Fitnah Tanpa Kecerdasan: Rekening Rahasia Jokowi di Hong Kong Shangai
Banking Corporation

 Daniel H.t. <http://m.kompasiana.com/user/profile/danielht>

22 Jul 2014 | 16:14

*Catatan: Nama "Hong Kong Shanghai ..." pada judul artikel sengaja ditulis
salah ("Shangai") berkaitan dengan isi artikel ini.*

---

Pasca Pilpres 2014, rupanya tidak menghentikan fitnah yang masih terus
disebarkan untuk menyerang Jokowi. Mengikuti jejak Prabowo yang tidak bisa
menerima kekalahannya itu, kelompok pendukung Prabowo yang menamakan
dirinya Progres 98, melontarkan fitnah terbaru kepada Jokowi. Kali ini
mereka mengaku memperoleh bocoran informasi disertai dengan bukti-bukti
otentik tentang adanya 20 rekening rahasia Jokowi dan istrinya di sejumlah
bank di luar negeri, yang tidak dilaporkan kepada KPU dan KPK. Jumlah
totalnya disebut lebih dari 8 juta dollar Amerika Serikat.

Untuk keperluan pengungkapan rahasia tersebut, Ketua Progres 98, Faizal
Assegaf mengundang wartawan untuk mengadakan konferensi pers, pada Selasa
ini, pukul 13:30 WIB, di Rumah Polonia, Jakarta Timur. Undangan konferensi
pers tersebut dimuat juga di *fanpage* Face Book Faizal Assegaf dan
www.voa-islam.com
<http://www.voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2014/07/22/31753/babak-perlawanan-rakyat-ungkap-20-rekening-jokowi-di-bank-asing/#sthash.GfpxIYOf.GgmNehjS.dpuf>
. Judulnya: “Babak Perlawanan Rakyat: Ungkap 20 Rekening Jokowi di Bank
Asing.”

*Isinya sebagai berikut:*

*UNDANGAN KONFERENSI PERS:*

*MENGUNGKAP FAKTA 20 REKENING DI SEJUMLAH BANK ASING ATAS NAMA JOKOWI &
IRIANA WIDODO SENILAI LEBIH DARI 8 JUTA USD YANG TIDAK DILAPORKAN KE KPU /
KPK.*

*Bersama ini kami dari Progres 98 mengundang kawan-kawan pers media cetak
dan elektronik, untuk menghadiri konferensi pers pada:*

*Hari: Selasa.*

*Jam: pukul 1.30 WIB.*

*tempat: Rumah Polonia, Jakarta Timur.*

*Penyerahan bukti-bukti transfer / transaksi keuangan senilai lebih 8 juta
USD atas nama Joko Widodo dan Iriana Widodo yang diparkir sejumlah bank
luar negari seperti di Salomon Island, Hong Kong, Singapore, Philippines,
Mongolia, Jordon dan Lebanon.*

*Uang Joko Widodo dan Iriana Widodo yang diparkir sejumlah bank luar negari
seperti di Salomon Island, Hong Kong, Singapore, Philippines, Mongolia,
Jordon dan Lebanon*

*Berdasarkan fakta yang kami ungkap tersebut, membuktikan dengan jelas
bahwa telah terjadi penyimpangan serta kebohongan publik oleh Joko Widodo
yang tidak melaporkan sumber kekayaannya secara legal dan transparan kepada
pihak KPU / KPK dalam proses pencalonannya sebagai Calon Presiden.*

*Selain itu, penyimpangan atas laporan kekayaan dimaksud merupakan
pelanggaran serius berupa tindak pidana pemilu serta dapat berakibat pada
diskualifikasi pencalonannya sebagai calon presiden.*

*Demikian undangan kami, atas perhatian dan partisipasinya kami ucapkan
terima kasih.*

*NB: Bocoran dokumen berjumlah 25 halaman yang disertai oleh bukti-bukti
berupa nomor rekening dan nilai transaksi keuangan secara rinci di berbagai
bank luar negeri, yang akan kami berikan kepada kawan-kawan pers, serta
melaporkan secara resmi ke KPU, BAWASLU, KPK, Mabes Polri, Kejagung dan
PPATK untuk dapat ditindaklanjuti.*

*salam*

*Faizal Assegaf*

*Ketua Progres 98*

--------------------------------

Sedangkan di *fanpage *Face Book Faizal diunggah salah satu “bukti”
rekening Jokowi di HSBC, Hongkong, seperti di bawah.

Sampai saat saya menyelesaikan artikel ini, saya belum mendapat kabar
apakah ada wartawan yang memenuhi undangan konferensi pers dari Faizal
Assegaf, sang Ketua Progres 98 itu. Mungkin tidak ada satu pun wartawan
yang datang, maka itu tidak ada beritanya lagi. Maklum saja, dengan sedikit
pengetahuan dan logikanya saja, setiap wartawan pasti bisa merasakan adanya
keganjilan-keganjilan di dalam informasi yang disampaikan oleh Faizal
Assegaf ini. Keganjilan-keganjilan tersebut membawa kita pada kesimpulan
bahwa informasi dan dokumen yang disertakan itu tak lebih dari hasil
rekayasa atau suatu fitnah terbaru lagi dari Faizal Assegaf dengan Progres
98-nya.

Fenomena ini mirip-mirip dengan fitnah yang pernah disebarkan untuk
menyerang Jokowi di masa kampanye Pilpres beberapa waktu lalu. Yaitu fitnah
yang menyatakan Jokowi itu adalah anak kandung dari pengusaha besar
Tionghoa bernama Oei Hong Leong. Hong Leong adalah putra dari konglomerat
Eka Tjipta Wijaya (pemilik Grup Sinar Mas), berdomisili di Singapura.
Ternyata perbedaan usia antara Hong Leong dengan Jokowi itu hanya 13 tahun.
Jadi, hitungan sederhananya, Jokowi dilahirkan ketika “ayah Tionghoa-nya”
itu baru berusia 13 tahun! Rupanya kreator cerita fitnah itu ceroboh,
sampai lupa berhitung terlebih dulu sebelum menulis fiksi fitnahnya itu.
Artikel mengenai ini pernah saya tulis dengan judul *Fitnah Tanpa Logika:
Ayah Kandung Jokowi, Tionghoa. Umurnya 13 Tahun.*
<http://politik.kompasiana.com/2014/05/08/fitnah-tanpa-logika-ayah-kandung-jokowi-tionghoa-umurnya-13-tahun--651879.html>

Kecerobohan yang sama rupanya terjadi lagi ketika fitnah terhadap Jokowi
dibuat dan disebarkan oleh Faizal Assegaf ini.

Siapa yang bisa dengan mudah percaya, betapa saktinya Faizal Assegaf itu
sampai dia bisa memperoleh bocoran bukan hanya satu-dua dokumen (rekening)
bank luar negeri milik Jokowi dan istrinya, Iriana, tetapi sampai 20 (dua
puluh) rekening bank! Padahal bank-bank di luar negeri itu, seperti HSBC
pasti sangat ketat dalam menjaga rahasia nasabahnya.

[image: 14060249952109446342]

Sumber: Fanpage Faizal Assegaf dengan dokumen yang menurutnya bukti adanya
rekening rahasia Jokowi di HSBC

Kejanggalan dokumen “rekening bank Jokowi” di HSBC yang ditayangkan Faizal
di *fanpage *Face Book-nya tersebut di atas dengan mudah diketahui,
sehingga saya berani menyatakan dokumen itu adalah dokumen palsu yang
dibuat dengan tingkat kecerobohan yang tinggi. Sehingga apa yang dilakukan
Faizal tersebut sama dengan memamerkan kekonyolannya sendiri kepada publik.

Cara penulisan nama bank HSBC saja sudah keliru: Tertulis: *“Hong
Kong* and *Shangai
*Banking Corporation Limited”, padahal seharusnya “*The Hongkong* and
*Shanghai* Banking Corporation Limited”.

Selain harus ada kata sandang “the”, penulisan “Hongkong” di nama HSBC
selalu disambung, bukan “Hong Kong”, tetapi “Hongkong”. “Shanghai” sudah
pasti bukan “Shangai.”

Tidak mungkin HSBC salah mencetak sendiri nama banknya yang pasti sudah
merupakan *default *di komputernya di seluruh dunia.

Alamat bank-nya juga terasa janggal, tercantum sebagai berikut: “Branch:
Hong Kong Bank Building Suite 123 1 Queens Road,” tanpa mencantumkan nama
kota dan negaranya. Juga penulisan “Hong Kong Bank Building” yang disingkat
dari nama lengkap HSBC terasa tidak lazim, jika mau disingkat lebih lazim
kalau singkatannya adalah “HSBC Bulding” sebagaimana bisa dilihat di
wikipedia di *sini*.
<http://en.wikipedia.org/wiki/HSBC_Building_%28Hong_Kong%29>

Apakah benar nomor suite-nya adalah 123? Saya tidak tahu, tetapi
sepengetahuan saya cara penulisannya alamat pun tidak lazim merupakan cara
penulisan alamat di negara-negara berbahasa Inggris. Yang lazim adalah
menulis nama jalannya dulu, barulah nama gedung, lantai dan nomor
suite-nya. Nama jalannya pun tertulis “1 *Queens* Road”, seharusnya “1
*Queen’s* Road.” “Queens Road” tentu saja mempunyai arti yang sangat
berbeda dengan “Queen’s Road”.

Tanggal transfernya dengan menggunakan metoda *wire transfer* juga terlihat
janggal. Tercantum “Last Wire Transfer: 26.10.2013”, setelah saya periksa,
ternyata tanggal 26/10/2013 itu adalah hari *Sabtu*. Hari libur bagi
seluruh bank di Indonesia, maupun di Hongkong.

Lagipula sebagai nasabah HSBC, sepengetahuan saya cara penulisan tanggal di
seluruh bank HSBC adalah dengan menulis nama bulannya dengan huruf, bukan
dengan angka. Jika tanggalnya 26/10/2013, maka yang ditulis adalah
“26Oct2013,” bukan 26.10.2013.

*

*Katadata *di lamannya juga menulis dugaannya bahwa dokumen rekening bank
Jokowi di HSBC yang disebarkan oleh Faizal Assegaf itu palsu. Ketika mereka
mencoba melakukan transfer ke nomor rekening yang tercantum di dokumennya
tersebut, terjadi gagal transfer dengan keterangan “nomor rekening dan nama
bank tidak dikenal.”

[image: 14060203741369267378]

Sumber: Bukti transfer yang gagal karena rekening dan bank tak dikenal
(sumber:www.katadata.co.id)

Customer Support HSBC yang dihubungi *Katadata *menjelaskan bahwa *swift
code* atau kode bank yang dicantumkan dalam daftar transfer salah.
Seharusnya transfer untuk ke Bank HSBC Hongkong menggunakan swift code
HSBCHKHHHKH, bukan HSBCHKHHEDB.

"Satu bank di satu negara kodenya harusnya sama, tidak berbeda," kata
petugas HSBC yang dihubungi *Katadata *
<http://en.wikipedia.org/wiki/HSBC_Building_%28Hong_Kong%29>

Jadi, konyol, bukan?

Inilah akibatnya kalau fitnah dibuat tanpa kecerdasan yang memadai. Belum
apa-apa langsung ketahuan belangnya.

*

Sebagai penyegar ingatan, Faizal Assegaf dan kelompok Progresif 98 yang
diketuainya ini juga adalah pihak yang sama, yang pada Mei 2014, pernah
melaporkan Jokowi-JK ke KPK karena Jokowi-JK membuka rekening bank untuk
menerima sumbangan kampanye dari masyarakat.

Alasan mereka dengan membuka rekening itu sama dengan Jokowi telah menerima
gratifikasi, karena dia masih sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan sumbangan
seperti itu memang dilarang UU. Padahal Jokowi telah mengambil cuti panjang
untuk* nyapres*, dan pembukaan rekening tersebut murni untuk keperluan
kampanye Pilpres-nya, dan ada diatur di dalam UU Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden. Tentu saja kekonyolan mereka itu tak diterima KPK. Belakangan
Prabowo-Hatta pun meniru ide Jokowi itu, dengan membuka rekening seperti
itu juga.

Pada Juni 2014 Faizal dengan Progresif 98-nya kembali menyebarkan dokumen
yang disebut sebagai transkrip percakapan rahasia antara Ketua Umum PDIP
Megawati Soekarnoputri dengan Jaksa Agung Basrief Arief mengenai
penangguhan pemeriksaan terhadap Jokowi terkait kasus korupsi Bus
TransJakarta. Terbukti kemudian transkrip tersebut merupakan dokumen palsu.
Ketahuan menyebarkan transkrip palsu, Faizal berdalih, maksud dia
sebenarnya hanyalah meminta klarifikasi tentang keaslian transkrip
tersebut. Jangan-jangan pihaknya sendiri yang membuat transkrip palsu itu?

Belum kapok juga, sekarang dia mengulangi lagi kekonyolannya itu dengan
cara melakukan fitnah kepada Jokowi tentang “20 rekening Jokowi di
bank-bank luar negeri” itu, tetapi tidak disertai dengan kecerdasan yang
memadai, sehingga malah terlihat konyol Pameo mengatakan: “Kalau mau
berbohong, berbohonglah dengan cerdas!” ***

 Dibaca : 36680 kali


-- 
Zorion Anas
(+62)085811292236
[email protected], [email protected]

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke