Singgalang | August 20, 2014 11:46 am | Published by Admin | No comment

JAKARTA – Para perantau yang pulang kampung saat Idul Fitri 1435 H lalu
membawa beragam cerita saat kembali ke perantauan. Tidak terkecuali cerita
kurang mengenakkan saat liburan seusai Idul Fitri.

Pemerintah daerah di Sumbar dinilai tidak belajar dari kejadian tahun lalu,
terutama dalam hal penataan transportasi dan tata kota. Perantau yang ingin
menghabiskan waktu liburannya dengan efektif, harus terjebak dalam
kemacetan yang mengular dan memakan waktu hingga berjam-jam.

Seperti yang disampaikan Daswil Bakar, tokoh perantau di Papua. Menurut
perantau asal Padang ini, kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi,
tapi pemerintah daerah seakan membiarkan dan tidak mencarikan solusi yang
tepat.
“Para perantau ingin menghabiskan waktunya yang terbatas dengan efektif.
Tapi dengan kondisi jalan yang terus-menerus macet, tentu hanya akan
menghabiskan waktu di jalan. Ini sudah terjadi sejak beberapa tahun
belakangan, kenapa pemerintah daerah seakan tidak mencarikan solusi,” ujar
Daswil beberapa waktu lalu.

Mantan Ketua Ikatan Keluarga Minang Saiyo (IKMS) Papua ini menyebutkan,
perlu kerja sama antar pemerintah kabupaten/kota yang difasilitasi
pemerintah provinsi. Kalau tidak ada langkah nyata, kemacetan yang terjadi
tiap lebaran akan menjadi momok yang membuat Sumbar akan sepi kunjungan.
“Bayangkan saja, untuk Padang-Bukittinggi bisa menghabiskan waktu hingga 8
jam. Begitu juga dengan Payakumbuh-Bukittinggi yang bisa 5 jam,” jelasnya.

Dengan kondisi seperti ini, lanjut Daswil, maka kerugian yang muncul akan
sangat banyak. Mulai dari kerugian ekonomi, waktu, hingga kepercayaan
masyarakat. Seharusnya pemerintah menyiapkan jalan alternatif yang menjadi
solusi kemacetan, atau mengefektifkan jalan yang sudah direncanakan seperti
Malalak.
“Kita butuh manajemen pengelolaan yang baik. Kalau tidak, jangankan
wisatawan, perantau juga akan malas pulang kampung. Bisa dibayangkan,
setiap tahun berapa uang yang dibawa perantau saat mudik. Jumlah uang itu
sangat bisa membantu perekonomian, jika infrastruktur penunjang juga baik,”
kata Daswil.

Dicontohkannya, banyak yang mau ke Bukittinggi untuk berbelanja tapi tidak
jadi karena sudah sore sampai di sana. Selain itu, untuk berhenti juga
susah karena tempat parkir sangat kurang. Dengan kejadian seperti itu,
berapa kerugian yang diderita para pedagang.

Kekecewaan juga muncul dari Sekjend Gebu Minang, Yulianto Syahyu.
Menurutnya, jika tidak ada langkah kongkret Pemda, maka kemacetan akan
terus terjadi. Dan hal ini bakal menimbulkan kerugian bagi Sumbar.
“Jalan menuju Pessel juga sudah macet. Pertumbuhan kendaraan tidak
diimbangi dengan penambahan jalan, atau setidaknya jalan alternatif.
Ditambah lagi kendaraan yang masuk ke Sumbar saat lebaran juga sangat
banyak,” katanya.

Sementara itu, Ade, perantau asal Tanah Datar mengungkapkan karena
kemacetan yang terjadi, dia memilih membawa keluarganya libur ke Pekanbaru
pas lebaran. Meski jaraknya jauh, tapi dibandingkan dengan waktu tempuh ke
Bukittinggi hampir sama ke Pekanbaru.
“Hampir sama, lagian macet juga membuat anak-anak saya stres di atas
kendaraan yang berhenti terlalu lama. Pemerintah tidak peduli mungkin
dengan kami,” ujar Ade.

Selain masalah transportasi, para perantau juga memberikan saran agar
pemerintah kembali mempromosikan kekayaan daerah masing-masing. Seperti
Bukittinggi dengan sanjai dan lain-lain. (601)

http://hariansinggalang.co.id/perantau-bawa-cerita-kurang-enak-dari-sumbar/--





*Wassalam*



*Nofend St. Mudo37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok
SelatanTweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola *

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke