Membangun Asa Bersama Gerobak Bakso
 
MENANGIS terharu sambil menutup wajah dengan kedua belah telapak 
tangannya. Hanya itu yang bisa dilakukan untuk merasakan kebahagian 
yang meresapi dadanya oleh Miswarni, 40. 
Sudah lama dia tidak menangis karena bahagia. Selama ini, air matanya 
agaknya telah kering karena kehidupan keras yang dilalui. Apalagi 
sudah sembilan bulan lebih, Miswarni tidak bisa lagi menarik gerobak 
baksonya. Tepatnya, sejak gempa meluluh lantakkan Nagari Sumani, 
tempat rumah sederhananya dulu berdiri sekaligus tempat ia sehari-
hari mencari sumber mata pencaharian.
Sejak suami tercinta pergi untuk selamanya pada tahun 1998, hidupnya 
pun harus dijalani berdua dengan anak semata wayang yang sekarang 
telah menginjak remaja. Dan, jualan bakso adalah sumber mata 
pencaharian Miswarni untuk bisa membesarkan dan menyekolahkan anak 
satu-satunya itu.
Karena itu, di saat gerobak baksonya tidak bisa lagi digunakan karena 
rusak sebagai imbas gempa, wanita itu bingung. Ia tidak tahu hendak 
mengadu nasib ke mana. Yang didengarnya setelah bencana itu berlalu 
hanyalah bantuan untuk memperbaiki rumah. Tidak terdengar sedikitpun 
akan ada bantuan usaha bagi mereka yang hilang mata pencahariannya 
karena bencana tersebut. 
Mata yang kerap kali basah beberapa bulan terakhir itu memang acap 
menerawang jauh ke belakang, mengenang masa-masa yang pernah 
dilaluinya. Jalan yang dilalui Miswarni sepertinya penuh liku dan 
warna. Baik itu warna kegembiraan maupun warna pahit getirnya 
kehidupan. Pernah ia menjadi tenaga sukarela (honorer) pada kantor 
catatan sipil Kota Padang dari tahun 1885 sampai 1995. Masa-masa itu 
dilaluinya dengan sangat indah apalagi saat seorang pria asal Lubuak 
Selasih mempersuntingnya pada tahun 1988.
Kebahagian itu semakin lengkap saat hadir bersama mereka seorang anak 
laki-laki, yang diharapkan kelak dapat menjadi tempat bersandar. 
Namun, Allah memiliki rencana lain terhadap Miswarni. Ujianpun 
berdatangan silih berganti. "Sepertinya Allah sedang menguji keimanan 
saya", kata Miswarni lirih. 
Ujian pertama datang ketika dia harus berhenti menjadi pegawai 
sukarela di kantor catatan sipil Kota Padang. Pengabdiannya selama 
itu ternyata tidak bisa menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk 
mengangkatnya sebagai PNS, ditambah beberapa masalah yang diterimanya 
selama menjadi sukarela. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk pulang 
ke kampung halaman. 
Dan, berbekal pengetahuan seadanya didukung penuh suami tercinta, ia 
memulai usaha jualan Bakso di Nagari Sumani. Tidak ada rasa malu bagi 
Miswarni untuk memulai usaha itu. Walaupun satu persatu sanak saudara 
yang sebelumnya selalu mendekat mulai menjauh dan tidak peduli lagi 
terhadap kondisi mereka.Yang penting baginya, keluarga bisa bertahan 
dan anak satu-satunya bisa malanjutkan sekolah.
Ujian kedua harus diterima Miswarni tiga tahun setelah ia kembali ke 
kampung halaman. Suami tercinta harus pergi untuk selamanya. 
Perjuangan selanjutnya harus dihadapi Miswarni berdua bersama anaknya 
yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun,  ia selalu berusaha 
untuk tabah. 
Mereka juga bersyukur karena masih ada gerobak bakso yang bisa 
menjadi tumpuan hidup mereka. Bahkan, pinangan laki-laki untuk 
mempersuntingnya pun ditolak Miswarni karena ia hanya berkeinginan 
untuk membesarkan anaknya. 
Ujian hidup bagi Miswarni semakin lengkap tatkala gempa bumi 
mengguncang Sumatera Barat pada Maret 2007. Gerobak tua yang menjadi 
sumber mata pencahariannya hancur dan tidak bisa lagi digunakan. 
Sementara rumahnya juga mengalami kerusakan. "Allhamdullilah rumah 
masih bisa ditempati" ujar wanita itu tabah. 
Namun, dengan hancurnya gerobak bakso, praktis Miswarni tidak bisa 
berbuat apa-apa lagi. Hidup pasca gempa bagi mereka hanya berharap 
pada bantuan sembako dari para dermawan dan pemerintah. Hidup menjadi 
semakin sulit ketika bantuan yang datang semakin berkurang.
Tiga bulan yang lalu, Kabisat Indonesia bekerjasama dengan Dompet 
Dhuafa Singgalang, mengumpulkan 34 janda-janda miskin seperti 
dirinya. Mereka tidak tahu apa maksud pertemuan itu. 
Namun, ketika bertemu dengan teman senasib, Miswarni membuka mata 
bahwa ternyata di nagari itu banyak janda-janda seperti dirinya yang 
berjuang sendiri menghidupi keluarga. Dengan berkumpul, semangat 
mereka kembali tumbuh. 
Dalam setiap pertemuan, mereka bertukar fikiran dan saling berdiskusi 
tentang keadaan yang mereka alami. Dimulai dengan lokakarya dan 
pelatihan manajemen kelompok, para ibu-ibu janda tersebut membangun 
harapan bersama untuk perubahan yang lebih baik ke depan.
Akhirnya, pertemuan secara partisipatif itu diadakan rutin dua kali 
sebulan. Kegiatan semakin semarak dengan kegiatan julo-julo yang 
mereka jalani untuk makin membangun kepercayaan di antara kelompok. 
Selain itu dilakukan pula pengajian rutin untuk membangkitkan kembali 
asa-asa mereka. 
Pertemuan-pertemuan itu membuat kelompok menjadi kuat dan kompak. 
Mereka juga tidak merasa sendiri lagi saat ini.
'Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Dhuafa di Propinsi 
Sumatera Barat Pasca Bencana' yang diusung Kabisat Indonesia bersama 
Dompet Dhuafa Singgalang telah menyatukan langkah 34 janda-janda 
miskin di Nagari Sumani dalam menatap masa depan.
Dan, lamunan Miswarni pun buyar ketika modal usaha bergulir yang 
diputar di kelompok diterimanya. Tangannya bergetar saat menerima 
modal usaha bergulir tersebut. 
"Hari ini tepat tanggal 1 Muharam 1429 H. Mudah-mudahan di tahun baru 
Islam ini, akan ada perobahan dalam kehidupan kami" ujar Miswarni 
serak, sambil tangannya menandatangani akad perjanjian yang telah 
disepakati dalam kelompok. 
Yah, tidak lama lagi bunyi pukulan sendok di mangkok bakso kembali 
akan berbunyi di  Nagari Sumani. Bunyi pukulan sendok yang akan 
memanggil pelanggan Miswarni yang sudah lama tidak menikmati baksonya 
yang murah meriah. 
Pukulan sendok yang dapat membangun asa seorang janda untuk 
menyampaikan harapan anaknya meraih cita-cita! (Jajang dan Boy).



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke