Assalamualaikum wr wb,

Dengan iko, ambo minta maaf ka sado mamak2, bundo, kakak, adiak, sarato
sanak sakalian dipalanta rantau net ko.

Mungkin isu pilpres dan sarato sagalo nan manyangkuik pilpres ko terlalu
sensitif untuk dibicarakan dimilisko.

Ambo maminta maaf, dek mungkin nan paliang mada mamposting masalah isu
seputar pilpres ko di milisko, walaupun sado media sadang membahas masalah
iko. Mulai dari media elektronik, media cetak, sosial media, dll.

Mungkin dek karano kito urang minang pacah suaro dan indak bulek ciek kato,
dan kito tidak siap untuk menerima perbedaan iko. Bahkan ambo lah di
jantiak dek rang dapua melalui japri, dek karano rang dapua indak ciek
suaro pulo jo ambo.

Dengan iko, ambo maminta maaf, dan manutuik thread email nan ambo buekko,
mudah2an indak ado nan manyambuang baliak, dan ambo pun InsyaALLAH indak ka
mambuek postingan nan babaun pilpres ko di kudian hari.

Mudah2an kito sepakat basamo. Dan mudah2an ambo diberikan maaf. Untuak
samantaro, ambo duduak ditapi se lah dulu.

Wassalam dan terimakasih
dedi suryadi
Pada 7 Agt 2014 20:56, "Dedi Suryadi" <[email protected]> menulis:

> Assalamualaikum...
>
> Kl ambo indak salah, Desy Anwar ko urang awak.
> Prihatin ambo jo bahasonyo..
> ********
>
> Mendorong Perubahan
>
> Desi Anwar: Mengapa KPU Meloloskan Megalomania-Delusional Prabowo Ikut
> Pilpres?
> | Rabu, 06 Agustus 2014 - 08:09 WIB | 598343 Views
>
> Saya tidak tahu apa dosa Indonesia dengan mendapatkan karmanya memiliki
> seorang kandidat presiden yang pecundang yang tidak mau menerima kekalahan
>
> JAKARTA, Baranews.co - Saya tidak tahu apa dosa Indonesia dengan
> mendapatkan karmanya memiliki seorang kandidat presiden yang pecundang yang
> tidak mau menerima kekalahannya dengan lapang dada, melanjutkan saja
> hidupnya, dan membiarkan negeri ini kembali menjalankan urusan sehari-hari.
>
> Alih-alih, selama lebih dari dua minggu sejak kita menjalankan kewajiban
> memilih, lewat pemilu yang demokratis, damai, dan transparan, kita masih
> saja harus menenggang pidato-pidato retorikanya tentang hasil-hasil pemilu
> yang menurut versinya sendiri, ia semestinya dialah yang menang, pidato
> tentang Komisi Pemilihan Umum yang curang dan tidak demokratis, tentang
> seluruh proses pemilihan umum yang tidak sah karena didasarkan pada upaya
> penipuan yang masif dan sistematis. Semua itu hanya karena dia tidak sedang
> beruntung. Semua karena dia kalah.
>
> Sebab hasilnya-- sejak hasil perhitungan cepat (quick count) ditayangkan,
> sampai ketika hitungan resmi oleh KPU di bawah pengawasan ketat di seluruh
> negeri demi memastikan tidak ada ketidakwajaran yang terluputkan-- secara
> konsisten dia berada di kubu yang kalah.
>
> Padahal, selama berbulan-bulan kubunya telah dengan gigih dan tiada henti
> melancarkan upaya kampanye garang secara besar-besaran, efektif dan
> sistematis di setiap basis media yang sebenarnya sudah berhasil mendongkel
> kenaikan suara daripada yang semestinya ia dapatkan. Kendati telah
> mengerahkan upaya-upaya humas yang taktis dan besar-besaran untuk
> mengangkatnya menjadi tokoh penyelamat negeri ini ditambah lagi dengan
> berbagai aktivitas, baik yang secara terang-terangan maupun yang secara
> sembunyi-sembunyi, untuk mempengaruhi para pemilih agar memilihnya. Belum
> lagi entah berapa banyak uang, waktu, dan ahli strategi kampanye
> profesional, energi dan kenaikan tensi darah demi memenuhi ambisi seumur
> hidupnya: menjadi presiden di negeri ini.
>
> Namun, dalam kenyataan, pemenangnya hanya boleh ada satu. Dan pemangnya
> sudah terpilih, dan bukan dia. Kendati apapun yang dicemoohkan kubu
> seberang, kendati ia telah mengumumkan ke seluruh dunia bahwa dialah sang
> pemenangnya, kendati seberapa banyak pun amarah dan ngamuk, fakta itu tidak
> bisa diubah. Kenyataan adalah banyak sekali kandidat presiden yang kalah di
> dunia ini ujung-ujungnya toh harus menerima kekalahan, seberapa pahitpun,
> tanpa harus jadi ngamuk-ngamuk yang membuat iba. Toh semua ini hanya dunia
> politik, bukan taman bermain di Taman Kanak-Kanak.
>
> Alih-alih mundur dengan tenang dan anggun-- yang merupakan tindakan
> terhormat, terutama bagi seorang yang perkasa dan patriot seperti
> pengakuannya tentang dirinya selama ini-- dia telah mencuri terlalu banyak
> perhatian media yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memberi ucapan
> selamat kepada presiden terpilih yang baru, malah harus difokuskan bagi
> rasa sakit hatinya, rasa frustrasinya, dan perasaan terkhianati tiada
> terhingga.
>
> Kan dialah simbol heroisme dan keberanian? Kan dialah seorang pendekar
> demokrasi? Kan dialah kastria berseragam berkilau para yang telah
> ditakdirkan untuk mengangkat rakyat Indonesia dari kebodohan,
> mentalitas-budak, dan dari penindasan pihak-pihak asing yang arogan itu?
>
> Tidakkah jelas bahwa dialah sang pemenang pemilu yang sebenarnya dan yang
> sah, bukan lelaki kerempeng pembuat mebel yang tak jelas asal usulnya yang
> tidak pernah menunggang kuda, tak pernah menyandang senjata atau tak pernah
> membela negara dalam peperangan? Seorang yang tak punya nyali untuk
> berhadapan dengan seorang yang terlahir dari keluarga berada dan dengan
> keturunan yang dapat dilacak selama berabad-abad?
>
> Pastilah ada kekeliruan. Ada kejahilan yang keji. Atau semacam konspirasi
> sistematis dan masif yang direkayasa oleh para pendukung Kekuatan Jahat
> untuk merampas tahta yang sepenuhnya telah menjadi miliknya sejak ia
> dilahirkan. Mereka yang berada di atas itu tidak pernah salah. Maka yang
> salah adalah seluruh proses pemilu ini. Dan adalah kewajibannya untuk
> meluruskan kesalahan itu, apapun yang terjadi, karena kalau tidak maka
> bahaya mengancam bila ketidakadilan tidak ditegakkan.
>
> Tak masalah bahwa seluruh negeri menjadi tersandera oleh murkanya. Tak
> masalah bahwa ia memperlakukan lembaga-lembaga terhormat dengan cara hina
> macam seorang tiran penindas yang memuakkan dan agresif, dan ini ketika dia
> bahkan belum jadi presiden. (Hanya Tuhan yang tahu apa jadinya bila dia
> yang menjadi presiden).
>
> Karena itu, saya sepenuhnya menyalahkan KPU karena dari awal telah
> membiarkan seorang megalomania delusional mengikuti pemilihan presiden. ***
>
> Tulisan asli dalam bahasa Inggris, diterjemahkan oleh Rani Rachmani
> Moediarta.
>
> (Nugie Stine/Facebook)
>
> Sumber:
> http://www.thejakartaglobe.com/opinion/desi-anwar-take-delusional-prabowo/
>
>  * Catatan Redaksi:
>
> Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI):
>
> - Megalomania adalah kelainan jiwa yang ditandai khayalan tentang
> kekuasaan dan kebesaran diri
>
> - Delusi adalah pikiran atau pandangan yang tidak berdasar (tidak
> rasional), biasanya berwujud sifat kemegahan diri atau perasaan
> dikejar-kejar; pendapat yang tidak berdasarkan kenyataan; khayal
> (c) 2013 baranews.co
>
> Wassalam dan terimakasih
> dedi suryadi
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke