Hasil perhitungan real count oleh kawalpemilu.org , lembaga independen relawan, hampir sama dengan quick count 7 lembaga survey. jadi yang sesat manusia yang tidak yakin dengan metode ilmiah yang::"benar" atau lembaga survei yg benar2 menyesatkan. Salam
2014-07-16 19:25 GMT+07:00 Dedi Suryadi <[email protected]>: > Sesat Pikir Quick Count > > 14 July 2014 12:00 WIB > > Pemilihan presiden (pilpres) telah usai dilaksanakan dengan menyisakan > permasalahan terhadap kepastian pemenang. Penyebab dasarnya adalah adanya > hasil quick count (QC) yang berbeda di antara lembaga survei. > Pertanyaannya, mahluk apakah QC tersebut? Bagaimana kita harus memahami QC > agar tidak terjadi sesat pikir? Peristiwa pilpres ini adalah momentum > penting dalam mengubah wajah Indonesia. > > Kontroversi yang timbul dari perbedaan hasil QC jika dibiarkan dapat > memicu konflik horizontal yang merugikan masyarakat luas. Menyikapi kondisi > tersebut maka Kelompok Peneliti Survey Research Methodology, Departemen > Statistika IPB, menyatakan keprihatinan dan berharap agar semua pihak dapat > menahan diri. Diharapkan agar masyarakat dapat menyikapi perbedaan hasil QC > dengan beberapa perspektif berikut ini. > > Pertama, QC berada pada ranah ilmiah, sehingga pelaksanaannya harus > mengedepankan nilai-nilai etika, integritas, objektivitas, dan kebenaran. > QC bertujuan untuk menduga persentase perolehan suara dalam pemilihan umum > (pileg/pilpres/pilkada). Hasil dugaannya bisa berbeda-beda antar-survei, > serta kecil kemungkinannya untuk tepat sama dengan hasil perhitungan KPU. > QC dengan hasil selisih perolehan suara yang lebih kecil atau sama dengan > dua kali sembir galat (margin of error) tidak akan mampu membedakan antara > pihak yang menang dan yang kalah. > > Kedua, QC merupakan bentuk khusus dari survei (sample survey) dengan > tujuan untuk menduga (to estimate) parameter populasi, yaitu persentase > perolehan suara secara keseluruhan. Parameter itu belum diketahui sampai > saatnya nanti diumumkan oleh KPU. Ketiga, karena QC itu merupakan survei, > maka agar hasil QC itu bisa dipercaya harus memenuhi dua prinsip utama, > yaitu contoh (sample) harus representatif dan jumlahnya cukup. > > Keempat, hasil dari QC merupakan dugaan terhadap perolehan suara yang > sesungguhnya (true value) dari peserta pemilu. Karena hasil QC adalah > dugaan, maka sudah pasti ada kesalahan di dalamnya, yang disebut sebagai > galat (error), sehingga kecil kemungkinan hasil QC akan tepat sama dengan > hasil penghitungan KPU. Kelima, sebagai suatu survei, maka QC tunduk pada > sifat-sifat survei yaitu mengandung galat percontohan (sampling error) dan > galat bukan percontohan (non-sampling error); semakin besar ukuran contoh, > semakin kecil galat percontohannya; hasil dari satu survei ke survei yang > lain hampir pasti berbeda; berpotensi mengandung bias jika salah merancang > pengambilan contohnya dan jika terdapat banyak TPS yang tidak berhasil > dikumpulkan datanya. > > Keenam, QC memiliki "dadu bersisi tiga" yang masing masing sisinya > mencerminkan ukuran contoh, tingkat kepercayaan, dan sembir galat. Ketiga > sisi ini tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Jika ukuran contoh > membesar, maka tingkat kepercayaan kita terhadap hasil QC meningkat karena > sembir galatnya mengecil. > > Ketujuh, apabila selisih perolehan suara dari suatu QC lebih kecil atau > sama dengan dua kali sembir galat, maka hasil dari QC itu tidak akan mampu > membedakan mana yang menang dan mana yang kalah, atau bersifat inkonklusif. > Hasil yang inkonklusif ini tidak dapat dijadikan dasar untuk mengatakan > bahwa QC tersebut salah. Kesembilan, QC jika dirancang dengan baik dan > dilaksanakan dengan benar akan memberikan hasil yang memuaskan dalam arti > ketepatannya dan ketelitiannya dapat diukur. > > Lalu bagaimana cara menyikapi perbedaan hasil QC oleh beberapa lembaga > survei yang menghebohkan itu? Pilpres yang telah berjalan dengan lancar dan > aman seharusnya tidak dicederai oleh perbedaan hasil QC karena berpotensi > merusak wajah demokrasi yang sedang dibangun oleh bangsa ini. Karena itu > sikap-sikap berikut penting dikedepankan oleh kita semua. > > Pertama, kredibilitas dari suatu survei tidak dapat dihakimi hanya dari > hasilnya, melainkan harus dinilai dari perencanaan, implementasi, sampai ke > hasilnya. Kedua, penting dan mendesak untuk dilakukan audit terhadap > seluruh penyelenggara QC yang mencakup sampling design, proses pengumpulan > data, manajemen data, analisis dan penarikan kesimpulan, serta kualifikasi > SDM dan ketersediaan perangkat pendukung untuk dapat melaksanakan QC dengan > benar. > > Ketiga, sebaiknya kita semua bersabar menunggu hasil KPU yang akan > diumumkan tanggal 22 Juli yang akan datang. Bagi relawan dan pihak-pihak > yang berada di kedua belah pihak penting untuk mengawal proses penghitungan > oleh KPU untuk meminimalkan terjadinya kesalahan penghitungan suara. > Keempat, jika masih terjadi silang sengkarut pascapenghitungan langsung > oleh KPU, maka sebaiknya ditempuh jalur hukum melalui Mahkamah Konstitusi. > > Dalam menyikapi hasil QC, kita perlu mengedepankan cara berpikir > induktif-probabilistik, bukan cara berpikir deduktif-deterministik. Pola > pikir induktif-probabilistik dalam QC adalah bahwa dengan mengamati > sebagian hasil TPS, kita ingin menduga hasil dari keseluruhan TPS yang > dilakukan secara cacah lengkap oleh KPU. > > Sesat pikir QC dapat terjadi karena hasil QC dipahami sebagai hasil final > layaknya hasil KPU. Seharusnya QC dipandang sebagai patokan saja, dan untuk > keputusan akhirnya harus didasarkan pada cacah lengkap. Ini tidak berarti > bahwa kita meragukan kebenaran dan nilai penting dari teori percontohan > melainkan karena kita sedang mengambil keputusan yang penting dan krusial. > Kesalahan memutuskan pemenang pilpres bisa berimplikasi luas dan kompleks. > > Memang tidak mudah ketika survei dilaksanakan berbarengan dengan > kepentingan politik. Karena kepentingan bisa jadi mengalahkan kebenaran. > Mudah-mudahan pilpres yang berlangsung di saat bulan Ramadhan bukan sebuah > kebetulan, tetapi ini pertanda dari Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa kejujuran > dan integritas serta ketakwaan yang tinggi menjadi landasan berpikir, > berpijak, dan bersikap dari semua pihak untuk menghasilkan pemimpin yang > adil dan amanah sehingga mampu membawa Indonesia ke gerbang baldatun > thayyibatun wa Rabbul ghofuur. > > Khairil Anwar Notodiputro > Guru Besar Statistika IPB, Ketua Kelompok Peneliti Survey Research > Methodology > > > m.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/14/07/14/n8or8849-sesat-pikir-quick-count > > Wassalam dan terimakasih > dedi suryadi > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- Zorion Anas (+62)085811292236 [email protected], [email protected] -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
