Rekonsiliasi Nasional Suatu Kebutuhan
17 Jul 2014 18:02:19| Karkhas | Penulis : Dr Ir Ricky Avenzora M.Sc.*

Jakarta (Antara) - Beberapa tahap proses Pemilihan Umum Presiden 2014 telah
dilalui, namun dinamika politik yang menyertainya berkecenderungan masih
akan menimbulkan berbagai drama panjang yang bersifat sangat krusial dan
mengandung bahaya laten.

Berbagai dinamika dalam proses Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) yang telah
dilalui bukan hanya telah membuka mata bangsa Indonsia tentang bermacam
"kenakalan" berbagai pihak selama ini melainkan juga telah semakin meruyak
banyak luka lama dalam berbangsa dan bernegara, sedangkan berbagai dinamika
yang harus dihadapi di masa depan juga tetap terus menganga semakin lebar
untuk memangsa dan melumpuhkan kita sebagai suatu bangsa dan negara.

Jika dicermati dan renungkan berbagai proses yang telah terjadi selama masa
Pilpres, maka barangkali kita semua akan bisa sepaham untuk mengatakan
bahwa kita sepertinya belum akan bisa mendapatkan pemimpin bangsa yang
benar-benar meyakinkan kita semua dan mampu mensejahterakan kita semua.

Salah calon pemimpin sematakah, atau ada juga andil kesalahan kita sebagai
rakyat dari bangsa dan negara ini?

Jika ditelaah dengan tenang, proses Pilpres 2014 ternyata hanya menyuburkan
tiga pola perilaku politik saja, yaitu (1) "politik adu domba" yang
diwarnai oleh isu kampanye hitam atau "black campaign", (2) "politik santun
jilid dua" yang didominasi oleh sikap-sikap superlatif yang sinis dan
terlalu percaya diri, serta (3) "politik kolaboratif" yang
diimplementasikan dalam dua cara yang berbeda, yaitu "politik kolaboratif
transaksional terbuka" yang dimainkan oleh kubu Prabowo-Hatta dan "politik
kolaboratif transaksional tertutup" yang dimainkan oleh kubu Jokowi-JK.

Dalam mencermati "politik adu domba", maka kita semua perlu menyadari bahwa
perilaku "black campaign" tersebut adalah bukan saja potensial untuk
dilakukan oleh kedua kubu yang sedang bersaing, melainkan juga sangat
potensial untuk dilakukan oleh pihak ketiga yang memang sengaja dan
bertujuan untuk melemahkan dan/atau menghancurkan bangsa dan negara
Indonesia.

Dalam konteks "positif thinking", kita semua harus berfikir bahwa akan
menjadi terlalu bodoh kalau Probowo-Hatta dan Jokowi-JK secara sadar
memerintahkan dan membiarkan kelompoknya untuk memainkan "politik adu
domba", namun demikian sebaliknya Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK juga tidak
bisa terlalu mudah untuk meyakinkan kita semua bahwa kubu mereka
masing-masing bersih dari permainan "kotor" tersebut.

Selama kedua kubu tidak mampu menunjukan pada kita semua tentang SOP
berserta sistem kontrol kampanye mereka, maka kedua kubu pun tidak boleh
marah kepada kita semua atas berbagai prasangka yang dilemparkan pada
mereka masing-masing.

Adanya pihak ketiga yang memainkan "politik adu domba" untuk tujuan
melemahkan dan/atau menghancurkan bangsa dan negara kita barangkali perlu
untuk dibahas agak panjang.

Sebagai salah satu "the richest country in the world" tentunya mudah untuk
dipahami bahwa banyak bangsa asing yang sangat bernafsu untuk menguasai
negeri dan bangsa kita ini melalui berbagai cara.

Tanpa harus membuka luka lama, apa pun juga kita semua tidak boleh lupa
bahwa sebelum kemerdekaan 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia pernah dijajah
oleh bangsa asing berabad-abad lamanya, sedangkan setelah kemerdekaan pun
Indonesia pernah dibuat susah serta coba didikte dan bahkan dihina
berkali-kali hingga saat ini oleh berbagai bangsa lain, termasuk oleh
berbagai negara tetangga yang mestinya menjadi sahabat setia.

Jika sebelum abad ke-20 kolonialisme adalah dimulai dengan bentuk
pengusaaan wilayah, maka pada abad 20 kolonialisme adalah dimulai dengan
penguasaan teknologi dan ekonomi, sedangkan dalam abad 21 ini kolonialisme
akan menjelma dalam bentuk kekuatan yang lebih masif, yaitu ekonomi,
teknologi, "mindset" dan wilayah secara
bersamaan.

Mari diingat bagaimana sejarah VOC menjadi cikal bakal penjajahan Belanda
terhadap Indonesia, lalu coba telusuri serta maknai berbagai konsesi asing
yang telah mengusai sebagian besar sumber-sumber daya Indonesia saat ini,
selain migas dan bahan tambang maka cermati jugalah telekomunikasi,
automotif, perbankan, pendidikan dan pariwisata.

Kemudian mari cermati proses "cuci otak" yang dimainkan berbagai kelompok
media terhadap generasi muda Indonesia. Bukan hanya setali tiga uang dengan
pola VOC, melainkan penguasaan sektor, aspek dan distribusi ruang yang
dikuasainya jauh lebih masif dan laten, bukan?

Politik Santun
Hadirnya "Politik Santun Jilid II" perlu dicermati dan maknai bukan saja
karena telah ditirunya pola-pola "Politik Santun Jilid I" yang cenderung
diasosiasikan masyarakat dengan Presiden SBY dan Partai Demokratnya,
melainkan juga adalah karena agresifitas "Politik Santun Jilid II" yang
dimainkan oleh Kubu Jokowi-JK.

Jika "Politik Santun Jilid I" cenderung dominan dimainkan dengan pola
"indah kabar dari pada rupa", maka dalam "Politik Santun Jilid II"
Jokowi-JK ingin membangun image (citra) dan mengklaim diri sebagai pemimpin
yang "merakyat" dan "cepat-kaki ringan-tangan", tapi di sisi lain kita
semua menjadi saksi betapa sinisnya air muka dan gaya bahasa yang dipakai
oleh kelompok Jokowi-Jk selama masa berkampanye, serta betapa superlatifnya
retorika kampanye yang mereka suarakan, seakan-akan mereka adalah kelompok
tanpa "catatan kenakalan" atau pun tanpa "catatan kekhilafan" dan tanpa
berkekurangan.

Saking agresifnya dan merasa superlatifnya, kita semua telah menjadi saksi
betapa JK (sebagai seorang politisi senior dan mantan Wapres negara ini)
telah secara vulgar merendahkan kelompok lawannya dengan isu
"gerombolan-mafia" pada saat debat Capres.

Di satu sisi, keagresifan JK adalah sesuatu yang sangat perlu kita semua
sayangkan, tapi di sisi lain kita semua juga tidak melihat optimalnya
"kecerdasan-diplomasi" dan "kecerdasan-politik" Prabowo dalam menjawab
kevulgaran JK tersebut.

Yang kita lihat saat itu adalah Probowo (yang diisukan lawan politiknya
sebagai individu yang bersifat emosional dan tempramental) ternyata jauh
lebih dewasa dari seorang JK yang sesungguhnya berumur jauh lebih tua dan
lebih berpengalaman pula.

Kedewasaan bahasa politik kubu Prabowo-Hatta tersebut nampaknya bukanlah
"artificial-identity" kubu mereka, yaitu sejalan dengan konsistennya mereka
mengartikulasikan retorika kampanye mereka secara proporsional selama masa
kampanye.

Meskipun "politik-kolaboratif-transaksional" telah kita kritik
habis-habisan semenjak reformasi, namun pilihan langkah politik kubu
Prabowo-Hatta untuk melakukan Koalisi Permanen Merah Putih dengan dasar
transaksional (seperti yang diberitakan berbagai media) secara terbuka
adalah sesuatu yang secara objektif harus dikatakan sangat-sangat
menyesakkan dada kita semua.

Di satu sisi barangkali bisa kita pahami bahwa langkah tersebut memang
adalah langkah yang efektif untuk "menjaring" calon kawan untuk mau segera
berkolaborasi dengan pihak Prabowo, namun di sisi lain bangsa ini menangis
tersedu sedan atas masih suburnya pemikiran transaksional itu di
tengah-tengah "Taipan Politik" yang membentuk Koalisi Permanen Merah Putih
tersebut.

Jika para "Taipan Politik" saja masih memainkan "jurus" tidak terpuji
tersebut saat ini, maka "jurus-politik" apa lagi yang akan bisa dipelajari
oleh generasi penerus dari para "Taipan" tersebut sebelum mereka uzur
nantinya.

Di satu sisi, tidak bisa ditolak jika ada anggota masyarakat yang
berkesimpulan bahwa langkah politik-transaksional Prabowo telah mencederai
semangat visioner dan nasionalisme yang beliau kobarkan.

Jika para "Taipan Politik" saja cenderung lebih memetingkan kelompok mereka
masing-masing, maka tentu tidak aneh kalau kemudian ada bangsa lain yang
juga ingin dapat "kue" yang diperebutkan itu, bukan?

Namun di sisi lain, kejujuran Prabowo untuk membuat transaksi terbuka
adalah perlu juga kita hargai, setidak-tidaknya dengan keterbukaan tersebut
maka kita bisa memberi "input" secara terbuka pula.

Kejujuran politik-transaksional tersebut menjadi penting dan berarti ketika
harus kita sandingkan dengan retorika kampanye "politik kolaborasi-tanpa
syarat" yang dengan "angkuhnya" digaungkan oleh kubu Megawati-Jokowi-JK.

Ada tiga pertanyaan penting yang harus dijawab sebelum secara objektif kita
bisa mempercayai bahwa benar terjadi "politik-kolaborasi-tanpa syarat",
yaitu: (1) Apakah ada kolaborasi politik tanpa berbagi kekuasaan? (2)
Apakah Megawati-Jokowi begitu kuatnya sehingga Nasdem, Hanura, PKB dan
seorang JK pun mau "menghambakan diri" kepada Megawati dan Jokowi? (3)
Apakah Nasdem, Hanura dan PKB serta seorang JK begitu lemahnya sehingga mau
disuruh berlaku "ndhodhok" oleh Megawati dan Jokowi?

Jika satu saja dari tiga pertanyaan di atas mempunyai jawaban "tidak" maka
akan sangat sulit bagi kita semua untuk bisa mempercayai "kolaborasi tanpa
syarat" tersebut, bukan?

Atas hal itu, maka menjadi sulit bagi Kubu Jokowi-JK untuk menyalahkan jika
ada anggota masyarakat yang menilai bahwa retorika kampanye "kolaborasi
tanpa syarat" tersebut sesungguhnya hanyalah merupakan suatu proses
pencitraan belaka, yang kemudian bukan hanya menjadi krusial karena telah
melakukan "kebohongan publik", melainkan juga menjadi sangat berbahaya
karena adanya motif "otoriter" yang tersembunyi (seperti politik anggaran
yang akan diterapkan oleh Jokowi terhadap daerah otonomi).

Hingga di sini, selain pembelajaran dinamika politik yang bisa kita coba
cerna sebagai masyarakat umum, maka ada satu pertanyaan besar yang perlu
kita cuatkan bersama, yaitu: "Kapankah Bangsa dan Negara Kita Akan
Benar-benar Sadar Untuk Benar-Benar Mulai Mencintai dan Membangun Bangsa
dan Negara ini?"

Ketika "kunci gerbang" pasar bebas sudah terbuka dan saat ini gerbangnya
pun sudah harus mulai digeser agar terbuka lebar mulai Januari 2015 nanti
mengapa kita semua masih harus menelan pil-pahit bernegara dan berbangsa
seperti paparan di atas?

Di satu sisi, kubu calon pemimpin yang visioner seperti "kekurangan akal"
untuk membangun kolaborasi, sedangkan di sisi lain kubu calon pemimpin yang
ingin memiliki image "kerakyatan" ternyata hanya menampakan "artificial
identity" belaka, yang selama kampanye malah sering terindikasikan memiliki
sikap "serigala berbulu domba".

Dosa dan khilaf apa yang telah turun temurun dilakukan oleh bangsa kita
ini, sehingga persoalan dan permasalahan yang dihadapi semakin
berlarut-larut dan kompleks?

Mengapa setelah sekian lama merdeka dan semakin banyak anak bangsa yang
terdidik malah kita semua masih saja harus bersikap dan bertindak seperti
pil pahit di atas?

Tidakkah kita semua perlu bersatu untuk bahu membahu membangun bangsa dan
negara kita tercinta ini secara sungguh-sungguh?

Jika iya, maka nampaknya semua kebodohan kita bersama selama ini hanya akan
bisa kita hentikan dan perbaiki kalau kita mau dan mampu melakukan
"rekonsiliasi nasional" secara baik dan benar, jujur dan ikhlas serta
sesegera mungkin. Tanpa itu, maka persoalan berbangsa dan bernegara setiap
hari akan semakin carut marut dan menyebabkan saling cakar-mencakar di
antara kita pun akan sulit terhindari.

Para politikus akan cenderung terus "memakai topeng" dan membuat kebohongan
publik, para birokrat akan terus menjadi "rayap" yang menghancurkan
bangunan rumahnya sendiri, sedangkan para teknokrat akan terus sombong dan
menjadi "salesman" dari teknologi yang mereka banggakan.

Adapun para akademisi senior akan terus berlagak bijak tanpa kejelasan
sikap dan keberanian bertindak, para akademisi muda (mahasiswa) akan terus
terombang-ambing, tercuci rasa nasionalismenya oleh jargon ilmu pengetahuan
yang dicekokan berbagi buku dan kemudian menjadi pion "perang politik"
belaka, adapun para pengusaha akan terus merasa tidak ada kepastian dan
cenderung menumpuk kekayaan hingga tujuh turunan sesegera mungkin dengan
berbagai cara.

Demikian juga para PNS akan terus "diteres" (disayat agar kering dan mati
pelan-pelan), sama hal nya dengan tentara dan polisi serta hakim dan jaksa
yang terus didorong untuk terpaksa menjadi "pagar makan tanaman", sedangkan
para buruh dan petani serta rakyat jelata akan terus diperlakukan tidak
lebih berharga dari sekedar alas kaki.

Semua itu akan menjadikan bangsa lain semakin mudah serta leluasa untuk
menjajah bangsa dan negara Indonesia ini.

Jika pemikiran-pemikiran di atas ada benarnya dan masuk di akal kita semua,
maka barangkali perlu bagi kita untuk berfikir serius serta objektif untuk
segera memulai suatu proses "rekonsiliasi nasional" sekarang juga.

Untuk itu, maka dalam tulisan selanjutnya kami akan mencoba mengajak
pembaca untuk memikirkan beberapa dinamika penting berbangsa dan bernegara
selama ini yang perlu dikenali dan maknai agar kita bisa melakukan
"rekonsiliasi nasional" secara baik dan benar, serta jujur dan ikhlas, yang
akan dituangkan dalam tajuk tulisan "Rekonsiliasi Nasional: Khilaf Politik
Yang Harus Diperbaiki".

*)Penulis adalah salah satu pendiri Perhimpunan Nasionalis Indonesia
(Pernasindo), saat ini Ketua Program Studi Pascasarjana Manajemen Ekowisata
dan Jasa Lingkungan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB). (*)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke