*Kamis, 12 Juni 2014*

*"Perbawa Prabowo" | catatan wartawan*

<http://3.bp.blogspot.com/-eamidRZfWkQ/U5kXW449LOI/AAAAAAAAslU/Kveot3ooutE/s1600/prabowo+capres.jpg>

*Oleh: Kafil Yamin*

MESKI saya wartawan, saya tak pernah berjumpa langsung dengan Prabowo.
Dengan sejumlah jenderal lain pernah. Karena itu, pengetahuan saya tentang
Prabowo Subianto – saya kira pengetahuan kebanyakan orang – berasal dari
sumber-sumber kedua atau ketiga. Misalnya dari media yang mengutip beberapa
pernyataannya. Dan media itu mengutip pula dari media lain. Atau dari
cerita sesama wartawan. Kebanyakan menjelaskan salah satu sisi pribadinya.
Dan sisi itu yang itu-itu juga: Jenderal pelanggar HAM, anti asing,
penculik aktivis.

Maka, yang tergambar di kepala saya adalah seorang yang otoriter,
menakutkan, tinggi hati.

Sejak lama, Prabowo memang bukan figur kesayangan media, seperti sejumlah
tokoh lain. Lelaki yang suka berkebun ini hampir tak pernah menjadi
narasumber wartawan untuk berita-berita politik, sosial atau budaya. Iya
hanya dimintai komentar untuk isu-isu yang menyangkut citra kelabu dirinya.

Dan memang, Prabowo sendiri tak suka melayani wartawan. Ia bukan seorang
pencitra diri. Ini pernah dikatakannya kepada seorang wartawan asing: “One
of my weaknesses is dealing with the media, with the people like you [Salah
satu kelemahan saya adalah berhadapan dengan media, dengan orang seperti
anda].”

Saya bisa bayangkan, betapa tidak nyaman wartawan silih berganti datang
kepadanya hanya untuk mengulang-ulang pertanyaan: “Apakah anda bertanggung
jawab atas penculikan aktivis? Kenapa anda merencanakan kudeta? Kenapa anda
dipecat?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sudah dia jawab berulangkali, dengan
logika bersahaja, dengan bahasa yang sangat lugas. “Saya memimpin tiga
puluh empat battalion waktu itu. Jika saya mau ambil alih kekuasaan, apakah
ada yang bisa mencegah saya? Dan cukup banyak yang mendorong saya untuk
itu. Tapi itu tidak saya lakukan. Kenapa? Karena saya prajurit. Dan
prajurit itu penjunjung dan penjaga konsititusi,” tegasnya suatu saat
kepada seorang wartawan asing, dalam bahasa Inggris yang sangat bagus.

Tapi berita yang menyebar tetap saja citra-citra yang tadi: Pelanggar HAM,
penanggung jawab Tragedi Semanggi. Prabowo tak pernah menggugat media, tak
pernah mengkanter. Ia terus menjawab pertanyaan, meskipun
jawaban-jawabannya menguap dalam sentiment negatif massa anti Soeharto.

Dan setiap musim pilpres, saat namanya muncul sebagai calon presiden,
isu-isu itu mengemuka lagi. Di luar ‘musim’ itu, saya beberapa kali
menonton wawancaranya tentang ekonomi dan kewirausahaan. Saya tertarik pada
minatnya yang kuat untuk membangun ekonomi rakyat. Dia berbicara sebagai
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia [HKTI]. Dia punya banyak data
tentang ekonomi masyarakat, jumlah pasar tradisional yang tergusur mall,
bank yang lebih berpihak kepada pengusaha besar, pertanian yang makin
terpinggirkan, perairan-perairan Indonesia yang dimalingi nelayan asing,
dsb.

Gaya bicaranya umum saja. Bukan gaya seorang orator. Tapi lugas dan jelas,
dengan bahasa yang rapih, mencerminkan pikirannya yang runut dan tertib.
Tidak meledak-ledak. Enak untuk disimak – bagi mereka yang mementingkan isi
ketimbang gaya. Ia lebih tampak sebagai pemikir.

Ketika ia mencalonkan lagi di musim pilpres sekarang, dan peluangnya lebih
besar dari waktu-waktu sebelumnya, saya sudah menduga serangan kepadanya
soal HAM akan meningkat. Dan memang terjadi. Dari pengguna fesbuk sampai
pengamat, dari intelektual abal-abal sampai jenderal, mulai ‘nyanyi’ lagi
soal ‘catatan masa lalu’ sang Jenderal, soal istri, soal haji sampai soal
ngaji. Saya khawatir dia tak akan kuat menghadapi gugatan, sinisme, hujatan
yang begitu luas. Beberapa tokoh yang tadinya tak pernah berkonfrontasi
dengan Prabowo, kini ikut menembaknya, demi mengambil hati konstituen
politik. Prabowo mungkin akan menyerang balik. Akan meradang.

Tibalah acara pengumuman daftar nomor urut capres dan cawapres. Prabowo
akan datang dengan penampilan jumawa di hadapan orang-orang, pikir saya.
Dengan koalisi besar di belakangnya, dengan dukungan lebih besar, dia akan
langsung duduk di tempatnya dan membiarkan perhatian orang tertuju
kepadanya.

Tidak. Dia masuk, menghampiri semua tokoh yang hadir, dan para tokoh pun
berdiri. Terasa sekali wibawa dan kharisma Prabowo di ruangan itu. Ia pun
menghampiri pesaingnya Jokowi dan Jusuf Kalla, dan Megawati yang tidak ikut
berdiri, memberi hormat. Menyalami mereka. Sungguh pemandangan seorang
ksatria, setidaknya bagi saya.

Kemudian dia maju; menyampaikan pidato singkat. Dia menyampaikan
penghargaan kepada seluruh yang hadir. Menyebut nama mereka satu persatu.
Menyebut nama pesaingnya Jokowi dan Jusuf Kalla dengan hormat.

Tampil Jokowi, figur merakyat dan sederhana, dia malah kampanye. Dan tidak
memberi salam kepada Prabowo-Hatta.

Tiba saat deklarasi pemilu damai. Lagi-lagi Prabowo berpidato dengan
menyejukkan semua pihak; menyebut Jokowi dan Kalla sebagai “saudara saya
juga”. Meski Jokowi tak membalas keramahan Prabowo, tapi saya makin jatuh
hati pada Prabowo. Orang-orang meramaikan sikap Jokowi yang kaku dan
terlihat tegang.

Sampai menjelang debat capres 9 Juni kemarin, saya sudah berpikiran saya
tidak akan melihat Prabowo beradu argumentasi ala debat. Saya sudah menduga
dia akan berbicara seperti biasa, lebih memusatkan diri pada penyampaian
pikiran ketimbang mengundang simpati.

Tapi bagaimana kalau dia dikorek-korek soal pelanggaran HAM di hadapan
ratusan juta pasang mata melalui siaran langsung teve? Ingat para politisi
kita yang mudah sekali meledak kalau tersinggung, terlihat di layar teve.
Prabowo bisa begitu, saya kira.

Dan momen itu datanglah: Debat Capres. Orang-orang mungkin mengharapkan
Prabowo akan tampil sebagai pendebat ulung, dan itu tidak susah baginya.
Saya sudah orasi-orasi hebat. Itu hanya untuk kepuasaan sesaat. Obama hanya
menarik saat kampanye karena kepiawaiannya berpidato, setelah jadi Presiden
sama membosankannya dengan Bush.

Saya tidak perlu Prabowo yang berapi-api dan beragitasi. Dan saya senang
karena ternyata dia tampil sangat ‘biasa-biasa saja’. Namun yang di luar
dugaan saya, dia seperti tidak punya keinginan untuk mengungguli Jokowi-JK,
padahal saya tau dalam suatu wawancara dia ‘menghabisi’ wartawan Asia News
Channel, dengan logika cerdas. Dan si wartawan bule itu pun mengkerut.

Ia tidak lakukan ini kepada Jokowi. Bahkan ketika diberi kesempatan
bertanya kepada Jokowi, Prabowo ‘hanya’ menanyakan yang datar-datar saja,
bagaimana cara Jokowi nanti menangani tuntutan tuntutan pemekaran wilayah
dan pilkada yang berbiaya mahal. Ia tidak menanyakan soal kasus korupsi
Trans-Jakarta, atau ingkar janjinya kepada masyarakat Jakarta. Dia tidak
menyerang. Dia tidak tendensius. Dia tidak meninggikan diri.

Sebaliknya, Jokowi berkali-kali menyebut dirinya ‘yang terbaik’ di PDIP.
Dan ‘rekam jejak’. Dan ketika diberi kesempatan bertanya kepada Prabowo,
yang sudah diduga itu muncul: Jusuf Kalla mempersoalkan pelanggaran HAM
Prabowo di masa lalu.

Yang diluar dugaan saya, Prabowo cukup menjelaskan bahwa dia prajurit yang
melaksanakan tugas. Dia tidak ‘membongkar’ atasannya. Hanya menyarankan
Kalla untuk bertanya kepada atasannya waktu itu. Tentu dia bisa menambahkan
kalimat: “Yang sekarang berada di kubu Bapak.” Tapi tidak.

Inikah jenderal penculik itu? Jenderal kejam itu? Perencana makar itu? Kok
begitu pengalah. Begitu santun. Begitu hormat. Gambaran tentang Prabowo
berbahan ‘informasi seken’ di kepala mendadak berubah. Saya jatuh cinta
padanya.

Bagi saya itu sudah cukup. Tak perlu ada debat Capres kedua, ketiga.

Apakah ia sedang ber-acting? Sedang mematut-matut diri? Untuk mendapat
simpati publik? Alhamdulillah, berbekal 20 tahun lebih hidup sebagai
wartawan, saya tau persis mana sikap yang dibuat-buat, mana polesan, dan
mana yang asli dari dalam. Prabowo jelas tidak pandai ber-acting. Itu
adalah perbawa Prabowo.

Tunggu. Tapi kenapa sejak lama ia dicitrakan sedemikian buram, bahkan oleh
beberapa petinggi TNI? Oleh lingkaran kekuasaan? Jawabannya adalah kisah
klasik tentang Pangeran pewaris tahta di antara para petinggi kerajaan yang
mengincar kekuasaan sang raja yang tengah udzur. Sang Pangeran terlalu
cemerlang, ia hambatan terbesar bagi para peminat kekuasaan. Dan kerena itu
harus ada jalan untuk menyingkirkannya. Dan Prabowo pun tersingkir dari
lingkaran kekuasaan sedemikian lama.

Prabowo pun berminat pada kekuasaan, tapi dengan dorongan untuk menjadikan
negerinya terhormat, seperti yang saya dambakan. Dia ingin naik kepada
kekuasaan atas kehendak rakyat yang dicintainya. Dia membangun partai. Dia
pasang iklan. Semua yang ia lakukan dalam usaha itu berdasarkan konstitusi,
aturan dan etika.

Bagi saya, Prabowo adalah obat ‘herbal’ bagi masyarakat politik Indonesia
sekarang yang kehilangan keindonesiaannya: saling serang, saling hujat,
saling sikut, mengabaikan rasa malu. Pelipur bagi mental gampangan para
pemimpin negeri ini: memberi konsesi kepada penanam modal asing adalah
‘prestasi’. Dan karena itu, di atas bumi yang kaya raya ini, manusianya
miskin dan negaranya pengutang besar.

Prabowo ingin Indonesia berdaulat, terhormat dan bermartabat. Pesaingnya
juga pasti menginginkan demikian. Kalau semua pihak berkeinginan dan
berniat sama, tak perlu saling menjatuhkan. Saya yakin begitu pikiran
Prabowo. Saya menaruh kepercayaan pada orang ini. []

*sumber: https://www.facebook.com/notes/10152250508429143/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke