--- Mas'oed Abidin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> --- Kepada ananda Rahima <[EMAIL PROTECTED]> :
> >
> >
> > Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
> >
> Tidak ada jalan yang selalu mudah dan licin untuk
> mencapai sesuatu
> tujuan yang bernilai tinggi.
>
> Tidak ada pelayaran tanpa resiko.
> Soal utama di alaf ini, bukanlah terletak paada ada
> atau tidak ada
> resiko.
> Shadaqallahul 'adhim,
> Layarkanlah terus perahu hidup ini.
> Tenanglah menghadapi ombak dan gelombang badai
> globalisasi,
> Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Pengasih.
>
> > Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wa barakatuh,
> Buya HMA
>
>
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh.
Buya Mas'oed yang saya muliakan dan dunsanak RN.
Saya tidak tahu, harus mengucapkan terimakasih semacam
apa kepada Buya atas segala saran, nasehat dan
motivasi kepada nanda. Ada perasaan segan mau bicara
semacam apa. Karena yang ada dihadapan nanda kini
adalah orang yang sangat nanda respect. Tata cara Buya
memberikan nasehat pada yang muda dengan tidak
membuatnya merasa digurui, dicaci maki, direndahkan
apalagi dibanding-bandingkan.
Mungkin saya termasuk anak yang tidak gampang diajari
dari seseorang, tetapi sangat gampang menerima nasehat
apabila saya melihat orang tersebut memang menjadi
tauladan bagi saya, dia tidak suka mengguncingkan
orang, tidak suka membanding-bandingkan antara satu
anak dengan anak lainnya, tidak suka mengajak orang
lain, agar ikut bersamanya menggulir/menggeser orang
yang pernah menyakitinya, dan tidak melakukan
perlakuan yang sama dengan apa yang disampaikannya
tentang orang lain, kadang saya suka bingung, ada
orang yang bilang si Anu begini begitu, padahal ia
sendiri melakukan hal yang sama. Aneh bagi saya akan
hal ini.
Buya yang nanda hormati, nanda pernah ikut berbagai
organisasi yang aneh-aneh dan macam-macam. Dan
seringnya nanda lari dari mereka, karena merasa itu
ngak sesuai dengan apa yang nanda ketahui dari AlQuran
dan Assunnah.
Kemudian nanda pernah dekat dengan siapa saja, bisanya
nanda juga menjaga jarak dengan orang tersebut, karena
merasa, orang ini ngak bisa jadi sahabat dekat saya,
karena bisa jadi, saat ini, tatkala ia melakukan
kejahatan yang menurut saya tidak pantas dilakukannya
pada orang lain, suatu saat kelak, hal ini bisa saja
dilakukannya pada saya saat saya jauh darinya.Contoh,
dia bergunjing atau mengajak saya untuk hal-hal yang
saya rasa ngak baik, akan seseorang, saya biasanya
ngak terikut dengannya, inilah prinsip nanda dari
dulu, memang ngak gampang terbawa arus apabila kearah
yang salah, dan ini bisa jadi bagi teman itu, sangat
menyakitkan, seolah-olah saya sepertinya orang yang
"egois", padahal tidak, saya lebih banyak mengalah,
cuman sulit aja mengikuti arusnya yang jelek itu.
Buya yang nanda hormati, nanda akui, banyak sekali
nanda memiliki kekurangan, jauh dari kesempurnaan yang
buya miliki. Mungkin suatu saat kelak, jejak langkah
buya akan nanda ikuti, oleh sebab itu, kalau ingat
buku-buku Buya, nanda teringat akan Buya Hamka, yang
banyak berisikan budi pekerti, etika, akhlak, dari
sana nanda banyak belajar.
Namun, tanpa menghilangkan harga diri, seperti sikap
Nasrani, dikasih pipi kanan, diberi pipi kiri. Nanda
mungkin ngak seperti itu Buya, ditampar pipi kiri,
nanda akan menahan tangan nya untuk tidak menampar
pipi kanan nanda, agar jangan dia berbuat kedua
kalinya dengan tamparan pipi kanan nanda. Nanda ada
membaca tafsiran dari Ulama Al Biqa'i dalam kitabnya
"Nudjumu addurar fi tanasub bainal aayah"( Bagaimana
menjelaskan penafsiran sesuai dengan hubungan suatu
ayat akan ayat lainnya).
Beliau menyebutkan dalam penafsiran Q.S. Al Furqan
akan kata "Dan apabila mereka ditegur oleh orang-orang
jahil, mereka akan mengatakan Salaamaa".
Kata "Salama" itu ditafsirkan dengan apabila kita
ditegur dengan kejahilan, fitnahan terhadap diri kita,
maka ucapkanlah kata-kata salama, dengan sikap
bersabar, dan menahan ia berbuat kejahilan untuk kedua
kalinya kepada kita.Dan jangan sama sekali memulai
kejahatan pada siapapun, namun setahu saya sikap yang
diajarkan Islam adalah membela diri, agama, negara,
bila kita diserang lebih dahulu, dan tidak perlu pula
harus sepertinya mencaci maki pula kita,
nauzubillahimindzalik.
Jadi, kesabaran, bukan hanya menerima saja, tetapi
berusaha menahannya agar jangan menampar pipi kanan
lagi, setelah pipi kiri kita ditamparnya. Inilah
pelajaran tafsir yang saya baca.
Begitu juga, saya kira sikap kita terhadap Non Muslim
yang mencoba mencaci maki 'izzah" kemuliaan Islam.
Sabar dengan arti kata menahannya juga agar jangan
mencaci maki untuk kesekian kalinya. Rasulullahpun
bersikap tegas, dan keras, bahkan pernah menyuruh
memerangi kaum pembangkang. Disitulah letaknya 'Izzah'
diri dan agama.
Buya, yang nanda hormati
Mungkin Buya masih mengenal Ustadz Suhairi Ilyas,
Ustadz Rusdi Kinan, Ustadz Reza Muhammad, apalagi
Bapak Quraish Shihab, kesemuanya itu adalah guru-guru
yang sangat dekat dengan nanda secara pribadi.Nanda
dengan beliau-beliau itu, bukan sekedar murid dan
guru, tetapi dah seperti orang tua dan anak sendiri,
saking dekatnya, sampai saat inipun.
Dan semua kedekatan itu, bukan lah berkonotasi kepada
yang negatif, tetapi positif, karena nanda mereguk
ilmu dari beliau-beliau itu, dan tidak pernah saya
lupakan seumur hidup saya, karena rasa "sayang" sudah
terjalin antara kami.
Buya, selain beliau-beliau itu, tentu Buya adalah guru
nanda juga. Sebagaimana Hamkapun guru nanda, karena
nanda melihat kesamaan Buya dengan Hamka, sopan
santun, ramah, penyantun, dan pandai berinter aksi,
pandai mengungkapkan kata, wah, nanda pikir, kapan
nanda bisa sesantun dan sebijaksana Buya yah?, meski
nanda juga tak pernah bersua dengan Buya Hamka,
bertatap muka, hanya melalui goresan penanya nanda
mendalaminya.
Tapi...akh..sudahlah, mungkin nanda masih akan
menikmati masa muda nanda dulu kali, jadi masih jauh
kearah sikap seperti yang Buya contohkan.Dan masih
akan tetap belajar dan terus belajar lagi. Kalau nanda
berada ditengah teman-teman mahasiswa Al Azhar yang
lain, terasa sekali kekurangan nanda, banyak sekali
mereka yang pintar-pintar, mungkin ini juga sebabnya
nanda tak pernah berhenti untuk belajar dan membaca,
karena selalu merasa kurang, dan kurang lagi.
Semakin banyak nanda membaca, belajar, yang anehnya
kenapa serasa semakin tidak tahu saja. Nanda sering
berfikir, kapan nanda jadi orang pintar? Rasanya ini
ngak pernah terjadi, sebab semakin air itu dimimun,
semakin haus saja, semakin banyak kandungan AlQuran,
hadits yang sama sekali tidak/belum nanda ketahui.
Perbanyak maaf Buya, kayak anak kecil saja, masih suka
bermanja, masih suka cerita pada sang Guru.
Wassalamu'alaikum. Nanda Rahima.(38 thn)
>
>
>
>
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search.
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---