Selama tahun 2014, sudah 15 warga Ta nah Datar bunuh diri. Kasus bunuh diri
yang sangat marak ini mestinya menjadi perhatian berbagai pihak agar tidak
berulang.

TANAH DATAR, HALUAN — Kasus bunuh diri di Tanah Datar  sudah pada tingkat
yang sangat merisaukan. Selama tahun 2014 sejak Januari hingga 16
Septem­ber kemarin, sudah 15 orang warga Tanah Datar yang meng­akhiri
hidupnya secara tak wajar.

Kasus bunuh diri terakhir dilakukan Kimin St Panghulu (73) warga Talago
Gunuang Nagari Saruaso Kecamatan Tanjung Emas Kabupaten Tanah Datar. Kimin
yang diketahui sebelumnya mengalami penyakit asma yang tak kunjung sembuh,
lantaran tidak sanggup menahan sakit yang dideritanya, ia nekat mengakhiri
hidupnya dengan gantung diri.

Kapolres Tanah Datar, AKBP Nina Febri Linda, melalui Kapolsek Tanjung Emas,
Iptu Parman kepada Haluan, Selasa (16/9) mengatakan, korban ditemukan dalam
keadaan tidak bernyawa tergantung di sebuah pohon sawo di depan rumahnya.

“Kaki kirinya tertekuk ke tanah dan kaki kanan lurus ke arah depan dan
hidungnya berbuih. Diduga korban tidak sanggup menahan sakit yang
dideritanya lalu nekat mengakhiri hidup dengan bunuh diri,” sebutnya

Kimin St Panghulu ditemukan oleh tetangganya Silvia (16) dalam keadaan
tergantung di batang sawo depan rumahnya, Selasa (16/9) sekitar pukul 06.00
Wib. Ia bunuh diri dengan menggunakan tali nilon sepanjang lebih kurang dua
meter. “Saya baru saja keluar rumah waktu itu, kaget melihat mayat
tergan­tung di depan rumah di pohon sawo dalam keadaan kaku. Melihat
kejadian itu saya lang­sung memberitahu pada tetangga lain dan dilaporkan
ke Polsek Tanjung Emas,” sebut Silvia.

Di tahun 2014, hingga perte­ngahan September ini, sudah 15 kasus bunuh diri
terjadi di Luhak Nan Tuo Kabupaten Tanah Datar. Sebelumnya terjadi pada
seorang pedagang kain di Pasar Batusangkar, H Man, ia diduga karena merasa
kesepian setelah ditinggal mati sang istri. Haji Man nekat mengakhiri
hidupnya dengan cara gantung diri di rumahnya.

Dikabarkan juga terjadi kasus bunuh diri di Tanah Datar setelah H Man,
yaitu usai lebaran Idul Fitri kemarin, karena keluarga korban tidak ingin
anggota keluarganya diketahui meninggal dengan cara bunuh diri, akhirnya
informasi tersebut tidak mencuat keluar.

Tahun ini, aksi bunuh diri di antaranya berawal dari  Resna Natasya (20),
warga Taram Jorong Kubang Landai, Nagari Saruaso, gara-gara persoalan putus
cinta. Disusul Leli Marlina (25), warga Andaleh Baruah Bukit, Kecamatan
Sungayang. Selang sehari  kemudian, aksi bunuh diri dilakukan siswi SMP 2
Batusangkar, Ressy Novita Angela (15), warga Perumahan Asam Kapeh. Setelah
Ressy, pada minggu itu juga, diikuti oleh siswi MTsN Tiara Salsabila (14),
warga Buluh Kasok, Nagari Tabek, Kecamatan Pariangan, yang tak sanggup
menahan sakit yang dideritanya

Kemudian, pelaku bunuh diri berikutnya adalah seorang janda beranak dua,
Nelvila (47). Penyebabnya, karena persoalan ekonomi. Nelvila warga Jorong
Lurah Ampang, Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, pekerjaan
pedagang.

Aksi bunuh diri juga terjadi pada diri Roslina (75). Setelah itu disusul
seorang kakek bernama Muin (78), warga Pinto Rayo, Nagari Tanjung Barulak,
Kecamatan Tanjung Emas.

Tidak berapa lama setelah itu, seorang mahasiswa di salah satu perguruan
tinggi di Padang, yang juga warga Salimpaung juga nekat bunuh diri. Terus
diikuti Nafri. Sebelum aksi bunuh diri H Suherman, Abu Bakar (65), seorang
perantau yang baru saja pulang kampung, ditemukan tewas tergantung di tiang
plafon Surau Talang, Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Tarab.

Pemkab Tanah Datar, akhir-akhir ini gencar memberikan pemahaman kepada
masyarakat, karena sangat tingginya kasus bunuh diri di daerah tersebut.
Upaya pencegahan tersebut terutama dengan cara mening­katkan keimanan dan
ketakwaan terhadap Tuhan YME. Karena persoalan utama pelaku bunuh diri
adalah rendahnya keimanan sehingga tidak takut menempuh jalan sesat dengan
mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Atas maraknya kasus bunuh diri ini, Ketua Lembaga Kera­patan Adat Alam
Minangkabau (LKAAM) Tanah Datar Irsyal Verry Idrus Dt Lelo Sampono ketika
membuka MTQ tingkat Kecamatan Batipuh 31 Maret lalu mengatakan banyaknya
kasus bunuh diri ini menunjukkan kegagalan orang tua, ninik mamak, ulama
beserta peme­rintah daerah.

Ia mengatakan, semuanya harus menjadi renungan dan pemikiran bersama.
Secara fisik, pendidikan dan ekonomi Luhak Nan Tuo tidak diragukan, tidak
ada duanya.

“Masjid bagus-bagus. Tapi pengamalan akan Alquran belum sempurna sehingga
muncullah kasus yang mencoreng kening kita. Semuanya harus menjadi renungan
kita bersama,” ujar  Irsyal Verry Idrus. (h/fma)

HALUAN | Rabu, 17 September 2014 01:56
http://harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/34256-15-warga-tanah-datar-bunuh-diri

--



*Wassalam*



*Nofend St. Mudo37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok
SelatanTweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola *

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke