Sedih banget ceritanya...ndak taraso sasak dado langsuang
mambaconyo..dek tabao ibo ati ka si Eric..

On 18 Mar, 00:50, "YPC - 19 Azizar Aras" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Maaf kalau tidak tepat hanya sekedar share dari milis sebelah
>
> _____________________________________________
>
> JANGAN BENCI AKU, MAMA...
>
> Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
> wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
> memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini
> memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain
> saja untuk dijadikan
> budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa
> saya membesarkannya juga.
>
> Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali
> seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica.
> Saya sangat
> menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya
> pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang
> indah-indah.
> Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel
> pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya
> dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan
> saya.
>
> Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4
> tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang
> semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat
> saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran
> saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan
> begitu saja.
>
> Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual
> untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah
> berlalu sejak kejadian itu.
>
> Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia
> Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat
> buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit
> demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur
> 12 tahun dan kami
> menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang
> ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.
>
> Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak.
> Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya.
> Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu
> cekali pada Mommy!"
> Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya,
> "Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"
> "Nama saya Elic, Tante."
> "Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"
>
> Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai
> perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba
> terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film
> yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya
> perbuatan saya dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya
> harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang
> akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric
> melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu
> Eric...
>
> Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad
> dengan pandangan heran menatap saya dari samping.
> "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"
> "Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang
> telah saya lakukan dulu." Tapi aku menceritakannya juga dengan
> terisak-isak. ..
> Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang
> begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar
> dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada
> gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat
> betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric..
>
> Eric...Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan
> perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu
> yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa
> pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan
> kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya
> ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil
> seraya mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya
> mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu
> dikenakan Eric sehari-harinya. ..
>
> Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun
> keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu
> saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil
> untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di
> belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap
> sekali.
>
> Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia
> seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba
> menegur saya dengan suaranya yang parau.
>
> "Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"
> Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan
> seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"
> Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!
> Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini,
> Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena
> tidak tega, saya
> terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya.
> Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah,
> namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan
> yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis
> setiap hari selama
> bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..."
>
> Saya pun membaca tulisan di kertas itu...
> "Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi.....? Mommy marah sama
> Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji
> kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."
>
> Saya menjerit histeris membaca surat itu.
> "Bu, tolong katakan... katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan
> meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong
> katakan..!!" Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
>
> "Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah
> meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat
> kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di
> belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila
> Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam
> sana ... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk
> ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus
> bersikeras menunggu Nyonya di sana . Nyonya,dosa anda tidak terampuni!"
>
> Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.
>
> (kisah nyata dari Irlandia Utara)
>
> Copyright © 2004 SUARA MERDEKA
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke