Robohnya Surau Kami
karya AA Navis
"Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu
teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk
anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling
menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya-raya, tapi kau malas. Kau
lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak
membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping
beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku
ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan
menyembahku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka.
Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang
bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah
ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan
kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke
jalan sempit itu. Dan di ujung jalan itu nanti akan Tuan temui sebuah surau.
Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran
mandi. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang
biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaanya dan ketaatannya
beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu.
Orang-orang memanggilnya Kakek.
Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang
dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari
hasil pemunggahan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang
mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia
lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan
pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah
meminta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan
pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang
minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling
sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum. Tapi kakek ini
sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal.
Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya
sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan
yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di
malam hari. Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang
mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian cepat
berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan
mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia
sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi. Dan biang
keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal
kebenarnya.
Beginilah kisahnya. Sekali hari aku datang pula mengupah kepada Kakek. Biasanya
Kakek gembiri menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini
Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang
tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang
mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan
halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek.
Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak
disahutinya seperti saat itu.
Kemudian aku duduk di sampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek:
"Pisau siapa, Kek?" "Ajo Sidi." "Ajo Sidi?" Kakek tak menyahut.
Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku
ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya yang aneh-aneh sepanjang
hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya.
Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang
diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo
akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak
pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor
katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan jadi pemimpin berkelakuan
seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pemimpin tersebut kami sebutkan
pemimpin katak.
Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah
Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan
Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi: "Apa ceritanya, Kek?"
"Siapa?" "Ajo Sidi."
"Kurang ajar dia." Kakek menjawab.
"Kenapa?" "Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini,
menggoroh tenggoroknya."
"Kakek marah?"
"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam.
Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya,
ibadatku rusak karenanya.
Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah
begitu lama aku menyerahkan diriku kepada-Nya.Dan Tuhan akan mengasihi orang
yang sabar dan tawakal."
Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku
tanya lagi Kakek: "Bagaimana katanya, Kek?" Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya
bercerita barangkali.
Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku. "Kau
kenal padaku, bukan? Sedari kecil aku sudah di sini. Sedari mudaku, bukan? Kau
tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki
Tuhankah semua pekerjaanku?"
Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka
mulutnya, di takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaanya sendiri.
"Sedari mudaku aku di sini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya
keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku
tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan
kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat
seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan
neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku
kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak Kupikirkan hari esokku,
karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih penyayang kepada umat-Nya yang
tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan
manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu.
Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. Alhamdulillah kataku
bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut.
Masya-Allah, kataku bila aku kagum.Apalah salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini
aku dikatakan manusia terkutuk." Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan
tanyaku: "Ia katakan Kakek begitu, Kek?" "Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi
begitulah kira-kiranya." Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas
kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi. Tapi aku lebih ingin
mengetahui apa ceritanya Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek.
Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita
juga. "Pada suatu waktu," kata Ajo Sidi memulai, "di akhirat Tuhan Allah
memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di
samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu
banyaknya orang yang diperiksa. Maklumlah di mana-mana ada perang.
Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia dinamai
Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin
akan dimasukkan ke surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil
membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang
yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat
orang yang masuk surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan
"selamat ketemu nanti". Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu
panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa
dengan segala sifat-Nya. Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil
tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.
"Engkau?" "Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku."
"Aku tidak tanya nama. Nama bagiku tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia."
"Ya, Tuhanku."
"Apa kerjamu di dunia?"
"Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku."
"Lain?"
"Setiap hari, setiap malam, bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu."
"Lain?"
"Segala tegah-Mu, kuhentikan, Tuhanku. Tak pernah aku berbuat jahat, walaupun
dunia seluruhnya penuh oleh dosa-dosa yang dihumbalangkan iblis laknat itu."
"Lain?"
"Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu,
menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu
menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu
untuk menginsafkan umat-Mu."
"Lain?"
Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia
kerjakan. Tapi ia insaf, bahwa pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu
ada lagi yang belum dikatakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah
menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia
termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan
kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya
mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.
"Lain lagi?" tanya Tuhan.
"Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan
Penyayang, Adil dan Mahatahu."
Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan
dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah
tanya kepadanya. Tapi Tuhan bertanya lagi: "Tak ada lagi?"
"O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu."
"Lain?" "Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang aku lupa
mengatakannya, aku pun bersyukur karena Engkaulah yang Mahatahu."
"Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan
tadi?"
"Ya, itulah semuanya, Tuhanku."
"Masuk kamu."
Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak
mengerti kenapa ia dibawa ke neraka. Ia tak mengerti yang dikehendaki Tuhan
daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap. Alangkah tercenggangnya Haji
Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus,
merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya,
karena semua orang-orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya
dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali
ke Mekah dan bergelar syekh pula.
Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan
semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.
"Bagaimana Tuhan kita ini?" kata Haji Saleh kemudian,
"Bukankah kita disuruhnya-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua
sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka."
"Ya, Kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang se-negeri dengan kita semua,
dan tak kurang ketaatannya beribadat." "Ini sungguh tidak adil." "Memang tidak
adil," kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh."Kalau begitu, kita
harus minta kesaksian atas kesalahan kita." "Kita harus mengingatkan Tuhan,
kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini."
"Benar. Benar. Benar." Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh. "Kalau Tuhan
tak mau mengakui lesilapan-Nya, bagaimana?" suatu suara melengking di dalam
kelompok orang banyak itu.
"Kita protes. Kita resolusikan," kata Haji Saleh."Apa kita revolusikan juga?"
tanya suara lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.
"Itu tergantung pada keadaan," kata Haji Saleh.
"Yang penting sekarang, mari kita berdemontrasi menghadap Tuhan." "Cocok
sekali. Di dunia dulu dengan demontrasi saja banyak yang kita peroleh,"sebuah
suara menyela.
"Setuju. Setuju. Setuju." Mereka bersorak beramai-ramai. Lalu mereka
berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan. Dan Tuhan bertanya. "Kalian mau apa?"
Haji Saleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara
menggeletar dan berirama indah, ia memulai pidatonya: "O, Tuhan kami yang
Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat
beribadat, yang paling taat menyembah-Mu. Kamilah orang-orang yang selalu
menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, mempropagandakan keadilan-Mu, dan
lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikit pun
kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa, setelah kami Engkau
panggil kemari, Engkau masukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal
yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami
menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ditinjau kembali dan
memasukkan kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu."
"Kalian di dunia tinggal di mana?" tanya Tuhan. "Kami ini adalah umat-Mu yang
tinggal di Indonesia, Tuhanku."
"O, di negeri yang tanahnya subur itu?"
"Ya, benarlah itu, Tuhanku."
"Tanahnya yang mahakaya-raya, penuh oleh logam, minyak dan berbagai bahan
tambang lainnya bukan?"
"Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami." Mereka mulai menjawab
serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan
yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada
mereka itu.
"Di negeri, di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa ditanam?"
"Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami." "Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami."
"Negeri yang lama diperbudak orang lain?"
"Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku."
"Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkutnya ke negerinya,
bukan?"
"Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka
itu."
"Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi,
sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?"
"Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang
penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau." "Engkau rela tetap
melarat, bukan?"
"Benar. Kami rela sekali, Tuhanku."
"Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?" "Sungguhpun
anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka
hafal di luar kepala."
"Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya,
bukan?"
"Ada, Tuhanku."
"Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya
semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu
mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu,
saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya-raya, tapi kau malas. Kau lebih
suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak
membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping
beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku
ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan
menyembahku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka.
Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya."
Semua jadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang
apa jalan yang diredhai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian
apakah yang dikerjakannya di dunia itu salah atau benar.
Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang
mengiring mereka itu. "Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan
di dunia?" tanya Haji Saleh.
"Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri.
Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau
melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri,
sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar,
terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi
engkau tak memperdulikan mereka sedikit pun."
Demikian cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan
Kakek. Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa
aku tak pergi menjenguk. "Siapa yang meninggal?" tanyaku kaget. "Kakek."
"Kakek?" "Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang
mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur."
"Astaga. Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan
istriku yang tercengang-cengang. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku
berjumpa sama istrinya saja. Lalu aku tanya dia. "Ia sudah pergi," jawab istri
Ajo Sidi.
"Tidakkah ia tahu Kakek meninggal?"
"Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh
lapis."
"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh
perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, "dan sekarang ke
mana dia?"
"Kerja.""Kerja?" tanyaku mengulangi hampa."Ya. Dia pergi kerja."
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---