Mohon share atas issue ini sehingga tidak terpedaya dengan berita dari
Barat yg sengaja dihembuskan oleh non muslim.
HZS 71

Rabu, 3 September 2014 | 12:47 WIB
Makam Nabi Dibongkar,Muslim Indonesia BangkitLagi?

Oleh: Darmawan Sepriyossa

Makam Nabi Dibongkar,Muslim Indonesia BangkitLagi?

INILAHCOM, Jakarta –Beredarnya dokumen berupa proposal pembongkaran makam
Rasulullah SAW di Madinah, kembali menyentak sisi keagamaan kita. Benarkah
rencana itu ada? Akankah Muslim dan ulama Indonesia menegaskan penolakan
bersama?

Sebagaimana ditulis hampir seluruh media massa, saat ini beredar proposal
setebal 61 halaman tentang pembongkaran makam dan pemindahan sisa jenazah
Rasulullah oleh pemerintah Arab Saudi. Sebenarnya isu itu isu lama. Sebelum
kembali heboh saat ini, tahun lalu isu itu juga menimbulkan gonjang-ganjing
di dunia Islam.

Saat itu, selain menyoal penghilangan satu persatu peninggalan Rasulullah
–rumah Nabi, rumah Khadijah, rumah Fatimah dst, bahkan timbul kritik atas
penataan Mekkah yang dilakukan pemerintah Saudi.

Irfan al-Alawi, direktur Islamic Heritage Research Foundation,
memperingatkan niat pembongkaran makam Rasulullah tersebut. Kepada koran
The Independent, Al-Alawi menyatakan kekecewaannya. "Orang-orang ingin
mengunjungi ruang tempat keluarga Rasulullah pernah tinggal," ujar dia.
"Kini semua itu akan dihancurkan karena pemerintah Arab Saudi menganggapnya
sirik dan praktik penyembahan berhala."

Surat kabar Timur Tengah, worldbulletin, mengritik pembangunan Mekkah ala
Dinasti Saudi. “Atas nama haji,” tulis koran tersebut, “Kota suci itu
sekarang sesak dengan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan dan hotel
mewah.” Yang membuat Muslim dunia terperanjat, warisan arkeologi bangsa
Arab sendiri diinjak-injak di atas nama konstruksi modern dan ajaran Wahabi
yang memandang peninggalan itu membawa sirik.

"Tidak seorang pun punya nyali untuk berdiri dan mengutuk vandalisme budaya
ini," kata Al-Alawi. "Kami sudah kehilangan 400-500 situs,” kata dia. Asal
tahu saja, hanya untuk membangun Hotel Clock Tower yang sudah berdiri saat
ini, pemerintah saudi mendinamit seluruh gunung dan Benteng Ayjad
peninggalan era Ottoman yang terletak di atasnya. Di ujung lain Komplek
Masjidil Haram, rumah istri pertama Nabi, Khadijah, kini telah berubah
menjadi blok toilet.

Wajar bila tahun lalu, dari Indonesia sendiri muncul buku yang mengkritik
pembangunan Mekkah yang nyaris tanpa arah. “Ketika Mekkah Menjadi Seperti
Las Vegas,” adalah judul buku laris karangan Mirza Tirta Kusuma itu.

Persoalannya, akankah rencana pembongkaran makam Nabi itu menyulut
solidaritas dan ghirah (semangat relijius) Muslim Indonesia? Pasalnya,
ketika rencana itu pertama kali muncul di awal abad 20 lalu, respons
perkara itu di Indonesia adalah terbentuknya Nahdlatul Ulama (NU).

Awalnya, para ulama Indonesia yang keberatan dengan rencana pembongkaran
itu membentuk Komite Hijaz. Komite itu mengemban misi penyelamatan makam
Rasulullah dari upaya penghancuran oleh pemerintah Arab Saudi. Pemerintah
Saudi yang memeluk faham Wahabi terkenal sangat membenci ziarah kubur,
bahkan menyamakannya dengan perbuatan khurafat yang mendekati sirik.
Rencana itu membuat gelisah para kyai dan ulama Indonesia, Jawa khususnya.

Pada 1924-1925 itu Arab Saudi baru saja berdiri dengan bantuan Inggris.
Prosesnya nyaris seperti tergambar dalam film ‘Lawrence of Arabia’ yang
dibintangi Peter O’Toole. Negeri itu dipimpin Ibnu Saud, yang sejak zaman
kakeknya sudah berhubungan dan beraliansi erat dengan Muhammad bin Abdul
Wahhab, pendiri faham Wahabi. Sejak menguasai tanah haram, ruang gerak
untuk mengerjakan ajaran faham 4 mazhab yang pernah berjalan damai di
masjid Haram dan Masjid Nabawi, terganggu. Semasa itulah terjadi eksodus
para ulama dari seluruh dunia keluar Saudi. Mereka kembali ke negara asal
masing-masing, termasuk para pelajar Indonesia yang tengah menuntut ilmu di
tanah Hijaz.

Komite Hijaz pun mengirimkan utusan untuk menemui Raja Ibnu Saud. Utusan
itulah yang kemudian dikenal sebagai Komite Hijaz, dipimpin KH Abdul Wahab
Chasbullah.

Persoalannya, karena untuk pengiriman itu dibutuhkan organisasi formal,
sementara Indonesia sendiri masih dalam penjajahan Belanda, didirikanlah
Nahdlatul Ulama pada 1926. NU-lah kemudian yang secara formal mengirimkan
delegasi menemui Raja Ibnu Saud.

Ada lima permohonan Komite Hijaz, salah satunya untuk pembatalan
pembongkaran makam Nabi tersebut. Kita tahu, Komite itu sukses terutama
pada tujuan pendiriannya yang utama.

Kini, perlukah umat Muslim Indonesia kembali membentuk ‘Komite Hijaz’ dan
mendatangi Raja Arab Saudi? [dsy]

facebook  facebook
Berita Terkait
(Bongkar Makam Nabi) PKB Kirim Tim Temui Raja Arab Saudi
Umat Islam jangan Tersulut Emosi Isu Makam Nabi
(Pembongkaran Makam Nabi) Ini Hasil Pertemuan Menag dengan Dubes Arab
Kedubes Arab Bantah Pemindahan Makam Nabi Muhammad
(Pembongkaran Makam Nabi) Muhammadiyah Dorong Indonesia Berikan Sikap Resmi

Kembali ke atas
Copyright 2008 - 2014 inilah.com, All rights reserved inilah.com

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke