Sabtu, 28-06-2014

*Indonesia Tenyata Memiliki 8 Presiden. *


 1. Mr Asa'at Gelar Datuk Mudo. Asal Banuhampu, Bukittinggi.
2. Mr Sjafruddin Prawiranegara. Asal Banten; dan kakek buyutnya asal
Kerajaan Pagaruyung, Batusangkar, pimpinan Perang Paderi (1803 - 1838) yang
ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke ANYER, Banten, kampung bangsawan
Banten Prawiranegara.

Urutan Presiden RI adalah sebagai berikut: Soekarno (diselingi oleh
Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat), Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman
Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.


MUNGKIN masih banyak dari rakyat Indonesia yang beranggapan bahwa Indonesia
hingga saat ini baru dipimpin oleh enam presiden, yaitu Soekarno, Soeharto,
B.J. Habibie, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, dan
kini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Namun hal itu ternyata keliru. Indonesia, menurut catatan sejarah, hingga
saat ini sebenarnya sudah dipimpin oleh delapan presiden. Lho, kok bisa?
Lalu siapa dua orang lagi yang pernah memimpin Indonesia?


 Dua tokoh yang terlewat itu adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Mr.
Assaat. Keduanya tidak disebut, bisa karena alpa, tetapi mungkin juga
disengaja. Sjafruddin Prawiranegara adalah Pemimpin Pemerintahan Darurat
Republik Indonesia (PDRI) ketika Presiden Soekarno dan Moh. Hatta ditangkap
Belanda pada awal agresi militer kedua, sedangkan Mr. Assaat adalah
Presiden RI saat republik ini menjadi bagian dari Republik Indonesia
Serikat (1949).

Pada tanggal 19 Desember 1948, saat Belanda melakukan agresi militer II
dengan menyerang dan menguasai ibu kota RI saat itu di Yogyakarta, mereka
berhasil menangkap dan menahan Presiden Soekarno, Moh. Hatta, serta para
pemimpin Indonesia lainnya untuk kemudian diasingkan ke Pulau Bangka. Kabar
penangkapan terhadap Soekarno dan para pemimpin Indonesia itu terdengar
oleh Sjafrudin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri
Kemakmuran dan sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat.


 *Mr. Sjafruddin Prawiranegara*
Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Sjafrudin mengusulkan dibentuknya
pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI. Padahal, saat itu
Soekarno – Hatta mengirimkan telegram berbunyi, “Kami, Presiden Republik
Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam
6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu Kota Jogjakarta. Djika
dalam keadaan pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami
menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI
untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra”.

Namun saat itu telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi. Meski
demikian, ternyata pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah
mengambil inisiatif yang senada. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai
Sianok Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu
pemerintah darurat (emergency government). Gubernur Sumatra Mr. T.M. Hasan
menyetujui usul itu “demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang
berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi
syarat internasional untuk diakui sebagai negara”. Seperti dikutip dari
viva.co.id.


 Pada 22 Desember 1948, di Halaban, sekitar 15 km dari Payakumbuh, PDRI
“diproklamasikan” . Sjafruddin duduk sebagai ketua/presiden merangkap
Menteri Pertahanan, Penerangan, dan Luar Negeri, ad. interim. Kabinatenya
dibantu Mr. T.M. Hasan, Mr. S.M. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti
Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Adapun Jenderal Sudirman
tetap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang.

Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada
tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah riwayat
PDRI yang selama kurang lebih delapan bulan melanjutkan eksistensi Republik
Indonesia.


 *Mr. Assaat*
Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di
Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan
kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS terdiri dari 16 negara bagian,
salah satunya adalah Republik Indonesia. Negara bagian lainnya seperti
Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain.


Karena Soekarno dan Moh. Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan
Perdana Menteri RIS, maka berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik
Indonesia.


 Assaat adalah Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Peran Assaat sangat
penting. Kalau tidak ada RI saat itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah
Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan kemudian muncul lagi. Namun,
dengan mengakui keberadaan RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak
bahwa sejarah Republik Indonesia sejak tahun 1945 tidak pernah terputus
sampai kini. Kita ketahui bahwa kemudian RIS melebur menjadi Negara
Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Agustus 1950. Itu berarti, Assaat
pernah memangku jabatan Presiden RI sekitar sembilan bulan.
Nah fren, dengan demikian, SBY adalah presiden RI yang ke-8.

Sumber: Idznews.com & kaskus.co.id


<http://kaskus.co.id>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke