Assalamu alaikum wr wb, 

Selamat bagi rekan2 yg akan menunaikan ibadah Haji ,semoga menjadi haji yg 
mabrur.

Sebagai pengantar, berikut tulisan ttg hikmah perjalanan haji, semoga bermanfaat


Haji, perjalanan cinta Illahiah

  
             
Haji, perjalanan cinta Illahiah
Dalam kisah klasik Laila Majnun, ada diceritakan moment indah saat Majnun dalam 
perjalanan menuju kota dimana Laila sang kekasih sejatinya tinggal, betapa saat 
...  
View on hdmessa.wordpress.com Preview by Yahoo  
  

Salam
Hendra Messa

-----
Haji, perjalanan cinta Illahiah
Dalam kisah klasik Laila Majnun, ada diceritakan moment indah saat Majnun dalam 
perjalanan menuju kota dimana Laila sang kekasih sejatinya tinggal, betapa saat 
mencapai gerbang kota, walaupun belum sampai ke rumah Laila kekasih nya, 
hatinya telah bergetar penuh gemuruh, walau tak bisa menemui Laila, mengusap 
dinding pagar pun telah mencukupi baginya. Hal tersebut menggambarkan betapa 
dalam nya kedekatan batin kita, betapa kuatnya kerinduan terhadap sesuatu yg 
dicintai.
Hal yg sama akan terasakan pula, saat dalam perjalanan menuju tanah suci mekah- 
madinah, dalam perjalanan haji. Dalam perjalanan menuju Mekah, saat melalui 
bukit2 berbatu, melintasi terowongan menembus bukit, sekitar kota mekah, dari 
kejauhan akan tampak menjulang tiang2 tinggi mesjidil haram, menara jam besar, 
suara adzan yg mengalun merdu, ditimpali suara lantunan ayat suci al qur’an yg 
terdengar dari toko kaset di pinggir jalan, memberikan suasana kehangatan 
jiwa,rasa bahagia.  Hati akan bergetar deras karena nya , bagaikan perasaaan 
saat sampai di tempat kekasih hati yg telah lama dirindukan.
Saat melewati gerbang Masjidil haram, sampai ke halaman dalam, tampaklah 
bangunan kotak berlapis kain hitam yg tampak begitu anggun, hati pun tambah 
bergetar, tatapan mata begitu dalam, tubuhpun terdiam sejenak, masya Allah, 
sampai juga ke ka’bah, bangunan suci yg selama ini hanya terlihat di gambar2 
atau di alas sajadah sholat. Hati bergetar kuat, bibir pun tak kuasa menahan 
haru, air mata pun terurai haru karena nya, masya Allah, subhanallah, 
Alhamdulillah, Allahu akbar…
Jadi teringat cerita jatuh cinta pada pandangan pertama anak muda, betapa saat 
bertemu pandang dg kekasih hati, walau baru pertama kali melihat, serasa telah  
mengenalnya lama. Begitu pula lah rasanya saat pertama kali memandang langsung 
kabah, serasa kita telah mengenalnya lama sekali sebelumnya,  subhanallah. Ada 
dinyatakan bahwa do’a yg dilantunkan saat pertama kali melihat kabah adalah doa 
yg makbul, karena penuh dg rasa cinta, kedekatan batin dg Sang Maha Pencipta.
Sungguh berkesan sekali, rasa jiwa dalam perjalanan menuju tempat suci 
tersebut. Klimaks dari perjalanan panjang ibadah Haji, sejak orang2 berangkat 
dari tempat tinggalnya masing2 di berbagai penjuru dunia, menuju mekah dan 
madinah di jazirah gurun pasir Saudi Arabia. Haji sebagai kegiatan ibadah, tak 
hanya sekedar ritual fisik belaka, tapi juga adalah perjalanan batin  yg begitu 
menggugah rasa, bagai perjalanan hamba menemui Sang Maha Pencipta.
Saat sampai ke mesjidil haram, tawaf berjalan mengelilingi kabah, hati ini 
bagaikan tertarik pada sebuah magnet besar, bagaikan serangga laron yg 
berputar2 mengelilingi lampu terang di malam gelap, sampai rela walaupun patah 
sayapnya, pasrah sepenuh hati di hadapan Yang Maha Kuasa.
Kerinduan dan rasa cinta yg mendalam, pada Sang Maha Pencipta, pada Rasul Nya 
yg mulia, membuat perjalanan menuju tempat suci , mekah medinah, bagai 
perjalanan menuju rumah yang sangat kita cintai.
Perjalanan ke tanah suci, adalah juga bagai perjalanan menuju kampung halaman 
dimana memori masa kecil terpendam. Kabah, mekah, medinah bagi seorang muslim , 
memorinya telah mulai tertanam sejak kecil dalam alam bawah sadar ini. Kita 
telah melihat gambarnya, kalau sholat kita mengarah ke kabah, kisah2 Rasulullah 
yg kita dengar sejak kecil, saat sampai di sana akan bisa lihat lagi tempatnya 
yg sebenarnya.
Di mesjid nabawi madinah, di antara mimbar imam dan maqam nabi di bagian depan 
mesjid, yg dikenal dg nama rawdah ( taman surga ) , tempat dimana dulu 
rasululllah tinggal, karena rumahnya berada di samping mesjid dan karena 
perluasan mesjid nabawi, sekarang jadi masuk bagian dalam mesjid. Berada di 
sana, kita serasa sedang mengunjungi rumah nabi yg mulia, sholat, berdoa atau 
sekedar merenung disana, terasa sekali suasana batin yg khas. Melihat mimbar 
nabi, maqam nabi, terasa dekat sekali nabi dg kita, serasa beliau berada di 
samping kita, Kita bisa merasakan perjuangan suci Rasul yg mulia dan para 
sahabat2 nya menegakkan agama islam, menyeru manusia untuk menyembah Allah swt. 
Kedekatan batin, kecintaan pada rasulullah, membuat hati sangat nyaman saat 
berada di rawdah tersebut, tak terasa rasa haru menyelinap dalam jiwa..
Puncak rangkaian ibadah haji, ialah wukuf di Arafah, dibanding dengan kegiatan 
ibadah haji lain nya yg banyak aktivitas fisik, seperti tawaf berjalan 
mengelilingi kabah atau sai, berlari2 kecil diantara safa dan marwa, wukuf di 
arafah adalah klimaksnya, karena tak banyak aktivitas fisik, hanya sholat, 
berdoa dan merenung. Mungkin memang moment di padang pasir luas arafah ini, 
adalah saat untuk melakukan perenungan.
Saat di arafah kebetulan tenda saya berada dekat bukit kecil, saya pun berusaha 
mendaki bukit itu sehingga tampaklah pemandangan luas sekitar padang arafah yg 
berbataskan bukit2 batu di sekitarnya. di tengah padang luas ini, terhampar 
banyak tenda2 dan ditengahnya menjulang bukit jabal rahmah. Semua org berbagai 
bangsa, berbagai warna kulit menggunakan pakaian yg sama, baju ihram utk laki2 
dan jilbab utk wanita, masya Allah pemandangan yg menakjubkan.
Sebenarnya padang Arafah, hanyalah padang pasir kering, bertepikan bukit2 batu 
di sekelilingnya, tapi suasana keharuan batin yg mendalam, membuatnya bagai 
berada di alam yg hijau asri dan sejuk, saya merasakan seperti sedang berada di 
tengah hamparan hijau kebun the pangalengan, alam priangan yg indah,  bagai 
serasa sedang  berada  ranah minang yg indah di sekitar Bukittinggi, masya 
Allah.
Duduk termenung di atas bukit tsb, suasana tenang, angin pun serasa terdiam, 
tampak dan terdengar suara org2 khusyu berdoa, saat coba memandang ke atas 
langit, betapa langit gurun pasir yg biru jernih terasa teduh. Terasakan 
suasana batin yg begitu khas. Berada di alam yg luas ini, kita akan merasakan 
kedekatan yg sangat dg Sang Maha Pencipta, yg menciptakan alam ini, menciptakan 
semua manusia, hakikatnya semua yg tampak disini adalah ciptaan Allah swt. Pada 
saat itulah terasa kedekatan batin yg mendalam dg sang Maha Pencipta, hati 
berguruh, dada terasa sesak, bibir bergetar, air mata pun terurai, subhanallah, 
Alhamdulillah, allahu akbar…
Ya Allah , ampunilah dosa2 ku, dosa2 kedua orang tua ku, keluargaku, tunjuki, 
bimbinglah aku selalu dalam perjalanan hidup di dunia ini, lindungi aku dari 
semua godaan hidup, masukkanlah aku ke dalam surgaMu, jauhkan dari neraka Mu.., 
bersihkanlah jiwa ini, kuatkanlah keyakinan diri ini, amien.. Dalam hadits ada 
dinyatakan bahwa hari arafah, adalah hari terbaik dalam kehidupan bagi org 
berada di tempat tsb, saat itulah malaikat rahmat turun, mengabulkan doa2 para 
jamaah haji.
Pada rangkaian ibadah haji tersebut, jiwa ini bagai mengalami pembersihan dari 
dosa2, pensucian, kedekatan yg sangat dg Allah swt,  selanjutnya akan terasakan 
pencerahan jiwa. Seorang muslim yg telah tercerahkan jiwanya akan menyadari 
hakikat kehidupan ini, apa yg dicari dalam hidup ini, apa peran dan tugasnya 
dalam kehidupan ini.
Perasaan batin yg mendalam saat berada di tempat2 suci tersebut dalam rangkaian 
ibadah haji, adalah hal yg individual, berbeda2 dirasakan masing2 orang. Ada 
orang yg sangat kuat rasa batin nya dan merasakan suasana batin yg 
menggairahkan, sebuah rasa bahagia yg susah diungkapkan. Namun pada sisi lain, 
ada juga sebagian orang yg biasa2 saja, bagaikan orang yg berwisata saja 
mengunjungi tempat2 suci. , terkagum2 melihat suasana sekitar, bangunan2 yg 
unik, orang2 yg beragam dari berbagai penjuru dunia
Itu semua terpulang pada kondisi kejiwaan, ilmu dan memori bawah sadar masing2 
individu. Orang yg memang kuat pemahaman dan amal keagamaan nya, akan kuat pula 
kedekatan dan kecintaaannya pada Rasulullah dan Allah swt. Haji ke tanah suci, 
bagi mereka bagaikan mengunjungi hal yg sangat dicintainya. Namun bagi orang yg 
kurang pemahaman keagamaan nya, tak begitu kuat kesan nya, seolah hanya pergi 
berwisata saja.
Orang yang mendapatkan hidayah, setiap relung hatinya terisi dengan kedekatan, 
kerinduan kepada Allah swt. “…orang-orang beriman itu adalah mereka, yang 
apabila disebut nama Allah, maka bergetarlah hati mereka” (QS. Al Hajj : 35) 
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu, hanyalah mereka yang apabila 
disebut (nama) Allah maka gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada 
mereka ayat-ayatNya, maka bertambahlah iman mereka karenanya, dan kepada 
Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS. Al Anfaal : 2).
Orang yang hatinya selalu bergetar ketika mendengar atau menyebut nama Allah, 
menandakan kekuatan imannya sehingga hanya Allah yang ada dalam hatinya. 
Sedangkan orang yang tidak pernah bergetar hatinya ketika mendengar atau 
menyebut nama Allah, kemungkinan besar karena hawa nafsu telah menguasai 
hatinya.Pada hakikatnya pada setiap hati terdalam seorang manusia, ada rasa 
kedekatan dengan Allah swt, karena Allah lah yg menciptakan kita semua, namun 
karena nafsu dan dosa, hati nurani tersebut bisa tertutupi, bahkan mati karena 
nya.
Menurut ilmu psikologi, ada satu bagian kecil dalam otak manusia, yg akan 
bereaksi, tersentuh, terbangkitkan, saat seorang manusia melakukan aktivitas 
keagamaan, seperti sholat, berada di mesjid atau berada di tempat2 suci seperti 
saat dalam ibadah haji. Tempat2 suci tersebut, bisa diandaikan sebagai sebuah 
sumber energy besar, yang akan mengisi , re-charger jiwa2 manusia. Pantulan 
sinarnya begitu kuat menembus jiwa. Jiwa kalau diandaikan kaca cermin, maka 
kaca yg bersih akan memantulkan banyak sinar, namun sebaliknya kaca yg kotor, 
hanya sebagian kecil saja sinar yg bisa terpantulkan.
Haji adalah kegiatan ibadah yg unik dan lengkap aktivitasnya, mulai dari 
aktivitas ritual diam, spt doa, sholat, sampai gerakan yg aktif spt  tawaf 
berjalan sekeliling kabah, atau sa’I berlari2 kecil antara safa dan marwa, 
sampai aktivitas batin. Namun justru nuansa batin itulah yg paling menentukan , 
paling memberi kesan mendalam pada ibadah haji dan selanjutnya akan memberi 
dampak lanjutan (haji mabrur ) . Pada ibadah haji yg sepenuh hati, yg dilandasi 
dg hati yg bersih dan niat yg suci, maka jiwa pun akan terbersihkan, di padang 
arafah dosa2 pun diampuni, jiwa yg bersih dan kedekatan dg Yang Maha Kuasa, 
akan mencerahkan jiwa, kedekatan dan pencerahan jiwa inilah salah satu hakikat 
yg diraih dalam ibadah haji tsb. Sebagian orang sering melupakan proses 
pensucian dan pencerahan jiwa dalam ibadah haji, karena lebih terfokus pada 
ibadah ritual semata atau disibukkan oleh hal2 lain yang tidak begitu penting, 
itu adalah hal2 yg jadi ujian dan hambatan
 dalam ibadah Haji..
Ujian dan hambatan dalam ibadah haji.
Ibadah haji, sebagai sebuah proses perjalanan mendekatkan diri pada Yang Maha 
Kuasa, selalu ada ujian & hambatan nya, sehingga ada yg berhasil ( haji mabrur) 
namun ada juga yg kurang berhasil, berikut beberapa ujian dan hambatan dalam 
pelaksanaan ibadah haji ;
1. Kebersihan niat
Setiap amal tergantung dari bagaimana niat awal nya. Niat yg ikhlas sepenuh 
hati akan menghasilkan ibadah haji yg baik pula, sebaliknya niat yg tak kuat, 
tak bersih sejak dari awal nya akan merusak pula ibadah haji. Bagi sebagian 
orang , spt di masyarakat Indonesia, kesempatan haji cukup langka dan tak 
mudah, sehingga haji juga menjadi salah satu proses untuk mencapai status 
social yg lebih tinggi di masyarakat nya. Sejak awal telah terbetik niat dalam 
hatinya, bahwa dg berangkat haji, status sosialnya akan terangkat, ia akan jadi 
org terpandang sepulang haji nanti, title haji akan terpasang di depan namanya, 
ia akan dipanggil dg nama tsb, kemana2 berpakaian haji pula. Bila niatnya spt 
ini, kemungkinan besar ia akan sulit utk bisa merasakan kenikmatan batin dan 
pencerahan jiwa dalam ibadah haji.
2. Cara yg kurang benar ( curang) utk bisa berangkat haji
Di Negara yg penduduk muslimya banyak seperti Indonesia, kesempatan dapat 
melakukan ibadah haji adalah cukup sulit, karena harus berebut kesempatan dari 
banyak orang dan bisa menunggu sampai beberapa tahun utk bisa melakukannya 
(waiting list ) . Pada kondisi2 spt itu, timbullah kesempatan dari oknum2 yg 
memberikan jasa agar bisa cepat naik haji, agar bisa masuk dalam list yg 
berangkat dg imbalan uang. Cara2 yg tak etis dan curang spt itu, akan merusak 
keberkaan ibadah haji.
3. Saat di tanah suci, lebih banyak berada di pasar daripada berada di mesjid.
Saat di tanah suci, mekah madinah, dimana kita dianjurkan lebih banyak berada 
di mesjid atau berziarah ke tempat2 suci, ada godaan sangat kuat, untuk lebih 
memilih pergi belanja ke pasar yg mudah ditemui selepas pintu mesjid. Di 
mesjidil haram atau mesjid madinah, diantara waktu sholat,banyak org yg mengisi 
waktu dg membaca al quran atau mengikuti majlis pengajian yg banyak diadakan 
disana, khususnya di mesjid nabawi, biasanya disampaikan dalam bahasa arab, 
tapi ada juga dalam bahasa2 lain, antara lain Indonesia.
Pengalaman sy disana, banyak jamaah2 dari negara2 tertentu, spt negara2 arab, 
turki, palestina, Pakistan dll yg saya perhatikan lebih banyak berdiam di 
mesjid, baca quran atau menghadiri majlis pengajian, diantara waktu sholat. 
Biasanya org2 tua ada juga yg membawa makanan kecil, jadi mereka datang ke 
mesjid sebelum dzuhur dan baru keluar mesjid saat pulang ke hotel saat selesai 
sholat isya, diantara waktu sholat mereka tetap di mesjid. Jarang sy temui 
jamaah Indonesia yg berdiam di mesjid, kebanyakan saya temui org2 indonesia 
setelah waktu sholat di mesjid, pada pergi ke pasar di sekitar mesjid, dan di 
pasar2 itulah saya temui banyak sekali org Indonesia. Para pedagang pasar 
disana, bahkan sampai bisa bahasa Indonesia, karena saking banyak nya org 
Indonesia yg berbelanja ke pasar. Alasan klasiknya adalah beli oleh2 cendera 
mata utk tetangga di Indonesia. Padahal barang2 yg sama bisa kita peroleh juga 
di Indonesia, spt pasar tanah abang Jakarta.
4. Kondisi fisik
Banyak org2 yg baru berkesempatan pergi haji saat usia tua, saat kondisi fisik 
banyak bermasalah. Pada saat perjalanan haji, gangguan kesehatan akan banyak 
menimpa org2 tua spt itu, tak hanya org tua, org2 muda yg punya penyakit 
tertentu akan banyak direpotkan juga oleh penyakitnya saat perjalanan haji tsb. 
Lebih baik diniatkan bisa berangkat haji saat fisik masih sehat, saat usia muda.
5. Kurang nya ilmu
Banyak org yg bisa berangkat haji, Karena ia punya uang yg cukup, tapi 
sebenarnya tak begitu faham dg tatacara ibadah haji. Mereka tak mempelajari dg 
baik tatacaranya sebelum berangkat, hanya menyandarkan diri pada pembimbing 
haji. Kurang kesiapan pemahaman tsb, membuat ia spt kebingungan disana, 
khususnya pada saat2 krusial ibadah haji spt saat berada di Mekah, Mina & 
Arafah. Bila ada rukun yg terlewatkan, ibadah hajinya tak sempurna. bila pun 
bisa sempurna rukun nya, tapi ia tak bisa melaksanakan nya dg sepenuh hati, dg 
kekhusyuan, sehingga pencerahan jiwa tak bisa diraih.
6. Disibukkan oleh persiapan materi, melupakan persiapan batin/jiwa
Bagi org indonesia, perjalanan haji cukup jauh dan menempuh waktu yg lama, 
banyak persiapan material dilakukan. Karena sibuk oleh hal tsb  orang2 sering 
melupakan persiapan batin bahwa kita akan sampai ke tempat suci, menuju rumah 
Allah ( baitullah), menuju tempat dimana dulu Rasulullah mengembangkan agama yg 
mulia ini. Kurangnya persiapan batin membuat perjalanan ke tanah suci, bagaikan 
perjalanan wisata biasa, kita lebih terkesan melihat alam gurun pasir dan 
bangunan2 unik disana, tapi jiwa ini tak tersambungkan karena nya.
7. Kurangnya pengamalan keagamaan
Ibadah haji, adalah rukun terakhir dari rukun islam yg lima, setelah syadahat, 
sholat, puasa ramadhan dan zakat. Dimaknakan bahwa seorang muslim yg berangkat 
haji, ialah mereka yg telah mengamalkan dg sempurna, amalan2 rukun islam lain 
nya. Kalau amal2 tsb belum dilakukan dg baik, sholat sering terlewatkan, 
puasanya tak sempurna, zakat tak disampaikan, maka saat melakukan ibadah haji, 
ia tak bisa optimal dalam meraih keberkahan ibadah haji tsb. Karena itulah 
ibadah haji, bukan sekedar karena seseorang telah punya harta utk bisa 
berangkat, tapi iapun telah menjalankan amal2 agama dg baik.
Bila semua ujian tersebut bisa kita lalui dg baik, dimulai dg niat yg ikhlas, 
ilmu yg cukup, mendapatkan kesempatan haji dg cara yg benar, badan yg sehat, 
mengurangi belanja ke pasar, memanfaatkan waktu sebaik mungkin di tanah suci, 
insya Allah kita akan bisa mendapatkan pencerahan jiwa , menjadi haji yg 
mabrur. Perjalanan haji, akan bagaikan perjalanan seorang pe muda menuju tempat 
kekasih pujaan hati nya spt cerita laila majnun di awal tulisan ini, atau 
perjalanan mudik perantau ke kampung halaman nya. Perjalanan dengan suasana 
kedekatan batin yg kuat tsb, diliputi rasa cinta, cinta pada Sang Maha 
Pencipta, cinta pada Rasulullah yg mulia, saat sampai ke tanah suci, mekah, 
madinah, melihat bahkan sampai memegang dinding kabah, batin ini akan bergetar 
kuat, susah utk diungkapkan perasaan yg timbul karena nya, namun ada semacam 
rasa bahagia yg mendalam, terdiam sejenak, menangis terharu karena nya. 
Setelahnya itu jiwa ini terasa begitu ringan, serasa
 terbang sampai ke langit, masya Allah, susah untuk diungkapkan dg kata2. Tapi 
intinya bila jiwa ini terbersihkan, tersucikan karena nya, mengalami rasa 
kedekatan yg sangat kuat dg Allah swt, yang menciptakan kita semua, kuatnya 
keyakinan, haqul yakin, maka jiwa pun akan tercerahkan, pencerahan jiwa adalah 
salah satu hakikat haji.
Ada apa setelah haji ? ( haji mabrur )
Ibadah haji yg terakhir dilakukan rasulullah pada tahun 10 H, dikenal dg 
istilah haji wada ( haji perpisahan/terakhir ) , pada saat itu berkumpul hampir 
sekitar 120, 000 sahabat. Saat wukuf di Arafah, rasulullah menyampaikan pesan 
nya yg dikenal dg istilah khutbah haji wada, pesan terakhir rasulullah pada 
banyak kaum muslimin. Pada saat itu pulalah turun ayat terakhir al Qur’an ; 
surat al maidah ayat 3, “Alyauma akmaltu lakum diinakum, waatmamtu ‘alaikum 
ni’matii waradliitu lakumul Islaama diinaa”. Artinya: “Pada hari ini telah aku 
sempurnakan bagimu agamamu dan telah aku sempurnakan nikmatku atasmu dan Aku 
rela Islam sebagai agama bagimu.”
Dalam khutbah haji wada tsb, Rasulullah menyampaikan pesan2 penting keagamaan  
yg harap difahami dg baik oleh para kaum muslimin, dipraktekkan dan disampaikan 
pada ummat Islam lain nya, saat mereka pulang dari ibadah haji tsb. Jadi Haji 
selain sebagai ibadah individu seorang hamba dengan Allah Yang Maha Pencipta, 
adalah juga hal yg memberi dampak sosial, kebaikan bagi orang banyak. 
Diharapkan sepulang ibadah haji, para jamaah haji, banyak membawa kebaikan dan 
perubahan bagi orang sekitar dan masyarakat pada umum nya.
Haji, adalah rukun terakhir dalam rukun islam, setelah rukun2 yg lain nya, 
syahadat, sholat, puasa, zakat, dimaknakan ,bahwa mereka yg berangkat haji, 
telah menunaikan dg baik rukun2 islam sebelumnya. Jadi haji adalah puncak 
penyempurna dari rukun2 tsb. Sehingga setelah selesai menunaikan ibadah haji, 
ia bisa menjadi seorang muslim yg sempurna, insan kamil. Seorang muslim yg 
baik, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah ialah org yg banyak memberi 
kebaikan bagi orang lain, bukan sekedar kebaikan untuk dirinya sendiri. Jiwa yg 
telah tercerahkan dalam haji, akan menerangi orang2 di sekitarnya, membawa 
kebaikan, perubahan menuju kebaikan,memberi dampak sosial bagi masyarakat di 
sekitar nya.
Kalau kita menyimak sejarah Indonesia, di jaman penjajahan dan kemerdekaan, 
betapa org2 indonesia yg pulang haji dari Mekah, membawa banyak perubahan dan 
kemajuan.
Pada saat jaman penjajahan, mereka menyadari betapa hakikatnya manusia itu 
merdeka, tak perlu tunduk pada manusia, sehingga mereka menjadi tokoh2 yg 
menggerakan perjuangan di berbagai tempat, mulai dari para haji di daerah 
minang yg dikenal dg istilah paderi yg mengobarkan perang paderi, haji ahmad 
dahlan di jogja yg mendirikan pergerakan Muhamadyah, para haji yg mendirikan 
sarikat dagang islam di solo dan Surabaya. Di jaman menjelang kemerdekaan para 
haji lah yg menginspirasi berdirinya laskar2 perjuangan, spt haji zaenal 
Mustafa di tasikmalaya, haji wasid di cilegon dan banyak2 tempat lain nya di 
tanah air. Betapa perjalanan haji mereka dulu, telah membukakan wawasan ttg 
dunia. Para tokoh2 pergerakan dunia islam yg mulai banyak dikenal org2 
indonesia yg pergi haji ke mekah, telah menginspirasi pula pergerakan menuju 
kemerdekaan dari para penjajah eropa. Pada saat Indonesia merdeka, negara2 
islam di timur tengah lah yg pertama kali memberi pengakuan
Dalam skala masyarakat yg lebih kecil, dalam keluarga, seseorang yg telah 
melaksanakan ibadah haji, akan memberi pencerahan pada keluarga dan 
tetangganya. Bukanlah oleh2 haji yg utama, tapi bagaimana jiwa yg telah 
tercerahkan tersebut, memberi pencerahan jiwa juga pada org2 di sekitarnya.
Namun bila perjalanan haji tak terlaksana dg sempurna, tak mustahil bahwa 
sepulang perjalanan tsb, sebenarnya tak banyak yg bisa diraih, tak banyak yg 
bisa dirasakan oleh org2 di sekitarnya, para kerabat dan tetangga, selain 
sekedar oleh2 haji dan status social baru dipanggil dg nama haji, memang tak 
mudah untuk bisa mendapatkan haji mabrur. Mudah2an dalam pandangan Allah swt, 
amalnya tetap diterima.
Sebagaimana ibadah sholat, dimana dinyatakan bahwa dg sholat seseorang menjadi 
lebih baik, memberi kebaikan bagi orang di sekitarnya, itu adalah salah satu 
pertanda keberkahan ibadah sholat. memberi kebaikan sholatnya. Begitu pula dg 
ibadah haji, salah satu keberhasilan nya ialah bagaimana perubahan yg terjadi 
setelah ia pulang haji, perubahan jiwa, karakter, kelakuan, kualitas ibadah dan 
relasinya dg org lain dan kontribusinya untuk masyarakat banyak.Haji yg 
dilakukan dg sebaik mungkin,  persiapan yg baik ; materi,ilmu,jiwa dan raga, 
insya Allah, haji mabrur bisa teraih pula. Amal sosial , memberi kebaikan bagi 
orang banyak, adalah salah satu parameter dampak keberhasilan ibadah haji
Pada buku kisah2 kaum Sufi, berjudul “Warisan Para Awliya” karya Farid al-Din 
Attar, ada cerita dari Abdullah bin al-Mubarak seorang ahli hadits yg 
terkemuka, lahir pada tahun 118 H/736 M. Abdullah berkisah mengenai seorang 
bernama Ali bin Muwaffaq seorang tukang sepatu yg berencana menunaikan ibadah 
haji. Ia telah mempunyai dana yg  cukup hasil dari tabungan nya selama ini. 
Namun demi mengetahui ada tetangganya, keluarga miskin yg menderita karena 
kelaparan, maka ia sumbangkan semua dana tabungan haji nya tersebut pada 
tetangga nya, sehinga ia tak jadi berangkat haji pada tahun tsb. Abdulllah al 
Mubarak bercerita, bahwa ia bermimpi bahwa malaikat menyatakan bahwa Ali bin 
Muwafaq tukang sepatu yg tak jadi berangkat haji tersebut, sebenarnya telah 
mendapat pahala haji mabrur, walaupun ia tak jadi berangkat haji karena 
menyumbangkan uangnya pada orang lain yg sedang mengalami kesulitan hidup.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke