adalah seorang manusia berkromosom XY dan terlahir 4 tahun
lebih tua dariku. Aku merupakan anak Sumatra yang terlahir di daerah
pinggiran pantai barat Sumatra. Ayahku seorang pegawai negeri sipil
dan Ibuku adalah seorang dosen Teknik informatika di suatu universitas
Sumatra.
Agustus 2013 aku mendapatkan gelar sarjana teknik di kampus yang
bernama Universitas Andalas. Tak pernah terbersit di kepalaku sehabis
wisuda aku akan tetap ada di Indonesia. Sudah ku pancangkan dalam
hati, 2013 adalah langkah awalku untuk menggapai mimpiku belajar dan
mengajar hingga ke ujung dunia. Selalu terpancang dipikiran petikan
Al-Qur`an surat Al-Mujaadilah ayat 11 yang berbunyi "Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat".
Suatu ketika saat hujan telah berhenti aku berkata kepada temanku
"kalian lihat, saat ini di depan mata kita hanyalah rumput hijau yang
membentang. Kelak kan ada masanya yang kita tatap adalah warna putih
yang membentang,, ya salju. Percayalah kita akan dapat melihatnya."
Aku memang seorang pemimpi ya memang aku pemimpi.
Sambil menunggu hari wisuda, aku coba menguji peruntunganku. Ku
kirimkan email ke 7 orang professor di luar Indonesia yang memiliki
hubungan dengan tugas akhir yang telah kulakukan saat masih menjadi
mahasiswa s1. Ya kutegaskan lagi, TUJUH professor ku kirimkan email
yang berjudul "prospective students" dalam waktu bersamaan. Dua ku
kirim ke Australia, sisanya ku kirim ke Jepang. Setelah mengirim
email, esoknya aku lupa untuk membuka emailku kembali. Karena aku
berpikir, para professor itu tentu saja sedang sibuk. Lama-lama aku
lupa bahwa aku pernah mengirim email masa depanku. Namun Allah memang
punya rencana luar biasa. Seminggu kemudian aku teringat untuk membuka
email, siapa tau ada tanggapan dari para professor tersebut.
Singkat cerita, aku mendapat balasan dari seorang dekan di Universitas
Kyushu, Jepang. Professor yang menanggapi emailku tersebut
mensyaratkanku untuk mendapatkan beasiswa dan aku sebaiknya mengikuti
program research student di bulan oktober sebelum memulai dunia
perkuliahanku sebagai mahasiswa. Saat itu aku menyanggupinya dengan
sekaligus meminta Letter of Acceptance dan Recommendation Letter dari
beliau. Setelah LoA berada di tangan, saat itulah aku tersadar bahwa
aku diterima sebagai calon mahasiswa doctoral di kampus tersebut. Yap,
sekali lagi Calon Mahasiswa DOKTORAL. Akupun bingung saat membacanya,
terbesit pikiran bahwa professor tersebut siapa tau saja khilaf dalam
menulis. Saat ku konfirmasi, ternyata tulisan tersebut tidak salah.
Aku akan menjadi mahasiswa Doktoral 5 tahun di Universitas Kyushu
dengan syarat aku dapat beasiswa dan aku lulus ujian masuk di kampus
10 besar terbaik Jepang tersebut.
Mencari beasiswa ke luar negeri dari pemerintah negeri nyiur melambai
ini rupanya tidak semudah membalikkan telapak tangan, aktif di
berbagai organisasi, tamat dalam jangka waktu 3 tahun lebih 11 bulan
dan memiliki Indeks prestasi 3 keatas ternyata tidak cukup untuk
menaklukannya. Mulai dari mengajukan beasiswa ke pemerintah daerah
hingga ke pemerintah pusat telah ku lalui. September telah datang dan
aku telah di wisuda. Di sisi lain bulan oktober telah semakin tercium
baunya. Ku putuskan untuk tetap berangkat ke Jepang dengan menggunakan
dana keluarga.
Seperti yang ku katakan sebelumnya, aku terlahir dari keluarga
pemimpi. Ketika orang-orang berkata bahwa keluarga ku sangat nekad
untuk mendukung keberangkatanku ke Jepang dengan menggunakan biaya
pribadikarena pada kenyatannya keluargaku bukanlah keluarga yang
memiliki berhektar-hektar sawah, ayahku bukan konglomerat. Namun
apapun demi pendidikan, tak segan mereka bersakit-sakit. Sesungguhnya
aku merasa bersalah, cukup sakit terasa di hati, mengorbankan keringat
dan darah orang tua demi mimpi yang ingin aku wujudkan. Namun hati
kecilku berkata tak kana da yang sia -sia, pikiranku menyemangatiku
untuk maju terus.Musim gugur tiba, sampailah aku untuk pertama kalinya
menginjak tanah yang sering disebut orang sebagai Negeri matahari
terbit, Jepang.
Musim gugur hampir berakhir dan selama itu pula banyak hal baru yang
ku alami di Jepang. Sebelumnya di Indonesia aku hampir dapat dikatakan
tidak punya keahlian masak karena setiap hari ada ibuku yang selalu
menyiapkan masakan yang nikmat. Di Jepang, tak dapat kulakukan hal
tersebut. Mulailah aku belajar masak. Sebelumnya aku merupakan manusia
yang paling benci memakan sayuran dan sangat menyukai tempe dan ayam
goreng. Namun di sini, di negeri ini aku harus beradaptasi dengan
sayuran dan menjauh dari ayam serta tempe. Seperti yang kalian
ketahui, Muslim di Jepang merupakan mayoritas dan hal ini berimbas
pada ketersediaan masakan halal. Harga ayam halal dan tempe sangat
mahal di sini. Untuk ayam, dapat mencapai 2-3 kali lipat perkilonya
untuk tempe bisa mencapai 10 kali lipat. Untuk mahasiswa yang hidup
di jepang dengan biaya sendiri, hal ini cukup membunuh .. hehe. Lalu
bagaimana pada akhirnya aku tetap bisa bertahan di Jepang?? Arubaito,
itu penyelamatku.
Apa itu Arubaito? Arubaito adalah Kerja paruh waktu. Untuk pelajar
asing yang ingin melakukan arubaito, harus meminta izin dari pihak
imigrasi Jepang, dan jangka waktu untuk kerja paruh waktu adalah 28
jam dan dengan syarat tidak mengganggu kuliah.
Aku melakukan arubaito di kampusku sebagai seorang programmer, tiap
bulan aku mendapatkan gaji sebesar 58.800 yen hingga 60.000 yen
(setara dengan 6 juta Rupiah). Selain melakukan arubaito di kampus,
aku juga melakukan kerja sama dengan seorang mahasiswa doktor yang
juga berasal dari Sumatra dalam bisnis menjual sarapan atau biasa
disebut sebagai bento. Setiap Kamis malam aku berangkat kerumah
temanku itu untuk menyiapkan bahan jualan kami dan setiap hari Jumat
aku menjualnya ke mahasiswa Indonesia yang berada di lingkungan
kampusku. Senang rupanya dalam kenekatan yang aku lakukan aku banyak
mendapatkan pelajaran baru yang tak akan pernah aku rasakan di
Indonesia.
Lokasi kampusku yang terletak di perbukitan membuat suasana belajar
semakin menyenangkan, di samping itu aku merasakan suatu keberuntungan
di terima di Lab yang luar biasa ini, karena kami menggunakan Bahasa
Inggris dalam percakapan sehari hari dan dalam seminar progress lab.
Hal yang jarang kalian temukan di lab lainnya, dan ini yang sering
membuat mahasiswa asing menjadi Jealous dengan lab kami.
Bagaimana perasaan ku saat berada di Jepang? Aku sangat bersyukur dan
senang karena aku percaya bahwa Allah akan mendengar doa hambanya. Di
Jepang mentalku benar-benar diuji. Ya pesanku buat kalian yang ingin
memperjuangkan mimpi kalian, kuatkanlah mental kalian. Ambil kalimat
yang baik baik sebagai penyejuk dan kalimat buruk yang berusaha
mematahkan mental kalian sebagai penyemangat. Tidak sedikit orang yang
menyarankanku untuk pulang ke Indonesia karena menurut mereka hidup
dengan uang yang tak berlimpah di Jepang sangat sulit. Bahkan ada yang
berkata " kalau aku jadi kamu aku pilih pulang, aku gak berani
menghadapi hidup dengan uang yang serba terbatas". Saat ada orang yang
berkata begitu, aku hanya mampu diam. Orang seperti itu tak patut
untuk di jawab, karena itu menunjukkan seberapa ketakutannya akan
menjadi miskin di dunia dan ketakpercayaan pada Tuhan yang Maha kuasa.
Hal-hal yang melemahkan semangat itulah yang membuatku terus berusaha
maju. Ingin kubuktikan bahwa Allah itu ada, dan Allah mendengar dan
barang siapa yang percaya akan mimpinya dan berusaha sekuat tenaga,
Akan ada jalan yang terbuka.
Musim dingin tiba, setelah 4 bulan menjadi research student atau biasa
disebut kenkyusei aku melakukan ujian masuk universitas untuk menjadi
mahasiswa pascasarjana. Dan dengan rahmat Allah aku lulus dalam ujian
masuk tersebut. Kelulusanku membuat hatiku berdebar. Aku tak tau
bagaimana caranya membayar uang kuliah di kampus ini. Tak ingin ku
gunakan uang orang tuaku karena memang tak akan mereka bayar uang
kuliah pascasarjanaku nanti. Pakai apa?
Arubaito terus ku jalani, jualan bento pun terus
terlaksana. Namun aku tak dapat membayangkan apabila daftar tagihan
kuliah menghampiriku. Aku dilanda kegelisahan. Haruskah ku pulang
setelah semua usaha yang telah ku lalui ini. Atau terus memaksakan
diri untuk mempertahankan impian? Di saat-saat itu hatiku terbolak
balik. Seringkali bila ku kuatkan hati untuk pulang, besoknya aku
berpikir aku akan bertahan. Seperti it uterus menerus. Kadang muncul
perasaan di hati, "Allah, apakah engkau meridhoi jalanku? Tunjukanlah
apa yang harusnya kulakukan".
Entah bagaimana, senseiku menghampiriku dan memintaku
untuk membuat paper penelitian serta mempublikasikannya ke konferensi
regional di Jepang. Tentu saja aku tidak menolak. Jadilah konferensi
itu menjadi konferensi pertamaku dalam melakukan presentasi di depan
professor Jepang dan mahasiswa asing di Jepang.
Hari-hari menjadi mahasiswa pascasarjana dimulai. Ku
ambil 7 mata kuliah berbahasa jepang dan 5 mata kuliah berbahasa
Inggris. Sungguh suatu pengalaman luar biasa. Taukah anda bagaimana
rasanya mengikuti kelas Bahasa jepang dengan status Bahasa jepang
kalian yang masih setera anak sekolah dasar? Rasanya seperti nonton
siaran langsung dorama jepang tanpa subtitle. :D. Suatu hari tiba-
tiba aku mendapatkan email dari kampus bahwa aku menjadi perwakilan
kampus untuk ikut seleksi beasiswa. Berangkatlah aku ke Tokyo untuk
melakukan tes wawancara. Setelah melakukan wawancara.. setelah itu
hari-hariku yang mendebarkan dilalui. Tak pernah seharipun aku tak
memikirkan hasil dari wawancara tersebut. namun apa mau dikata, hasil
seleksi diumumkan sebulan setelah wawancara. Akhirnya aku
pasrahkan diriku sepenuhnya pada yang Maha kuasa, bila dapat beasiswa
aku akan lanjutkan kuliahku. Jika tidak, aku akan tetap lanjutkan,,,
apapun yang terjadi.
Saat ini angin sangat kencang dan hujan turun dengan lebatnya, aku
menangis tersedu-sedu karena aku tetap di izinkan untuk tinggal di
negeri matahari terbit ini untuk mengejar mimpiku. Akhirnya beasiswa
menghampiriku....
Fadilla Zennifa
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.