Sanak yang di Pekanbaru,
Apa iya apa yang diperkatakan orang tentang Gubri ni?
Bacalah... sampai bercarut dia...



Ka manga awak...


Jum'at, 05 September 2014 | 11:42 WIB
8 Kontroversi Gubernur Riau yang Jadi Sorotan
TEMPO.CO, Jakarta - Baru tujuh bulan diangkat menjadi Gubernur Riau, Annas 
Maamun sudah 
menuai berbagai sorotan negatif. Annas dilantik pada 19 Februari 2014. 
Ia menggantikan pejabat lama, Rusli Zainal, yang kini mendekam di Rumah 
Tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi lantaran terjerat kasus korupsi PON Riau.

Sebelum menjadi gubernur, Annas pernah menjabat Ketua DPRD
 Kabupaten Bengkalis, Ketua DPRD Kabupaten Rokan Hilir, dan Bupati Rokan
 Hilir. Berikut ini tujuh aksi kontroversi Gubernur Riau Annas Maamun:

1. Pengakuan Eks Pekerja Rumah Tangga
Saat
 masih menjadi Bupati Rokan Hilir, Annas diduga melakukan tindak asusila
 terhadap S, pembantunya. Kepada sejumlah media pada pertengahan 
November tahun lalu, perempuan berusia 52 tahun itu bercerita awalnya 
Annas yang kelihatan capek meminta S memijat beberapa bagian tubuhnya. 
Lantaran yang meminta itu majikan, S pun manut. Awalnya proses pemijatan
 tersebut berlangsung sopan layaknya majikan dan pembantu. Namun, 
belakangan Annas mengajak S berhubungan badan. Seingat S, dua kali 
mereka pernah benar-benar berhubungan badan. (Baca: 3 Skandal Asusila Gubernur 
Riau yang Bikin Heboh)

Menanggapi
 tudingan S, Annas mengaku banyak isu yang dibangun di tengah masyarakat
 tentang dirinya, antara lain isu dugaan korupsi, perselingkuhan, dan 
terlibat G-30S PKI. Ia sengaja tidak membalas semua itu karena ia 
menyangkal melakukannya. "Saya ini bupati. Kalau pun mau selingkuh masak
 dengan perempuan tua. Saya bisa mencari yang lebih muda lah sedikit," 
katanya saat menghadiri lokakarya peningkatan pembangunan desa di 
Kepulauan Meranti, Selasa, 19 November 2013.

2. Memaki-maki Jurnalis
Kekesalan
 Annas dipicu oleh berita sejumlah media yang menuding dia mulai 
membangun dinasti politik di Riau. Annas mengangkat sanak famili dan 
anak-menantu untuk menempati pos-pos penting di Bumi Lancang Kuning. 
Dalam satu kunjungan ke Komisi Pemilihan Umum Riau, 17 April 2014 atau 
dua bulan setelah dilantik menjadi gubernur, wartawan bertanya tentang 
pengangkatan yang kontroversial itu.

Bukannya memberikan 
klarifikasi, Annas justru menghardik dan mengucapkan kata-kata kasar 
kepada jurnalis yang sudah menunggunya. “Jangan dinasti-dinasti lagi, 
Pant*k!” Kata Pant*k adalah kata kasar yang kerap dipakai oleh 
masyarakat di daerah Sumatera bagian tengah. Pertanyaan jurnalis 
terbilang wajar karena sehari sebelumnya banyak kerabat Annas diberi 
jabatan penting.

Rabu, 16 April 2014, Annas melantik anak 
kandungnya, Fitriana, menjadi Kepala Seksi Mutasi dan Nonmutasi Badan 
Kepegawaian Daerah Riau. Winda, anak Annas lainnya, diangkat menjadi 
Kepala Seksi Penerimaan UPT Dinas Pendapatan Daerah Riau. Annas juga 
mengangkat saudara iparnya, Syaifuddin, menjadi Kepala Subbagian Tata 
Usaha Bagian Kas Daerah Biro Keuangan Sekretaris Provinsi Riau.


3. Ijazah Palsu Anaknya
Setelah 
dituding hendak membangun dinasti politik, nama Annas tgercoreng oleh 
kelakuan Wakil Bupati Rokan Hilir Erianda, yang juga anak kandungnya. 
Erianda dituding menggunakan ijazah palsu untuk kelengkapan administasi 
menjadi Wakil Bupati Rokan Hilir. Seorang warga Rokan Hilir, Faisal 
Reza, melaporkan kasus tersebut ke Kepolisian Daerah Riau, Selasa, 17 
Juli 2014. (Simak: Kasus Ijazah Palsu Anak Gubernur Riau Mandek) 

Erianda
 dilantik sebagai Wakil Bupati Rokan Hilir oleh Annas pada Sabtu, 12 
Juli 2014. Pelantikan tersebut menyusul kekosongan kursi Wakil Bupati 
Rokan Hilir yang ditinggal Suyatno, yang kini menjadi Bupati Rokan 
Hilir. Nama Erianda diusulkan oleh Partai Golkar sebagai partai pemenang
 untuk menjadi Wakil Bupati Rokan Hilir melalui sidang paripurna DPRD 
Rokan Hilir.

Juru bicara Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir Syamsul
 Kidul membantah terjadi pemalsuan ijazah. Menurut dia, sebelum dilantik
 menjadi wakil bupati, segala berkas persyaratan milik Erianda sudah 
diverifikasi oleh tata pemerintahan Rokan Hilir dan Kementerian Dalam 
Negeri. "Kalau ijazahnya bermasalah, tidak mungkin bisa dilantik," 
ujarnya. Juru bicara Polda Riau, Ajun Komisaris Besar Guntur Aryo Tejo, 
mengatakan penyidik masih bekerja mengumpulkan bukti tambahan untuk 
mengungkap kasus itu. (Baca: Mantan Istri Sebut Wabup Rohil Tak Pernah Wisuda)

4. Surat Peringatan Syarwan Hamid
Mantan
 Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid mengirimkan surat teguran kepad 
Annas. Sebagai salu tokoh di Riau, ia gerah dengan kelakuan Annas selama
 menjadi gubernur. Ia menyebut Annas memimpin Riau dengan gaya 
kepemimpinan brutal. Sebagai salah satu pendukung Annas kala menjadi 
gubernur, Syarwan memohon maaf kepada masyarakat Riau. Pensiunan letnan 
jenderal tersebut mengaku menyesal mendukung Annas.

"Mendesak 
Menteri Dalam Negeri menurunkan tim evaluasi yang meneliti kebenaran 
pendapat yang berkembang di masyarakat terhadap buruknya kepemimpinan 
Annas Maamun. Selanjutnya menilai apakah yang bersangkutan masih layak 
mengemban amanah untuk memimpin Provinsi Riau," demikian isi teguran 
Syarwan Hamid saat mengumpulkan sejumlah tokoh Riau di Hotel Aryaduta 
Riau, Pekanbaru, Sabtu, 2 Agustus 2014.

Wakil Ketua DPRD 
Noviwaldy Jusman mengatakan teguran terhadap Annas sebagai bentuk 
kepedulian Syarwan terhadap perkembangan Riau. “Setiap orang punya hak 
menilai kepemimpinan seorang gubernur, selagi sesuai dengan koridornya,”
 kata Noviwaldy, Selasa, 5 Agustus 2014.

Gubernur Annas enggan 
menanggapi pernyataan Syarwan Hamid yang ingin mengingatkan dirinya 
terkait kebijakan dan perilakunya selama menjabat sebagai gubernur. 
"Saya malas menanggapi masalah seperti itu. Saya mau bekerja," ujar 
Annas di Pekanbaru, Rabu, 7 Agustus 2014.



5. Mahasiswa dan Al-Quran
Ceritanya bermula ketika 
Annas hendak berpidato dalam acara sidang paripurna istimewa Hari Ulang 
Tahun ke-57 Riau di gedung DPRD Riau, 9 Agustus 2014. Setelah naik 
panggung dan hendak berpidato, sekonyong-konyong tiga mahasiswa yang 
duduk di bagian belakang berlari ke depan dan menyeruduk Annas. Salah 
satu dari tiga mahasiwa yang menggunakan jas almamater salah satu 
universitas Riau itu memegang Al-Quran.

Al-Quran itu sepertinya 
hendak diberikan kepada Annas. Namun, petugas Satuan Polisi Pamong Praja
 bergerak cepat dan menangkap ketiga mahasiswa itu. Belakangan diketahui
 bahwa mahasiswa yang membawa Al-Quran itu adalah Zulfa Heri, Presiden 
Badan Eksekutif Mahasiswa Unviersitas Riau. “Banyak-banyak membaca ayat 
Allah agar bisa kembali ke jalan yang benar,” kata Zulfa menjelaskan 
maksudnya memberikan kitab suci itu kepada Annas.

Saat dimintai 
tanggapan ihwal insiden tersebut, Annas mengaku tidak tahu kenapa diberi
 Al-Quran. "Tidak tahu saya itu. Kalau ingin memberi Al-Quran ke saya, 
harus lebih banyak baca dari saya. Saya setiap Subuh baca Al-Quran sejak
 tahun 1984. Ini orang yang tak pernah baca Al-Quran malah kasih 
Al-Quran ke saya," katanya. (Baca: Mahasiswa Minta Gubernur Annas Maamun Jangan 
Lari)

6. Kasus Dugaan Penganiayaan
Bekas
 menantu Annas, Ulva Dayani, melaporkan Annas dengan delik penganiayaan 
ke Kepolisian Daerah Riau, Selasa, 19 Agustus 2014. Ia mengklaim bahwa 
Annas pernah memukulinya sekitar 2012. Saat itu ia ingin berjumpa dengan
 anaknya, tapi Annas selalu menghalangi. Selain mengaku pernah dipukuli,
 Annas yang kini berusia 75 tahun pernah menawarkan uang Rp 700 juta 
rupiah agar Ulva tidak menanyakan soal anak-anak lagi. Namun, tawaran 
itu ditolak Ulva.

Ulva mengatakan ia bercerai dengan Erianda pada
 25 Oktober 2011. Lalu, sejak 2013 Ulfa mengaku sudah tidak bisa lagi 
bertemu dua anak kandungnya sendiri. Sebelumnya anaknya yang berusia 7 
tahun tinggal bersama Ulva. Sedangkan yang masih balita tinggal dengan 
Erianda. Namun kemudian anak yang tinggal bersama Ulva diambil secara 
paksa oleh keluarga Annas. "Saya tidak diperbolehkan bertemu lagi," ujar
 Ulva. (Baca juga: Isu Asusila, Gubernur Riau Masih Ngumpet)

Gubernur Annas Maamun belum berkomentar soal tuduhan penganiayaan itu.

7. Pengakuan Mantan Istri Ketua DPRD Dumai
Persis 
sebulan sebelum dilaporkan oleh Sumardhi, Annas juga dilaporkan oleh DS,
 mantan istri Ketua DPRD Dumai, Riau, pada 25 Juli 2014. DS mengatakan 
peristiwa itu terjadi sore hari di sebuah rumah mewah dua lantai, 
tepatnya di Jalan Belimbing 18, pada pertengahan April 2014. DS mengaku 
membeberkan kasus itu ke permukaan pada 25 Juli lalu lantaran masih 
memberi kesempatan pada Anas agar meminta maaf dan mengakui 
perbuatannya.

DS akhirnya menentukan sikap dengan berkonsultasi 
kepada teman-temannya yang kebetulan berprofesi sebagai pengacara. 
Bersama tim kuasa hukumnya, DS melayangkan somasi ke Annas selaku 
gubernur untuk dua alamat yang berbeda, yaitu ke kantor gubernur dan ke 
rumah pribadi Anas di Jalan Belimbing 18, Pekanbaru, Riau, sebagai 
tempat kejadian perkara. (Baca juga: Isu Asusila, Annas Maamun Dikawal 30 
Satpol PP)

Menurut
 DS, kejadiannya bermula ketika ia ingin mengadukan persoalan keluarga 
antara dia dengan suaminya ke Annas. Suami DS adalah Ketua Golkar Dumai,
 sedangkan Anas Ketua Golkar Provinsi Riau. DS berharap Annas mau 
menasehati suami DS. Mereka berbincang di lantai kedua rumah itu. Namun,
 tanpa diduga usai mengobrol DS mengaku Annas melecehkannya secara 
seksual.

Annas enggan menanggapi sejumlah kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 
namanya. 

8. Pengakuan Anak Mantan Anggota DPD
Gubernur
 Riau Annas Maamun dilaporkan mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah, 
Soemardhi Thaher, ke Markas Besar Kepolisian RI atas dugaan tindak 
asusila terhadap WW, anaknya. Kepada wartawan, WW menceritakan 
kronologis tindakan asusila yang dia alami.

Semula WW datang ke 
kediaman Annas pada 30 Mei 2014 sambil membawa proposal untuk meminta 
persetujuan kegiatan pelatihan dan seminar. Annas menanggapi positif 
program yang ditawarkan WW. Bahkan, Soemardhi mengklaim Annas 
menjanjikan akan mengangkat WW menjadi staf khusus gubernur. Usai 
mengobrol, WW juga mengaku dilecehkan oleh Annas.

Di hadapan 
anggota DPRD Riau, Annas sempat menyinggung soal isu asusila yang 
menjeratnya saat ini menyeruak di tengah masyarakat. Namun, ia tidak 
terlalu mempersoalkan isu tersebut. "Tentunya Ibu-Bapak sudah melihat 
berita di televisi. Tapi, ya sudahlah, terserah Ibu-Bapak 
menanggapinya," katanya. (Baca: Annas Maamun Curhat Soal Isu Asusila)

SUMBER: PDAT | BERBAGAI SUMBER

TEKS: RIYAN NOFITRA | EVAN KOESUMAH | BC

https://www.tempo.co/read/news/2014/09/05/063604737/8-Kontroversi-Gubernur-Riau-yang-Jadi-Sorotan

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke