Idul fitri, adalah saatnya berkumpul dengan keluarga, dari berbagai tempat jauh 
di perantauan orang menempuh perjalanan jauh demi bertemu dg keluarga di hari 
yg suci tersebut.

tak hanya dari dalam negeri, dari luar negeri pun perantauan Indonesia, pulang 
ke negeri nya.
berikut sekelumit kisah perjalanan mudik para perantau di luar negeri

silahkan baca di link berikut ; kisah mudik dengan pesawat "bumel"
  
             
kisah mudik dengan pesawat "bumel"
Kalau kita biasa naik bis antar kota, kita mengenai ada bis Patas AC yg nyaman 
dan langsung ke tujuan, namun ada juga bis kelas ekonomi murah meriah yg s...  
View on wp.me Preview by Yahoo  
  

salam
Hendra M
-------------------
Kalau kita biasa naik bis antar kota, kita mengenai ada bis Patas AC yg nyaman 
dan langsung ke tujuan, namun ada juga bis kelas ekonomi murah meriah yg sering 
berhenti di tiap terminal, di kenal juga dg istilah bis “bumel”. Demikian juga 
kalau kita naik pesawat terbang,baik penerbangan local ataupun internasional 
ada juga pesawat seperti bis bumel tsb, dikenal dengan istilah budget airline.
Saat bulan Juli-Agustus, saat musim panas di negeri timur tengah yang adalah 
juga musim liburan, tahun2 ini, waktunya bersamaan juga dengan saat Ramadan dan 
lebaran. Jadi para pekerja Indonesia yg banyak bekerja di negeri timur tengah, 
saat hendakpulang mudik lebaran, agak susah juga mendapatkan tiket, karena 
banyak pesanan tiket oleh orang2 yg berlibur. Jalur penerbangan dari Abu Dhabi 
ke Jakarta pun jadi penuh dan mahal tiketnya. Tahun lalu waktu pulang mudik 
sendirian, karena terlambat pesan tiket, saya sampai kehabisan tiket untuk 
penerbangan ke Jakarta, wah sedih juga bakalan gak jadi lebaran dg keluarga nih.
Akhirnya ada seorang agen tiket langganan yang memberi tahu, bahwa masih ada 
tiket tersedia untuk tujuan Jakarta, tapi dengan salah satu budget airline dan 
transit flight, bukan penerbangan langsung direct flight, jadi lebih lama 
waktunya.
Dipikir2 daripada gak bisa mudik, yah tak apalah diambil saja tiket tsb, walau 
naik pesawat Bumel sekalipun. Harga tiketnya lebih murah daripada tiket airline 
yg biasa, namun lebih lama waktu tempuhnya dan ada singgah transit , tapi tak 
apalah yang penting bisa pulang mudik lebaran.
Saat mau berangkat di Abu Dhabi Airport, saya perhatikan ternyata antrian calon 
penumpang nya panjang juga, laku juga nih “pesawat bumel” dalam hati. Menarik 
juga, mengamati antrian penumpang budget airline ini, beda sekali dg penampilan 
para penumpang airline kelas eksekutif. Terlihat dari penampilan nya, adalah 
tampilan para pekerja dari kelas menengah bawah, para supir, karyawan hotel, 
pembantu dll. Bagasi bawaan nya pun banyak sekali, selain koper, banyak lagi 
tambahan barang yg dibungkus dengan kardus bekas, mirip sekali dg bawaan para 
penumpang bis antar kota yg mau pulang ke daerah, yg biasa suka membawa barang 
dalam kotak kardus bekas Indomie atau kardus rokok.
Saat selesai check in, sampai di dalam ruang tunggu, ada pengumuman bahwa 
keberangkatan ditunda 1 jam, dengan alasan landas pacu-run way penuh. Teman 
penumpang sebelah yg biasa naik pesawat ini cerita, penundaan keberangkatan 
sudah menjadi hal yg biasa, karena jadwal penggunaan run-way landasan pacu , 
lebih diprioritaskan utk pesawat dari airline yg standard/eksekutif, sedangkan 
budget airline, seperti pesawat bumel ini, masuk dalam antrian yg bukan 
prioritas, yah sabar saja deh katanya.
Setelah menunggu, akhirnya jadi berangkat juga pesawat. Saat di dalam pesawat, 
tempat duduk nya pun sederhana saja, tidak lebih bagus daripada tempat duduk 
bis malam di negeri kita. Karena utk perjalanan pendek, biasanya tak ada TV, 
untuk hiburan biasanya ada music atau majalah utk dibaca. Pramugari nya pun 
sudah agak tua, bukan yg masih muda, ( mungkin lebih murah gajinya ? ), menu 
makanan nya yang standard saja, dibungkus dg kertas alumunium foil. Saya coba 
mengerti saja, bahwa layanan sesuai dg harga .
Salah satu ciri khas budget airline ini ialah singgah transit di perjalanan, 
menyenangkan juga bagi yang senang mengembara. Dalam perjalanan saya ini, 
sempat khawatir juga akan ada masalah dengan penerbangan transit, karena waktu 
keberangkatan pesawat sudah terlambat, sedangkan waktu transit terbatas, 
sehingga bila terlambat, bisa ditinggal pesawat transit yg akan berangkat ke 
Jakarta. Seorang teman pernah cerita, karena terlambat sampai di tempat 
transit, sedangkan pesawat selanjutnya sudah berangkat, ia terpaksa menginap 
sehari menunggu penerbangan besoknya, karena hanya satu penerbangan sampai ke 
Jakarta. Karena budget airline, nginapnya pun dihotel yg sederhana pula, mirip 
hotel kelas melati kalau di negeri kita.
Saat sampai di terminal transit saya pun buru2 menuju gate utk keberangkatan 
pesawat selanjutnya, yang hanya berselisih waktu 15 menit, syukur ternyata 
pesawat selanjutnya tujuan Jakarta, terlambat juga berangkatnya, Alhamdulillah. 
Kalau sampai terlambat terpaksa nginap juga nih di hotel kelas melati, di kota 
antah berantah ini. Saat di terminal transit saya sempat ngobrol2 juga dg 
seorang penumpang dari negeri Eropa, anak muda yg hendak berlibur ke Bali, ia 
bercerita demi dapat tiket murah, ia sampai  5 kali transit ganti pesawat dari 
negaranya utk bisa sampai ke Bali, tapi ia menikmati saja pengembaraan tsb
Di terminal transit inilah saya bertemu dg para penumpang pesawat transit 
menuju Jakarta dan kota2 di asia tenggara lainnya. Budget airline ini jadi 
favorit utk para pekerja level bawah atau org2 yg bepergian dengan dana yg 
terbatas, seperti para supir, pekerja hotel, pembantu dll. Sempat ketemu juga 
orang2 yg dari pembicaraanya dan pakaian nya bisa saya tebak, nampaknya itu 
para pedagang elektronik di pasar glodok Jakarta yang baru jalan2 dari Eropa dg 
dana hemat, hebat juga si encim, keren sering jalan2 ke luar negeri, ternyata 
naik pesawat bumel juga. Ada juga penumpang2 dari Eropa, tapi kebanyakan turis 
back packer, turis yg bepergian dg dana murah pula. Jadi lengkap deh suasana 
nya meriah sekali. Begitu tahu saya orang Indonesia, para TKW pun minta bantuan 
utk menulis pada form yg harus diisi penumpang, “pusing, aku mas ora ngerti 
bahasa eng-gris” katanya dengan logat medok nya.
Waktu naik ke pesawat transit menuju Jakarta, saat mencari tempat duduk di 
pesawat, ternyata tempat duduk saya sudah ditempati oleh seorang penumpang yg 
dari tampilan pakaiannya saya bisa menebak adalah pekerja rumah tangga. Saya 
bilang, mbak, ini tempat duduk saya, sesuai nomer tiket, sambil saya tunjukkan 
tiketnya. Ia bilang, maaf mas, saya sudah duduk dulu disini, silahkan saja cari 
tempat duduk lain yg kosong, ujarnya polos. Saya bilang pada pramugari yg ada 
dekat sana, ia hanya tersenyum saja, dan mempersilahkan saya utk duduk di 
tempat duduk lain yg tersedia, nampaknya ia sudah mengerti kejadian spt ini, 
saya coba mengerti juga, mungkin si mbak tadi menyangka, penentuan tempat duduk 
di pesawat, seperti tempat duduk di bis saja, tergantung siapa yg datang duluan 
..:-))
Saya pun dapat tempat duduk di barisan yang banyak penumpang nya ada TKW & 
Supir dari negeri kita, dari obrolan nya saya tahu, kebanyakan berasal dari 
daerah jawa barat. Saya mengerti mereka ngobrol2 keras pakai bahasa sunda, tapi 
saya pura2 tak tahu, dan bicara dg bahasa Indonesia saja. Dengar obrolan mereka 
yg keras, bahkan diselingi tawa terbahak, saya rasakan serasa berada diantara 
penumpang kereta api ekonomi saja. Penumpang sebelah kiri seorang TKW dari 
Saudi, disamping kanan nampaknya seorang supir. Sang TKW pun ngajak ngobrol, 
“dari mana mas , saya bilang dari Abu Dhabi, ooh Abu Dhabi, keren yah , 
ngobrol2 kalau di sana bawa mobil apa mas ? (wah gawat disangka supir lagi). 
Wah sudah kagok sekalian saja nyamar jadi supir, sehingga setelah nya saya pun 
bisa ngobrol lebih leluasa dg mereka, karena dianggap senasib 
sependeritaan..he..he…he
Ngobrol2 dg para penumpang tsb, para TKW, supir, pegawai hotel, restoran dll, 
saya jadi tahu , seluk beluk dunia pekerjaan yang mereka geluti sehari2 di 
perantauan, mulai dari kisah senang, kisah lucu, kisah seru dan saru, sampai 
kisah yang menyedihkan. Saya melihat juga ada beberapa TKW yg juga membawa anak 
kecil, saya lihat wajahnya cakep2, hidung mancung, dagu lancip dan matanya 
belo, berbeda dengan wajah ibunya. Penumpang sebelah saya membisiki tentang TKW 
yg membawa anak2 tsb, hmm, akhirnya saya mengerti deh, dan tak mau tanya2 lebih 
jauh lagi. Pokoknya menarik juga menyimak kisah perjalanan hidup anak manusia 
di perantauan ini. Nanti suatu saat saya ingin menuliskan lagi cerita2 unik 
mereka yang jarang kita dengar langsung.
Setelah menempuh penerbangan selama 8 jam ditambah terlambat 1 jam, transit 2 
jam , jadi total 11 jam, Alhamdulillah akhirnya sampai juga dengan selamat di 
Jakarta. Bahagia sekali sampai lagi ke tanah air tercinta. Dari Bandara saya 
pun melanjutkan perjalanan ke Bandung dg bis Primajasa, Alhamdulillah akhirnya 
bisa dapat tempat duduk yang benar2 nyaman dan suasana tenang, lebih nyaman 
daripada keadaan di pesawat “bumel” tadi. Diiring musik sunda yg mengalun merdu 
didalam bis dan pemandangan alam priangan yang indah, sepanjang jalan ke 
Bandung, terasa begitu menentramkan batin, saya pun tertidur pulas sampai di 
Bandung, Alhamdulillah akhirnya bisa juga berlebaran dengan keluarga, wilujeung 
tepang deui baraya sadaya, salam baktos

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke