Mari kito doakan semoga Ahok dapek hidayah Islam. Bantuaknyo inyo urang yg hanif, cendrung kepada kebenaran dan punyo prinsip. Kalau Ahok dapek hidayah, tantu indak jadi Jakarta dipimpin non muslim...:)
Allahhuma hdi Ahok ilal Islam. Yahdihullah wa yuslihu balahu. Wassalam fitr lk/39/Austin 2014-06-05 19:35 GMT-04:00 Akmal Nasery Basral <[email protected]>: > Sanak Dedi dan Mak MM*** n.a.h. > > 1. Di tiok kantor gubernur, di seluruh Indonesia, pasti ado wartawan nan > ngepos, dek karano gub/PLT gub adolah "RI 1" untuk masing-masing daerah. > Jadi tiok kegiatan pak gub, sudah pasti akan capek mandapek liputan. Kalau > ado daerah nan kegiatan gubnyo kurang taekpos, mungkin paralu dicaliek baa > hubungan sang gub dengan wartawan setempat. Jadi kalau ado wartawan, sarupo > dari GatraNews nan mancaliek ES kalua dari kantor gub dengan "wajah > cemberut diikuti dengan dua lelaki bergamis", reporter itu alah malakukan > tugasnyo dengan baik dari sisi reportase. Apolai inyo mawawancarai Ahok > pulo. Jadi dari unsur kelengkapan liputan alah terpenuhi. > > 2. Sayang, banyak urang indak tahu SOP karajo wartawan nan bana, tapi alah > jadi "hakim" pulo dengan "shoot the messenger". Sang wartawan lah nan dicap > macam-macam label. Sabagai pembanding cubolah baco link dari Rakyat Merdeka > OnLine (RMOL) ko: > > > http://www.rmol.co/read/2014/06/04/158153/Komisaris-PT-JM-Keluar-dari-Kantor-Ahok-dengan-Muka-Cemberut- > > Pada link iko bahkan wartawan nan manulih (inisial DEM, sementara di > GatraNews sang wartawan adolah ZAK) mendeskripsikan duo pengiring Edward > Suryadjaja sbb: Edward datang tak sendirian. Bersama dia ada dua orang > berpakaian > gamis dan sorban putih langsung masuk ke ruangan Basuki di lantai dua > gedung Balaikota. > > Bukan hanyo si DEM manulih gamis, bahkan ado "sorban putih" bagai dalam > artikelnyo (indak ado dalam tulisan ZAK di GatraNews). Apokah duo wartawan > dari duo media berbeda ko salah mancaliak pulo? > > 3. Kalau 2 contoh di ateh masih kurang dek karano itu dua media umum > (GatraNews dan RMOL), iko link katigo dari media bisnis ( > > > http://news.bisnis.com/read/20140604/77/233230/edward-soeryadjaya-datangi-ahok-soal-kisruh-monorel > > Berita ditulis oleh reporter Yanita Petriella dengan editor Rustam Agus. > Perhatikan pada bagian kalimat: Komisaris Utama di PT JM tersebut juga > ditemani seorang pria bersorban dan berpakaian gamis saat mendatangi > Ahok. Pria tersebutlah yang menjawab pertanyaan wartawan. "Saya mewakili > Pak Edward. Maaf. Pak Edward nggak mau ngomong. Karena nggak ngomong saja > beritanya meleset," katanya. > > Jadi dari sampling tiga berita di tiga media berbeda, kehadiran pengiring > ES yang bergamis (GatraNews), atau bergamis dan bersorban (RMOL dan > Bisnis.com) itu faktual, bukan karajo "media nan dikangkangi JIL", meski > jumlah pengiring itu berbeda, kareena menurut Gatra dan RMOL duo urang, dan > manuruik Bisnis cuma ciek (sekaligus sebagai "jubir" ES). Tapi artinyo, iko > kejadian faktual di lapangan. > > Jadi tarutamo ambo menyayangkan sekali "respon cepat" Mak MM yang mencap > laporan pertama (GatraNews) pastilah "dikangkangi JIL" karena menulis > adanya pria bergamis menemani Edward Suryadjaja, padahal Mak MM selalu > mengaku sebagai mantan jurnalis. > > 4. Soal kiprah Ahok sebagai PLT Gubernur Jakarta, kita bandingkan dengan > ketegasan "gubernur legendaris" Ali Sadikin nan selalu dipuji urang sebagai > gubernur terhebat di Jakarta. Tapi banyak urang indak tahu, paling sedikit > lupo, bahwa Bang Ali pernah menggampar seorang sopir truk di jalan Bypass, > Jaktim, ketika sebuah truk (yang tidak tahu di belakang mobil gubernur) > dengan sengaja menghalang-halangi jalan mobil Bang Ali yang sedang bergegas > untuk sebuah urusan. > > Contoh kedua yang lebih terkenal, perseteruan Bang Ali dengan para ulama > (termasuk Buya Hamka), ketika Bang Ali bilang akan melokalisasi pelacuran > dan perjudian. Ada bagian dari dana lokalisasi itu yang dijadikan tambahan > APBD untuk membangun jalan-jalan Jakarta. Ketika para ulama keberatan, Bang > Ali enteng saja bilang, "Kalau begitu silakan para ulama naik helikopter > saja di Jakarta, tidak perlu menggunakan jalan raya." > > Manuruik ambo, Ahok punya peluang menjadi, bahkan melebihi, Ali Sadikin > dalam soal ketegasan. Tentu selama dia jujur, tegas, dan terus berorientasi > pada kepentingan publik seperti keberaniannya mengusir ES kemarin. Kalau > nanti dia terbukti sama saja dengan Gubernur Jakarta lain (bahkan hanya > untuk membersihkan Monas saja ternyata tak pernah dilakukan selama 22 > tahun! Bayangkan berapa periode gubernur itu?), kalau nanti ADA BUKTI Ahok > juga menyia-nyiakan amanah, tentu harus dikritik pula. > > 5. Tapi saat ini, keberaniannya kepada ES harus dipuji. Jangan karena dia > non-muslim seakan-akan tindakannya tidak ada arti pentingnya sama sekali. > Bahkan oleh Mak MM*** disamakan dengan kisah "lonte yang menolong anjing" > dari hadis Nabi oleh Mak MM. Dari mana perbandingan (*muqaranah)* > seperti muncul bahwa Ahok = lonte? > > Apakah Mak MM seorang muhadditsin yang sangat memahami prinsip *gayah as > sanad* (yakni matan/isi hadis sebagai tujuan sanad sebuah hadits), > sehingga dengan mudahnya mengambil hadis "lonte penolong anjing" dan > melekatkannya pada sosok Ahok -- hanya karena Mak MM tidak suka Ahok yang > non-muslim? Tetapi sangat mungkin pengetahuan ambo yang indak ado tentang > konsep *dirasah al-mu'ardhah* sebuah hadits sehingga ambo nan indak > paham. Ado baiaknyo Mak MM menjelaskan agar tacaliek di ma hubungan antara > "lonte" dan Ahok itu. > > (Ini di luar kesalahpahaman masyarakat selama ini -- termasuk yang > dipercayai Mak MM ternyata -- tentang "lonte/pelacur yang karena memberi > minum anjing kehausan sehingga dia masuk surga", ternyata *syarah* hadits > itu dalam kitab Riyadush Shalihin tidak begitu. Tidak pernah ada redaksi > "masuk surga" dari hadist itu, selain sang pelacur "diampuni dosanya". > Redaksi "masuk surga" itu ada pada hadist lain tentang seorang LAKI-LAKI > yang berbuat kebaikan serupa dan diriwayatkan oleh muttafaq 'alaih. Jadi, > redaksi hadits yang dikutip Mak MM pun bermasalah. Tetapi ini adalah soal > lain. Untuk saat ini, cukuplah palanta diberi penjelasan mengapa cap > "lonte" bisa disematkan kepada Ahok oleh Mak MM***) > > Selamat berhari Jumat, semoga Allah selalu memberikan rahmat dan > ampunan-Nya kepada kita yang dhaif. > > Allahu a'lam. > > Wass, > > ANB > 46, Cibubur > > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
