August 11, 2014 RUSMEL DT. SATI – Perhelatan pemilihan gubernur (Pilgub) Sumatera Barat periode 2015-2020, konon akan digelar serentak dengan pilkada bupati dan walikota sekitar Oktober 2015. Benar atau tidak, sama rancunya dengan aturan pilkada itu sendiri. Tetapi dengan berpegang kepada aturan sebelumnya, agar tidak kecolongan waktu, sejumlah kandidat telah mempersiapkan segala perlengkapan dengan memasang baliho dan spanduk di berbagai tempat strategis di pinggir jalan raya.
Ramainya pemasangan baliho itu semakin menunjukkan gejala tentang bursa politik lokal di Sumbar akan bertambah dinamis. Sekalipun figur Gubernur Sumbar sekarang, Irwan Prayitno (IP), masih sangat diperhitungkan sebagai calon incumbent, tetapi bukan sesuatu yang muskil kalau Wagub Muslim Kasim (MK) akhirnya menelikung IP. MK yang juga calon petahana, tentunya akan berjuang tunggang-langgang untuk naik kelas menjadi gubernur. Obsesi ini sama kerasnya bagi MK, lantaran sandungan terberat justru datang dari kawasan ‘darek’ yang memunculkan kandidat sekelas Bupati Solok Syamsu Rahim. Sebaris dengan Syamsu Rahim (SR), kunci pintu masuk ke gubernuran juga dimiliki oleh Bupati Tanah Datar, Shadiq Pasadigoe. Dari kawasan ranah Pagaruyuang itu, nama Shadiq membumbung tiada hambatan. Tetapi figur-figur pejabat senior seperti IP, MK, SR dan Shadiq, juga tidak menggaransi kursi gubernur-wakil gubernur akan diperoleh dengan mudah, apabila kemudian mengabaikan potensi sosok politisi lain seperti Ketua DPD Golkar Sumbar Hendra Irawan Rahim (HIR). Deretan tokoh-tokoh ini sama potensinya dengan peluang Taslim, anggota DPD-RI periode 2009-2014. Bahkan belakangan, masyarakat darek, ramai pula mendisikusikan peluang tokoh muda asal Solok, Nofi Candra. Anggota DPD-RI terpilih periode 2014-2019 yang juga pengusaha NC Plaza itu, secara intens terus dibicarakan warga. Namun demikian, pemikiran lain yang tumbuh di lingkungan pengamat lokal, adalah soal kendaraan yang akan dipakai. Tentang IP sebagai calon petahana, sudah bisa dipastikan akan diusung oleh partainya sendiri, PKS. Tetapi nama lain, sampai sekarang masih belum jelas. Atau haruskah melalui jalur independen? Menjadi menarik kemudian, karena Partai Golkar yang diharap sebagai kendaraan politik memiliki penumpang yang sama potensinya. Golkar bahkan diramal akan sulit menentukan jadwal keberangkatan politiknya, sekalipun bisa berangkat tanpa ketentuan harus mencari tambahan partai koalisi. Bila ini terjadi dan itu memang harus dilalui, maka persaingan tinggi di internal Golkar akan sangat seru. Golkar diperkirakan bakal rumit juga menentukan sikap tentang siapa yang akan diberangkatkan menuju bursa Pilgub-Wagub. Tabedonya Golkar kian terasa, karena semua kandidat hampir setara potensinya dan sama pentingnya bagi kedigdayaan partai sendiri. Maka tak dapat tidak, figur-figur yang berasal dari Golkar harus bertarung dulu sebelum akhirnya masuk ke gelanggang demokrasi yang sebenarnya. Sebuah sumber di jajaran Golkar mengaku dilematis dan sulit. Tanpa bersedia ditulis jati dirinya, sumber mengatakan, sebagai partai besar yang berpengalaman, untuk tidak kecolongan dua kali seperti yang terjadi di pentas nasional, Golkar tentunya akan melakukan selektifitas kandidat dengan memakai berbagai metoda. Instrumen yang dipakai bisa melalui survey, tetapi tidak mengabaikan kantong-kantong dukungan suara. Golkar seharusnya tidak terpesona oleh popularitas calon saja, tetapi juga mengacu kepada warna elektabilitas. Termasuk, kata sumber itu, memperhitungkan keterwakilan potensi dukungan suara dari calon yang diajukan. Metoda ini berarti, bahwa ego jabatan pada struktural partai harus dikesampingkan ketika figur yang dianggap bisa meraup dukungan, memang lebih berpotensi untuk mengambil mandat rakyat. Kata sumber, kajian ini datar-datar saja. Tidak berasal dari sebuah kedekatan dengan salah satu kandidat, tetapi lebih sebagai bentuk mengedepankan rasional, bahwa selain pengalaman, visi kerakyatan dan talenta kepemimpinan, maka keterwakilan daerah tempat calon berasal juga menjadi instrumen penentu keputusan partai. Karena bagaimana pun, ulas sumber tadi, potret demokrasi kita belum bisa melepaskan perasaan dari sentimen primordial dan sentimen emosional. Itulah maknanya, kenapa paguyuban-paguyuban atau organisasi masyarakat, seperti PKDP (Persatuan Keluarga Daerah Piaman), Perwatar (Persatuan Warga Tanah Datar) dan bahkan S3 (Solok Saiyo Sakato), mengambil posisi menentukan calon yang akan diusung untuk kemudian menentukan arah dukungan kepada calon yang diorbitkan. Tersebab suasananya masih pagi, maka perkiraan partai-partai yang akan mengajukan pasangan cagub-cawagub juga sebenarnya masih kabur. Tetapi soal nama-nama yang mengapung, siapa berani menahannya karena selera kepemilihan masyarakat mempunyai warna sendiri pula. Itu makanya kita sekarang sudah dapat mengetahui dan bahkan mereka-reka, tentang siapa-siapa yang akan bertarung dalam Pilgub mendatang. Bila mau menangkap fenomena ini, Golkar dan partai-partai lain di luar Golkar seyogyanya sejak pagi-pagi harus lebih jeli memanfaatkan fatamorgana politik lokal, bila memang hendak menjadi penguasa sejati di Ranah Minang ini. Bila masih abai, sekalipun peluang sangat besar karena mempunyai kader yang potensial dan berbobot pula, Golkar bisa jadi akan kelimpungan sendiri ketika harus menentukan siapa dari mereka yang benar-benar mempunyai kans untuk mampu mengungguli rival-rival politiknya, yang notabene juga mempunyai kualitas yang hebat-hebat pula. Ketika mencoba meraba-raba tentang kekuatan dari semua calon yang telah mengapung, prakiraan awam akan mengantarkan kesimpulan bahwa akan terjadi persaingan 4 tokoh di partai Golkar yang akan didapuk menjadi pasangan Cagub-Cawagub. Empat tokoh ini berada di tangan MK, SR, Shadiq dan HIR. Di luar nama-nama ini, selain IP sebagai incumbent, juga sudah melangit nama Taslim dari PAN, Nofri Candra dan Nasrul Abit. Kemudian yang tak kalah pentingnya ada nama Indra Catri yang saat ini memimpin Agam. Peluang kandidat-kandidat ini sama kuatnya, seperti halnya juga sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan. Kejelian menautkan antara kekurangan dan kelebihan inilah yang kelak akan menjadi kerja besar partai untuk menghasilkan pasangan yang berkualitas. Dalam konteks ini, bila Golkar mempunyai pemikiran lain, dengan menghadirkan figur lain sebagai pasangan dari partai sebelah, seluruhnya juga akan mempertimbangkan aspek pengalaman dan keterwakilan daerah pemilih. Akan sangat rugi rasanya bila pasangan yang diusung justru tokoh-tokoh dari satu daerah atau berasal dari daerah bertetangga. Kita memang tidak boleh mempertebal dikotomi wilayah. Namun dalam sebuah pesta demokrasi, nuansa kedaerahan tetap akan terbaca, sehingga kombinasi pasangan yang berasal dari Utara dan Selatan, atau Timur dan Barat, akan menjadi aturan yang tidak tertulis. Andai melangkah dalam patron ini, maka ketika mencoba memasangkan MK dengan SR, atau MK dengan Shadiq, atau SR dengan HIR, dan seterusnya Shadiq-Hendra, masing-masing pasangan mempunyai peluang yang berbeda. Itu sudah pasti. Seluruh aspek pertimbangan akan mengatrol dukungan terhadap calon. Bila pandangan kemudian dibelokkan ke soal pengalaman kepemimpinan di pemerintahan, maka MK, SR dan Shadiq lebih bernilai jual karena mempunyai modal dalam birokrasi. MK sebelum menjadi Wagub adalah Bupati Padang Pariaman, Shadiq merupakan Bupati Tanah Datar dua periode dan SR sebelum menjadi Bupati Solok, pernah membenahi infrastruktur dan perekonomian Kota Solok sebagai Walikota. SR juga telah malang melintang di Kota Sawahlunto sebagai seorang birokrat dan politisi sekaligus. SR juga merasakan dinamika pembangunan dalam posisinya sebagai mantan ketua DPRD Sawahlunto. Lantas, bila tokoh-tokoh ini dikerucutkan menjadi satu pasangan Cagub-Cawagub, apakah MK-SR, atau MK-Shadiq, atau SR-Shadiq dan bisa juga sebaliknya, Shadiq-SR, optimisme masyarakat tentunya juga akan berbeda. Karena salah satu nilai ukurnya, mungkin soal kantong-kantong suara potensial dari yang bersangkutan. Karena bagaimanapun, memilih kepala daerah dominasi sentimen emosional dan primordialisme lebih mampu berbicara dibanding mesin politik partai. Atas analisa sederhana ini, maka prakiraan yang bisa mendekati kenyataan lebih dominan di tangan MK-SR. Kombinasi pasangan lain di belakang itu, ditengarai bisa mengalami jalan buntu karena faktor non teknis, seperti sama-sama berkeinginan menjadi orang nomor 1. Padahal tanpa ingin melemahkan posisi tawar masing-masing kandidat, ketiga tokoh ini harusnya seayun tanpa membedakan posisi. Nomor 1 atau nomor 2, sama saja. Bukankah kantornya di Jalan Sudirman juga? Mungkin yang akhirnya akan membedakan adalah soal arus dukungan dari aspek primordial (kedaerahan) pemilih. Misalnya, andai MK dipaketkan dengan SR, di situ akan bertaut sentimen PKDP dengan S3. Atau bila SR merajut kesepahaman dengan Taslim, akan menautkan sentimen S3 dengan Agam dan sekitarnya. Begitu seterusnya, terhadap pasangan lain. Justru mempertemukan perbedaan dukungan inilah yang akhirnya tidak bisa seperti melakukan tebak-tebak buah manggis. Dibutuhkan analisa yang komprehensif sebelum menetapkan satu pasangan yang lebih mempunyai nilai tawar. Akhirnya kita menunggu deal politik tentang itu, agar buah manggis tidak lagi sekadar menjadi bahan tebakan-tebakan. (*) http://hariansinggalang.co.id/aroma-primordial-di-bursa-pilgub/ -- *Wassalam* *Nofend St. Mudo37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok SelatanTweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola * -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
